Rembulan Di Mata Syua

Reads
484
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Mori Vivi

Ketahuan

Dua orang santri sudah duduk di depan meja wanita berumur empat puluhan, namanya Ustazah Aisyah. Istri pemilik pesantren Al-Falah. Bunga dan Syua dipanggil karena kehebohan tempo hari. Kasus hilangnya sebuah handpone. Ustazah Ainun dan Ustazah Zahra sudah menggeledah kamar santri. Tidak ditemukan. Syua bisa bernapas lega. Namun, Bunga tetap tidak terima. Masih menyalahkan Syua. Pertengkeran kecil sering terjadi di antara mereka. Ah, sungguh merepotkan.
“Bunga, sebelumnya ustazah sudah bilang, kan, tidak boleh membawa HP ke pesantren? Apa Bunga tidak mendengar?” tuturnya lembut, tetapi tegas.
Bunga menunduk salah. Peraturan di pesantren kilat tidak membolehkan santri membawa ponsel ataupun barang berharga lainnya. Takut akan menganggu pelajaran.
“Maaf, Ammah. Bunga salah.”
Ammah? Lirik Syua ke samping. Menatap Bunga yang masih menunduk sembari memainkan jemarinya.
Setelah menasehati Bunga, kini ustazah beralih ke Syua.
“Syua, apa Ananda tahu kenapa ustazah panggil ke sini?”
“Syua tidak mengambilnya Ustazah. Sungguh!”
Ustazah menghela napas. “Iya, ustazah tahu. Bukan itu yang ustazah tanyakan, tetapi ... kenapa Syua belum menemui Mama? Padahal minggu kemarin, Mama menjemput Syua. Dan dua hari yang lalu Papa juga datang ... Syua ke mana?”
Kabur! Batinnya.
Dua hari lalu, Syua melihat mobil Papa yang baru diparkirkan di halaman pesantren. Gadis kecil itu langsung kabur—bersembunyi, tetapi bukan di toilet. Pasti ustazah bisa mencium keberadaannya. Jadi, terpaksa Syua bersembunyi di atas pohon mangga yang lumayan tinggi—daunnya pun rimbun. Dari atas tak ada yang dapat melihat, pikir Syua demikian. Mungkin lebih dari setengah jam dirinya berada di atas pohon, sebelum Papa pergi, jangan harap dia bakalan turun.
Setelah mendapatkan ceramah gratis dari Ustazah Aisyah, mereka keluar dari ruangan. Namun sebelum itu, ustazah meminta mereka untuk saling memaafkan satu sama lain mengingat masalah tempo hari.
“Aku masih belum memaafkanmu!” celetuk Bunga setelah berada jauh dari ruangan Ustazah Aisyah.
\"Ter-se-rah, hweee!” Cibir Syua berjalan meninggalkan Bunga.
***
Semua santri duduk membentuk lingkaran agar mereka bisa melihat wajah masing-masing. Hal itu akan menambah dan mempererat tali persaudaraan antara ustazah dan santri. Bulan ini di kelas junior tidak ada yang mendaftar santri laki-laki. Jadi, tidak masalah mau duduk membentuk pola seperti apa. Dan tak terasa sudah satu jam berlangsung pemberian materi oleh ustazah....
\"Jadi, setiap apa yang kita kerjakan selalu membaca Basmallah dan diakhiri dengan?”
“Hamdallah,” seru santri serempak, kecuali Syua yang diam mendengarkan. Kali ini, Syua tidak jail seperti biasa. Karena di ruangan tadi, gadis tomboi itu mendapat teguran dari Ustazah Aisyah. Semoga saja dia bisa berubah.
“Ustazah. Jadi, kalau Dini makannya gak membaca bismillah, berarti ... Dini makannya sama setan, dong?” tanya Dini mengingat yang dijelaskan ustazah tadi.
Ustazah mengangguk dan menerangkan. “Jika salah seorang di antara kalian memasuki rumahnya, lalu ia berdzikir pada Allah ketika memasukinya dan ketika hendak makan, maka setan pun berkata pada teman-temannya, ‘Sungguh kalian tidak mendapat tempat bermalam dan tidak mendapat makan malam.’ Namun ketika seseorang memasuki rumah dan tidak berdzikir pada Allah, setan pun berkata, ‘Akhirnya kalian mendapatkan tempat bermalam.’ Jika ia tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan pun berucap, ‘Kalian akhirnya mendapat tempat bermalam dan makan malam.’( HR. Muslim).” Ustazah mengambil napas.
“Jadi ... Dini gak mau kan, berbagi makanan sama setan? Ntar setanya pada gendut-gendut, loh!”
Dini menggetarkan bahu. Merasa ngeri. “Dini gak mau!”
Ustazah tersenyum melihat tingkah lucunya Dini. Wanita itu suka dengan santri yang aktif. “Baiklah, kita istirahat dulu. Habis zuhur nanti, Ustazah akan menagih hafalan ayat pendek kalian.”
“Iya, Ustazah.” Kompak mereka menjawab.
Syua mendengus. Hanya tiga surat yang baru melekat di benak, surah Al-Ikhlas, An-Nas, dan Al-Falaq. Itu pun makhrajnya belum benar. Sedikit demi sedikit, Syua sudah bisa membaca Alquran. Secara diam, gadis itu meminta bantuan pada Ustazah Ainun. Dilihat santri dengan tatapan meremehkan itu, sungguh tak mengenakkan. Dirinya pantang bila diremehkan.
Syua ingat sekali saat pertama masuk ke pesantren. Sebelum tiba gilirannya untuk membaca Al-Quran, dia tidur atau kabur dari pengajian. Ustazah Zahra sudah capek jika terus mengejar dan menyeretnya masuk.
***
Syua melahap roti dikedua tangannya secara bergantian. Tanpa memedulikan gadis kecil yang sedang menelan ludah beberapa kali—ingin ikut merasakan kenikmatan roti itu. Hah, dasar Syua.
“Kak Syua, Dini mau!” rengeknya.
“Bukankah kamu sudah memberikannya padaku?”
Dini cemberut. Iya, Dini memeberikan roti itu pada Syua, tetapi satu. Bukan keduanya. Syua! Apa kamu gak kasihan sama Dini? Jangan jadi orang yang rakus.
“Ini!” Akhirnya Syua memberikan roti itu dan disambut senyuman lebar oleh Dini. Meski kena bekas gigitan, Dini tetap memakannya dengan cengiran khasnya.
“Enak!” komentar Dini di sela kunyahannya.
“Kamu belum baca doa, loh!” ingat Syua akan materi pagi tadi.
Sontak Dini menepuk jidat dan membaca bismillah dan doa mau makan lalu melahap kembali dengan gigitan besar. Syua tertawa geli melihat tinggkahnya.
“Kak Syua, tadi Dini liat Kak Putri megang HP, kan, di pesantren gak boleh megang HP. Ya, kan?” kata Dini yang dibalas kernyitan oleh Syua.
Yang Syua tahu, si Putri tidak punya handpone. Lagi pula dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli barang seperti itu. Putri hanya seorang anak penjaga kantin, menumpang tidur dan belajar gratis di pesantren, pikir Syua demikian.
Setelah mendapat informasi dari Dini, si kecil-kecil cabe rawit. Syua menghampiri gadis yang ikut menuduh dirinya sebagai pencuri. Baik di kamar maupun dalam kelas, Syua tidak menemukan Putri. Ke mana dia?
Sesampainya di halaman belakang. Akhirnya Syua menemukan Putri sedang berjongkok—memandangi benda di tangannya. Asyik sendiri dan tersenyum setelah berselfie. Mungkin sedang memuji diri sendiri melihat fotonya?
“Kembalikan!” Suara Syua membuat Putri terlonjak kaget lalu menyembunyikan benda itu di belakang badannya.
Putri menggeleng.
“Itu bukan punyamu!” pancing Syua.
“Ini punyaku!” Suaranya lebih tinggi daripada Syua. Mereka saling tarik-ulur. Putri masih kukuh mempertahankan benda di tangan. Itu adalah benda langka bagi Putri. Sebelumnya, dia hanya bisa melihat dari jauh saat orang memakainya.
“Benarkah?” Syua tersenyum meledek. Kalau dia berhasil mendapatkan handpone itu, semua akan jelas siapa pemiliknya. Kecuali bila Putri pintar untuk menghapus semua foto, kontak, dan aplikasi lain yang ada di sana. “Sini! Biar aku liat.” Tarik Syua kuat.
KRAK!
Benda berukuran 5 inci itu jatuh, mendarat di batu. Retak.
“Itu salahmu!” Tunjuknya pada Syua.
“Salahmu! Karena kamu mencurinya!” seru Syua tak mau kalah.
“B-Bunga?” Syok Putri mendapati seseorang yang berdiri tak jauh di hadapannya.
“H-HP-ku!?” Tercekat. Mata Bunga melebar mendapati benda kesayangannya tergeletak di tanah. “Jadi, kamu yang mengambil HP-ku!?” Sorot mata Bunga tajam.
Putri mulai pucat.
“Aku akan melaporkan masalah ini sama Ustazah.” Syua memegang tangan Putri dan menyeret paksa.
“Ja-jangan ... aku mohon, maafkan aku,” isak Putri mencoba melepas tarikan Syua. Tangannya memerah—genggaman Syua lumayan kuat. “Syua, lepas!” Putri meronta.
Oh, tidak! Bagaimana ini? Bagaimana kalau Ibu tahu apa yang kulakukan? Ibu pasti akan marah dan sedih. Apakah kami akan diusir dari pesantren? Apakah teman-teman akan menjauhiku? Dan tidak mau bermain lagi bersamaku? Pikiran Putri kalut membayangkan.
“Syua! Ada apa ini? Kenapa kamu menarik Putri seperti itu?” Suara Ustazah Zahra menghentikan langkah kaki Syua dan Putri. Begitu juga dengan Bunga yang mengekor dari belakang—mendadak berhenti.
“Ternyata, Putri yang mencuri Hp-ku, Ustazah!” ujar Bunga memperlihatkan HP-nya yang rusak.
“Apa itu benar?” Selidik ustazah yang melihat kepala Putri yang menunduk perlahan.
“Kamu harus menggantinya!” hardik Bunga.
Putri mengangkat wajah ketika Bunga mengatakan kata ‘mengganti’. Dari mana dirinya bisa mendapatkan uang?
Harganya hampir lima juta!”
Hah? Sebanyak itu? Hanya untuk benda sekecil itu? “A-Aku,” suara Putri bergetar, mau menangis.
“Kalian bertiga ikut ustazah ke ruangan,” lerai ustazah tidak tega melihat raut wajah Putri yang hampir meraung. Matanya sudah memerah menahan tangis.
Ketiga santri itu sudah berdiri di depan meja pemilik pesantren Al-Falah.
“Apa benar, Putri yang mengambil HP Bunga?” tanya Ustazah Aisyah.
“I-Iya.” Putri mengangguk pelan tanpa melihat objek yang ada di depannya. “Maafkan Putri, Ustazah. Putri mohon jangan bilang pada Ibu. Putri janji gak akan mengambil punya orang lain lagi.”
“Maling tetaplah maling!”
Putri terperenyak. Kata-kata itu pernah dilontarkan sebelumnya pada Syua.
“Bunga!” panggil sang ustazah.
“Maaf Ammah.” Kali ini Bunga yang menunduk.
“Allah SWT berfirman, laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,” jelas ustzah menerangkan Alquran surat Al Maidah ayat 38. “Apa Putri gak takut dosa? Gak takut tangannya buntung? Itu hanya hukuman dunia, loh! Di akhirat nanti lebih mengerikan lagi.”
“Maafkan Putri, Ustazah,” paraunya dengan suara tertahan. Air mata sudah bergulir dikedua pipi.
Syua dan Bunga yang mendengarkan penjelasan Ustazah Aisyah merasa ngeri. Tanpa tangan? Mereka berdua sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Tanpa tangan, bagaimana aku bisa makan dan menanjat pohon? Pikir Syua.
Tanpa tangan, bagaimana aku bisa main HP dan membalas chat teman-teman? Bunga membatin.
“Aku minta maaf, Bunga.” Sekali lagi Putri meminta maaf.
Bunga tersadar dari lamunan dan berkata, “Kamu harus menggantinya! Setelah itu baru aku maafkan. Harganya hampir lima juta. Apa kamu bisa?” Nada Bunga terdengar sombong.
Putri menunduk semakin dalam. Uang sebanyak itu belum pernah dilihat sebelumnya. Uang seratus ribu pun tidak pernah dipegang.
“Bunga, tidak baik berbicara seperti itu pada temanmu. Memaafkan itu ikhlas karena Allah, bukannya dengan persyaratan,” jelas ustazah.
“Tapi, Ammah?”
“Ustazah akan memperbaiki HP-mu.”
Pasrah, tak berani membantah.
“Baiklah, aku memaafkanmu,” ucap Bunga cemberut menoleh ke arah Putri.
“Kamu tidak minta maaf padaku, Bunga?” sindir Syua yang pernah dituduh mencuri.
Bunga mendengus kesal, tetapi tetap minta maaf. Tentu saja permintaan maaf Bunga diterima Syua.
“Aku juga minta maaf, Syua,” ujar Putri yang juga merasa tersindir.
Syua mengangguk sembari tersenyum.

Other Stories
Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Download Titik & Koma