Susur

Reads
488
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAN.8. GELUT




"Payah kau, Sanak! Kurang kencang larimu! Tak bisakah kau lebih kencang lagi? Bwhahaha ...!"

Puas sekali Ipan menertawakan kawannya. Tidak ada usaha untuk memberitahu supir agar mau berhenti sebentar.

"Warik!" umpat Ali kesal.

Sambil terus berlari, tas punggung yang melekat dilepas lalu dilemparkan ke dalam bak mobil pick up, disusul dengan melempar tubuh sendiri.

Bugkh!

Bunyi cukup keras saat punggung tipis Ali menimpa bak mobil.

"Awuch!" Dia meringis kesakitan.

"Larimu macam maling kesiangan. Jemuran siapa lagi yang kau curi?" ledek Ipan, tanpa rasa bersalah.

"Waluh bejarang! Ada Pulisi sama Babinsa di rumah Uwak. Aku malas meladeni mereka," jawab Ali tersengal.

"Bilang saja kau takut." Ipan mencebik. "Orang rumah tahu kalau kau kabur?" ujarnya lagi.

"Mana mereka peduli? Malah senang mereka kalau aku tak pulang," gumam Ali, sembari melepas jaket.

Jaket itu lalu digunakan untuk menutupi wajahnya. Tas punggung pun kini sudah berubah fungsi menjadi bantal. Dia berniat tidur selama perjalanan.

Sewaktu pulang ke rumah tadi, Ali sempat melihat kehadiran Babinsa dan polisi di ruang tamu rumah. Mereka sedang bercakap dengan Uwak. Tentu saja sedang menanyakan tentang Ali.

Diam-diam pemuda itu masuk ke kamar lewat jendela, mengambil pakaian seperlunya, lalu mengendap-endap lagi keluar, tanpa seorang pun yang menyadari.

Apa yang dikatakan pemilik warung ternyata benar. Rupanya aparat sudah gerah dengan maraknya judi sambung ayam selama ini. Tempat berjudi sudah menjadi pusat kejahatan. Peredaran narkoba serta minuman keras pun tumpah ruah ada di situ. Semua yang terlibat akan digaruk sampai habis.

Kedua orang tua Ali berpisah sejak dia berusia lima tahun. Mereka kini sudah hidup bahagia dengan keluarga masing-masing. Ali yang terlupakan, mau tak mau harus tinggal ikut Uwak. Menempati rumah peninggalan Kakek dan Nenek.

Semua kenakalan Ali adalah bentuk rasa kecewa pada keadaan. Tak mudah bagi seorang anak menyembuhkan luka hati sendiri. Luka tak terlihat yang telah dibuat kedua orang tuanya.

Sebenarnya Uwak selalu baik dan sayang pada Ali. Namun berbeda dengan anak dan isterinya. Keberadaan Ali di rumah itu seakan menjadi beban bagi mereka. Apalagi dengan kedatangan aparat yang mencari Ali hari ini. Pasti semua akan tambah membencinya. Sangat tak nyaman tetap bertahan di rumah itu. Sekarang Ali berpikir untuk enyah saja dari keluarga Uwak.

"Lalu, kau sekarang mau kemana?" Ipan meraih sebuah terpal plastik, yang terongok di sudut bak mobil, lalu melebarkannya di atas kepala mereka. Sinar matahari mulai terasa terik.

"Mau ke Pasar Ganal. Nanti sampai pasar, kau suruh berenti supirnya, Pan!" pesan Ali, kian merapatkan kelopak mata.

"Mau apa kau ke Pasar Ganal?"

"Apa sajalah. Nguli, ngemis, nyopet, yang penting masih bisa makan," jawab Ali asal, sambil terus memejamkan matanya di balik jaket.

Mobil pick up warna biru metalic yang membawa mereka terus melaju. Banyak pohon buah-buahan yang tumbuh sepanjang sisi jalan. Jeruk dan jambu, dahannya tampak menjorok hingga ke tengah jalan, buahnya bergelantungan menggoda iman. Mamat dan Ipan tak tahan jika diam saja.

"Yes! Panen yang banyak, Mat! Kita butuh vitamin banyak buat perjalanan panjang, hehe," Ipan terkekeh-kekeh senang. Lengan yang panjang itu membantu Mamat meraih cabang pohon jambu air. Buahnya lebat, hijau kemerahan.

****

Dagh! Dagh! Dagh!

Badan mobil dipukul dari samping, agar ketiga orang dalam bak mobil itu terbangun. Semuanya tampak sangat pulas.

"Ding! Sudah sampai, Ding! Bangun!" panggil pemilik mobil.

Tubuh Ali menggeliat. "Sampai Pasar Ganal kah sudah, Mang?" tanyanya, dengan dahi mengkerut. Mata memicing memerhatikan sekeliling. Sinar matahari tampakĀ  menyilaukan. Tidak terlihat pasar yang dia tuju.

"Lewat dah Pasar Ganal, Ding, ay. Kita sudah sampai simpang empat Tanah Laut," sahut lelaki berperawakan pendek gemuk itu.

"Hah, sudah lewat?!" Sontak tubuh Ali terlonjak mendengarnya.

Jelas saja dia sampai terlonjak kaget. Mereka sudah sangat jauh dari pasar yang dituju Ali. Ratusan kilometer telah terlampaui.

Suara nyaring Ali turut menyentak Ipan dan Mamat yang masih nyenyak. Keduanya pun terbangun, lalu duduk menatap Ali kebingungan. Nyawa masing-masing belum terpasang dengan baik.

"Kalian mau turun di sini, kan? Ini sudah sampai," terang lelaki paruh baya itu lagi.

Ali menatap geram pada kawan di samping. Satu tangan spontan menarik kasar rambut ikal milik Ipan. "Bungul, kenapa kau tidak menyetop motornya di Pasar Ganal?!"

Ipan balas menoyor keras muka Ali, hingga tubuh itu doyong ke belakang. "Kau pikir aku tidak mengantuk? Salah sendiri kau tidur. Jangan menyalahkan aku!"

"Terkutuk kau!" umpat Ali, memasang wajah bengis. Kedua tangan merenggut kuat kaos yang dikenakan Ipan.

"Kutuklah sepuasmu!" Ipan sigap mengalungkan lengan ke leher Ali, lalu menjepit di antara ketiaknya.

"Hmmpft, asem kau! Erghh!" Tangan Ali menjambak rambut ikal kawannya dari belakang, memaksa kepala Ipan mendongak.

"Tarung Babanam! Awuch!" Ipan meringis kesakitan. Tapi, tak mau melepaskan kepala Ali dari ketiaknya.

"Waluh Bajarang!"

Kembali mereka saling mengumpat dengan nama makanan.

Dua anak muda yang berperawakan sama kurus sekarang sudah bergelut di atas bak mobil pick up. Saling piting, saling tinju, saling hantam. Semua jurus dikeluarkan. Pak supir tergesa menurunkan tubuh Mamat, khawatir anak kecil itu ikut terkena pukulan mereka.

Dalam hati Mamat menyesali, kenapa Didin tidak ikut bersama mereka. Biasanya tubuh besar Didin mampu meredam Ipan dan Ali, yang sama-sama darah tinggi. Pak Supir, Pak Kenek, serta Mamat berdiri diam di belakang mobil pick up, jadi penonton.

"Masih lama lagi kalian kelahinya? Aku lagi malas melerai. Baiknya kupanggilkan pulisi saja," ancam Pak Supir, membuang napas kesal.

****

Sebuah halte tua, jalan lintas provinsi. Ketiga anak desa itu berharap akan mendapat tumpangan gratis lagi.

Nguuuung ...! Nguuuung ...!

Dengung mesin-mesin yang melaju dengan kecepatan tinggi. Melintas bak ketapel, tanpa perasaan.

Sudah berjam-jam mereka termangu di halte tua itu. Bergantian Ipan dan Ali melambaikan tangan, memasang wajah memelas, berjalan maju-mundur sembari mengacungkan jempol. Tapi, tak satu pun mobil yang sudi berhenti, untuk memberikan tumpangan pada ketiganya.

Ruas jalan itu lebar, dengan pembatas jalur pada bagian tengah. Sisinya ditumbuhi banyak pohon besar serta semak belukar. Bangunan yang tampak pada bahu jalan hanya berupa deretan gudang besar, tertutup tembok serta pagar yang tinggi.

"Kau ada duit, Li? Sepet mulutku kelamaan tak merokok," celetuk Ipan, setelah sekian lama mereka diam membisu.

Ipan dan Ali memang gampang berkelahi, tetapi gampang pula mereka berbaikan. Berteman sejak sekolah dasar hingga sekarang, sudah terbiasa dengan tabiat masing-masing. Tak pernah ada dendam, walaupun pertengkaran mereka kerap disertai adu otot hingga babak belur. Orang-orang sering heran pada hubungan keduanya. Berteman lama, tetapi tak mau akur.

To be continued....

Catatan kaki :

Waluh bejarang = labu rebus, semacam umpatan.

Tarung babanam = terong bakar, semacam umpatan.

Ding, ading = adik

Motor = mobil


______________________________



Other Stories
Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Gadis Loak & Dua Pelita

SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...

Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Download Titik & Koma