Kabinet Boneka

Reads
237
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Menteri Asli Yang Hilang

Malam itu istana tampak megah dari luar dengan lampu sorot yang menembus langit gelap. Namun di dalam dinding kokoh dan jendela berlapis kaca anti peluru, sebuah rahasia besar sedang tumbuh bagaikan racun. Rahasia itu adalah rencana Aveline untuk menyingkirkan para menteri asli yang dianggapnya terlalu berbahaya bagi agenda tersembunyinya. Di balik senyum elegan dan tutur kata yang memikat, Aveline menyimpan pikiran yang dingin dan tajam seperti pisau.

Tidak banyak orang tahu bahwa Aveline memiliki obsesi terhadap kendali penuh. Ia tidak sekadar ingin menjadi presiden simbolik, ia ingin mengatur setiap gerakan, setiap keputusan, bahkan setiap napas orang di lingkaran kekuasaannya. Para menteri asli yang dipilih oleh sistem politik lama dianggapnya sebagai ancaman. Mereka punya pengalaman, integritas, dan mungkin keberanian untuk menolak perintah gila yang ada di kepalanya. Maka satu per satu harus disingkirkan.

Flashback itu dimulai beberapa bulan sebelum pelantikan. Saat itu para menteri asli masih sibuk mempersiapkan program kerja. Mereka mengira Aveline adalah presiden reformis yang akan membawa perubahan positif. Mereka salah besar.

Aveline duduk sendirian di ruang kerjanya dengan secangkir teh yang masih mengepul. Ia menatap papan tulis besar yang penuh coretan. Nama nama menteri ditulis dengan spidol merah, sementara di sampingnya ada catatan singkat yang terdengar lebih mirip catatan kriminal dibanding catatan politik. Di bawah nama Menteri Ekonomi ia menulis terlalu jujur. Di bawah Menteri Pertahanan ia menulis masih punya koneksi militer yang loyal. Di bawah Menteri Hukum ia menulis bisa membongkar kebohongan. Semua catatan itu adalah alasan bagi Aveline untuk menghapus mereka dari panggung politik.

“Jika aku membiarkan mereka duduk di kursi masing masing, aku hanya akan jadi boneka. Tapi aku tidak pernah dilahirkan untuk menjadi boneka. Aku adalah dalang. Semua tali harus di tanganku,” bisik Aveline kepada dirinya sendiri sambil tersenyum tipis.

Rencana awalnya sederhana. Ia mengundang para menteri ke jamuan makan malam istana. Malam itu meja panjang dipenuhi piring perak, kristal anggur, dan hidangan mewah. Semua menteri hadir dengan pakaian resmi dan wajah penuh optimisme. Mereka berbincang tentang masa depan negara. Aveline tampak ramah, bahkan menertawakan candaan kecil Menteri Pendidikan. Namun di balik senyumnya ia sudah menunggu saat yang tepat.

Ketika gelas mulai kosong, pelayan yang sesungguhnya adalah orang bayaran Aveline menuangkan minuman baru. Cairan bening itu bukan sekadar anggur putih biasa, melainkan ramuan halus yang membuat siapa pun terlelap dalam beberapa menit. Para menteri yang tadinya berdiskusi hangat mulai merasakan kelopak mata mereka berat.

“Aneh sekali, mengapa aku merasa mengantuk secepat ini,” ujar Menteri Hukum sambil mencoba mengucek mata.

Aveline pura pura terkejut. “Mungkin terlalu lelah bekerja untuk rakyat. Tenang saja, malam ini hanya untuk bersantai.”

Satu per satu kepala para menteri terkulai. Ada yang mencoba bertahan, ada yang menatap bingung, namun akhirnya semua jatuh tak sadarkan diri. Saat itulah Aveline berdiri dari kursinya dengan tatapan penuh kemenangan.

“Malam ini, pemerintahan lama resmi mati. Besok pagi, boneka boneka baruku akan mengambil tempat kalian.”

Para pengawal bayangan yang sudah disiapkan sejak awal masuk ke ruangan. Mereka mengangkat tubuh para menteri dan membawanya ke ruang bawah tanah istana. Di sana telah dipersiapkan kamar kamar sempit dengan rantai dan jeruji. Aveline menyaksikan semuanya dengan mata berbinar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.

“Pastikan mereka hidup, tetapi jangan sampai bisa kabur. Aku ingin mereka tetap sadar bahwa kursi mereka kini diduduki orang lain. Kesadaran itu jauh lebih menyakitkan daripada kematian cepat,” perintah Aveline.

Menteri Pertahanan yang tubuhnya kekar mulai terbangun lebih dulu. Ia menatap sekeliling dan mendapati dirinya dirantai di dinding batu lembap.

“Apa maksud semua ini. Aveline, kau gila,” teriaknya.

Aveline mendekat dengan langkah tenang. “Jangan salahkan aku. Kalian semua terlalu berbahaya. Aku hanya menginginkan ketenangan dalam pemerintahanku. Kalian tidak akan mati, setidaknya tidak sekarang. Nikmatilah pertunjukan dari balik jeruji.”

Menteri Ekonomi mencoba melawan dengan kata kata. “Rakyat tidak akan tinggal diam jika tahu yang kau lakukan.”

Aveline menatapnya dengan senyum psikopat. “Rakyat hanya melihat apa yang aku tampilkan di layar televisi. Aku bisa membuat mereka percaya apa saja. Bahkan jika aku menunjuk seekor kucing menjadi menteri keuangan, mereka akan bertepuk tangan selama aku membungkusnya dengan narasi indah.”

Gelak tawa tipisnya bergema di ruang bawah tanah. Para menteri hanya bisa menatap dengan campuran marah dan takut.

Hari hari berikutnya mereka disembunyikan. Para aktor yang telah direkrut mulai berlatih di atas permukaan. Aveline menggunakan koneksi rahasia untuk menemukan orang orang yang wajahnya tidak terkenal tetapi mampu meniru gaya seorang pejabat. Para aktor itu awalnya bingung. Mereka mengira akan bermain di panggung teater, bukan di panggung politik nasional. Namun uang dan ancaman membuat mereka tidak punya pilihan.

Sementara itu di ruang bawah tanah, para menteri asli perlahan kehilangan harapan. Rantai dingin, dinding lembap, dan cahaya redup lampu bohlam membuat mereka merasa seakan berada di neraka pribadi. Setiap kali mereka mendengar suara tawa atau musik dari lantai atas, mereka sadar bahwa kursi kekuasaan mereka sedang diisi oleh orang orang asing.

Menteri Pendidikan yang biasanya penuh ide cerah kini hanya bisa menatap kosong. “Kita sudah selesai. Tidak ada yang tahu kita di sini. Dunia luar akan percaya bahwa kita masih memimpin, padahal kita hanya bayangan.”

Namun Menteri Hukum mencoba bertahan. “Masih ada harapan. Selalu ada orang di luar sana yang bisa mencium kejanggalan.”

Kata kata itu ternyata kelak menjadi kenyataan. Di masa depan Ezra sang jurnalis mulai mencurigai drama politik yang dimainkan Aveline. Namun pada malam malam awal itu, hanya ada keputusasaan.

Aveline kadang datang sendiri ke ruang bawah tanah hanya untuk menikmati pemandangan. Ia berjalan di antara jeruji, menatap wajah wajah lelah para menteri.

“Kalian tahu apa bedanya aku dengan kalian. Kalian percaya pada aturan, aku percaya pada panggung. Dan di panggungku, hanya ada satu pemeran utama. Aku.”

Kadang ia berbicara seolah olah sedang berakting di teater, membuat para menteri bingung apakah mereka sedang berhadapan dengan presiden atau aktris gila.

Di sisi lain Aveline juga tidak sepenuhnya serius. Ada momen komedi gelap yang ia ciptakan sendiri. Pernah suatu malam ia membawa naskah pidato dan membacakannya dengan gaya dramatis di depan jeruji. Ia memerankan dirinya sendiri dan para menteri palsu sambil berganti suara. Para menteri asli hanya bisa memandang dengan wajah muram, tapi bagi Aveline itu adalah hiburan.

“Lihatlah. Aku bahkan tidak butuh kalian untuk membuat sandiwara ini berjalan. Aku bisa memainkan semua peran sendiri.”

Flashback itu berlanjut hingga malam sebelum pelantikan. Semua sudah siap. Para aktor memoles senyum mereka di cermin, berlatih jargon politik yang terdengar meyakinkan. Sementara itu di bawah tanah, para menteri asli mendengar suara sorak sorai dari luar istana. Mereka menyadari bahwa besok negara akan menyaksikan boneka boneka tampil di panggung tertinggi.

Menteri Pertahanan berbisik dengan suara parau. “Jika dunia luar tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka akan gemetar.”

Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan. Jeruji terlalu kuat, penjaga terlalu ketat, dan Aveline terlalu cerdas untuk meninggalkan celah.

Flashback berakhir dengan Aveline berdiri di depan cermin besar di ruang ganti istana. Ia mengenakan gaun pelantikan, wajahnya bersinar di bawah cahaya lampu kristal. Ia tersenyum pada bayangan dirinya sendiri.

“Besok semua orang akan percaya pada senyum ini. Tidak ada yang akan tahu kebenaran di baliknya. Dan itulah kemenangan terbesar.”

Ia melangkah pergi dengan langkah anggun, meninggalkan cermin yang masih memantulkan senyum psikopatnya. Di ruang bawah tanah, jeritan tertahan para menteri menjadi latar belakang bisu dari awal sebuah pemerintahan yang kelak dikenal sebagai Kabinet Boneka.

Other Stories
Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Download Titik & Koma