Jejak Yang Tersisa
Aku duduk di sofa café, secangkir kopi dingin di tangan, tapi pikiranku sama sekali tidak fokus. Bayangan dia terus menari-nari di kepalaku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu: waktu itu dia pernah datang, menyerahkan goody bag ke barista.
Orang-orang café pasti kenal dia.
Aku memutuskan untuk bertanya. Satu per satu, mulai dari barista muda yang biasa melayani meja pojokku.
“Eh, kalian kenal nggak cewek yang sering nganterin goody bag di sini?” tanyaku, berusaha santai.
Mereka saling pandang, lalu salah satu barista menjawab pelan. “Oh, itu… dia yang nganter gula aren murni, Pak. Pemasoknya. Datang seminggu dua kali aja.”
Aku menahan napas. Jadi selama ini dia… hanya pemasok gula?
“Dia biasanya nganter ke sini jam berapa?” tanyaku lagi.
“Sekitar pagi hari, Pak. Kadang Selasa, kadang Jumat. Tapi nggak ada yang tahu dia tinggal di mana. Latar belakangnya juga misterius,” barista itu menambahkan.
Hanya itu. Segala informasi lain lenyap seperti asap. Tidak ada rumah, tidak ada keluarga, tidak ada pekerjaan lain. Hanya gula aren murni, seminggu dua kali, dan senyum misteriusnya yang selalu mengusikku.
Aku menghela napas panjang. Artinya, kalau mau ketemu lagi… aku harus menunggu jadwal dia nganter gula.
Keesokan harinya, aku berdiri di luar café sejak pagi. Hati berdebar. Pikiranku campur aduk antara penasaran, gelisah, dan sedikit… takut akan perasaanku sendiri.
Dan benar saja, tak lama kemudian, dia muncul. Sepeda listrik, gaun sederhana, goody bag di tangan. Aku menelan ludah, langkahku terasa berat tapi aku maju pelan-pelan, menahan diri agar tidak terlalu terburu.
Ketika dia menepikan sepeda, aku berjalan mendekat dan… tanpa sadar, tanganku menarik tangannya.
“Kenapa… kamu masih ingat aku?” suaraku agak serak. “Maksudmu apa begitu sama aku?”
Dia menatapku, mata yang dulu nakal tapi hangat, kini sedikit terkejut. Dia terdiam beberapa detik, seolah menimbang kata-kata yang akan keluar.
Aku bisa merasakan emosiku sendiri meluap. Kesal, bingung, rindu, penasaran… semuanya bercampur jadi satu. Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku bereaksi sebegini.
“Kenan…” suaranya lembut, tapi aku tidak peduli. Aku ingin jawaban. Aku ingin dia tidak pergi seenaknya lagi.
Dia menarik tanganku sedikit, tapi tidak melepaskannya. Aku menatap matanya, mencoba membaca rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku… hanya nganter gula. Tidak lebih,” katanya akhirnya, pelan.
“Tidak lebih?” aku mengulang, emosiku masih tinggi. “Setiap kali kamu muncul, kau bikin hidupku… ribet! Dan aku nggak ngerti kenapa aku… aku…” Aku menahan napas. “Kenapa aku peduli sama kamu, padahal aku bahkan nggak tau siapa kamu sebenarnya!”
Dia tersenyum tipis, seolah bisa membaca kekacauan di hatiku. “Mungkin… karena aku ingin kau peduli, Kenan.”
Aku menelan ludah. Jantungku berdetak kencang. Kata-katanya membakar rasa penasaran, tapi juga menambah kebingungan.
Dia menarik napas dalam, dan aku sadar satu hal: misteri ini belum selesai. Justru, rasa penasaran dan emosiku… baru saja mulai.
Dan aku tidak akan melepaskannya.
Orang-orang café pasti kenal dia.
Aku memutuskan untuk bertanya. Satu per satu, mulai dari barista muda yang biasa melayani meja pojokku.
“Eh, kalian kenal nggak cewek yang sering nganterin goody bag di sini?” tanyaku, berusaha santai.
Mereka saling pandang, lalu salah satu barista menjawab pelan. “Oh, itu… dia yang nganter gula aren murni, Pak. Pemasoknya. Datang seminggu dua kali aja.”
Aku menahan napas. Jadi selama ini dia… hanya pemasok gula?
“Dia biasanya nganter ke sini jam berapa?” tanyaku lagi.
“Sekitar pagi hari, Pak. Kadang Selasa, kadang Jumat. Tapi nggak ada yang tahu dia tinggal di mana. Latar belakangnya juga misterius,” barista itu menambahkan.
Hanya itu. Segala informasi lain lenyap seperti asap. Tidak ada rumah, tidak ada keluarga, tidak ada pekerjaan lain. Hanya gula aren murni, seminggu dua kali, dan senyum misteriusnya yang selalu mengusikku.
Aku menghela napas panjang. Artinya, kalau mau ketemu lagi… aku harus menunggu jadwal dia nganter gula.
Keesokan harinya, aku berdiri di luar café sejak pagi. Hati berdebar. Pikiranku campur aduk antara penasaran, gelisah, dan sedikit… takut akan perasaanku sendiri.
Dan benar saja, tak lama kemudian, dia muncul. Sepeda listrik, gaun sederhana, goody bag di tangan. Aku menelan ludah, langkahku terasa berat tapi aku maju pelan-pelan, menahan diri agar tidak terlalu terburu.
Ketika dia menepikan sepeda, aku berjalan mendekat dan… tanpa sadar, tanganku menarik tangannya.
“Kenapa… kamu masih ingat aku?” suaraku agak serak. “Maksudmu apa begitu sama aku?”
Dia menatapku, mata yang dulu nakal tapi hangat, kini sedikit terkejut. Dia terdiam beberapa detik, seolah menimbang kata-kata yang akan keluar.
Aku bisa merasakan emosiku sendiri meluap. Kesal, bingung, rindu, penasaran… semuanya bercampur jadi satu. Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku bereaksi sebegini.
“Kenan…” suaranya lembut, tapi aku tidak peduli. Aku ingin jawaban. Aku ingin dia tidak pergi seenaknya lagi.
Dia menarik tanganku sedikit, tapi tidak melepaskannya. Aku menatap matanya, mencoba membaca rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku… hanya nganter gula. Tidak lebih,” katanya akhirnya, pelan.
“Tidak lebih?” aku mengulang, emosiku masih tinggi. “Setiap kali kamu muncul, kau bikin hidupku… ribet! Dan aku nggak ngerti kenapa aku… aku…” Aku menahan napas. “Kenapa aku peduli sama kamu, padahal aku bahkan nggak tau siapa kamu sebenarnya!”
Dia tersenyum tipis, seolah bisa membaca kekacauan di hatiku. “Mungkin… karena aku ingin kau peduli, Kenan.”
Aku menelan ludah. Jantungku berdetak kencang. Kata-katanya membakar rasa penasaran, tapi juga menambah kebingungan.
Dia menarik napas dalam, dan aku sadar satu hal: misteri ini belum selesai. Justru, rasa penasaran dan emosiku… baru saja mulai.
Dan aku tidak akan melepaskannya.
Other Stories
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...