Susur

Reads
487
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 1.PROLOG



Pegunungan Meratus, Borneo. Suatu hari di bulan Oktober.

Dua lelaki berpostur tinggi besar berdiri di tengah jalan menghadang laju sebuah minibus. Jaket kulit serta kaca mata hitam membuat penampilan mereka terlihat garang.

Minibus itu kemudian berhenti. Sepasang mata menatap penuh selidik dari balik kaca gelap mobil. Mata bening dengan iris kecoklatan milik Dara -- gadis belia yang duduk sendiri di bangku penumpang. Dia diundang seseorang datang ke tempat itu. Sepanjang perjalanan hatinya gelisah, terasa ada sesuatu yang salah. Entah apa, Dara sendiri pun tak mengerti.

Merasa cukup menginterogasi si pengemudi, dua lelaki lalu menyisi, memberi jalan. Roda mobil kembali berputar menggilas jalan berbatu, memasuki kawasan hutan sepi. Sejauh mata memandang tampak bukit ngarai menghijau.

"Pesta kebun kah?" Dara membatin.

Selang beberapa saat kemudian, dia menyaksikan mobil-mobil besar telah terparkir. Belasan lelaki berjaket hitam kembali terlihat berjaga. Mobil yang membawa Dara lalu berhenti. Salah seorang mendekat, meminta Dara ikut dengannya.

Banyak gadis seusia Dara saling membaur dengan dress code putih. Perasaan was-was Dara berangsur lega. Semua tampak baik-baik saja. Puluhan bangku tertata rapi, gelas-gelas berisi minuman segar, berbagai macam kue lezat tersaji.

Penasaran, Dara coba bertanya pada gadis-gadis itu tentang acara macam apa yang sedang mereka hadiri. Kenapa semua diberi pakaian putih yang sama? Adakah yang sedang berulang tahun? Tapi, tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan padanya. Bahkan mereka semua ternyata tidak saling mengenal satu sama lain. Meskipun demikian, Dara mencoba menikmati suasana. Kue-kue manis itu sayang untuk dilewatkan.

Selang beberapa saat kemudian, semua gadis diminta berjalan berderet mengikuti seorang kakek kurus, sangat kurus. Dada telanjang serta kulit tipis yang telah kisut semakin memperjelas tonjolan tulangnya. Sambil berjalan kakek kurus berjanggut keperakan itu menjunjung tinggi dupa di atas kepala. Asap putih beraroma wangi mengepul mengiringi langkah gadis-gadis bergaun putih.

Mereka berjalan beriringan menuju ke balik sebuah bukit, melewati jalan setapak bertabur kelopak bunga. Si kakek mulai bersuara lirih, melagukan tembang bahasa Jawa layaknya sebuah ritual mistis. Jantung Dara mulai berdebar tak karuan.

Di balik bukit, sekelompok orang sudah menunggu. Satu di antara mereka sangat dikenali Dara. Seseorang bernama Jaya Herlambang.

Mata Dara berpendar pada sekeliling. Sebuah alat berat tampak siaga. Laki-laki besar berjaket hitam tersebar di beberapa sudut tempat.

Kakek kurus yang memegang dupa tiba-tiba menjerit tak jelas sembari menari tak terkendali persis orang kesurupan. Suasana kian berisik saat mesin bor raksasa hidup.

Semua terjadi begitu cepat. Suasana berubah menakutkan. Bising bor bercampur teriakan histeris, pekik ketakutan, serta jerit kesakitan. Cairan merah memercik ke mana-mana. Bau amis menyebar.

Napas Dara memburu, matanya membola. Tak percaya menyaksikan yang terjadi di depan sana. Gadis pada barisan depan diperlakukan dengan sangat kejam.

Satu per satu dari mereka dilempar tanpa perasaan ke dalam sebuah lubang besar yang menganga, kemudian mata bor berukuran raksasa menggilasnya hingga hancur, bak cabai dalam sebuah mesin penggiling. Darah segar, bongkahan daging, serta pecahan tulang seketika memercik ke mana-mana. Dalam sekejap, tanah di sekitar lubang telah dibanjiri oleh darah.

Serasa mimpi di siang bolong. Satu tangan Dara mengusap separuh pipi telah basah. Gadis itu menelan ludah cekat memandangi telapak tangannya sendiri yang gemetar.

'Darah!' pekik Dara, tanpa bisa terucap. Masih setengah percaya pada yang barusan muncrat ke wajahnya.

Kedua kaki Dara sontak mundur beberapa langkah. Naluri alami untuk menyelamatkan diri. Sayang punggungnya malah membentur tubuh kokoh salah satu lelaki besar berjaket kulit. Ternyata mereka sudah siap mencegah siapapun, yang akan kabur dari tempat itu.

"Mau ke mana kamu?!" Sepasang tangan kekar telah mencengkram bahu Dara. "Tidak ada jalan keluar dari sini," tegasnya lagi.

Tanpa pikir panjang, gadis itu menghentakkan satu tumit dengan kekuatan penuh.

"Jiaaahh!" Kontan dia menjerit. Tak menyangka hak sepatu Dara akan menganiaya jempol kakinya yang centengan. Sakit luar biasa. Cekalan pada bahu Dara sontak terlepas.

Dua orang lelaki besar lain gegas mendekat, tetapi Dara sudah terlebih dahulu memacu tungkainya masuk ke dalam hutan. Lari gadis itu sangat cepat, hanya hitungan detik dia sudah tak terlihat.

"Kejar! Kejar dia sampai dapat! Jangan sampai ada yang lolos!" teriak salah satu dari mereka.

Masih sempat telinga Dara menangkap suara orang-orang di belakang.

DOR! DOR!

Bunyi letusan keras dari senjata api terdengar beberapa kali. Mereka semua tampaknya sudah gila, membantai orang yang tidak berdosa. Gadis-gadis itu diminta datang hanya untuk dibunuh.

Atas dasar apa mereka dibunuh?

Kedua kaki jenjang Dara terus berlari di atas jalan setapak yang menanjak, menuju puncak sebuah bukit. Tubuhnya lalu menerobos masuk dalam rimbun semak-semak. Tak dirasakan lagi goresan ranting tajam serta duri-duri yang mengenai kulit halus serta telapak kakinya. Gaun putih Dara kini sudah koyak.

"Hossh... hossh...." Napasnya tersengal, semakin jauh memasuki hutan.

Dara harus pergi sejauh mungkin dari tempat penjagalan itu. Dia harus selamat.

"Aku yakin gadis itu masih ada di sekitar sini," gumam seorang lelaki brewok berkulit gelap.

Dia lalu membungkuk, memungut sesuatu. Diperlihatkan sebuah benda pada ketiga temannya. Benda berupa sepatu flat berwarna putih itu milik Dara yang tanpa sengaja telah terlepas.

Dari tempatnya sembunyi, pupil Dara merekam wajah para pemburu. Terutama si lelaki brewok yang memiliki hidung bengkok serta ciri khusus berupa codet pada pipi kirinya.

"Sebaiknya kita berpencar. Dia tidak mungkin bisa pergi jauh dari sini. Kita harus segera menemukannya hidup atau mati," ujar si pipi codet lagi.

Menelan ludah cekat Dara mendengar kalimat itu. Dalam hati dia bisa menebak bahwa orang berpipi codet adalah pemimpin mereka.

Mata keempat orang itu terus menelisik liar pada sekeliling. Senjata api yang siap dimuntahkan membuat ciut nyali. Sambil tiarap, Dara terus berdoa dalam hati.

Mereka kemudian terlihat berpencar, berjalan ke arah yang berbeda. Dara tidak akan dibiarkan lepas. Gadis itu ancaman besar setelah menjadi saksi hidup persengkongkolan pembunuhan.

Dari balik rumpun ilalang yang tinggi, Dara membekap mulut sendiri. Khawatir bunyi napas akan terbawa angin, hingga bisa didengar oleh orang-orang yang sedang memburunya. Jantungnya memompa cepat, darah mengalir deras, butir-butir keringat dingin kini sudah membasahi sekujur tubuh.

Raut Dara kian menegang melihat salah seorang dari lelaki besar mengarahkan teropong ke segala penjuru. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Moncong teropong berhenti bergerak, saat mengarah ke padang ilalang pada tebing bukit.

"Itu dia!" seru nyaring si pemilik teropong, sambil menunjuk pada dataran yang lebih tinggi. "Dia ada di atas!" teriaknya lagi.

Dara terhenyak. Semua kini menoleh ke tempat dirinya yang sedang tiarap di balik rumpun ilalang. Semudah ini dia ditemukan. Lelaki berpipi codet sigap membidikkan senjata api ke arah Dara, saat dirinya kembali beranjak akan kabur.

DOR! DOR!

Bunyi beberapa kali letusan memekakkan telingga.

Dara belum menyerah, dia terus berlari. Namun sayang, salah satu timah panas berhasil menghentikan laju kakinya. Napas gadis berparas ayu itu tertahan, merasakan sakit dan panas sekaligus. Tangannya masih sempat meraba bagian perut yang mengucurkan darah. Pandangan Dara berangsur kabur, sebelum tubuh langsing itu ambruk, lalu jatuh terguling-guling ke bawah bukit terjal, di situ sebuah sungai kecil berarus deras telah menunggu.

Byurrr!

Seluruh tubuh Dara telah masuk ke dalam air yang dingin.

______________________________________




Other Stories
Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Download Titik & Koma