Susur

Reads
480
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 3. TAK BERUNTUNG



"Ish, malah nangis dia. Dasar cengeng kau ni, Mat!" Bani tersenyum puas, melihat teman adiknya tersedu-sedu.

Mereka berdua kembali terbahak-bahak, menertawakan ketidak beruntungan Mamat.

Tiiin! Tiiin!

Bunyi nyaring klakson mobil dari seberang jalan.

Seorang perempuan dewasa mengenakan gamis mahal melambaikan tangan, sembari memanggil nama dua bocah pengganggu. Mereka gegas berlarian masuk ke dalam mobil. Tidak ada yang peduli pada Mamat masih menangis hingga tersedak-sedak.

****

Menjelang siang.

Jalanan desa yang sudah mengelupas seperti biasa tidak seberapa ramai. Mobil truk pengangkut hasil kebun tampak terseok menghindari kubangan. Sepeda tua petani melenggak-lenggok pulang dari ladang membonceng ikatan besar rumput segar.

Acil Iyul perempuan paruh baya, sedang menatap heran pada Mamat. Tumben bocah itu duduk sendirian di bangku halte. Biasanya Mamat datang ke warung milik Acil Iyul untuk menitip krupuk buatan Ninik Rahma.

Tapi, kali ini tidak. Seperti ada sesuatu yang sedang Mamat tunggu di halte itu. Mata sipit Mamat sesekali menatap lurus pada persimpangan jalan. Sudah hampir satu jam Acil Iyul memperhatikan dari dalam warung. Seragam cokelat masih terpasang lengkap. Tas punggung yang tampak penuh tersandang pada bahu kecil Mamat.

"Lagi menunggu apa kau, Mat?" Acil Iyul akhirnya mendekati si bocah lelaki.

Mamat diam membisu, hanya ekor mata yang melirik ke Acil Iyul. Dia sebenarnya sedang menunggu angkutan umum desa. Belum satu pun ada yang lewat.

"Ikut ke warung Acil, yuk, Mat! Kau mau jajan es nyiur?" tawar Acil Iyul.

Si bocah menggeleng lesu, lalu menunduk, mengayunkan kedua kaki.

"Acil kasih, gratis. Kau pasti haus kan?" bujuk Acil Iyul lagi, sembari menyentuh punggung Mamat.

Mamat lantas menoleh, menelan ludah yang sedari tadi kering kerontang. Serutan daging buah kelapa muda bersama es batu, sirup merah serta susu kental manis seakan sudah terasa di ujung lidah. Tawaran yang sangat menggiurkan di siang panas. Siapa mampu menolak?

"Hum." Acil Iyul mengerling, sembari mengembangkan senyum.

Warung tampak sepi. Hanya ada dua lelaki dewasa, yang sedang menikmati kopi dan rokok. Pada sudut lain terlihat Acil Iyul duduk berdampingan Mamat, menghadap dinding.

"Kau mau ke tempat abahmu?" Acil Iyul menatap iba, pada bocah kecil di sampingnya.

Mamat mengangguk kecil. Mulut sambil menyeruput es nyiur dengan sebuah sedotan. Perempuan bertubuh gemuk itu telah berhasil mengorek pengakuan dari mulut Mamat, bahwa si bocah ingin mencari ayahnya yang sudah lama tak pulang ke rumah.

"Ninikmu tahu?" tanya Acil Iyul lagi, seraya menyampirkan sehelai handuk kecil pada bahu sendiri.

Sejenak Mamat termangu. Sengaja dia tak pamit pada Ninik. Pergi diam-diam dari rumah, setelah membawa bekal seadanya. Khawatir perempuan tua itu tidak akan memperbolehkannya pergi.

Mamat sudah pernah bertanya tentang abah. Tapi, Ninik tidak menjelaskan apa-apa, hanya menunjukkan beberapa surat, yang dulu pernah dititipkan abah pada seorang supir taksi. Mamat menyimpan surat-surat itu dengan baik. Ada alamat tempat kerja Abah di situ.

Beberapa bulan jadi kuli sebuah tambang minyak, Marzuki masih rutin mengirim nafkah untuk Mamat. Setelah itu tak pernah lagi berkabar. Marzuki seakan menghilang ditelan bumi.

Berbekal alamat pada surat, Mamat ingin mencari keberadaan lelaki itu. Ingin bertanya, kenapa abah tak pernah lagi datang menjenguk dirinya, kenapa tak pernah memberi kabar. Mamat ingin melihat wajah Abah, ingin mendengar suaranya, ingin memeluk. Mamat rindu, sangat rindu.

"Takut tak dibolehi sama Ninik?" tebak Acil Iyul, menyelidik.

Mamat mengangguk pelan. Acil Iyul menghela napas. Hatinya trenyuh menatap raut polos itu. Semasa hidup, almarhum ibu Mamat pernah berteman baik dengannya.

"Sebentar, tunggulah kau di sini, jangan ke mana-mana, habiskan es nyiurmu!" titahnya pada Mamat.

Acil Iyul beranjak keluar dari warung. Berjalan memutar menuju bangunan lain yang berjarak puluhan meter dari warung. Ke rumahnya.

Seorang pemuda kurus bertelanjang dada, tengah berbaring pulas pada balai-balai bambu beranda. Angin yang berembus sepoy-sepoy dari sawah sekitar, semakin membuai tidurnya. Mulut itu menganga dengan suara dengkur yang cukup nyaring.

Mendengkus kesal Acil Iyul. Gegas ditarik handuk kecil yang tersampir pada bahu.

Plakk!

Handuk dipukulkan ke tubuh si pemuda. Namanya Ipan, anak bungsu Acil Iyul yang masih bujang, lagi pengangguran.

"Lakas bangun, Pan! Tidur saja kerjamu. Matahari sudah di atas kepala, tak juga kau bangun." omel sang ibu.

"Masih ngantuk, Mak," rengek Ipan, enggan membuka mata.

Plakk!

"Bangun! Siapa yang suruh kau begadang tiap malam?!"

"Bentar lagi, Mak!" Tubuhnya memutar, memunggungi.

"Bangun!"

Plakk! Plakk!

Cambukan handuk semakin cepat bertubi-tubi.

"Aduh, Mak! Ampun, Mak! Iya, iya, ini sudah bangun." Ipan gegas duduk, seraya mengacak-acak gusar rambut ikalnya yang sebahu.

"Cepat kau mandi! Lalu kau antar si Mamat!"

"Mamat? Mamat siapa?" Ipan menguap lebar, mengusap sisa iler pada sudut mulut.

"Mamat cucu Ninik Rahma, penjual kerupuk."

"Ada upahnya, kah, Mak?" Ipan menatap sang ibu dengan kelopak mata yang masih berat menggantung.

"Ada. Nih upahnya. Mau kau?" Acil Iyul memamerkan kepalan tangan ke depan wajah Ipan.


*****

Malam.

Sepasang mata Ipan menatap tegang pada dua ekor ayam jantan yang sedang bertarung sengit di tengah kerumunan orang. Sebuah tempat yang ramai disesaki penggila judi sambung ayam. Suasana sorak-sorai mengiringi pertarungan ayam jantan, yang masing-masing sedang berjuang mempertahankan hidup.

"Kayaknya si Jontor bakal kalah malam ni," celetuk laki-laki paruh baya, yang duduk jongkok di samping Ipan. Dia menyebut nama salah satu ayam jantan yang sedang diadu di tengah lapangan.

Ipan mendelik sengit. Dirinya terlanjur memasang taruhan untuk ayam berbulu hitam, bernama Jontor itu.

"Betul, Mang. Si Jontor mulai keok, Jambul yang bakal menang romannya nih. Tak salah pilih jagoan aku," sahut yang lain. Semakin gugup Ipan mendengar, menggigit-gigit bibir sendiri.

"Uuy, Jontor, lawan, Tor!" teriak Ipan, menyemangati ayam jago yang mulai berdiri oleng, kehabisan tenaga.

Malam ini, Ipan sudah mengalami kekalahan banyak. Jangan sampai taruhan terakhir dia kalah lagi. Lelaki muda itu menarik-narik rambut sendiri. Raut cemas tergambar jelas pada wajah yang berkumis tipis.

Menit demi menit berlalu. Keringat membasahi dahi Ipan. Mata tak berkedip menatap ke tengah lapangan. Menahan napas, seolah sedang menyalurkan kekuatan pada ayam jantan jagoannya. Namun, sia-sia. Si Jontor akhirnya terkulai lemas di bawah kaki si Jambul.

"Pemenangnya ... si Jam-bul!" Laki-laki buncit yang memakai peci hitam terpasang miring, mengumumkan pemenang, disambut suara sorak-sorai para hadirin.

"Jiaaah!" Ipan menghempaskan punggung kesal ke tanah berumput. Kedua tangan mengepal kuat.

Habislah sudah uang sangu yang diberi mamak tadi sore. Semua sudah dipasang untuk taruhan judi sambung ayam. Handphone jadul miliknya pun tergadai untuk menutup kekurangan. Harapan Ipan, taruhan kesekian kali ini, semua uang bisa kembali. Tapi, nihil. Tak sekalipun dia memenangkan taruhan.

"Siaaal!" Ipan merutuk panjang.

"Eh, Pan. Anak siapa yang kau bawa ke sini? Tuh, dia masih duduk di pondok. Kesian." Seorang teman sesama penjudi mengingatkan Ipan.

"Masa budu!" dengkus Ipan. Pemuda kurus itu masih terbaring, menatap langit malam yang bertabur bintang. Wajah bulan pun seakan sedang tersenyum mengejek dari atas sana.

Hari ini Ipan merasa bangkrut besar. Jarang-jarang mamak memberi uang banyak. Tadi sempat Ipan berkhayal, keluar dari arena judi, uang akan berkali-kali lipat lebih banyak. Bisa buat beli baju baru juga beli motor. Biar Asmah kembang desa yang cantik itu mau jadi pacarnya.

Tiba-tiba terbersit sesuatu dalam kepala Ipan. Matanya lalu berkedip-kedip. Dia masih punya harapan. Senyum lebar Ipan kemudian mengembang.

.

.

Ngiuuung ... ngiuuung ....

Kepak sayap-sayap serangga kecil penghisap darah, mendengung dekat lubang telinga.

Plakk!

Satu kali tepukan, puluhan tubuh nyamuk remuk, di antara dua telapak tangan mungil Mamat. Bangkai-bangkai nyamuk lalu dikumpulkan dekat kaki. Tapi, nyamuk-nyamuk nakal itu tak ada habisnya. Teman-teman mereka terus berdatangan, merubung dan menggigiti tubuh Mamat, yang tengah duduk meringkuk dalam kegelapan.

Hingga malam menjelang, Ipan belum membawa Mamat pergi dari desa. Namun, malah mengajak ke suatu tempat sepi. Menyuruh menunggu di depan sebuah pondok kebun, tanpa menjelaskan apa-apa. Entah sudah berapa lama Mamat duduk di sana.

Mereka ke sana sejak warna langit masih biru hingga sekarang telah berubah hitam. Sebuah tempat tersembunyi dalam kebun milik warga desa. Mamat bisa mendengar suara keramaian banyak orang yang sedang berjudi sambung ayam dari balik kebun singkong. Cahaya terang lampu petromak dari situ menembus sela pepohonan.

Perut Mamat lapar. Sedari siang dia hanya minum air putih dari botol bekal yang dibawa dalam tas punggung. Sambil menepuk nyamuk yang terus berdatangan, tangan Mamat sibuk menggaruki kulit yang penuh bentol. Wajah, lengan, kaki, semua terasa gatal.

Saat angin berembus, tercium wangi bunga melati. Lubang hidung Mamat dibuat kembang kempis. Diedarkannya pandangan pada sekeliling. Namun, yang tampak hanya pohon kates serta pohon pisang. Mamat tidak melihat tanaman bunga melati dekat pondok.

Mata Mamat lalu menyipit, ketika menemukan siluet tubuh seseorang yang berdiri dekat rimbun pohon pisang, beberapa puluh meter dari pondok tempat dia duduk sekarang.

"Kak Ipan?!" panggilnya. Ada rasa lega melihat pemuda itu sudah selesai dengan urusannya. Namun, siluet tubuh itu tidak bergeming. Berdiri mematung tanpa suara.





Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Download Titik & Koma