Pintu Dunia Lain

Reads
2.2K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

Yang Pertama Tak Selalu Yang Terakhir

“Ini aneh. Saya mengalami mimpi yang sama setiap malam.” Vitria yang memulai percakapan itu, kemudian dilanjut oleh staf lain menceritakan hal yang sama.
“Awalnya saya nggak curiga. Tapi sejak beberapa hari belakangan seperti itu, jadi bingung juga. Saya selalu bermimpi tentang kejadian 20 tahun yang lalu. Saat itu, saya menjadi anak tiri dari seorang raden ayu yang cantik, namun kejam. Saya selalu mengingatkan dan tiap malam saya melihat dia bermandikan darah di sekujur tubuhnya. Darah itu diminum dan setelah itu dia balik mencakar tubuh saya hingga seseorang berhasil membangunkan saya. Anehnya, setelah terbangun saya tak melihat siapa-siapa.”
Nadiva termangu. Masa lalu, darah, dan seseorang. Dia juga mengalami mimpi itu. Ibunya selalu datang ke dalam mimpinya beberapa hari terakhir, membawanya ke masa lalu yang semakinmembuatnya terhimpit, lalu seseorang yang entah membawanya keluar dari mimpi itu. Refleks Nadiva terperangah. Astaga, sekarang dia pahami, Adhar Irfandi yang memintanya mencari tahu makna ucapannya tak lain adalah tentang mimpi yang berulang.
“Aku harus menjumpainya sekarang.”
Nadiva segera berlari. Menuju ruang sang direktur yang agak terpisah dari ruang kerja lainnya. Sambil berlari, Nadiva mengumpat kecil. Bagaimana mungkin dia begitu lamban sekali ini untuk memahami makna ucapan si bos yang begitu gamblang. Mimpi yang sama di malam yang berbeda. Lalu, Nadiva kian berlari. Mengetuk pintu dengan tergesa.
Lima detik. Sepuluh detik, tiga belas detik.
Tiga kali, lima kali, delapan kali. Tiga belas kali. Pintu terbuka. Sebelum mengerutkan kening, Nadiva terpaku dengan apa yang ada di hadapannya. Adhar Irfandi dengan segala kegagahan yang dimiliki. Dia terkulai lemas duduk di kursi panas ruang kerjanya.
“Pak....”
Nadiva berlari meraih tubuh pria lima puluh tahunan itu. Nadiva menggerak-gerakkan tubuh sang direktur untuk membangunkan, namun tangan Adhar Irfandi terkulai lesu ke lantai. Yang ada dalam pikiran Nadiva saat itu adalah rumah sakit hingga dia lupa mengecek detak jantung Adhar Irfandi yang hampir tak berfungsi lagi. Oleh bantuan rekan kerja kantor, Adhar Irfandi, sang maestro perusahaan kini dibawa ke ruang khusus perawatan.
Tangan Nadiva gemetaran. Berkali-kali dan sejak beberapa saat yang lalu dia menenangkan dirinya sementara yang lain pada riuh membicarakan kejadian dan menghubung-hubungkannya dari hal satu ke hal lain hingga ke hal yang tak logika. Nadiva tidak peduli dan yang lain sama acuh. Bagaimana jika kesehatan ayah angkatnya itu memburuk dengan tiba-tiba dan semua hilang tanpa bekas?
“Tak pernah ada riwayat sakit bapak sejauh ini,” seseorang berkata lepas. Entah siapa. Nadiva hanya menatap kosong ke depan sambil memikirkan beberapa kemungkinan. Benarkah orangtua itu tidak sedang sakit?
***
Mimpi yang sama dengan alur cerita yang sama dialami oleh orang yang berbeda yang bekerja di sebuah kantor yang sama. Apa ini? Tangan dan tubuh Nadiva sudah bisa dikendalikan. Lalu dia pergi ke kamar mandi. Menyiram wajahnya agar lebih fresh dan terbuka untuk berpikir. Nadiva menatap wajahnya di cermin. Cerminan mata yang tajam dan menerawang.
Masa lalu, darah, dan seorang penolong.
Tidak. Tak selalu harus jadi penolong jika dia mau membangunkanmu dari mimpi buruk.
Masa suram, luka jiwa, dan penolong.
Sakit hati, dendam, dan amarah.
Rasa benci....
Nadiva mengeja kata-kata yang tepat mewakili segala mimpi yang meneror mereka.
Kebencian, darah, dan ....
***
“Nadiv, ini adalah sebuah teror. Bagaimana mungkin semua staf dikeroyok oleh mimpi yang sama.”
Nadiva menyimak meski dia tahu ini adalah percakapan yang tak punya bukti ilmiah.
“Itu hanya mimpi. Tak ada kaitannya dengan Pak Adhar yang tiba-tiba terjatuh pingsan di ruang kerjanya.”
“Mimpi hanyalah bunga tidur...”
“Tidak, mimpi adalah daya analisis seseorang yang tersimpan di alam bawah sadarnya.”
Semua yang ada di kantor punya persepsi yang berbeda.
Lima jam berlalu. Semua harus kembali bekerja sementara Nadiva atas permintaan Vero, ibu angkatnya, istri sang direktur, tinggal di rumah sakit. Ada beberapa hal yang ingin diperbincangkan, begitu kata ibu angkatnya itu.
Dokter berpesan semua akan baik-baik saja. Dan benar. Lima jam lima menit sejak Nadiva menemukan direktur itu terkulai, kini sudah siuman.
“Div...”
“Apa yang terjadi, Pak?” Nadiva memburu ke arah Adhar Irfandi.
Keheningan ruangan rumah sakit membuat gaung suara.
“Saya tidak pingsan begitu saja, Div,” orang tua itu berkata sangat pelan. “Saya diganggu oleh seseorang sebelum jatuh pingsan.”
Nadiva terdiam. Tak ingin memotong pembicaraan itu.
“Saya berpikir, yang pertama tak selalu menjadi yang terakhir.”

Other Stories
After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

Download Titik & Koma