I See Your Monster, I See Your Pain

Reads
249
Votes
6
Parts
6
Vote
Report
I see your monster, i see your pain
I See Your Monster, I See Your Pain
Penulis Miss E

Riddles In The Rain

Aku tidak pernah percaya pada kebetulan.
Dalam hidupku, segala sesuatu selalu terencana—angka, target, strategi. Tidak ada ruang untuk “kebetulan.” Tapi entah kenapa, pertemuan kedua dengannya terasa seperti sesuatu yang lebih dari sekadar takdir main-main.

Café yang sama, sudut yang sama, bahkan meja yang sama.
Aku datang lebih awal hari itu, berharap bisa menenggelamkan diri dalam laporan tahunan yang menumpuk. Tapi sebelum aku sempat menyalakan laptop, suara itu kembali hadir.

“Kalau aku boleh tanya,” katanya sambil menarik kursi tanpa izin, “menurutmu hujan itu jatuh atau turun?”

Aku mendongak. Dia lagi. Dengan tatapan mata yang sama misteriusnya, dengan senyum yang entah kenapa terasa seperti jebakan manis.Aku menarik napas. “Turun… mungkin?”

Dia menggeleng pelan, lalu menatapku seolah aku baru saja gagal ujian penting. “Salah.”

Alis kananku terangkat. “Kalau begitu, jatuh?”

Senyumnya melebar, penuh kemenangan. “Salah juga.”


Aku hampir tertawa. “Kalau begitu apa?”

Dia menyandarkan dagu di telapak tangannya, menatapku lekat-lekat. “Hujan itu memang turun. Yang jatuh itu aku… di hatimu.”

Kata-katanya meluncur begitu saja, ringan, tapi menghantam dadaku dengan keras.
Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat, dan untuk sesaat aku kehabisan kata.

Aku tidak boleh terbawa. Tidak boleh.

Aku segera menyandarkan tubuh ke kursi, meneguk kopi yang masih panas untuk menutupi keterkejutan. “Lucu sekali. Jadi sekarang kau penyair?”

Dia terkekeh, jelas puas melihat reaksiku. “Anggap saja aku sedang menguji imajinasimu.”

Aku memalingkan pandangan, mencoba mengalihkan rasa yang mulai menguasai. “Kau sepertinya terlalu suka membuat orang lain bingung.”

“Kalau aku tidak begitu, kau tidak akan tersenyum seperti tadi.” Dia menatapku tajam, dan aku bisa merasakan wajahku memanas.

Aku buru-buru mengalihkan topik. “Baiklah, giliranmu lagi. Apa teka-teki berikutnya?”

Dia mengangguk, pura-pura berpikir serius. “Oke. Pertanyaan kedua: di atas langit ada langit. Di bawah langit ada apa?”

Aku menghela napas, yakin kali ini jawabanku tepat. “Itu gampang. Di bawah langit sudah pasti bumi.”

Dia menggeleng pelan, senyum misteriusnya kembali muncul. “Salah. Jawabannya: di bawah langit ada aku… yang sayang kamu.”

Aku terbatuk, hampir tersedak kopi. “Kau—” Aku menahan kata-kataku, berusaha tetap tenang. “Kau benar-benar keterlaluan.”

Dia hanya tertawa kecil, suara tawanya renyah, seperti hujan yang jatuh di atap kaca.

Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Satu sisi ingin meladeni, sisi lain ingin menjaga jarak. Aku bukan anak remaja yang mudah terbuai kata manis. Tapi kenapa kata-katanya justru menembus pertahanan yang susah payah kubangun selama bertahun-tahun?

Aku akhirnya bertanya, dengan nada lebih serius, “Kenapa kau melakukan ini? Apa kau selalu bicara seperti ini pada semua orang?”

Dia menatapku sebentar, lalu menggeleng. “Tidak. Hanya padamu.”

Aku kehilangan kata. Sekali lagi.
Tidak, ini terlalu berbahaya. Aku harus mengalihkan.

“Kalau begitu, paling tidak, biarkan aku tahu siapa namamu.” Aku mencondongkan tubuh, mencoba menatapnya dengan intensitas yang sama. “Aku rasa itu tidak berlebihan, kan?”

Dia terdiam beberapa detik, lalu tersenyum. “Kamu boleh panggil aku… apa pun yang kamu mau.”

Aku menahan napas. “Itu bukan jawaban.”

“Karena aku tidak ingin memberi jawaban.” Matanya berkilat nakal. “Lebih seru kalau kau terus menebak-nebak.”

Aku hampir frustrasi. “Lalu bagaimana aku harus menyapamu kalau suatu hari kita bertemu lagi?”

Dia tersenyum samar, lalu berdiri, meraih tas kecilnya. “Kalau memang takdir, kita tidak butuh nama untuk mengenali satu sama lain.”

Aku ingin menahan langkahnya, ingin mendesak lebih jauh. Tapi kata-katanya lagi-lagi menahanku. Ada logika aneh di balik misterinya, dan aku benci mengakuinya—tapi aku menyukai itu.

Dia berjalan menuju pintu, melambaikan tangan tanpa menoleh. “Sampai jumpa lagi, Tuan Kopi Pahit.”

Dan sekali lagi, aku hanya bisa menatap punggungnya menghilang di balik tirai hujan.
Meninggalkan aku dengan kopi pahit… dan hati yang rasanya mulai goyah.





Other Stories
Haura

Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Susur

Kepergian Mamat mencari ayahnya, tanpa sengaja melibatkan dua berandal kampung. Petualanga ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Download Titik & Koma