Episode 3
"Harusnya taruh aja dia di panti," protes Cantika ketika semua keluarganya berkumpul di ruang tengah. Cantika menoleh kesal ke arah Baskara yang baru istirahat. "Keluarga udah kekurangan, malah nambah anggota baru. Tabunganku sama Mahira kapan penuhnya kalau begini."
Mahira menghela napas. Dia si kutu buku sedang membaca dengan menyandar tembok. "Sekar masih banyak gunanya, kalau Baskara? Kita kayak buang duit."
"Bapak ngincer warisan Baskara ya?" Tiba-tiba Cantika menuding bapaknya. Matanya memicing.
Joko tidak serta-merta menjawab. Dia mengecek apakah Baskara bangun atau terlelap. Sekar juga ikut menanti jawabannya. Bedanya, Sekar tidak diam seperti yang lain. Sekar tengah menuangkan bakso yang dibelikan Cantika ke beberapa mangkok. Cantika bilang, dia baru dapat job endorse yang cukup besar nominalnya.
"Salah satunya," kata Joko. Cantika tersenyum dan geleng-geleng. "Tapi biar bagaimanapun dia ponakan Bapak. Tanggung jawab Bapak. Apa salahnya ngerawat sebentar?"
Emi menyetujui ucapan suaminya. "Lagian, kalian kira berapa lama lagi umur Baskara? Tubuhnya udah tinggal tulang. Enggak minum obat sehari aja pasti kolaps."
Meski agak sarkas, tapi perkataan Emi cukup untuk menutup protesan kedua anaknya. Tidak ada yang membahas soal Baskara lagi. Mereka menikmati bakso masing-masing.
Belum selesai makan, gelegar petir membuat Sekar berdiri dan tunggang langgang ke depan. Gadis itu tersadar belum mengangkat jemuran karena baru beres memasak. Yang lebih menyedihkan, masakannya berakhir tidak disentuh. Keluarganya lebih memilih bakso dari Cantika.
Saat Sekar masuk, alih-alih membantu, Cantika justru melotot. Tangannya merampas sebuah dress tanpa lengan di antara tumpukan baju basah yang dibawa Sekar.
"Ini baju buat gue photoshoot besok!" bentak Cantika.
"Maaf, Can. Aku bener-bener lupa," kata Sekar memohon. "Ntar kalau hujannya berhenti, aku langsung jemur."
"Kalau hujan sampe besok? Gue telanjang?"
Sekar kehilangan kata-kata. Cantika juga lebih memilih masuk kamar. Namun, semua orang seakan tidak mendengar kemarahan Cantika. Mereka tetap melanjutkan makan bakso. Di rumah itu, mengomeli atau membentak Sekar sudah termasuk hal yang biasa.
"Kar," panggil Emi. Sekar yang kembali makan bakso, mendongak pada ibunya. "Kurang-kurangin nyebelinnya. Kerja yang bener. Enggak bakal ada yang mau nampung kamu kalau bukan saudara kamu sendiri."
Emi tidak membentak. Tidak marah. Dia hanya mengingatkan Sekar agar tidak mengulangi hal yang menurutnya cukup ceroboh.
"Iya, Bu. Sekar sendiri juga enggak yakin ada cowok yang mau sama Sekar. Jadi, kalau enggak bareng Cantika atau Mahira, Sekar sama siapa."
Bakso habis beberapa saat kemudian. Joko pergi mandi, Emi bermain handphone di kamar, Mahira lanjut menyelesaikan bacaannya. Sekar sendirian membawa piring-piring ke belakang sekalian mencucinya. Walau ada raut capek, tapi Sekar tidak sedih. Wajahnya biasa saja karena memang kerjaan semacam itu menjadi rutinitasnya.
Sekar menganggap ini adalah ganti karena dia tidak bisa cari uang. Dirinya bodoh, tidak punya keahlian apa-apa.
Usai mencuci, Sekar ingin mengolesi kakinya dengan minyak pijat. Sekar membawa bantalnya yang tadi dikeluarkan dari kamar. Ditaruhnya bantal itu di samping Mahira, sementara dirinya mencari minyak pijat. Namun, saat minyak akhirnya ketemu dan Sekar duduk, Mahira menoleh.
"Lo tahu banget gue lagi capek," seru Mahira, senang. Mengira Sekar akan memijatnya.
"Enggak, Ra. Ini buat aku sendiri. Kakiku rasanya—"
"Gue duluan!" Dengan seenaknya Mahira memotong perkataan Sekar. Gadis itu merebut bantal, memposisikan dirinya tengkurap. "Gue habis ini privat anak-anak. Uangnya buat lo makan juga kan?" lanjutnya enteng.
Mau tidak mau Sekar menuruti permintaan Mahira.
Tanpa mereka ketahui, ternyata Baskara sudah bangun sejak bunyi petir mengagetkan seisi rumah. Baskara mendengar semua obrolan yang baginya sangat meremehkan Sekar. Lelaki itu bingung, mengapa Sekar tidak membela diri? Mengapa tidak ada debat? Hatinya batu? Sudah berdamai dengan keadaan? Menurut Baskara, yang dilakukan Sekar bukanlah damai, tapi merendahkan diri sendiri.
Mahira menghela napas. Dia si kutu buku sedang membaca dengan menyandar tembok. "Sekar masih banyak gunanya, kalau Baskara? Kita kayak buang duit."
"Bapak ngincer warisan Baskara ya?" Tiba-tiba Cantika menuding bapaknya. Matanya memicing.
Joko tidak serta-merta menjawab. Dia mengecek apakah Baskara bangun atau terlelap. Sekar juga ikut menanti jawabannya. Bedanya, Sekar tidak diam seperti yang lain. Sekar tengah menuangkan bakso yang dibelikan Cantika ke beberapa mangkok. Cantika bilang, dia baru dapat job endorse yang cukup besar nominalnya.
"Salah satunya," kata Joko. Cantika tersenyum dan geleng-geleng. "Tapi biar bagaimanapun dia ponakan Bapak. Tanggung jawab Bapak. Apa salahnya ngerawat sebentar?"
Emi menyetujui ucapan suaminya. "Lagian, kalian kira berapa lama lagi umur Baskara? Tubuhnya udah tinggal tulang. Enggak minum obat sehari aja pasti kolaps."
Meski agak sarkas, tapi perkataan Emi cukup untuk menutup protesan kedua anaknya. Tidak ada yang membahas soal Baskara lagi. Mereka menikmati bakso masing-masing.
Belum selesai makan, gelegar petir membuat Sekar berdiri dan tunggang langgang ke depan. Gadis itu tersadar belum mengangkat jemuran karena baru beres memasak. Yang lebih menyedihkan, masakannya berakhir tidak disentuh. Keluarganya lebih memilih bakso dari Cantika.
Saat Sekar masuk, alih-alih membantu, Cantika justru melotot. Tangannya merampas sebuah dress tanpa lengan di antara tumpukan baju basah yang dibawa Sekar.
"Ini baju buat gue photoshoot besok!" bentak Cantika.
"Maaf, Can. Aku bener-bener lupa," kata Sekar memohon. "Ntar kalau hujannya berhenti, aku langsung jemur."
"Kalau hujan sampe besok? Gue telanjang?"
Sekar kehilangan kata-kata. Cantika juga lebih memilih masuk kamar. Namun, semua orang seakan tidak mendengar kemarahan Cantika. Mereka tetap melanjutkan makan bakso. Di rumah itu, mengomeli atau membentak Sekar sudah termasuk hal yang biasa.
"Kar," panggil Emi. Sekar yang kembali makan bakso, mendongak pada ibunya. "Kurang-kurangin nyebelinnya. Kerja yang bener. Enggak bakal ada yang mau nampung kamu kalau bukan saudara kamu sendiri."
Emi tidak membentak. Tidak marah. Dia hanya mengingatkan Sekar agar tidak mengulangi hal yang menurutnya cukup ceroboh.
"Iya, Bu. Sekar sendiri juga enggak yakin ada cowok yang mau sama Sekar. Jadi, kalau enggak bareng Cantika atau Mahira, Sekar sama siapa."
Bakso habis beberapa saat kemudian. Joko pergi mandi, Emi bermain handphone di kamar, Mahira lanjut menyelesaikan bacaannya. Sekar sendirian membawa piring-piring ke belakang sekalian mencucinya. Walau ada raut capek, tapi Sekar tidak sedih. Wajahnya biasa saja karena memang kerjaan semacam itu menjadi rutinitasnya.
Sekar menganggap ini adalah ganti karena dia tidak bisa cari uang. Dirinya bodoh, tidak punya keahlian apa-apa.
Usai mencuci, Sekar ingin mengolesi kakinya dengan minyak pijat. Sekar membawa bantalnya yang tadi dikeluarkan dari kamar. Ditaruhnya bantal itu di samping Mahira, sementara dirinya mencari minyak pijat. Namun, saat minyak akhirnya ketemu dan Sekar duduk, Mahira menoleh.
"Lo tahu banget gue lagi capek," seru Mahira, senang. Mengira Sekar akan memijatnya.
"Enggak, Ra. Ini buat aku sendiri. Kakiku rasanya—"
"Gue duluan!" Dengan seenaknya Mahira memotong perkataan Sekar. Gadis itu merebut bantal, memposisikan dirinya tengkurap. "Gue habis ini privat anak-anak. Uangnya buat lo makan juga kan?" lanjutnya enteng.
Mau tidak mau Sekar menuruti permintaan Mahira.
Tanpa mereka ketahui, ternyata Baskara sudah bangun sejak bunyi petir mengagetkan seisi rumah. Baskara mendengar semua obrolan yang baginya sangat meremehkan Sekar. Lelaki itu bingung, mengapa Sekar tidak membela diri? Mengapa tidak ada debat? Hatinya batu? Sudah berdamai dengan keadaan? Menurut Baskara, yang dilakukan Sekar bukanlah damai, tapi merendahkan diri sendiri.
Other Stories
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...