Nestapa
LEBIH baik aku yatim piatu. Tak punya orangtua sekalian, daripada punya orangtua tetapi saling membenci. Saling menjelek-jelekkan satu sama lain. Di hadapanku, Bapak selalu bilang kalau Ibu terlalu matre, terlalu banyak permintaan. Sedang Ibu selalu bilang, kalau bapak pemalas, nggak mau bekerja, nggak menafkahi keluarga. Begitu terus muter nggak ada juntrungannya, hingga akhirnya mereka memilih bercerai.
Aku yang masih Sekolah Dasar, ikut Ibu. Aku memang lebih nyaman bersama Ibu. Masakan ibu enak, aku bisa makan apa saja yang aku minta, ibu senantiasa masak buat aku. Bapak memang tak punya pekerjaan tetap, Bapak hanya mengandalkan orangtua yang kaya raya. Aku tambah membencinya, ketika Bapak menikah lagi. Lebih mencoloknya, Bapak langsung membangun rumah besar di tepi jalan. Bapak seolah hendak berkata sama ibu, kalau ia juga bisa membangun rumah besar. Bisa jadi Bapak ingin membuat ibu tambah sakit hati.
Ibu hanya biasa saja, ibu tampak tabah menghadapi gunjingan tetangga juga cibiran mereka. Aku ingat betul, ibu hanya sebentar merasakan getirnya perpisahan. Ibu berusaha bangkit dari keterpurukan. Aku ingat betul, waktu itu ibu sangat bersemangat. Ibu tampaknya tak mau kalah, Ibu menggunakan ruang tamu untuk membuka warung.
Ibu panda dalam berdagang. Ibu memilih mengambil untung yang sedikit tetapi barang banyak yang terjual. Pelan-pelan pelanggan ibu tidak hanya para tetangga, tetapi juga dari luar kampung. Harga yang lebih murah, membuat warung ibu berkembang pesat. Warung ibu terkenal lebih murah.
Kalau saja ibu tak tergoda menikah lagi, mungkin saat ini ibu sudah kaya raya. Sewaktu ibu menikah, warung dalam keadaan di puncak. Omset Ibu sangat bagus. Tapi, ibu tergelincir karena salah ketemu orang. Suami baru Ibu pembohong. Ia bilang duda, ternyata masih sah memiliki istri, bahkan memiliki anak kembar laki-laki. Tak terima, Ibu menggugat cerai, tatapi ibu terlanjur miskin. Kekayaan ibu dimanfaatkan oleh suami barunya.
Satu hal yang aku kagumi dari ibu adalah mentalnya yang kuat. Setelah jatuh dan diperdaya oleh laki-laki, ibu bangkit lagi. Mencoba jualan lagi. Aku ingat, ibu benar-benar memulai lagi dari nol. Sekarang ibu fokus pada jualan, ibu tidak mau menikah lagi, aku bisa hidup tenang. Aku bertekad meraih cita-citaku menjadi guru. Aku minta sama ibu agar aku bisa melanjutkan kuliah. Ibu mengiyakan. Ibu janji akan menyekolahkan aku hingga sarjana.
Ibu memenuhi janji. Aku benar-benar merasakan kehangatan dan kebahagiaan. Gelar Sarjana Pendidikan aku raih sesuai jadwal. Aku langsung tancap gas, mendaftarkan diri ke SMP tempat aku bersekolah dulu. Pucuk di cinta ulam tiba, aku langsung diterima karena sekolahku pas kekuarangan guru. Aku senang meski statusku masih guru honorer, Setiap berangkat ke sekolah, bertemu sama anak-anak, saat mengajar membuat aku mampu menyerap energi positif dari anak-anak. Aku sangat menikmati hari-hariku sebagai guru, hingga tanpa aku sadari, usiaku sudah kepala tiga. Jika ibu memilih diam, tidak dengan nenek. Nenek mulai sering bertanya kapan aku akan menikah. Dari sering bertanya, lama-lama aku malas ketemu nenek. Akhirnya setiap ada nenek aku menghindar, Berhasil menghindar dari nenek, budhe mulai bertanya, mana sudah punya calon belum, atau kapan nikah?
Aku mulai gelisah, memandangi sosok di depan cermin. Aku memang memiliki teman laki-laki tapi hanya sebatas teman, toh aku tak merasa sendirian. Aku santai, aku bahagia dengan keadaanku sekarang. Tetapi, sesuatu terjadi pada Ibu. Ibu mulai ikut-ikutan bertanya apakah aku sudah punya calon pendamping. Aku sangat tak suka dengan pertanyaan ini. Meski pun diawali dengan kalimat maaf dari Ibu, tetap saja pertanyaan Ibu menganggu pikiranku.
Bila sudah jodoh, tak akan ke mana. Aku tak pernah menyangka akan secepat ini menikah. Bertemu dengan laki-laki yang sekarang menjadi calon suami, ketika aku sedang bertanya alamat rumah teman. Laki-laki yang aku tanya itu, hanya dalam hitungan bulan bertemu sudah serius mengajak nikah. Pernikahanku pun berjalan dengan meriah. Ibu dan nenek mengundang banyak teman, demikian juga aku dan pasanganku.
Usai menikah, aku ikut suami tinggal serumah dengan ibu mertua. Di rumah ini aku mulai belajar menyiapkan makan, bareng ibu mertua. Orangnya ramah, mau mengajari aku masak makanan kesukaan suami. Aku bersyukur sama Allah, karena diberi suami yang sayang serta ibu mertua yang menganggapku anak sendiri. Satu bulan pernikahan, suami mengajakku keliling Bali. Ibu mertua ikut menyiapkan semua perlengkapan untuk jalan ke Bali. Aku benar-benar diistimewakan.
Tetapi, semua berbanding terbalik, setelah pulang dari Bali, aku mulai merasakan hal aneh pada ibu mertua. Aku yang bekerja sebagai guru, jelas selalu keluar rumah untuk mengajar. Pulang mengajar, ada saja yang ia ributkan, aku yang terlambat menyapu lantai, atau yang tak rapi dalam menyeterika baju. Aku hanya diam. Aku pikir yang muda yang mengalah.
Aku simpan semua sendiri ucapan-ucapan ibu mertua yang selalu mengkritik pekerjaanku. Aku tak pernah mengadukan sama suami, tetapi justru ibu mertua yang mulai mencampuri urusan keluargaku. Sebagai keluarga baru, aku butuh banyak barang, salah satunya lemari pakaian. Suami, membelikan aku lemari. Aku tak habis mengerti apa yang ada di kepala ibu mertua. Ia cemburu. Meracau sepanjang hari, kalau anak laki-lakinya sekarang tak menyayanginya, anak laki-laki bungsunya itu lebih menyayangi orang lain. Suami yang tak kuat menghadapi ucapan ibunya, akhirnya memberikan lemari baru itu untuk ibu mertua. Aku terima. Aku menggunakan lemari bekas ibu mertua.
Sikap mengalahku benar-benar diuji, motor yang biasa aku gunakan untuk pulang pergi mengajar tidak boleh dimasukkan ke dalam rumah, alasannya bikin ruang tamu sempit. Motor harus ditaruh di luar rumah, tak peduli hujan atau tidak. Aku masih bisa menerima, aku memilih menutupi motor dengan plastik besar. Ribut-ribut kecil tak terelakkan antara aku dan ibu mertua. Puncaknya ketika aku tak diperkenankan menaruh baju jemuran ke dalam rumah. Jemuran harus tetap di luar, padahal kondisi di luar hujan. Aku tak tahan, aku marah, hari itu aku luapkan semua yang ada di dada. Alhasil ibu mertua sangat marah, merasa tidak dihormati, merasa dizalimi. Ia mengadu ke suami. Suami tak aku sangka justru menyerang aku, membela ibunya.
Aku tak tahan. Aku memilih pulang ke ibu. Untuk apa hidup bersama laki-laki yang tak bisa menyayangi dan melindungi. Satu dua hari ibu masih menganggap wajar kepulanganku ke rumah, tetapi aku akhirnya certia kalau pernikahanku tak baik-baik saja. Ibu menunduk menekuri lantai, entah apa yang ia temukan di lantai.
“Ibu,” panggilku lirih.
Ibu mengangkat kepala. Menatapku.
“Kalau dalam sebulan ia tak menjemputmu, lupakan laki-laki itu.” Dadaku bergetar.
“Maksud ibu?”
“Ia lebih memilih ibunya ketimbang kamu.”
Aku menunduk.
“Kamu harus mandiri Zaskia, kamu punya penghasilan. Kalau dia pergi, biar saja dia pergi jauh, laki-laki yang tak bisa melindungi istri adalah laki-laki dungu.”
Aku semakin dalam menunduk.
“Tak perlu kamu tangisi laki-laki tak berguna seperti dia.”
“Maksud ibu Zaskia harus bercerai?”
Ibu beridri dari kursi, memandang langit lepas. Aku ikut memandangi langit lepas.
“Hidup terlalu mahal untuk meratapi orang lain, Zaskia.”
Aku menunduk lagi.
“Kamu punya harga diri, bercerai bukan aib, untuk apa bersama tapi tersiksa.” Kali ini ibu menatapku.
“Kamu masih muda. Menjadi janda bukan dosa. Kamu bisa mengabdikan diri dengan mengajar banyak anak-anak. Kamu bisa mengabdikan hidupmu bagi banyak orang lewat mengajar. Kamu bisa menyantuni banyak fakir miskin yang membutuhkan uluran tangan kita.” Ibu berapi-api mengucapkannya.
Aku putuskan saat ini juga aku akan memilih mengabdikan diri di dunia pendidikan. Aku ingin menyemangati anak-anak perempuan di sekitarku untuk sekolah tinggi, agar bisa mandiri. Tidak bergantung pada orang lain.
Aku ingin di masa depan, hidupku lebih berguna bagi orang lain.
Aku yang masih Sekolah Dasar, ikut Ibu. Aku memang lebih nyaman bersama Ibu. Masakan ibu enak, aku bisa makan apa saja yang aku minta, ibu senantiasa masak buat aku. Bapak memang tak punya pekerjaan tetap, Bapak hanya mengandalkan orangtua yang kaya raya. Aku tambah membencinya, ketika Bapak menikah lagi. Lebih mencoloknya, Bapak langsung membangun rumah besar di tepi jalan. Bapak seolah hendak berkata sama ibu, kalau ia juga bisa membangun rumah besar. Bisa jadi Bapak ingin membuat ibu tambah sakit hati.
Ibu hanya biasa saja, ibu tampak tabah menghadapi gunjingan tetangga juga cibiran mereka. Aku ingat betul, ibu hanya sebentar merasakan getirnya perpisahan. Ibu berusaha bangkit dari keterpurukan. Aku ingat betul, waktu itu ibu sangat bersemangat. Ibu tampaknya tak mau kalah, Ibu menggunakan ruang tamu untuk membuka warung.
Ibu panda dalam berdagang. Ibu memilih mengambil untung yang sedikit tetapi barang banyak yang terjual. Pelan-pelan pelanggan ibu tidak hanya para tetangga, tetapi juga dari luar kampung. Harga yang lebih murah, membuat warung ibu berkembang pesat. Warung ibu terkenal lebih murah.
Kalau saja ibu tak tergoda menikah lagi, mungkin saat ini ibu sudah kaya raya. Sewaktu ibu menikah, warung dalam keadaan di puncak. Omset Ibu sangat bagus. Tapi, ibu tergelincir karena salah ketemu orang. Suami baru Ibu pembohong. Ia bilang duda, ternyata masih sah memiliki istri, bahkan memiliki anak kembar laki-laki. Tak terima, Ibu menggugat cerai, tatapi ibu terlanjur miskin. Kekayaan ibu dimanfaatkan oleh suami barunya.
Satu hal yang aku kagumi dari ibu adalah mentalnya yang kuat. Setelah jatuh dan diperdaya oleh laki-laki, ibu bangkit lagi. Mencoba jualan lagi. Aku ingat, ibu benar-benar memulai lagi dari nol. Sekarang ibu fokus pada jualan, ibu tidak mau menikah lagi, aku bisa hidup tenang. Aku bertekad meraih cita-citaku menjadi guru. Aku minta sama ibu agar aku bisa melanjutkan kuliah. Ibu mengiyakan. Ibu janji akan menyekolahkan aku hingga sarjana.
Ibu memenuhi janji. Aku benar-benar merasakan kehangatan dan kebahagiaan. Gelar Sarjana Pendidikan aku raih sesuai jadwal. Aku langsung tancap gas, mendaftarkan diri ke SMP tempat aku bersekolah dulu. Pucuk di cinta ulam tiba, aku langsung diterima karena sekolahku pas kekuarangan guru. Aku senang meski statusku masih guru honorer, Setiap berangkat ke sekolah, bertemu sama anak-anak, saat mengajar membuat aku mampu menyerap energi positif dari anak-anak. Aku sangat menikmati hari-hariku sebagai guru, hingga tanpa aku sadari, usiaku sudah kepala tiga. Jika ibu memilih diam, tidak dengan nenek. Nenek mulai sering bertanya kapan aku akan menikah. Dari sering bertanya, lama-lama aku malas ketemu nenek. Akhirnya setiap ada nenek aku menghindar, Berhasil menghindar dari nenek, budhe mulai bertanya, mana sudah punya calon belum, atau kapan nikah?
Aku mulai gelisah, memandangi sosok di depan cermin. Aku memang memiliki teman laki-laki tapi hanya sebatas teman, toh aku tak merasa sendirian. Aku santai, aku bahagia dengan keadaanku sekarang. Tetapi, sesuatu terjadi pada Ibu. Ibu mulai ikut-ikutan bertanya apakah aku sudah punya calon pendamping. Aku sangat tak suka dengan pertanyaan ini. Meski pun diawali dengan kalimat maaf dari Ibu, tetap saja pertanyaan Ibu menganggu pikiranku.
Bila sudah jodoh, tak akan ke mana. Aku tak pernah menyangka akan secepat ini menikah. Bertemu dengan laki-laki yang sekarang menjadi calon suami, ketika aku sedang bertanya alamat rumah teman. Laki-laki yang aku tanya itu, hanya dalam hitungan bulan bertemu sudah serius mengajak nikah. Pernikahanku pun berjalan dengan meriah. Ibu dan nenek mengundang banyak teman, demikian juga aku dan pasanganku.
Usai menikah, aku ikut suami tinggal serumah dengan ibu mertua. Di rumah ini aku mulai belajar menyiapkan makan, bareng ibu mertua. Orangnya ramah, mau mengajari aku masak makanan kesukaan suami. Aku bersyukur sama Allah, karena diberi suami yang sayang serta ibu mertua yang menganggapku anak sendiri. Satu bulan pernikahan, suami mengajakku keliling Bali. Ibu mertua ikut menyiapkan semua perlengkapan untuk jalan ke Bali. Aku benar-benar diistimewakan.
Tetapi, semua berbanding terbalik, setelah pulang dari Bali, aku mulai merasakan hal aneh pada ibu mertua. Aku yang bekerja sebagai guru, jelas selalu keluar rumah untuk mengajar. Pulang mengajar, ada saja yang ia ributkan, aku yang terlambat menyapu lantai, atau yang tak rapi dalam menyeterika baju. Aku hanya diam. Aku pikir yang muda yang mengalah.
Aku simpan semua sendiri ucapan-ucapan ibu mertua yang selalu mengkritik pekerjaanku. Aku tak pernah mengadukan sama suami, tetapi justru ibu mertua yang mulai mencampuri urusan keluargaku. Sebagai keluarga baru, aku butuh banyak barang, salah satunya lemari pakaian. Suami, membelikan aku lemari. Aku tak habis mengerti apa yang ada di kepala ibu mertua. Ia cemburu. Meracau sepanjang hari, kalau anak laki-lakinya sekarang tak menyayanginya, anak laki-laki bungsunya itu lebih menyayangi orang lain. Suami yang tak kuat menghadapi ucapan ibunya, akhirnya memberikan lemari baru itu untuk ibu mertua. Aku terima. Aku menggunakan lemari bekas ibu mertua.
Sikap mengalahku benar-benar diuji, motor yang biasa aku gunakan untuk pulang pergi mengajar tidak boleh dimasukkan ke dalam rumah, alasannya bikin ruang tamu sempit. Motor harus ditaruh di luar rumah, tak peduli hujan atau tidak. Aku masih bisa menerima, aku memilih menutupi motor dengan plastik besar. Ribut-ribut kecil tak terelakkan antara aku dan ibu mertua. Puncaknya ketika aku tak diperkenankan menaruh baju jemuran ke dalam rumah. Jemuran harus tetap di luar, padahal kondisi di luar hujan. Aku tak tahan, aku marah, hari itu aku luapkan semua yang ada di dada. Alhasil ibu mertua sangat marah, merasa tidak dihormati, merasa dizalimi. Ia mengadu ke suami. Suami tak aku sangka justru menyerang aku, membela ibunya.
Aku tak tahan. Aku memilih pulang ke ibu. Untuk apa hidup bersama laki-laki yang tak bisa menyayangi dan melindungi. Satu dua hari ibu masih menganggap wajar kepulanganku ke rumah, tetapi aku akhirnya certia kalau pernikahanku tak baik-baik saja. Ibu menunduk menekuri lantai, entah apa yang ia temukan di lantai.
“Ibu,” panggilku lirih.
Ibu mengangkat kepala. Menatapku.
“Kalau dalam sebulan ia tak menjemputmu, lupakan laki-laki itu.” Dadaku bergetar.
“Maksud ibu?”
“Ia lebih memilih ibunya ketimbang kamu.”
Aku menunduk.
“Kamu harus mandiri Zaskia, kamu punya penghasilan. Kalau dia pergi, biar saja dia pergi jauh, laki-laki yang tak bisa melindungi istri adalah laki-laki dungu.”
Aku semakin dalam menunduk.
“Tak perlu kamu tangisi laki-laki tak berguna seperti dia.”
“Maksud ibu Zaskia harus bercerai?”
Ibu beridri dari kursi, memandang langit lepas. Aku ikut memandangi langit lepas.
“Hidup terlalu mahal untuk meratapi orang lain, Zaskia.”
Aku menunduk lagi.
“Kamu punya harga diri, bercerai bukan aib, untuk apa bersama tapi tersiksa.” Kali ini ibu menatapku.
“Kamu masih muda. Menjadi janda bukan dosa. Kamu bisa mengabdikan diri dengan mengajar banyak anak-anak. Kamu bisa mengabdikan hidupmu bagi banyak orang lewat mengajar. Kamu bisa menyantuni banyak fakir miskin yang membutuhkan uluran tangan kita.” Ibu berapi-api mengucapkannya.
Aku putuskan saat ini juga aku akan memilih mengabdikan diri di dunia pendidikan. Aku ingin menyemangati anak-anak perempuan di sekitarku untuk sekolah tinggi, agar bisa mandiri. Tidak bergantung pada orang lain.
Aku ingin di masa depan, hidupku lebih berguna bagi orang lain.
Other Stories
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...