Part 5 Diam Tak Melawan
Aku yang sudah tidak tahan lagi akan ejekan itu, akhirnya aku lebih memilih pulang duluan secara senyap dan tidak memberi tahu teman ku yang lain. Esok harinya pada saat bertemu dengan teman ku lagi, mereka menyadari akan satu hal. Yap mereka menyadari bahwa keberadaan diri ku yang tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar dan tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada mereka semua.
Saat itu memang zamannya sudah mulai menggunakan handphone android dan kami bisa melakukan chat secara online melalui aplikasi tersebut untuk memberikan kabar. Namun aku lebih memilih untuk tidak memberi kabar akan kepulangan ku yang mendadak itu kepada mereka.
Pada saat ditanya teman ku mengapa pulang duluan, aku sepontan menjawab tiba-tiba tidak tahan untuk buang air besar. Alasan yang cukup tidak make sense bukan pada saat itu? lantaran pada kejadian kami sedang berada di dekat masjid. Jika benar tidak tahan buang air besar mengapa tidak lari ke arah toilet masjid saja? mengapa harus lebih memilih untuk pulang ke rumah yang jaraknya sedikit jauh dari lokasi?
Namun, ya itulah alasan ku kepada teman-teman terkait diri ku yang hilang secara tiba-tiba. Aku takut ketika memberikan jawaban yang sebenarnya, mereka akan semakin mengejek ku yang lain. Teman-teman ku itu pun tidak ada satu pun yang mempermasalahkan lebih dalam lagi terkait alasan yang ku berikan kepada mereka. Aku memberikan alasan itu untuk menutupi apa yang sedang ku rasa karena mendapat ejekan dari mereka.
Waktu itu aku juga masih sering sekali mengaji di pengajian yang memang dekat sekali dengan rumah. Aku termasuk murid yang sangat rajin sekali datang untuk mengaji di tempat itu. Sangat jarang aku tidak hadir saat waktu mengaji telah tiba. Namun pada saat aku sudah berada di tempat mengaji pun, aku tetap mendapatkan ejekan tersebut dari teman yang lain waktu itu.
Aku yang baru menginjak Sekolah Menengah Pertama itu pun sangat kesal dengan ejekan tersebut, namun aku tak melawan mereka dan lebih memilih untuk diam. Aku pikir apabila beda tempat, ejekan tersebut tidak akan ada lagi. Tapi ternyata terlalu cepat mengambil kesimpulan dan aku salah menilai.
Sampai pada akhirnya aku sudah tidak kuat akan ledekan tersebut yang sering datang kepada ku, aku lebih memilih kabur alias bolos pada saat waktu pengajian telah tiba. Terlalu sering tidak hadir di kelas pada saat pengajian, membuat orang tua ku mendapatkan pesan dari guru ngaji dan menanyai terkait diri ku apakah masih ingin melanjutkan mengaji di sana atau tidak.
Aku lebih memilih untuk tidak mengaji lagi di tempat itu lantaran aku takut mendapatkan ledekan itu kembali. Setelah aku tidak mengaji di situ, ketika sudah sore hari aku isi dengan berdiam di rumah dan terkadang aku memilih bermain bersama teman-teman. Sesekali aku bermain dengan teman yang tempat tinggalnya berbeda gang dengan rumah ku.
Waktu itu entah mengapa rasanya sangat bosan sekali ketika berdiam di rumah saja dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya aku keluar dengan tujuan bermain dengan teman yang rumahnya berbeda gang itu. Rumahnya tersebut berada di ujung gang. Saat aku sedang melewati gang tersebut sendirian, aku bertemu anak kecil yang pernah meledek ku waktu saat bulan puasa.
Aku pikir mereka sudah lupa dan tidak akan mengejek ku lagi lantaran sudah cukup lama waktu itu. Perkiraan ku kembali salah, ternyata mereka masih mengingat muka ku. Akhirnya aku kembali mendapatkan ejekan "Gigi Patah" dari anak-anak kecil tersebut. Aku yang sudah berjalan setengah gang itu pun lebih memilih cuek terhadap anak kecil itu dan pura-pura tidak melihat.
~Bersambung~
Saat itu memang zamannya sudah mulai menggunakan handphone android dan kami bisa melakukan chat secara online melalui aplikasi tersebut untuk memberikan kabar. Namun aku lebih memilih untuk tidak memberi kabar akan kepulangan ku yang mendadak itu kepada mereka.
Pada saat ditanya teman ku mengapa pulang duluan, aku sepontan menjawab tiba-tiba tidak tahan untuk buang air besar. Alasan yang cukup tidak make sense bukan pada saat itu? lantaran pada kejadian kami sedang berada di dekat masjid. Jika benar tidak tahan buang air besar mengapa tidak lari ke arah toilet masjid saja? mengapa harus lebih memilih untuk pulang ke rumah yang jaraknya sedikit jauh dari lokasi?
Namun, ya itulah alasan ku kepada teman-teman terkait diri ku yang hilang secara tiba-tiba. Aku takut ketika memberikan jawaban yang sebenarnya, mereka akan semakin mengejek ku yang lain. Teman-teman ku itu pun tidak ada satu pun yang mempermasalahkan lebih dalam lagi terkait alasan yang ku berikan kepada mereka. Aku memberikan alasan itu untuk menutupi apa yang sedang ku rasa karena mendapat ejekan dari mereka.
Waktu itu aku juga masih sering sekali mengaji di pengajian yang memang dekat sekali dengan rumah. Aku termasuk murid yang sangat rajin sekali datang untuk mengaji di tempat itu. Sangat jarang aku tidak hadir saat waktu mengaji telah tiba. Namun pada saat aku sudah berada di tempat mengaji pun, aku tetap mendapatkan ejekan tersebut dari teman yang lain waktu itu.
Aku yang baru menginjak Sekolah Menengah Pertama itu pun sangat kesal dengan ejekan tersebut, namun aku tak melawan mereka dan lebih memilih untuk diam. Aku pikir apabila beda tempat, ejekan tersebut tidak akan ada lagi. Tapi ternyata terlalu cepat mengambil kesimpulan dan aku salah menilai.
Sampai pada akhirnya aku sudah tidak kuat akan ledekan tersebut yang sering datang kepada ku, aku lebih memilih kabur alias bolos pada saat waktu pengajian telah tiba. Terlalu sering tidak hadir di kelas pada saat pengajian, membuat orang tua ku mendapatkan pesan dari guru ngaji dan menanyai terkait diri ku apakah masih ingin melanjutkan mengaji di sana atau tidak.
Aku lebih memilih untuk tidak mengaji lagi di tempat itu lantaran aku takut mendapatkan ledekan itu kembali. Setelah aku tidak mengaji di situ, ketika sudah sore hari aku isi dengan berdiam di rumah dan terkadang aku memilih bermain bersama teman-teman. Sesekali aku bermain dengan teman yang tempat tinggalnya berbeda gang dengan rumah ku.
Waktu itu entah mengapa rasanya sangat bosan sekali ketika berdiam di rumah saja dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya aku keluar dengan tujuan bermain dengan teman yang rumahnya berbeda gang itu. Rumahnya tersebut berada di ujung gang. Saat aku sedang melewati gang tersebut sendirian, aku bertemu anak kecil yang pernah meledek ku waktu saat bulan puasa.
Aku pikir mereka sudah lupa dan tidak akan mengejek ku lagi lantaran sudah cukup lama waktu itu. Perkiraan ku kembali salah, ternyata mereka masih mengingat muka ku. Akhirnya aku kembali mendapatkan ejekan "Gigi Patah" dari anak-anak kecil tersebut. Aku yang sudah berjalan setengah gang itu pun lebih memilih cuek terhadap anak kecil itu dan pura-pura tidak melihat.
~Bersambung~
Other Stories
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Percobaan
percobaan ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...