Susur

Reads
479
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 7. TUNGGU AKU




Diberanikan Ipan untuk membuka mata. Tampak tubuh ketiga temannya yang bergelimpangan dengan posisi tak keruan. Mereka semua sedang tertidur nyenyak.

"Curang benar kalian betiga ni. Aku seorangan yang dikerjai hantu. Uhuhuhuuu ...." Ipan merutuk kesal sambil menangis.

"Hiiikhikhik ... hiiikhikhik ..." Tawa melengking yang ramai dari arah pucuk-pucuk pohon galam menyahut tangisan Ipan.

Kepala Ipan menengadah, sontak
Matanya membeliak menyaksikan satu kuntilanak sedang menukik tajam dari atas sana, bak burung elang mengincar seekor tikus.

"Huwaaaaaahh!!!" Ipan menjerit sejadi-jadinya.

Pandangan pemuda itu lalu mengabur sebelum dia tersungkur mencium tanah, kehilangan kesadaran. Kuntilanak-kuntilanak iseng kembali tertawa cekikikan. Senang sekali sudah membuat anak-anak manusia nyaris mati ketakutan.

****

Duduk bersila beralaskan anyaman tikar purun, mata sipit Mamat tersenyum pada nasi putih yang tampak masih mengepul dalam bakul. Di samping bakul nasi, ada piring seng berisi pepes ikan, lalu semangkuk sayur keladi serta sambal binjai dalam panai. Belum apa-apa lidah Mamat sudah bergoyang.

Bocah lelaki berwajah manis itu mengacungkan jempol pada Ninik Rahma.

"Jangan dilihat saja! Lekaslah makan, mumpung masih hangat!" Suara perempuan tua itu terdengar lembut. Tangannya lalu meraih sebuah piring yang masih kosong, mengisi dengan sewancuh nasi.

"Nyamannya, ae...." Mulut Mamat mengecap merasakan gurihnya pepes ikan.

"Kesian anak orang. sampai temimpi-mimpi kayak ini," gumam Ali, sambil memperhatikan ekspresi wajah Mamat yang masih tertidur pulas, memeluk paha Didin.

"Kelaparan anak orang ni, Pan. Kau masih ada duit kah? Kita cari sarapan ke warung." Didin mengendikan dagu pada Ipan.

"Mana ada duit lagi? Semua duitku dibawa kabur sama Mang Jali," sahut Ipan dengan wajah kusut.

"Kau Ali?" Didin beralih ke Ali.

"Kalau sekedar beli lontong cukup. Tapi, nanti kalian ganti, ya!" tukas Ali, merogoh saku celana, masih tersisa selembar uang kumal.

"Beh, pelit!" dengkus Ipan.

"Heh, lekas bangun kau, Mat!" Didin menepuk punggung bocah kecil di kakinya.
.
.

Malam telah berlalu. Semburat oranye membias, menerangi langit pagi. Wajah-wajah lelah melangkah gontai, keluar dari hutan Galam Rabah. Tempat mereka tadi malam menginap.

Ketika sudah terbangun, baru semuanya menyadari kalau posisi mereka sudah hampir keluar dari hutan itu, tak seberapa jauh dari jalan utama. Tiang listrik jalanan sudah bisa terlihat dari situ. Burung-burung pipit tampak bertengger di sepanjang kabel listrik. Derum mesin mobil yang lewat sudah bisa terdengar. Anehnya tadi malam semua itu sama sekali tak tampak oleh mata mereka.

"Hantu Bilau!" rutuk Ali, menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Mulutnya berdecak berulang kali menatap ke jalan di hadapan.

"Puas hantu mengerjai kita tadi malam," gumam Ipan.

"Kualat kayaknya kita, neh, hehe..." Didin terkekeh menertawakan diri sendiri.

Mamat mengucek-ngucek kelopak mata yang sembab, sembari membuntuti tiga laki-laki muda yang berjalan di depannya.

Hanya puluhan langkah, empat anak manusia itu sudah mencapai jalan lebar beraspal. Beberapa mobil terlihat hilir mudik melintas di ruas jalanan yang sepi itu.

****

Kening Ali bertarung membaca kertas yang sedang dilebarkan Ipan di atas meja. "Setahuku tempat ini adanya di pelosok terpencil," ujarnya.

Mereka semua kini sudah duduk mengelilingi sebuah meja, dalam warung sederhana, tepi jalan.

Ipan mengendikan bahu. "Aku pun baru baca sekarang. Pantas Mamakku ngasih duit banyak buat ongkos jalan," ucapnya meringis, satu tangan menggaruk-garuk kepala yang memang gatal.

Sehelai kertas surat yang telah kumal itu berisi alamat tempat kerja Marzuki, abah dari Mamat. Padahal sejak dari kemarin Mamat sudah memberikannya pada Ipan, tetapi karena isi otak Ipan dipenuhi hasrat berjudi ayam, dia malas sekedar untuk membaca.

"Apa kau tahu tempat ini?" tanya Didin, menyeruput habis sisa kopi hingga tersisa ampas.

"Gampanglah, tinggal tanya ke orang-orang di jalan," sahut Ipan enteng. Mau tak mau dia harus mengantar Mamat sesuai perintah Mamak.

"Terus macam mana caramu mengantar dia, ongkos jalan sudah kau habiskan?" Ali menyenggol sikut Ipan, yang duduk di sampingnya.

Ipan membuang napas kasar. Tidak mungkin saat ini dia kembali ke rumah minta uang lagi. Apalagi bercerita jujur pada mamak kalau uang sudah  habis untuk judi. Mang Halil mungkin akan memukuli Ipan sampai mati. Luar biasa galak pamannya yang satu itu.

Di pojok warung, Mamat masih belum selesai dengan sarapan paginya. Menghadapi semangkuk lontong serta satu gelas teh manis. Mulut bocah itu mengunyah cepat, perutnya sangat lapar.

"Eh, kau betiga sudah tahu kah? Pulisi lagi melacak yang ikut judi di kebun singkong tadi malam." Lelaki paruh baya pemilik warung, menceletuk dari balik meja.

"Ujar siapa, Mang?" Raut Ipan menegang.

"Tadi, sebelum kalian datang, pulisi sama Pambakal singgah ke mari. Katanya yang ikut judi, mau dijemput ke rumah-rumah. Semua mau ditangkap," jawab Mang Sani.

"Gawat!" Tangan Ali mengepal.

"Tak usah kalian risau! Mana mereka tahu siapa saja yang ikut saung ayam tadi malam," hibur Didin, pada dua kawannya.

"Kau lupa kalau semua nama kita ada di tangan Mang Jali? Kalau Mang Jali sampai tertangkap, habislah kita semua," sahut Ipan cepat. Namun, bibirnya lalu tersenyum miring. Ada untungnya juga punya alasan pergi dari kampung, mengantar Mamat. Setidaknya dia bisa menghindar dari incaran polisi.

"Sudah selesaikah kau, Mat? Kita mandi dulu ke kali, habis itu langsung berangkat," ucap Ipan sambil berdiri.

"Sudah, Kak." Mamat, mengangguk cepat. Wajahnya yang tadi pucat terlihat segar kembali.

****

Matahari kian merangkak naik. Sebuah mobil pick up merayap pelan di atas jalanan aspal yang bergelombang. Ipan dan Mamat sudah berada dalam bak belakangnya. Tatapan mereka menerawang pada jalan yang tertinggal. Bermain dalam angan masing-masing. Angin berembus menerbangkan anak rambut dua lelaki beda generasi itu.

Ipan dan Mamat mendapat tumpangan gratis dari seorang cukong sayur. Tentu saja tak sampai ke tujuan. Mereka akan turun di jalur lintas provinsi.

Kening Ipan bertaut, saat netranya menangkap tubuh seseorang yang muncul dari bahu jalan. Tubuh jangkung itu berlari kencang sambil melambaikan kedua tangan. Meminta mobil pick up yang ditumpangi Ipan dan Mamat untuk berhenti. Senyum Ipan mengembang melihat betapa keras perjuangan orang itu mengejar mobil, kemudian tertawa lepas terbahak-bahak.

"Tunggu..., tunggu aku! Aku ikuuut!" teriaknya, tersengal.

"Kelewatan kau, Pan! Suruh mobilnya berhenti, Pan! Kubunuh kau, Pan!" omelnya lagi sambil terus mengejar.

Mimik cengengesan Ipan terlihat sangat menyebalkan.

Catatan kaki :

Hantu Bilau = Sejenis makhluk halus yang suka membuat orang tersesat. Kadang digunakan sebagai kata umpatan.

Pambakal = kepala desa


___________________________________



Other Stories
Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Aku Versi Nanti

Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Download Titik & Koma