BAB 4.RAJIA POLISI
"Jadikah kita berangkat, Kak?" tanya Mamat lagi.
Merasa tak digubris, Mamat turun dari pelataran pondok, lalu melangkah perlahan mendekati orang yang dikiranya sebagai Ipan. Anehnya, bayangan hitam itu seakan terus menjauh.
Puk!
Satu tepukan pada bahu, membuat Mamat tersentak kaget.
"Mau ke mana kau?" Ipan sudah berdiri di sampingnya.
"Kak Ipan kah?" gumam Mamat bingung. Mendongak, ditelusurinya wajah pemuda berpostur jangkung itu. Semua terlihat samar dalam kegelapan.
"Hum, ini aku. Kenapa muka kau, kayak orang liat hantu?" Ipan menyentil dahinya.
Bocah itu lalu menoleh lagi ke arah rumpun pisang. Bayangan orang, yang tadi berdiri di sana sudah tidak terlihat. Ternyata bukan Ipan, entah siapa.
"Adakah kau bawa sangu, Mat?" tanya Ipan, dengan raut penuh harap.
Pemuda berambut ikal sebahu itu menghela napas lega, ketika bocah di depannya mengangguk cepat. Tas punggung dilepaskan Mamat dari bahu, kemudian mengeluarkan sesuatu. Sebuah botol plastik berisi air putih yang tersisa separuh, disodorkan pada Ipan.
"Bungul, lain itu maksud unda!" Spontan Ipan menoyor gemas kepala si bocah.
"Duit maksudku. Adakah kau bawa duit?" Ipan mendelik, tubuhnya sedikit membungkuk. Digesek-gesek jari jempol dan telunjuk tangan kanan ke depan hidung Mamat.
Tas punggung biru lusuh berbahan parasut dibuka lagi oleh Mamat. Sekarang sebuah celengan dari tanah liat keluar dari sana. Ipan tersenyum kecut, menebak-nebak dalam hati isi benda berbentuk bulat itu. Paling cuma recehan, batinnya. Tapi, tak apalah.
Prakk!
Beberapa detik kemudian, celengan sudah terhempas ke atas tanah hingga pecah berkeping. Uang koin serta uang kertas seribuan yang sudah lecek berserakan. Gegas keduanya memunguti.
****
Si pemuda begajulan kini sudah membawa serta bocah lugu, duduk di antara lelaki dewasa pendosa. Mamat menatap sekeliling mereka. Tidak menyangka, ternyata begitu banyak orang dalam kebun singkong yang terpencil itu. Suasana berisik dengan suara orang, juga suara ayam.
"Coba kau lihat dua ekor ayam jago tu, Mat! Kau lebih pilih yang mana? Yang kiri atau yang kanan?" tanya Ipan.
Satu tangannya merangkul bahu si bocah. Satu tangan lain menunjuk ke arah dua ekor ayam jantan, yang sedang dipamerkan di tengah arena judi.
Ipan sudah membuktikan kalau hokinya buruk malam ini. Dia sekarang sangat berharap pada keberuntungan Mamat. Siapa tahu, kalau bocah itu yang menentukan pilihan, dia bakal menang taruhan.
"Buat apa pilih ayam? Mau dimasak kah, Kak?" tanya Mamat polos, sembari menekan perut tipis yang kosong. Mulut mengecap, membayangkan sepiring nasi berteman ayam bakar dan kecap.
"Buat disaung. Kalau ayamnya menang besaung, kita bakal dapat duit banyak buat beli makan," terang Ipan, tersenyum culas. Sepasang keningnya naik turun, menatap Mamat.
Penampilan ayam-ayam jantan itu cukup menipu mata. Perawakan besar serta dada busung, belum tentu akan menang dari ayam jantan yang punya tubuh lebih kecil. Ipan sudah beberapa kali terkecoh. Pilihannya selalu salah.
Mamat mendesah kecewa. Tak paham kenapa ayam harus disuruh berkelahi, bukan dimasak menjadi lauk makan. Bocah lelaki itu diam sejenak, kedua netra menatap lesu pada ayam-ayam yang sedang dipegang masing-masing pemiliknya.
Mata Mamat lalu berpindah pada laki-laki tua berpeci miring, yang sedang duduk bersandar pada bangku plastik, tampak sibuk sekali menerima setoran uang dari yang lain, sambil menulis ke buku kecil. Sesekali terlihat saling berbisik dengan lelaki botak berbadan kekar di sampingnya.
Tempat itu berupa tanah lapang yang dipagari tanaman singkong. Sekitarnya terlihat beberapa pohon nangka besar. Lampu pertomak dicantolkan pada dahan pohon, sehingga suasana tampak terang benderang. Pada satu sudut lahan terlihat banyak kurungan ayam yang terbuat dari bambu.
Semua yang hadir terlihat begitu antusias. Mereka duduk berkeliling, sambil saling berbincang. Beragam usia ada, dari pemuda belasan tahun, sampai kakek-kakek yang sudah lupa cara menghitung umur.
Rokok pada tangan mereka tampak membara. Asapnya menyebar menyesakkan dada. Sebagian orang yang duduk di pojok, begitu asyik menenggak minuman dari dalam botol kaca. Bau tembakau serta bau menyengat alkohol berpadu memenuhi udara. Kepala Mamat jadi pening menghidu semua aroma itu.
"Cepatlah, Mat! Kau jagokan ayam yang mana?" desak Ipan tak sabar, melihat Mamat sedari tadi hanya bengong.
"Hum ...." Mamat menggumam. Saat ini dia tidak bisa fokus berpikir. Perutnya melilit merasakan lapar.
Krucuk ....
Perut Mamat kini berbunyi, minta diisi.
"Ulun lapar, Kak, dari siang belum makan," keluh Mamat, meringis.
"Hungang! Kau pikir aku tak lapar, hah?" Sekali lagi kepala Mamat ditoyor.
"Kalau tak ada duit, aku tak bakal bisa mengantar kau ke tempat abahmu."
"Duit celengan ulun tadi ada," protes Mamat takut-takut.
Plak!
Kepala belakang Mamat dikemplang. Mulut mungilnya pun mengaduh pelan.
"Kau pikir duit seculit itu cukup buat ongkos jalan, hah?!" sental Ipan, melotot-lotot.
Dalam hati Ipan mengakui, sebenarnya uang bekal dari mamak tadi siang lebih dari cukup. Entah ilmu pengasih apa yang dimiliki oleh Mamat, sampai mamak ringan hati memberikan ongkos jalan untuk perjalanannya. Ditambah menugaskan Ipan jadi pengawal Mamat.
"Ingat pesan Mamak, Pan! Kau antar Mamat sampai bertemu abahnya! Setelah itu bawa dia pulang dengan selamat! Biar Mamak yang kasih tahu ninik Mamat kalau kau yang mengantar. Mamak titip Mamat padamu, Pan. Dia tanggung jawabmu sampai kembali ke niniknya." Terngiang lagi kalimat panjang lebar dari mamak siang tadi.
Kalau boleh jujur, Ipan malas harus menjagai anak kecil macam Mamat. Tapi, melihat sejumlah uang yang disodorkan mamak, dia seketika berubah pikiran.
"Nih, ongkos buat kalian."
Senyum Ipan mengembang melihat lembaran-lembaran uang merah yang masih kaku di tangan mamak. Tangan Ipan bergerak ingin meraup, tetapi Acil Iyul gesit menariknya lagi.
"Kau harus janji, Pan!" Acil Iyul menatapnya tajam.
"Apalagi, Mak?" tanya Ipan gusar.
"Jangan pulang, kalau tak bawa Mamat dengan selamat!"
"Iya, Ipan janji," sahut Ipan asal. Dalam hati bodo amat.
"Kalau kau tak bisa pegang janji, Mang Halil yang akan menghukummu." Acil Iyul menyebut nama saudara lelakinya yang paling ditakuti oleh Ipan. Seorang jagoan kampung.
"Iya, iya. Ipan janji, dah."
Kenyataannya bukan langsung berangkat. Ipan malah tergoda menjajal keberuntungannya berjudi sambung ayam di desa sebelah. Mengkhayal akan dapat untung yang banyak. Ternyata perkiraannya jauh meleset.
.
.
"Menaaang! Akhirnya menang jua unda, aahahaha ...!" teriakan serta tawa lepas Ipan pecah di tengah keramaian. Kedua tangannya yang terkepal mengacung tinggi ke udara.
Ayam jago pilihan Mamat menang. Anak itu ternyata membawa keberuntungan untuk Ipan. Tak salah perkiraan kali ini. Pemuda itu jingkrak-jingkrak kegirangan, saking senangnya.
"Hebat kau, Mat. Pintar kau pilih jagoan. Coba dari awal kau yang pilih, bisa menang besar kita," pujinya, sembari kedua tangan mengguncang keras bahu kecil Mamat.
"Kau mau makan apa habis ni, Mat? Nasi sop, gado-gado, sate ayam? Pokoknya kau boleh makan apa pun sampai kenyang." tawar Ipan bersemangat.
"Ma- makan, hhh ... makan ...." Mamat sulit bicara, Ipan masih mengguncang bahunya.
Makan apapun tak masalah bagi Mamat, yang penting perut bisa terisi nasi, bukan penuh angin seperti sekarang. Malam telah larut, Mamat lelah, matanya sudah terasa sepat.
"Bubaaar! Bubar semuanyaaa!"
"Awas, ada Rajia pulisi!"
"Pulisi ... ada pulisiii ....!"
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan panik membahana dari luar kebun singkong.
To be continued....
Catatan kaki :
* Ulun => bahasa halus dari saya/ aku. Digunakan oleh yang berusia lebih muda.
* Unda-nyawa => gue-elu
* Sangu => bekal
* Bungul, hungang => bodoh, tolol
Other Stories
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...