Susur

Reads
485
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 6. PEKUCURAN ITIK



"Bisakah kalian bedua ni diam?! Buntu otakku mendengar suara berisik kalian," bentak Didin.

"Lagi pula, untuk apa kau tanya arah kita datang? Kalau kita balik ke sana, sama saja kita cari mati bertemu banyak pulisi," protes Ipan pada Didin.

"Eh, Siti!" Ali menunjuk gemas wajah Ipan. "Kau tak paham kah yang dimaksud si Didin? Kalau kita tak bisa tentukan arah datang, mana bisa pula kita cari jalan lain menghindari pulisi."

"Tak perlu pula kau merubah-rubah namaku, Leha!" Ipan hampir merenggut kerah kaos yang dipakai Ali. Namun, Ali sigap menepis tangannya.

"Aluh Buhay!" Ali memonyongkan bibir tipisnya.

"Diang Malapuh!" balas Ipan sengit.

Keduanya menyebut nama-nama pemilik salon depan pasar minggu. Didin mendorong dada tipis dua kawannya, mengambil posisi berdiri di tengah-tengah. Badan besar Didin berhasil menghalangi tangan mereka yang saling ingin menjangkau.

Mulut Didin berdecak. "Heran aku, tiap betemu kau dua ni bekelahi. Ujar Ninik unda, obat mujarab supaya bisa akur, diberi minum pekucuran itik. Mau kah merasai pekucuran itik, hah?!" ancamnya, setengah membentak.

"Mau dong, mauuu ... hiiikhikhikhik ...." Ada suara serak yang menyahut pertanyaan Didin, sembari tertawa terkikik.

Spontan ketiga sekawan itu menoleh pada bocah yang sedari tadi diam. Didin lalu menyorotkan senter gawai ke arah Mamat. Bocah itu masih belum bergeser dari tempatnya berdiri, kepala Mamat menunduk, kedua tangannya memegang erat sebuah botol plastik yang sudah kosong.

"Dia kah tadi yang ketawa?" gumam Didin bingung.

"Meledek ni bocah! Besok kucarikan pekucuran itik sebaskum. Biar kenyang perutmu," rutuk Ipan.

"Bukan Mamat yang ketawa, Kak," cicit Mamat.

"Kalau bukan kau siapa? Hantu kah?!" tanya Ipan lagi.

"Hu' um." Mamat mengangguk cepat, masih dengan wajah menunduk.

Kriiikk ... kriiikk ... kriiikk ....

Suasana mendadak senyap, tersisa bunyi derik jangkrik sekitar. Ketiga pemuda menatap tegang pada Mamat. Angin bertiup semilir, menggoyang dahan-dahan pohon yang mengepung mereka. Derit ranting saling bergesek, serta gemerisik dedaunan seolah sedang berbisik lirih ke telinga bahwa mereka semua sedang diawasi.

"Anak ingusan, kau pikir bisa mengerjai kami, hah?!" ketus Ali. Dia tiba-tiba merasakan gugup. Kata-kata Mamat sudah membuat bulu kuduk berdiri tegak.

"Mamat tak bedusta, Kak. Lihat ke belakang kalau tak percaya." Lengan Mamat menunjuk lurus ke belakang punggung mereka. Sementara dia sendiri tetap menunduk, enggan mengangkat kepala.

Serempak ketiganya memutar tubuh, mengikuti arah yang ditunjuk Mamat. Lalu sontak terperanjat, dengan mata membelalak.

Satu makhluk bergaun putih kusam tampak berdiri melayang. Rambut panjangnya terlihat semrawut menutupi wajah itu. Kedua tangannya mengembang, memperlihatkan jari-jari berkuku panjang yang hitam dan runcing.

Rupanya makhluk itulah yang menertawakan mereka tadi, bukan Mamat. Tapi, salah satu kuntilanak penghuni tetap hutan Galam Rabah.

"Kyaaaaaa ...!"

"Han-hantuuu ...!

"Kun-kuntiiil ...!

Teriakan ketakutan pun pecah. Ketiga pemuda itu kontan kocar-kacir lari ke segala arah, meninggalkan Mamat sendirian di situ.

"Hiiikhikhik ... hiiikhikhik ...."

Suara tawa cekikikkan terdengar ramai bak paduan suara dari atas puncak pohon-pohon galam.

Sudah sekian lama hutan Galam Rabah tidak kedatangan tamu. Para penghuni merasa senang mendapat mainan. Ipan, Ali dan Didin berlari kesetanan tak tahu arah. Mereka sudah tidak peduli pada apapun. Jalanan setapak, semak berduri, pohon, kubangan air, semua yang ada diterabas. Asalkan bisa keluar dari tempat angker itu.

"Hossh ... hossh ...." Napas Ipan terdengar memburu. Semua sisa tenaga dikerahkan, agar bisa berlari lebih cepat.

Baru kali ini Ipan melihat penampakan hantu kuntilanak. Ternyata lebih mengerikan dari yang ada di film-film. Dia sudah tidak peduli lagi pada Mamat yang tertinggal. Tidak peduli juga pada dua orang temannya yang entah lari ke mana.

Jalan setapak dalam hutan Galam itu penuh liku, semua jalan terlihat sama. Meski sudah jauh berlari, tawa cekikikan masih membuntuti di atas kepala. Ipan semakin panik ketika dia mendongak ke atas. Tampak sosok-sosok berwarna putih beterbangan di atas langit malam. Cahaya terang bulan purnama membuatnya semakin jelas terlihat.

Tubuh Ipan lalu masuk ke dalam sela pohon galam yang tumbuh bergerombol. "Gila! Hantunya banyak. Huuufh ... huuufh ...," umpatnya, seraya mengatur napas yang sudah tersengal.

Pemuda jangkung itu menyerah. Tenaganya sudah habis. Lari sampai kedua kaki kebas, tetapi dia tak juga berhasil menemukan jalan keluar dari hutan galam. Kini Ipan memilih untuk bersembunyi di antara rimbun pohon. Duduk meringkuk, memejamkan mata, tubuh dingin gemetar. Berharap malam segera berlalu.

Beberapa saat suasana hening. Tidak terdengar lagi suara tawa mengerikan khas kuntilanak. Namun, entah kenapa jantung Ipan tak henti berdebar kencang, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Krossakk! Krossakk!

Bunyi rumpun dahan serta daun-daun yang tersibak, memaksa kelopak mata Ipan terbuka. Degub jantung kembali bertalu.

'Hantukah?' Ipan membatin.

"A-ali, Di-didin, kau bedua kah itu?" Meski ragu, dia memberanikan diri menyebut nama kedua temannya, dengan suara tergagap.

Sepi, tidak ada yang menjawab. Ipan menelan ludah gugup. Semoga hanya binatang, harapnya dalam hati.

"Kyyaaaaaa!" Pemuda pengangguran itu tiba-tiba menjerit panjang. Ipan merasakan cengkraman, sekaligus tarikan sangat kuat pada kedua pergelangan kaki.

Srreeekk ....

Tubuh Ipan kemudian diseret begitu cepat di atas tanah dengan posisi tiarap, tanpa sempat berontak. Pemuda itu terus berteriak ketakutan. Kedua tangannya berusaha menjangkau apapun yang dilewati. Tapi, tarikan pada kaki jauh lebih bertenaga. Entah siapa yang melakukan, Ipan tak mampu menahan. Rumput serta semak yang berhasil dijangkau Ipan tercerabut lepas beserta akar-akarnya.

"Huwaaahh! Tolooong! Didin, Ali ..., tolooong!" Ipan histeris. Dia sama sekali tak punya nyali lagi untuk melawan makhluk yang terus menyeret kakinya.

Tampaknya percuma melarikan diri dari para penghuni hutan, mereka hanya akan berputar-putar di jalan yang sama, kemudian bertemu lagi di titik yang tadi, tempat Mamat masih berdiri kebingungan. Bocah itu menatap heran pada Ali dan Didin yang beberapa kali lari bolak-balik melewatinya. Kedua pemuda itu lalu tergeletak pingsan dekat kaki Mamat, sedangkan Ipan entah ada di mana.

Mamat pun tak kalah takut melihat kuntilanak-kuntilanak jelek itu. Muka dan gaun mereka kotor berdarah-darah, suara tawanya melengking, sangat tidak enak didengar, baunya juga busuk. Mamat sudah sering melihat penampakan makhluk jenis ini. Mereka ada di mana-mana. Di kebun, di gudang sekolah, di balai desa, bahkan di atas pohon jambu dekat rumah Ninik pun ada. Tapi, tidak sebanyak dalam hutan Galam Rabah ini.

Merasa sudah sangat lelah, bocah lelaki itu ikut berbaring di antara tubuh Ali dan Didin. Dia lalu tertidur pulas dengan perut buncit Didin sebagai bantalan kepala.

.
.
.

Bugkk!

Tubuh Ipan dilemparkan begitu saja di atas rerumputan.

Dengan mata terpejam, tangan Ipan coba meraba-raba tanah sekitar.





To be continued....

Catatan kaki :

Pekucuran itik : air bekas minuman itik.


____________________________



Other Stories
Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Tes

tes ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Download Titik & Koma