Susur

Reads
494
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 2. BUKAN PENDUSTA



Di satu sudut, perkampungan suku Banjar.

Semburat keemasan menelisik cabang-cabang pohon. Tampak bocah lelaki duduk di pelataran sebuah rumah mungil sederhana. Sepasang tangannya yang mungil tergesa mengikat simpul tali sepatu. Sesekali memutar leher ke pintu yang terbuka. Dia bisa melihat jam dinding usang sudah menunjuk pukul tujuh pagi.

"Sudah sarapan kah, Tung?" celetuk perempuan tua yang sejak tadi berdiri di halaman rumah.

"Sudah, Nik ay," sahut bocah bernama Mamat itu. Dia segera menuruni undakan pelataran, sembari membenahi letak tas punggung. Siap untuk berangkat.

Seragam cokelat tampak kebesaran pada tubuh kecil Mamat. Sabuk hitam terpasang kencang, membuat kerutan di bagian pinggang. Rambut yang kelimis sudah tertutup baret cokelat tua, lengkap dengan slayer merah putih melilit lehernya. Mamat merasa gagah setiap memakai seragam pramuka.

"Habis pramuka, langsung pulang! Jangan kau keluyuran bemain!" pesan Ninik Rahma.

Sejak tadi beliau sibuk menata lempengan krupuk dalam nyiru. Ada puluhan nyiru berbentuk bulat yang dijemur berjejer di atas pagar tanaman. Perempuan tua itu sejenak menghentikan kegiatan. Tangan kurus menata ulang cepolan rambut tipis yang telah memutih, lalu menyapukannya ke jarik yang melekat pada tubuh sendiri.

"Ini, buat jajanmu." Selembar uang kertas seribuan disodorkan ke Mamat.

"Makasih, Nik." Bibir mungil Mamat tersenyum tipis, lalu diraih dan dicium takzim punggung tangan keriput itu. "Assalamu' alaikum, Mamat berangkat."

"Wa' alaikum salam. Tak usah lari, jalan saja!" teriak Ninik, hapal pada kebiasaan sang cucu.

Namun, terlambat, tubuh mungil berseragam cokelat itu sudah melesat bak biji ketapel . Punggung yang menyandang tas ransel seketika menghilang di balik pagar tanaman yang mengelilingi rumah mereka. Ninik Rahma hanya bisa menggelengkan kepala.

"Kalau masih bisa berlari, kenapa harus berjalan?"

Mamat heran pada siapapun yang kerap melarangnya berlari. Padahal, berlari sangat menyenangkan.

Namanya Muhammad Insan. Orang-orang lebih suka memanggilnya Mamat. Tubuh bocah lelaki yang baru menginjak enam tahun itu semakin menjauh dari rumah mungil mereka.

Rumah kayu berbentuk panggung yang terlihat mulai keropos dimakan usia. Jendela kayu tanpa kaca tampak tidak lagi simetris. Pada beberapa sudut dinding telah disulam dengan kardus bekas untuk menggantikan papan yang telah lapuk. Siang hari Mamat seolah melihat banyak bintang bertaburan pada langit-langit rumah. Jika hujan turun lebat nenek dan cucunya itu akan sibuk menggeser ember, panci atau apapun untuk menampung air yang menerobos masuk.

Sekeliling halaman rumah ditumbuhi bunga kaca piring berwarna putih. Daun serta tangkainya rutin dipangkas sehingga terlihat rapi layaknya pagar tinggi. Setiap angin berembus, maka aroma wangi bunga kaca piring akan menyebar. Di atas tanaman itulah biasa Ninik menjemur nyiru-nyiru berisi kerupuk singkong buatannya.

Kaki kurus Mamat terus berlari menapaki tanah merah berlapis kerikil. Jalanan tampak basah dihiasi kubangan sisa hujan semalam. Kanan dan kiri jalan diapit parit tergenang air yang bermuara ke anak sungai. Tepiannya ditumbuhi semak belukar tebal. Pohon-pohon tua memayungi sepanjang jalan. Batangnya besar, cabangnya menjuntai hingga ke tanah.

Dekat pertigaan, rumah kayu berukuran lebih besar sudah terlihat. Rumah itu milik Apis, teman satu sekolah Mamat. Tidak seperti biasa, pintu serta jendela rumahnya tertutup rapat.

Mamat berhenti sejenak di depan rumah Apis. Napasnya sedikit tersengal. Dia berharap Apis mau berangkat bareng dengannya ke sekolah pagi ini. Setiap sabtu pagi adalah kegiatan Pramuka.

"Apis... Apis!" panggil Mamat nyaring.

Sepi.

Beberapa kali panggilan, tidak ada orang yang membukakan pintu rumah. Mamat lalu mengendikkan bahu. Apis sudah berangkat lebih dahulu, pikirnya.

Si Mamat kembali berlari kecil. Beberapa rumah kayu berbentuk panggung khas pedesaan terlihat lagi, tampak menjorok ke tengah sawah. Jarak satu rumah ke rumah lainnya berjauhan. Masing-masing memiliki titian kayu panjang untuk terhubung ke jalan.

Perjalanan dari rumah menuju sekolah terhitung cukup jauh, untuk anak seusia Mamat. Itulah sebab Mamat tidak suka berjalan kaki. Dia sudah terbiasa berlari. Tidak banyak anak usia sekolah di dekat rumahnya. Apis kadang diantar ayahnya naik motor. Hanya sesekali anak itu mau berangkat bareng. Mamat lebih sering sendiri.

"Ngeeeng... brum, bruuum...." Sambil berlari, mulut Mamat menirukan bunyi mesin motor. Kedua tangannya seolah sedang memegang kemudi. Berkhayal sedang mengendarai sebuah motor besar yang melaju kencang di atas jalanan desa.

Bau lumpur dari sawah terbawa tiupan angin. Kambing-kambing mengembik, menikmati rumput segar yang tumbuh sepanjang sisi jalan. Dari kejauhan terlihat tubuh-tubuh kecil petani sedang berendam dalam lumpur. Di antara mereka ada yang menyapa dan melambaikan tangan kepada Mamat.

"Mau kemana, Mat?!" sapa seorang lelaki tua bercaping, yang duduk di atas pematang.

"Ke sekolahan," sahut Mamat singkat, tanpa menghentikan laju kaki. Ujung sepatu hitamnya membuat cipratan, ketika tak sengaja menginjak kubangan lumpur.

****

Halaman sekolah sepi. Hanya ada Mamat sendiri. Sudah cukup lama bocah lelaki itu menunggu. Duduk sabar di bawah tiang bendera. Memandangi lumpur yang telah mengering pada ujung sepatu.

Sinar hangat matahari menyilaukan mata. Cuaca sejuk pagi kini sudah berubah panas. Keringat membasahi wajah polos Mamat. Tapi, tak seorang pun temannya yang muncul di halaman sekolah. Kening Mamat bertaut menatap lekat ke arah gerbang. Masih berharap akan ada yang datang.

Lelah menunggu, Mamat akhirnya melangkah keluar dari halaman. Bingung Mamat pada apa yang sedang terjadi hari ini. Kemana teman-temannya?

Bocah lelaki itu berdiri termangu. Menatap heran ke seberang jalan. Pada dua bocah lelaki di depan rumah beton berpagar besi. Rumah yang paling bagus di desa. Mereka kakak beradik anak pejabat desa. Teman satu sekolahnya.

Mamat melempar senyum pada kedua bocah itu. Jaket couple bergambar Spiderman yang mereka pakai terlihat keren dan mahal. Entah kapan Mamat bisa memiliki jaket sebagus itu. Mungkin nanti kalau Abah sudah pulang, batinnya.

"Mau apa kau ke sekolah, Mat? Sekarang sekolah libur, hahaha," ledek Amin, terbahak-bahak. Dia dan kakak lelakinya lalu berjalan mendekati Mamat.

"Ada-ada saja kau, Mat. Kalau sekolah libur, Pramuka juga libur," timpal Bani -- kakak Amin.

"Libur?!" Mamat menggumam tertahan, bola matanya sontak melebar.

Astaga! Lupa kalau sekarang sedang libur! Pantas rumah Apis pun tadi sepi. Senyum di wajah manis bocah itu kini memudar.

"Kami mau pergi ke kota. Kau sendiri tak ke mana-mana kah, Mat?" tanya Bani lagi.

"Mana mungkin. Mamat tak punya abah, tak punya mamak pula," sahut Amin, mendongak pada kakak lelakinya yang berpostur jauh lebih tinggi.

"Mamat punya abah," sental Mamat segera.

" Bohong! Aku tak pernah melihat abahmu." Amin mencibir.

"Abahku kerja kuli di tempat jauh." Mata Mamat kini mulai berkaca.

Dari cerita Ninik, Mamat tahu bahwa abah pergi jauh untuk bekerja, selepas mamak meninggal, waktu usianya masih dua tahun. Sejak saat itulah dia tak pernah lagi melihat abah. Lelaki itu tak pernah lagi pulang. Mamat sampai lupa rupa wajahnya.

"Kau bohong. Kau sudah tak punya abah. Kata orang-orang, abahmu hilang." Bani tersenyum mengejek.

"Abahku ada!" Suara Mamat semakin meninggi, mukanya kini kemerahan menahan emosi.

"Dasar pendusta!" bentak Amin, menghentakkan kaki.

"Aku bukan pendusta, huhuhuuu ...." Mamat terisak. Kata-kata Amin terasa menusuk hati.

Catatan kaki :

*tung/untung/beruntung = panggilan yang menyelipkan doa, untuk anak atau cucu.

*nyiru => tempat yang terbuat dari anyaman bambu.




Other Stories
Aku Versi Nanti

Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Download Titik & Koma