Kabinet Boneka

Reads
229
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Rapat Komedi Nasional

Pagi itu langit tampak cerah namun di dalam istana udara terasa berat. Di ruang rapat kabinet yang dipenuhi meja panjang dari kayu hitam, kamera televisi sudah dipasang di setiap sudut. Hari itu menjadi sejarah baru karena untuk pertama kalinya rapat kabinet disiarkan langsung ke publik atas perintah Presiden Aveline. Konon katanya untuk menunjukkan transparansi dan kedekatan pemerintah dengan rakyat. Namun kenyataannya, ini adalah panggung baru yang sedang ia rancang.

Para menteri palsu mulai berdatangan. Mereka duduk berjejer sambil menunduk memegang map berisi naskah. Keringat menetes di dahi mereka meski pendingin ruangan menyala penuh. Setiap dari mereka masih berusaha menghafal peran yang diberikan. Ada yang harus berperan sebagai ahli ekonomi, ada yang memerankan pakar hukum, dan ada pula yang mendadak menjadi jenderal militer. Padahal sehari sebelumnya mereka hanya orang biasa, aktor teater, bahkan seorang penyanyi kafe.

Seorang pria berkacamata yang diminta memerankan Menteri Keuangan membuka naskah dengan tangan gemetar. Ia berbisik pada rekannya di sebelah. “Aku tidak mengerti istilah ini. Apa itu defisit anggaran. Apakah ini semacam penyakit.”

Rekannya yang berperan sebagai Menteri Hukum menyikut lengannya. “Baca saja seperti di kertas. Jangan improvisasi. Kalau salah nanti kita tamat.”

Pintu terbuka. Presiden Aveline masuk dengan langkah anggun. Semua berdiri serentak. Senyum tipisnya membuat ruangan mendadak terasa menegang. Kamera televisi berputar mengikuti setiap gerakannya. Aveline duduk di kursi utama dan berkata tenang. “Mari kita mulai rapat pertama kabinet saya. Hari ini seluruh rakyat akan menjadi saksi kerja keras kita. Jangan mengecewakan.”

Para menteri palsu mengangguk cepat. Jantung mereka berdebar. Seorang produser televisi yang dikendalikan oleh tim Aveline memberi aba aba dari belakang kamera. Lampu menyala terang. Siaran langsung dimulai.

Menteri Keuangan palsu berdiri. Ia membuka map lalu membaca dengan suara lantang namun terbata. “Pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan akan naik seratus liter per jam.”

Ruangan terdiam. Aveline mengangkat alis, matanya menatap tajam. Menteri itu panik dan buru buru membetulkan. “Maksud saya seratus persen per tahun. Eh bukan juga. Maksud saya pertumbuhan aman terkendali.”

Rakyat di luar sana yang menonton melalui televisi tertawa terbahak. Media sosial langsung meledak dengan komentar. Ada yang menulis bahwa gaya komunikasi Menteri Keuangan sangat unik, ada pula yang mengira itu strategi humor untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Tidak ada yang menyangka bahwa sebenarnya ia hanyalah aktor yang salah membaca naskah.

Aveline tetap tersenyum. Senyum itu bukan pertanda puas, melainkan senyum penuh peringatan. Ia menatap pria itu lama sekali hingga keringatnya bercucuran. Lalu Aveline menoleh ke kamera dan berkata dengan suara tenang. “Kami ingin menunjukkan kepada rakyat bahwa pemerintah ini berani jujur bahkan ketika ada kekeliruan. Kita semua manusia. Transparansi adalah kekuatan kita.”

Sorak sorai menggema di luar. Publik semakin terpikat. Para analis televisi memuji gaya baru kepemimpinan yang disebut tidak kaku dan penuh kehangatan. Padahal di dalam ruangan, para aktor itu hampir pingsan karena tekanan.

Giliran Menteri Hukum palsu bicara. Ia berdiri dengan dada membusung mencoba terlihat percaya diri. “Kami akan menegakkan hukum dengan seadil adilnya. Semua pelanggaran akan kami tindak, bahkan jika pelakunya adalah eh saya sendiri.”

Ruangan hening sejenak sebelum ledakan tawa terdengar dari ruang pers di luar. Media menulis bahwa ini adalah bentuk kejujuran yang revolusioner. Mereka mengira pernyataan itu sebuah strategi komunikasi yang cerdas. Namun di meja rapat, pria itu pucat karena menyadari ia salah membaca kalimat catatan pribadinya yang tertinggal di naskah.

Aveline menepuk meja pelan. “Luar biasa. Rakyat pasti merasa dekat dengan kejujuran semacam ini. Lanjutkan.”

Kamera terus merekam. Rapat yang seharusnya membicarakan strategi ekonomi dan keamanan negara berubah menjadi pertunjukan komedi yang tak disengaja. Menteri Pertahanan palsu yang dulunya komedian panggung bahkan lupa naskah lalu malah berimprovisasi. Ia berdiri dan berkata lantang. “Angkatan bersenjata kita kuat karena setiap prajurit dilatih menahan lapar dengan cara menatap foto nasi goreng.”

Penonton di luar terpingkal pingkal. Tagar tentang nasi goreng militer menjadi tren nomor satu di media sosial. Para ahli strategi malah menganggap itu sebagai metafora kreatif untuk ketahanan mental prajurit. Tidak ada yang tahu bahwa pria itu hampir menangis karena panik.

Ezra, jurnalis muda yang sudah curiga sejak pelantikan, menonton siaran dari ruang pers. Ia memperhatikan ekspresi para menteri satu per satu. Senyum mereka tampak kaku, gerakan mereka seperti boneka yang dipaksa mengikuti skenario. Ia mencatat setiap kejanggalan di buku kecilnya. “Ada yang tidak beres” bisiknya pada diri sendiri.

Di ruang rapat, Aveline menikmati semua itu. Ia tahu kebodohan kecil yang terlihat justru membuat rakyat semakin percaya. Mereka mengira pemerintah ini jujur, transparan, bahkan berani menertawakan diri sendiri. Padahal di balik itu semua, para menteri asli masih dirantai di bawah tanah.

Rapat berlanjut dengan semakin banyak kesalahan yang terdengar lucu bagi publik. Menteri Pertanian salah menyebut pupuk menjadi bubuk instan. Menteri Pendidikan menyebut kurikulum baru berfokus pada meditasi bersama ayam. Setiap kali ada kesalahan, rakyat tertawa dan media menulisnya sebagai inovasi komunikasi.

Namun di balik tawa rakyat, suasana di dalam ruangan semakin mencekam. Setiap kali ada yang salah, tatapan Aveline menjadi dingin menusuk. Para aktor tahu bahwa jika mereka membuatnya terlihat bodoh, harga yang harus dibayar tidak akan ringan.

Di sela rapat, Aveline berbisik pada ajudannya. “Setelah ini pastikan mereka berlatih lebih keras. Rakyat boleh menertawakan di televisi, tapi aku tidak suka menertawakan kegagalan.”

Ajudan mengangguk cepat. “Baik Ibu Presiden.”

Siaran masih berjalan. Ezra semakin yakin ada konspirasi besar. Ia memotret layar televisi dengan kameranya, memperbesar wajah para menteri. Ia menemukan bahwa ekspresi mereka terlalu mirip, seperti orang orang yang dipaksa menahan sesuatu. Ia menulis catatan, siap mencari bukti lebih jauh.

Rapat berakhir dengan tepuk tangan panjang dari para undangan. Aveline berdiri dan berkata lantang. “Hari ini rakyat melihat bahwa pemerintah bukan menara gading. Kami adalah kalian, kami bisa salah, kami bisa tertawa, tapi kami tetap berdiri untuk melayani bangsa.”

Publik menyambut dengan pujian. Malam itu berita dipenuhi analisis tentang gaya kepemimpinan baru yang humanis. Namun di ruang bawah tanah istana, rantai masih berderit dan jeritan tertahan masih terdengar. Para menteri asli hanya bisa menonton siaran ulang dengan mata berlinang. Mereka melihat pengganti mereka dipuja sebagai pahlawan.

Aveline duduk di ruang kerjanya setelah semua selesai. Ia menatap layar televisi yang menayangkan ulang rapat kabinet. Bibirnya tersenyum dingin. “Mereka pikir ini komedi. Mereka tidak tahu ini tragedi yang sesungguhnya.”

Lampu redup menerangi wajahnya. Di luar sana rakyat masih tertawa, sementara kebenaran tenggelam jauh di bawah tanah istana.

Pertunjukan berlanjut. Dan semakin lama, panggung itu kian menelan kenyataan.

Other Stories
Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Gadis Loak & Dua Pelita

SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Download Titik & Koma