BAB 9.RANJAU PAKU
Ali menggeleng lesu, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Sebuah ponsel keluaran lama, yang tidak bernilai jual tinggi. Namun, tinggal itu harta satu-satunya yang dia miliki.
Setelah dipikir dan ditimbang, Ali tertarik ikut mengantar Mamat. Siapa tahu di sana dia bisa dapat kerjaan. Jadi kuli tambang pun jadi, pikir Ali. Asalkan tidak ada lagi orang yang merasa direpotkan olehnya.
"Kira-kira, laku berapa duit kalau ini dijual?" Dia memperlihatkan ponsel lusuh itu pada Ipan.
"Humm ...." Ipan berpikir, sembari mengkerutkan bibir tebal kehitaman terpapar nikotin.
Paling-paling cukup buat makan bertiga sampai nanti malam, tak akan cukup buat ongkos jalan, Ipan membatin.
Sebuah motor jenis matic kemudian berhenti tak jauh dari mereka. Seorang lelaki bertubuh tambun turun dari motor. Tampak wajah yang meringis, seperti sedang menahan sesuatu.
"Mau ke mana, Mang?" sapa Ipan, sok akrab.
"Mau ke tempat mancing, tiba-tiba mules," sahutnya, sembari memegangi perut.
"Di belakang ada kali." Ipan menunjuk ke arah kali kecil yang terlindung halte.
Tanpa banyak bicara, si lelaki berbadan tambun segera melipir masuk ke balik semak belukar di belakang halte. Tak lupa membawa serta sebuah tas besar dan alat pancing miliknya. Ekor mata Ipan terus membuntuti gerak-gerik orang itu.
.
.
.
"Makan yang banyak!" Ipan menaruh beberapa bungkus pundut pisang di samping bangku Mamat.
"Ali, kemari kau!" ujar Ipan lagi, lebih keras. Tangan melambai pada Ali yang duduk agak jauh dari mereka, di bawah rimbun pohon kersen.
"Apa?" sahut Ali, malas.
"Makan!" Ipan membuat gerakan tangan, seperti sedang menyuap makanan ke mulut.
"Ada makanan?" Raut malas Ali seketika berubah sumringah.
"Ada."
"Serius kau?" Gegas pemuda itu mendekat. Matanya melebar melihat bangku di samping Mamat, ada beberapa bungkus pundut pisang. Mamat tampak sudah asyik makan.
"Makanan dari mana?" tanya Ali terheran-heran.
"Tak usah banyak tanya! Makanlah kau bedua! Aku mau buang air kecil dulu," ujar Ipan.
Tanpa menjawab pertanyaan Ali, dia berlari kecil ke belakang halte. Memilih tempat yang agak terlindung dari kedua temannya.
Bola mata Ipan berbinar-binar. Benar dugaannya bahwa bungkusan yang satu itu berisi nasi. Nasi padang komplit, lauk daging rendang.
"Hahay! Gurih banar, lagi lapar begini dapat rejeki." Lelaki muda itu terkikik senang, mengatur posisi duduknya, agar bisa makan dengan nyaman.
Sengaja Ipan duduk menyepi di balik semak-semak, menghadap sebuah kali kecil. Dia ingin puas menikmati sendiri makanannya, tanpa harus berbagi dengan Ali. Pasti Ali bakal minta bagian kalau saja dia tahu. Cukup pundut pisang saja untuk dua temannya itu.
Semua makanan didapat Ipan dari tas bekal lelaki gemuk yang singgah ke halte, tanpa setahu pemiliknya.
'Salah sendiri pelit, makanan banyak tak dibagi-bagi. Dasar rakus! Pantas saja badan kayak Babon. Tak melihatkah dia muka lapar kita?' Ipan menggumam.
Plukk!
Saat merobah posisi duduk, lauk daging rendang tiba-tiba menggelinding jatuh ke kali. Tersisa nasi serta daun singkong dalam bungkusan. Bibir tebal Ipan sontak mewek, menangis tanpa suara. Gagal sudah dia makan enak.
****
Matahari kian bergulir ke arah Barat. Warna langit kian meredup.
"Pindah agak ke tengah!" titah Ipan. Satu tangan mengibas-ngibas memberi kode pada Mamat yang sedang menatap padanya dari tengah jalan.
Jalanan aspal tampak lengang. Hanya satu, dua mobil yang kadang melintas dengan kecepatan tinggi. Ipan sudah bosan duduk di halte. Harus ada usaha lebih keras agar mereka bertiga segera mendapat tumpangan.
Dia tiba-tiba mendapat Ide, ketika menemukan sebuah paku di antara semak. Paku itu kemudian ditancapkan pada sekeping papan kecil. Dan sekarang Mamatlah yang disuruh memasang ke tengah jalan, dengan posisi mata paku menghadap ke atas.
Dari atas dahan pohon akasia, Ali mengulum senyum melihat kelakuan konyol sang kawan. Sedari tadi dia mengawasi tingkah laku Ipan.
"Lekas ke pinggir! Lari, Mat!" teriak Ipan, saat melihat sebuah mobil muncul dari persimpangan jalan menuju ke arah mereka.
Mamat dengan patuhnya berlari kembali ke samping Ipan.
Nguuung ....
Mobil lewat dengan sukses di depan mereka. Jebakan paku yang dibuat lagi-lagi meleset, tidak mengenai sasaran.
"Hhh ... lepas lagi," gerutu Ipan kesal.
Sudah berkali-kali dia menyuruh Mamat memindah-mindah jebakan paku. Tapi, selalu saja gagal. Tampaknya, Ipan harus turun tangan sendiri memasang jebakan.
"Payah kau, Mat! Tak bebakat kau jadi berandal," omel Ipan pada Mamat.
Ali terpingkal-pingkal menyaksikan Ipan yang kemudian sibuk mengatur letak paku. Mulut Ipan tampak komat- kamit sambil sesekali meniupi benda itu lalu meletakkannya lagi ke jalan. Entah mantra apa yang telah Ipan berikan. Lagaknya sudah seperti Master Limbod sebelum melakukan atraksi berbahaya.
Satu mobil lagi muncul dari arah belokan. Mobil box milik sebuah expedisi. Ipan dan Mamat duduk jongkok di sisi jalan, seraya terus mengawasi tanpa berkedip.
Phsstt ... chiiizzztt ... chiiizzztt ....
Bunyi berdecit ban mobil yang sudah terkena ranjau paku.
Mobil kemudian mendadak oleng. Agaknya jebakan yang dibuat Ipan berhasil. Jalan mobil seketika terseok kehilangan keseimbangan. Ipan dan Ali menahan napas tegang, sedangkan Mamat masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Mobil box penuh muatan terus meluncur cepat keluar dari ruas jalan. Tampaknya pengemudi tak mampu lagi mengendalikan mobil.
JEDUAAARR!!
BUUUMM!!
Terdengar bunyi yang sangat keras.
Mobil tiba-tiba jatuh terguling ke kali di bawah jalanan. Asap tampak mengepul dari kap mobil.
"Cilaka dua belas!" pekik Ipan tertahan, menelan ludah gugup.
"Lari yang cepat, Mat! Lariii!" teriak Ipan, merasa bersalah. Dia sendiri lebih dahulu mengambil langkah seribu.
Meski bingung, Mamat tetap membuntuti, ikut berlari-lari di belakang Ipan. Begitu juga Ali yang cepat membaca situasi. Gegas dia menuruni pohon, lalu memacu kedua tungkai sekuat tenaga.
Ipan sudah cari penyakit. Dia tak menyangka jika kejadiannya sampai sebegitu parah. Espektasi Ipan, jebakan paku hanya akan membuat gembos ban mobil. Mobil berhenti, lalu pemilik mengganti dengan ban cadangan. Kesempatan itu yang akan dia gunakan untuk menawarkan jasa, imbalannya mereka boleh menumpang mobil gratis.
Tidak disangka, mobil korban malah terbalik. Entah bagaimana kondisi orang dalam mobil. Ipan tak mau menebak-nebak. Lebih aman kabur secepatnya, sebelum berurusan lagi dengan polisi.
Catatan kaki :
Pundut pisang = jajanan pasar berbahan dasar tepung beras dan pisang yang dibungkus daun pisang, dimasak dengan cara dikukus.
______________________________
Other Stories
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...