Kabinet Boneka

Reads
228
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Kabinet boneka
Kabinet Boneka
Penulis TJOE 21

Pidato Yang Bocor

Lampu-lampu kamera berbaris di aula megah istana. Karpet merah terbentang dari pintu hingga podium. Di barisan kursi, ratusan undangan duduk rapi, sebagian besar pejabat tinggi, diplomat asing, dan perwakilan media nasional. Layar raksasa di belakang podium menampilkan slogan terbaru yang ia tulis sendiri malam sebelumnya, huruf emas berkilau: “Satu Suara, Satu Naskah, Satu Bangsa.”

Suasana hening ketika pintu besar terbuka. Musik orkestra menggema, penuh wibawa. Wanita itu melangkah masuk dengan senyum terkendali. Tatapannya menyapu ruangan, seolah setiap kepala adalah pion di papan catur. Semua mata mengikutinya, terpikat oleh pesona yang tak bisa ditolak.

Di samping podium berdiri seorang pria gemuk berjas kebesaran. Dialah aktor yang berperan sebagai Menteri Ekonomi, dulunya seorang pemain teater pinggiran yang terkenal sering lupa dialog. Hari ini, ia ditunjuk memberi pidato panjang sebelum sang Presiden naik panggung. Sebuah pilihan berisiko, tetapi sengaja dipasang untuk menguji sejauh mana naskah yang ia tulis bisa dikuasai oleh aktornya.

Pria gemuk itu mengusap keringat di pelipisnya. Kertas naskah di tangannya bergetar. Kamera televisi menyorot wajahnya. Ribuan warga di rumah sudah menyalakan televisi, karena aturan baru mengharuskan mereka menonton pidato tiga kali sehari.

“Yang terhormat Presiden Aveline…” suaranya bergetar, lalu ia berhenti sesaat. Ruangan menjadi tegang. “Hari ini, kita berdiri bersama dalam semangat eh dalam semangat”

Ia terdiam. Matanya melirik ke arah layar teleprompter yang menampilkan naskah. Namun matanya terpeleset membaca baris salah.

“dalam semangat diskon besar besaran di pasar malam Sabtu?”

Suasana aula mendadak membeku. Para tamu undangan saling pandang, mencoba memastikan apa yang barusan mereka dengar. Kamera televisi tetap menyiarkan langsung. Penonton di rumah ternganga, lalu riuh di media sosial mulai pecah.

Pria itu panik, mencoba meralat. “Maksud saya dalam semangat kebersamaan nasional! Ya kebersamaan nasional!”

Tawa kecil mulai terdengar di sudut ruangan. Beberapa jurnalis menutup mulut menahan cekikikan. Namun kamera sudah menangkap kalimat konyol itu. Di dunia maya, cuplikan video langsung dipotong, diberi judul “Menteri Ekonomi Bicara Pasar Malam.”

Aveline yang duduk di kursi utama tersenyum samar. Tidak ada tanda marah di wajahnya, hanya ketenangan dingin yang membuat para staf terdekatnya menggigil. Senyuman itu adalah tanda bahaya, bukan pengampunan.

Pria gemuk itu mencoba melanjutkan pidato. “Sebagaimana arahan Presiden kita tercinta, seluruh rakyat harus menonton pidato minimal tiga kali sehari. Dengan begitu, kita… kita akan” Ia kembali melirik layar teleprompter, tapi kali ini lidahnya terpeleset. “kita akan mencetak skor tinggi dalam eh kuis keluarga bahagia?”

Suara tawa pecah, kali ini tidak bisa ditahan lagi. Bahkan beberapa diplomat asing terpaksa menundukkan kepala agar tidak terlihat tertawa. Kamera televisi tetap menyiarkan, meski sutradara siaran panik memberi isyarat untuk potong gambar ke penonton. Namun terlambat, rekaman sudah keluar.

Media sosial meledak. Tagar #PasarMalamNasional trending dalam hitungan menit. Meme-meme bermunculan, mengganti wajah sang menteri dengan badut pasar malam. Beberapa akun anonim mulai mengaitkan kejadian ini dengan teori konspirasi: menteri bukan orang asli, melainkan aktor yang sedang membaca naskah sandiwara.

Di panggung, pria itu hampir menangis. Keringat membanjiri wajahnya. “Maaf, maaf saya maksudkan, kita akan mencetak sejarah baru bangsa. Bangsa besar. Bangsa yang... yang menonton pidato tiga kali sehari dengan bahagia.”

Ruangan kembali tenang, tapi ketegangan menggantung seperti kabut.

Aveline berdiri dari kursinya. Sorot kamera berpindah kepadanya. Dengan langkah anggun, ia maju ke podium. Senyum di wajahnya seolah tidak tergoyahkan oleh insiden barusan.

“Saudara saudara,” suaranya tenang, merdu, penuh wibawa. “Inilah bukti bahwa bangsa kita tidak hanya kuat dalam ekonomi dan hukum, tapi juga dalam humor.”

Gelombang tawa lega terdengar di ruangan. Para tamu undangan bertepuk tangan, sebagian karena sungguh merasa terhibur, sebagian lagi karena takut terlihat tidak ikut tertawa.

Aveline melanjutkan. “Bahkan menteri kita bisa membuat lelucon segar di tengah pidato penting. Itu artinya, kita bangsa yang kreatif.”

Ia menatap tajam ke arah pria gemuk itu, senyumannya tidak berubah. Pria itu gemetar, tahu bahwa senyuman itu adalah vonis yang belum diucapkan.

Pidato berlanjut mulus. Ia menguasai ruangan, mengubah kesalahan fatal menjadi pertunjukan yang tampak terencana. Namun di luar sana, dunia maya tidak bisa dikendalikan. Potongan video terus menyebar. Konspirasi semakin berkembang.

“Kalau menteri hanyalah aktor, siapa sebenarnya yang mengatur negara ini?” tulis salah satu akun anonim.

“Mungkin presiden sedang mengadakan teater politik. Semua ini sandiwara.”

Beberapa forum gelap mulai membicarakan kabar adanya bunker rahasia, menteri asli yang hilang, dan aktor bayaran. Teori itu terdengar liar, tapi justru semakin banyak orang mempercayainya karena kesalahan konyol sang menteri.

Di ruang kontrol istana, para staf panik memantau media sosial. “Kita harus memutus siaran ulang!” seru seorang teknisi.

“Sudah terlambat,” jawab yang lain. “Video sudah diunduh ribuan kali.”

Malamnya, Aveline duduk sendirian di ruang kerjanya. Jendela besar menampilkan pemandangan kota yang dipenuhi layar-layar digital. Semua layar menyiarkan ulang pidatonya, sesuai aturan. Namun ironisnya, sebagian besar warga menonton sambil tertawa karena memikirkan “pasar malam nasional.”

Di bawah cahaya lampu redup, ia membuka map merah berisi daftar aktor kabinet. Nama Menteri Ekonomi disorot dengan tinta hitam tebal. Tangannya mengusap perlahan, lalu berhenti di tanda silang kecil yang ia buat di samping nama itu.

Di luar, berita terus bergulir. Seorang jurnalis muda bernama Ezra menatap layar laptopnya dengan penuh semangat. Ia sudah lama curiga, dan kini kesalahan menteri itu menjadi celah emas. “Akhirnya,” gumamnya, “topeng itu mulai retak.”

Ezra mulai menyusun laporan investigasi, menghubungi sumber anonim yang mengaku pernah bekerja di istana. Jejak kecil menuju kebenaran mulai terbuka.

Sementara itu, di balik dinding beton bunker rahasia, para menteri asli mendengar kabar lewat radio kecil selundupan. Menteri Hukum tersenyum tipis, meski tubuhnya lemah. “Topeng mereka mulai bergeser,” katanya lirih.

Namun di ruang istana, Aveline masih tenang. Ia menyalakan televisi, menonton ulang potongan video pidato yang viral. Tawa kencang pecah dari bibirnya. Bukan tawa terhibur, melainkan tawa seseorang yang menikmati kekacauan.

“Biarkan mereka tertawa,” bisiknya dingin. “Semua tawa akan berhenti ketika aku menulis naskah berikutnya.”

Dan di luar sana, teori konspirasi terus tumbuh, seperti api kecil yang siap melahap panggung besar.

Other Stories
Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Download Titik & Koma