Susur

Reads
491
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 5.HUTAN GALAM



Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan panik yang membahana dari luar kebun singkong. Semua dibuat tersentak kaget. Beberapa orang yang ditugasi berjaga di luar kebun singkong membawakan berita buruk. Pvlisi sedang dalam perjalanan menuju tempat perjudian itu.

"Ayo, Pan, cepat lari! Jangan sampai kita tetangkap!" seru seorang teman bernama Ali, menepuk keras bahu Ipan.

"Lekas kabur! Nanti kita ditimbak!" teriak temannya yang lain, sambil mengambil langkah seribu. Namanya Didin.

"Lari ikuti aku, Mat!" Ipan memekik di telinga Mamat.

Mulut Mamat membulat melihat semua orang tampak berlari ketakutan. Melihatnya masih terbengong, dengan kalut Ipan menarik tubuhnya kemudian berlari sambil memegangi tali tas yang melekat pada punggung Mamat, hingga tubuh kecil itu terseret-seret.

Rupanya kegiatan jvdi sambvng ayam malam itu, terendus juga oleh pihak aparat. Suasana seketika gaduh melebihi pasar kaget. Masing-masing berlarian pontang-panting, menyelamatkan diri.

Bukan hanya manusia yang merasakan panik, ayam-ayam pun dibuat kalang kabut berhamburan. Mereka yang terburu meninggalkan tempat judi, tanpa sengaja menendang beberapa kandang ayam yang serupa tudung saji. Puluhan hewan berkaki dua itu kini ikut berlarian sambil menjerit ribut di antara kaki para kriminal, seolah mereka pun turut dipersalahkan.

DORR! DORR!

Bunyi letusan keras dari senja ta api. Pvlisi menembakkan peluru ke udara sebagai peringatan, menyadari jika para pecandv jvdi sedang berusaha kabur melarikan diri.

"DIAM DI TEMPAT, JANGAN ADA YANG KABUR!" Salah seorang aparat mengingatkan dengan sebuah pengeras suara.

DORR! DORR!

Bunyi letvsan terdengar lagi.

Para pelaku kriminal itu tidak mau pasrah. Selama ada kesempatan, kabur adalah opsi pertama. Sebagian dari mereka berhasil lepas dari kejaran. Namun, sebagian yang tak mampu berlari cepat akhirnya tertangkap pvlisi.

Sudah lama warga desa resah dengan kegiatan haram itu. Sejak marak jvdi sambung ayam, banyak terjadi pencvrian di desa-desa sekitar. Tingkat kejahatan meningkat tajam. Pencurian, perampokan, pemalakan, KDRT merajalela.

Para pelaku judi licin bak belut dalam lumpur. Sengaja mereka memilih tempat terpencil, jauh dari pemukiman, serta berpindah-pindah lokasi agar sulit dilacak aparat. Penggerebekan seringkali berakhir gagal. Buruan berhasil kabur sebelum ditangkap.

"Hossh ... hossh ... hossh ...."

Napas Ipan terdengar memburu. Kedua tungkai panjangnya berpacu menembus kegelapan malam. Melewati banyak kebun sayuran, kebun karet, lalu masuk ke dalam hutan, dengan membawa satu tubuh kecil di atas punggungnya.

'Andai bukan titipan mamak mungkin sudah kulempar ni bocah ke parit. Bikin repot,' rutuk Ipan dalam hati.

Terpaksa Ipan menggendong Mamat. Anak itu kebingungan melihat tempat savng ayam yang mendadak rusuh. Ipan tak mau sampai tertangkap gara-garanya.

Andai tertangkap, pastilah akan berakhir di balik jervji besi. Ditambah harus menerima hvkvman mamak yang murka mengetahui tingkah berandalnya, sudah mengajak anak sekecil Mamat ke tempat itu.

Jangankan menikmati hasil tarvhan. Ipan tak sempat mengambil uang kemenangan. Pak Jali, si bandar jvdi sudah kabur duluan, begitu mendengar ada penggerebekan. Sekarang tak seperserpun tangan Ipan memegang uang.

Kedua tangan Mamat berpegang erat pada pundak Ipan. Jantungnya berpacu tak kalah cepat dari lari pemuda itu. Mamat ketakutan luar biasa. Beberapa kali bunyi tem bakan masih terdengar dari kejauhan.

Napas Ipan sudah putus-putus. Wajah meringis kehabisan tenaga. Sudah jauh mereka memasuki hutan galam yang rapat. Jalan setapak hutan bercabang-cabang, membingungkan.

Rembulan di langit malam tampak bulat sempurna. Cahaya terangnya yang menerobos di antara sela dedaunan, cukup membantu penglihatan. Ipan berusaha untuk tidak kehilangan jejak kedua temannya yang lari ke arah sama. Mereka sudah jauh dari TKP. Tak lagi terdengar suara teriakan aparat.

"Selamat-selamat, huuufh ... untung tak tetangkap ..., huuufh ...." Didin menyandarkan tubuh besarnya pada pokok pohon, mengatur napas yang terengah, lalu duduk menggelosor ke tanah. Seluruh tenaga seakan terkuras habis.

"Apanya yang selamat? Kita sudah kejauhan masuk ke hutan." Ali tak kalah terengah, kedua tangan bertumpu pada lutut, menoleh pada Ipan yang masih terseok-seok mendekat ke arah mereka.

"Istirahat di sini dulu kita, Pan!" Satu tangan Didin melambai padanya.

"Sudah amankah, Sanak? Tak ada lagi kah pulisi yang mengejar di belakang kita?" tanya Ipan megap-megap, berhenti di depan kedua temannya, mengusap keringat yang membasahi wajah dan leher.

"Kayaknya sudah aman, Sanak. Meledak jantung kau kalau terus lari," sahut Ali.

Ipan kemudian jongkok. Menepuk lengan Mamat yang masih melekat di bahunya. "Cepat kau turun!"

"Kelewatan si Ipan. Anak siapa yang kau culik malam-malam begini, Pan?" Mata Didin membeliak melihat seorang anak kecil turun dari punggung Ipan. Sedang Ali sudah melihat Mamat sejak dari kebun singkong.

"Anak kuntilanak," sahut Ipan mendengkus. "Aku disuruh Mamak mengantar dia ke tempat abahnya," terangnya, sembari menghempaskan punggung ke tanah. Luar biasa lelah berlari jauh malam hari.

"Memang abahnya tinggal di mana?" tanya Didin.

Ipan mengendikan bahu, tak acuh. "Mana kutahu. Belum sempat kulihat alamatnya."

"Lalu kenapa kau malah membawanya ke mari? Ke padang orang bejvdi. Mana otakmu, Pan?!" Didin mengamati tubuh kecil berseragam pramuka yang duduk memeluk lutut di samping Ipan, tanpa suara.

"Macam tak tahu kelakuannya si Ipan saja kau ini, Din. Pasti dia lagi pegang duit banyak tadi. Makanya tak tahan kalau tak pergi ke savngan ayam," celoteh Ali, sambil ikut merebahkan diri di atas tanah.

"Halah, kau sendiri ngapain tadi ada di situ?" Ipan melempar sejumput rumput yang baru dicabutnya ke wajah Ali.

"Aku mengantar ayam Mang Jali," sahut Ali, balas melempar rumput ke arah Ipan.

"Alasan! Kau pun tadi ikut betaruh." Ipan mulai ngegas.

"Warik, malah ribut. Kalian mau bemalam di sini kah?" Didin menggaruk-garuk punggung kaki yang dirubung nyamuk, lalu mendekatkan wajah pada kedua temannya dan berbisik, "Tak tahukah kau bedua, di sini sarang hantu?"

Hutan galam yang mereka masuki sekarang terkenal angker. Dihuni banyak makhluk halus yang gemar membuat orang tersesat, layaknya sebuah labirin.

"Kenapa jua kita sampai lari ke sini?" sesal Ali, menatap liar ke sekitar mereka.

Merasa cukup beristirahat, tiga pemuda serta satu bocah kecil itu kembali akan melanjutkan perjalanan mencari jalan keluar dari hutan.

"Kau kan anak Pramuka, harus kuat bejalan sendiri. Aku tak mau lagi menggendongmu," tegas Ipan memencet hidung mungil Mamat.

"Hum." Mamat mengangguk cepat. Dia ingin menjadi anak Pramuka yang tangguh. Kantuknya kini sudah hilang. Lagi pula Mamat takut kalau dikemplang lagi oleh Ipan. Percuma mengeluh pada pemuda itu.

Didin menyalakan flash light ponselnya, menyoroti sekeliling mereka. Tampak jalan setapak yang bercabang-cabang. Semua terlihat sama, sulit dibedakan.

"Kita tadi datang dari sebelah mana, ya?" gumam Didin bingung.

"Sebelah sana tadi." Ipan menunjuk ke arah kanan.

"Ngawur si Ipan. Kita datang dari jalan yang itu." Ali menunjuk arah sebaliknya.

"Kau yang ngawur. Jelas-jelas kita datang dari arah sana." Ipan bersikeras.

"Bakal sesat tak karuan kita kalau menuruti arahmu." Ali tak mau kalah.

"Warik!" Sepasang kening Ipan bertarung sengit, sembari mendorong dada Ali.

"Kamu wariknya!" Ali balas mendorong.

"Ya, salam. Kelahi pulang Tom sama Jeri." Didin mendengkus kesal menyaksikan sikap dua temannya yang kekanakan.

Mamat hanya bisa jadi penonton. Menatap bergantian pada ketiga pemuda itu, sambil sesekali mereguk pelan sisa air putih dalam botol bekal. Merasa ada yang sedang memperhatikan mereka, netra Mamat lalu berpendar.

Lekas Mamat memejamkan mata, ketika tak sengaja melihat beberapa sosok bergaun putih sedang merayapi puncak pepohonan. Sebagian lagi tampak melompat dari pucuk pohon ke pucuk pohon lainnya.

Perang mulut Ipan dan Ali pberhasil menarik perhatian para penghuni hutan galam yang biasanya sepi.


To be continued....

Catatan kaki :

* Sanak => bro

* Warik => monyet


_________________________________



Other Stories
Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )

Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Download Titik & Koma