Kabinet Boneka

Reads
231
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Dialog Di Balik Topeng

Di lorong bawah tanah istana, lampu-lampu neon berkedip seolah kehabisan tenaga. Udara lembap bercampur aroma besi karat membuat setiap napas seakan tercekik. Bunyi sepatu hak tinggi menghantam lantai beton dengan ritme teratur, seperti palu godam kecil yang menghitung detik kematian. Setiap langkah menggema, semakin dekat menuju pintu baja di ujung lorong.

Para penjaga yang berjaga di sisi pintu menegakkan tubuhnya. Senyum kaku mereka memantul di balik wajah topeng setengah wajah, seolah lupa bagaimana rasanya menjadi manusia biasa. Begitu kunci kombinasi diputar, suara logam bergesekan mengisi udara, lalu pintu berat itu berayun perlahan. Dari baliknya, cahaya kuning redup menyembur, mengungkapkan ruangan berisi jeruji tebal.

Di dalam sel-sel itulah para menteri asli dikurung. Beberapa duduk lemas di lantai, beberapa lainnya mondar-mandir dengan tatapan kosong. Namun satu sosok berbeda. Seorang pria beruban, mantan Menteri Hukum, duduk tegak di kursi besi. Tatapannya tajam, menyalakan bara kecil perlawanan di tengah keputusasaan.

Ketika wanita itu masuk, suasana berubah. Sunyi. Bahkan deru napas para tahanan lain seperti tertahan. Wanita itu melangkah mantap, bibirnya melengkung ke arah pria tua di kursi.

“Akhirnya kau datang lagi,” suara pria itu serak, namun bergetar penuh amarah. “Berapa lama lagi kau akan mempermainkan negara ini dengan sandiwara murahanmu.”

Wanita itu tidak menjawab langsung. Ia berjalan mengitari kursi, tangannya menyentuh punggung logam dingin, lalu berhenti tepat di depan wajah pria itu. Senyumannya tipis, tapi di baliknya ada sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang membuat bahkan jeruji besi tampak rapuh.

“Kau tahu,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan, “aku selalu kagum pada orang yang masih berani bicara tentang kebenaran ketika panggung sudah runtuh. Seperti aktor tua yang masih mengulang dialog, padahal tirai sudah tertutup.”

Menteri Hukum menahan tatapannya, tidak mau kalah. “Ini bukan panggung. Ini negara. Dan kau hanya badut yang sedang menunggu orang melemparkan batu ke arahmu.”

Tawa kecil pecah, nyaring, memantul di dinding beton. Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri seolah sedang bercermin. “Badut, katamu? Lucu sekali. Justru aku lah sutradaranya. Semua badut, semua aktor, semua boneka, mereka menari karena aku yang menulis naskahnya.”

Para tahanan lain mulai berbisik-bisik. Ada yang menutup wajah, ada pula yang menunduk ketakutan. Menteri Hukum tetap menatap lurus, walau keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan, Aveline?” suara pria itu semakin berat. “Kekuasaan? Uang? Atau hanya kepuasan menyiksa orang lain?”

Ia menyeringai, lalu menjentikkan jarinya. Dua penjaga membuka peti kayu kecil di pojok ruangan. Dari dalamnya, mereka mengeluarkan papan catur berdebu. Bidak-bidak kayu tersusun rapi, seolah menunggu perintah.

“Permainan kecil,” katanya sambil duduk di kursi lipat di depan pria tua itu. “Kau pintar bicara hukum, pintar berdebat. Mari lihat apakah otakmu masih sekuat dulu.”

Menteri Hukum menggeleng, wajahnya mengeras. “Ini bukan lelucon. Kau memperlakukan negara seperti papan mainan.”

“Persis,” ia menjawab sambil menaruh bidak raja putih di papan. “Negara adalah catur. Ada pion yang dikorbankan, ada ratu yang berkuasa, ada kuda yang melompat tak terduga. Dan aku, aku adalah tangan yang menggerakkan mereka semua.”

Pria tua itu menahan nafas, lalu mengambil pion hitam. “Kalau begitu aku akan bermain. Tapi ingat, setiap langkah akan aku anggap sebagai bukti betapa gilanya dirimu.”

Pertandingan dimulai. Setiap kali bidak bergerak, denting kayu melawan papan bergema di ruang bunker. Para tahanan terdiam, mata mereka terpaku seolah permainan itu lebih menakutkan dari hukuman fisik.

Wanita itu bermain dengan kecepatan mengerikan, seolah sudah memikirkan puluhan langkah ke depan. Ia menggerakkan ratu putihnya ke tengah, lalu tersenyum. “Ratu. Simbol kekuasaan. Satu langkah, semua gemetar.”

Pria tua itu menahan diri, mencoba bertahan dengan kuda hitam. “Ratu bisa jatuh jika terlalu sombong. Ingatlah, rakyat bukan pion bodoh.”

Tawa wanita itu meledak lagi. “Rakyat? Mereka menonton pidato tiga kali sehari sekarang. Mereka menghafalkan setiap kata yang kuberi. Aku tak perlu takut pada pion. Mereka akan bertepuk tangan bahkan ketika aku menusuk mereka.”

Beberapa menteri asli menjerit lirih mendengar kalimat itu. Ada yang menutup telinga, ada yang berusaha menenangkan diri. Namun Aveline terus bermain, matanya berbinar.

Langkah demi langkah, papan catur semakin sempit. Pria tua itu berusaha mempertahankan rohnya dalam permainan, tetapi keringat di wajahnya menunjukkan tekanan luar biasa.

“Kau tahu apa bedanya kita?” tanyanya lirih.

Wanita itu meletakkan benteng putih, hampir mengurung raja hitam. “Apa?”

“Aku percaya pada hukum. Kau percaya pada panggung. Tapi panggung selalu punya penonton, dan penonton bisa berbalik melempar kursi.”

Wanita itu mencondongkan wajahnya, hampir menempel. Senyumnya tidak berubah, hanya matanya yang semakin tajam. “Aku tidak butuh penonton setia. Aku hanya butuh mereka duduk di kursi, terikat, tidak bisa lari. Dan itu sudah terjadi.”

Ia menggerakkan ratu putih. Sekali langkah, raja hitam terpojok.

“Skakmat,” katanya dingin.

Menteri Hukum menutup mata. Nafasnya berat, bukan karena kalah dalam permainan, tapi karena menyadari makna simbolis yang digelar di depannya.

Wanita itu berdiri, menepuk-nepuk rok bajunya, lalu memandang semua tahanan. “Lihatlah, begitulah akhirnya kalian. Skakmat. Tak peduli berapa lama kalian bertahan, satu langkahku cukup untuk menutup tirai.”

Tahanan lain menunduk ketakutan. Hanya satu dua yang masih berani mengintip dengan tatapan penuh kebencian.

Menteri Hukum membuka mata, suaranya bergetar namun tetap keras. “Kau tidak bisa menahan kebenaran selamanya. Akan ada seseorang yang keluar dari sini, atau dari luar sana, yang akan membongkar semua kebusukanmu.”

Wanita itu berhenti, menatapnya lama. Lalu perlahan, ia meraih topeng putih kecil dari kantong jaketnya. Topeng itu sederhana, hanya menutup setengah wajah, namun ketika ia memakainya, ekspresinya seakan lenyap. Yang tersisa hanya bayangan.

Dengan suara tenang, ia berkata, “Kalau ada yang berani, aku akan menulis perannya sendiri. Dan dia akan menjadi badut terakhir di panggungku.”

Ia menoleh ke para penjaga. “Kunci lagi ruangan ini. Biarkan mereka mengulang dialog tentang harapan yang tidak pernah datang.”

Pintu baja kembali bergeser, suara logam bergemuruh menelan seluruh ruang. Para tahanan menatap sesama mereka dengan hampa. Menteri Hukum menggenggam bidak hitam terakhir yang tersisa, memeluknya seperti simbol perlawanan.

Di lorong gelap, suara sepatu hak tinggi kembali bergaung, beriringan dengan tawa kecil yang terdengar jauh lebih menakutkan daripada jeritan.

Permainan catur selesai. Tetapi drama baru saja dimulai.

Other Stories
Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Jjjjjj

ghjjjj ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Download Titik & Koma