Part 1 Belajar Untuk Jadi Sombong
Suatu hari yang cerah ada seorang anak kecil yang suka sekali bermain sepeda. Siapakah anak kecil itu? Yap anak kecil itu adalah diri ku sendiri. Aku senang sekali bermain sepeda dengan teman-teman pada waktu aku masih kecil dulu. Saat itu, aku dan teman-teman sedang bermain sepeda bersama mengelilingi komplek perumahan.
Seperti biasa, kami semua melalui berbagai jalanan yang ada di komplek perumahan dimana tempat kami tinggal. Mulai dari jalan yang berbelok, menurun, dan juga ada yang menanjak. Waktu itu bisa melakukan satu hal saat sedang bersepeda merupakan hal yang dinilai cukup keren, selain itu juga bisa menjadi hiburan tersendiri bagi kami pada kala itu.
Aku yang mudah bosan tidak mau diam selalu saja ada tingkah yang dikeluarkan, termasuk pada saat berpeseda. Sepeda ku waktu itu adalah sepeda lipat berwarna putih dengan 6 percepatan. Hal yang sering aku lakukan pada saat sedang bersepeda adalah melepas kedua tangan ku dari setang sepeda pada saat sepeda dalam kondisi sangat laju.
Kecepatan sepeda selalu ditambah ketika aku ingin melakukan hal tertentu. Hal tersebut memang terlihat sangat bodoh dan tidak ada gunanya ketika di fikir kembali, namun apa daya? kami yang masih kecil selalu bertingkah untuk menghibur diri sendiri ataupun menghibur satu sama lain.
Pada awalnya, aku sendiri tidak bisa melakukan hal itu lantaran keseimbangannya yang masih belum terjag dengan baik. Awalnya aku mulai latihan hanya melepas satu tangan ku saja dari setang sepeda untuk melatih keseimbangan. Setelah merasa cukup seimbang, akhirnya aku memberanikan diri untuk mencoba melepas kedua tangan ku dari setang sepeda ketika sedang bersepeda.
Memang awalnya aku tidak bisa menjaga keseimbangan diri. Setiap kali aku melepas kedua tangan ku dari setang sepeda, arah laju sepeda selalu tidak stabil dan tidak teratur. Arah sepeda menjadi lebih liar dan susah untuk dikendalikan. Apabila tidak cepat cepat di kendalikan, maka dampaknya bisa terjatuh dari sepeda. Sering sekali arah laju sepeda secara perlahan selalu mengarah ke kanan atau ke kiri.
Aku orang yang tidak mudah menyerah akan suatu hal yang baru. Setiap kali aku bermain sepeda, pasti selalu melewati turunan dengan tujuan ingin berlatih keseimbangan agar semakin terjaga. Laju sepeda ku kebut lalu ke dua tangan di lepas dari setang. Begitulah cara ku setiap saat untuk melatih keseimbangan agar cepat bisa seimbang.
Dari yang awalnya hanya bisa dengan jarak yang pendek, lama kelamaan semakin bisa hingga jarak yang cukup jauh. Jelas kebanggaan terhadap diri sendiri semakin muncul. Aku menunjukan kepada semua teman ku saat itu sebagai bentuk validasi karena aku sudah bisa menjaga keseimbangan ku sendiri dengan baik.
Hari demi hari aku lakukan seperti itu hingga akhirnya aku sangat yakin dengan keseimbangan ku ketika melakukan hal yang bisa di katakan aneh itu. Pada masanya, jika bisa melakukan hal tersebut sangat lama itu sudah sangat keren sekali bagi kami saat masih kecil.
Seiring berjalannya waktu dan aku semakin sombong akan keahlian yang ku bisa, akhirnya aku mengalami kecelakaan yang cukup serius pada saat sedang bersepeda. Waktu itu aku baru saja lulus dari SD yang berada di daerah rumah ku sekitar tahun 2014 silam.
~Bersambung~
Hai sobat baca, gimana kabar kalian? semoga sehat semua yaa...
Gimana nih setelah membaca kisah awal dari "Perjalanan Mencari Jati Diri??" Semoga kalian suka yaa, btw kisah ini banyak banyak banget pelajaran positif yang bisa diambil lohh.
Btw kisah ini tidak patut di tiru ya sobat baca, jangan pernah belajar suatu hal dengan tujuan menyombongkan hal itu. Itu ga baik soalnya, jadi kalian jangan pernah jadi orang yang sombong ya.
Aku penulis baru jadi kalau kalian ada saran bisa langsung dm ke Instagram aku aja ya sobat baca. Ini Instagram aku @temanshinchan_.
Aku si Manusia Ceria pamit undur diri yaw. Sampai ketemu ditulisan selanjutnya ya sobat baca, babaayyy...
Seperti biasa, kami semua melalui berbagai jalanan yang ada di komplek perumahan dimana tempat kami tinggal. Mulai dari jalan yang berbelok, menurun, dan juga ada yang menanjak. Waktu itu bisa melakukan satu hal saat sedang bersepeda merupakan hal yang dinilai cukup keren, selain itu juga bisa menjadi hiburan tersendiri bagi kami pada kala itu.
Aku yang mudah bosan tidak mau diam selalu saja ada tingkah yang dikeluarkan, termasuk pada saat berpeseda. Sepeda ku waktu itu adalah sepeda lipat berwarna putih dengan 6 percepatan. Hal yang sering aku lakukan pada saat sedang bersepeda adalah melepas kedua tangan ku dari setang sepeda pada saat sepeda dalam kondisi sangat laju.
Kecepatan sepeda selalu ditambah ketika aku ingin melakukan hal tertentu. Hal tersebut memang terlihat sangat bodoh dan tidak ada gunanya ketika di fikir kembali, namun apa daya? kami yang masih kecil selalu bertingkah untuk menghibur diri sendiri ataupun menghibur satu sama lain.
Pada awalnya, aku sendiri tidak bisa melakukan hal itu lantaran keseimbangannya yang masih belum terjag dengan baik. Awalnya aku mulai latihan hanya melepas satu tangan ku saja dari setang sepeda untuk melatih keseimbangan. Setelah merasa cukup seimbang, akhirnya aku memberanikan diri untuk mencoba melepas kedua tangan ku dari setang sepeda ketika sedang bersepeda.
Memang awalnya aku tidak bisa menjaga keseimbangan diri. Setiap kali aku melepas kedua tangan ku dari setang sepeda, arah laju sepeda selalu tidak stabil dan tidak teratur. Arah sepeda menjadi lebih liar dan susah untuk dikendalikan. Apabila tidak cepat cepat di kendalikan, maka dampaknya bisa terjatuh dari sepeda. Sering sekali arah laju sepeda secara perlahan selalu mengarah ke kanan atau ke kiri.
Aku orang yang tidak mudah menyerah akan suatu hal yang baru. Setiap kali aku bermain sepeda, pasti selalu melewati turunan dengan tujuan ingin berlatih keseimbangan agar semakin terjaga. Laju sepeda ku kebut lalu ke dua tangan di lepas dari setang. Begitulah cara ku setiap saat untuk melatih keseimbangan agar cepat bisa seimbang.
Dari yang awalnya hanya bisa dengan jarak yang pendek, lama kelamaan semakin bisa hingga jarak yang cukup jauh. Jelas kebanggaan terhadap diri sendiri semakin muncul. Aku menunjukan kepada semua teman ku saat itu sebagai bentuk validasi karena aku sudah bisa menjaga keseimbangan ku sendiri dengan baik.
Hari demi hari aku lakukan seperti itu hingga akhirnya aku sangat yakin dengan keseimbangan ku ketika melakukan hal yang bisa di katakan aneh itu. Pada masanya, jika bisa melakukan hal tersebut sangat lama itu sudah sangat keren sekali bagi kami saat masih kecil.
Seiring berjalannya waktu dan aku semakin sombong akan keahlian yang ku bisa, akhirnya aku mengalami kecelakaan yang cukup serius pada saat sedang bersepeda. Waktu itu aku baru saja lulus dari SD yang berada di daerah rumah ku sekitar tahun 2014 silam.
~Bersambung~
Hai sobat baca, gimana kabar kalian? semoga sehat semua yaa...
Gimana nih setelah membaca kisah awal dari "Perjalanan Mencari Jati Diri??" Semoga kalian suka yaa, btw kisah ini banyak banyak banget pelajaran positif yang bisa diambil lohh.
Btw kisah ini tidak patut di tiru ya sobat baca, jangan pernah belajar suatu hal dengan tujuan menyombongkan hal itu. Itu ga baik soalnya, jadi kalian jangan pernah jadi orang yang sombong ya.
Aku penulis baru jadi kalau kalian ada saran bisa langsung dm ke Instagram aku aja ya sobat baca. Ini Instagram aku @temanshinchan_.
Aku si Manusia Ceria pamit undur diri yaw. Sampai ketemu ditulisan selanjutnya ya sobat baca, babaayyy...
Other Stories
Gm.
menakutkan. ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...