Puzzle

Reads
1.2K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Nindya M

Kelas Memasak

Karina masuk ke kelas pagi itu, namun tak nampak satu pun batang hidung murid-muridnya, kecuali satu orang.
“Elis, di mana yang lain?” tanyanya sambil mendekati meja perempuan itu.
“Bolos,” jawab Elis cuek sambil membuka bungkus coklat batanganya.
“Hmm.. oke,” Karina manggut-manggut.
Di luar dugaannya, efek lanjutann dari aksi protes murid-muridnya adalah membolos bersama-sama. Karina menghela nafas, ia harus bisa mengatasi ini. Ditatap lekapnya wajah Elis yang bulat, walau anak perempuan itu sibuk mengunyah coklat batangan tanpa membalas perhatiannya.
“Kenapa kamu tidak ikut bolos?” tanya Karina, kaku. Dia memang tidak pandai membuka percakapan dengan ramah, terlebih jika itu dengan orang yang dulu meneiakinya keluar dari ruang kelas.
“Kakak ingin saya ikut bolos juga?” ledek Elis.
“Ah, bukan itu maksudku.”
Elis kembali melanjutkan menikmati batang coklatnya sambil membaca majalah kuliner. Karina memerhatikan majalah itu.
“Itu keliatannya enak,” tunjuk Karina pada gambar ayam panggang yang kulitnya tampak terkaramelisasi dengan sempurna.
“Ayam panggang madu,” jawab Elis.
“Kamu suka ayam panggang?” tanya Karina lagi. Pertanyaan itu mengalihkan pandangan Elis dari majalah kulinernya. Ia menatap Karina sambil mengangguk kecil.
“Good, kita bikin yuk!”
“Kakak tidak mengajar?” Elis hampir menjatuhkan coklatnya saking terkejut mendengar ajakan Karina.
“Kita pindahin kelasnya ke dapur umum, oke?”
Elis tak melongo, tak tahu harus menjawab apa selain ‘iya’.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah berada di dapur umum. Dapur umum kelas Primary lengkap dengan bahan pokok, rempah, sampai beragam alat memasak.
“Ayo kita mulai,” kata Karina sambil mengikat celemeknya. Elis diam saja, tetapi bergerak mengikuti Karina.
“Kamu suka memasak?” tanya Karina.
“Iya,” kali ini Elis mengeluarkan suara. “Cukup sering.”
“Syukurlah, kurasa aku punya seorang sous chef disini,” Karina tertawa kecil. Elis menarik ujung bibirnya, ia ingin tersenyum tetapi malu-malu.
“Bisa ambilkan daging ayamnya?”
Elis melangkah ke kulkas, mengeluarkan beberapa potong daging ayam dan meletakkannya di nampak. Ia melangkah kembali ke meja. Karina ingin tertawa melihat tubuh tambun dengan kaki pendek itu melangkah kecil-kecil sambil membawa nampan besar berisi daging.
“Oke, sekarang kita ke stasionary dan kumpulkan bahan-bahan sesuai majalah ya,” kata Karina sambil membatu Elis meletakkan nampan daging ke atas meja. Elis memang tidak banyak berkepsresi, tetapi matanya tampak bergairah dan mulai menikmati kegiatan memasak ini.
Mereka berdua mengumpulkan berbagai bahan seperti parika, bawang bombang, madu, dan beberapa rempah. Setelah itu, Elis membantu Karina memotong bahan-bahan pelengkapnya, sementara Karina membuat saus madunya.
Daging ayam digarami dan diberi lada, lalu dituang saus madu yang sudah didihkan bersama bahan pelengkap. Ayam yang sudah diberi saus kemudian dimasukkan kedalam oven dan dipanggang sekitar 45 menit.
“Kamu jago menggunakan pisau,” puji Karina.
Di luar dugaan, Elis tersenyum. “Kan sudah kubilang kak, aku cukup sering memasak.”
Karina tertawa kecil. “Kamu benar-benar suka makanan ya.”
“Hehe.”
Ting! Oven siap dibuka. Karina mengeluarkan nampan berisi daging ayam panggang madu yang sudah matang. Bau wangi manis menguap di udara. Elis tampak tak sabar mencicipi masakan hasil kreasinya.
Karina meletakkan beberapa potong daging di atas pirirng lalu menyerahkannya kepada Elise. “Silahkan,” ucapnya.
Elis menusukkan garpunya dan memasukkan potongan besar daing kedalam mulutnya. Pipinya yang chubby tampak makin besar ketika ia sedang mengunyah. Karina tersentum geli.
“Emm ... Kak,” gumamanya. “Enak banget.”
“Beneran?” Karina mengambil garpu dan meraih sepotong daging, ia icipi masakan tersebut.
“Wauw,” komennya. “Aku akan masak ini lagi kapan-kapan, haha.”
“Sayang ya, yang lain tidak bisa ikut makan,” celetuk Elis tiba-tiba. Matanya memandang tumpukan daging yang masih tersisa. Ia bisa saja menghabiskan semua, tetapi, ia lebih suka jika teman-temannya ikut bergabung menikmati makanan yang dibuatnya barusan.
Karina seakan bisa memahami apa yang ada di pikiran Elis. Ia menatap tumpukan daging itu lalu beralih kembali ke Elis.
“Kita masukkan ke kotak bekal yuk sisanya,” ajak Karina.
“Buat di asrama?”
“Bukan, kita antar ke teman-teman yang lain.”
Elis tersenyum, ia mengangguk setuju.

Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Download Titik & Koma