Perpustakaan Berdarah
Sita dan Arga saling berpandangan. Keringat dingin mengucur dari tubuh keduanya. Seperti ada kekuatan yang membuat mereka beranjak keluar dari kamar Mr. Barend dan mengikuti bayangan hitam itu yang membawa mereka ke perpustakaan.
Suasana perpustakaan seketika menjadi sangat menyeramkan. Hawa dingin begitu menusuk sampai terasa ke tulang. Tiba-tiba bau anyir merebak seisi ruangan membuat bulu kuduk keduanya merinding.
Baru sampai kaki keduanya menuju lantai bawah perpustakaan. Sebuah novel melayang dan jauh tepat di depan kaki Sita. Novel berjudul ‘Belinda’ itu kembali terbuka di salah satu halamannya. Dengan tangan gemetar dan tubuh yang menggigil, Sita berjongkok untuk meraih novel itu. Belum sampai tangannya menyentuh, tiba-tiba suara Tiara terdengar. Perempuan jahat itu bersenandung seraya menuruni anak tangga.
Sita bersembunyi di bawah kolong anak tangga dan membiarkan novel itu masih tergeletak di lantai.Tiara tersenyum melihat Arga. Lelaki itu hanya terdiam menatap Tiara dengan wajah cemas, dan tubuh bergidik membayangkan kebengisan yang akan dilakukan Tiara padanya.Kenapa kamu ingin membunuh saya? Batin Arga. Arga masuk ke ruang kerjanya, dia membuka buku catatan.
Arga berusaha menyibukkan diri agar rasa takutnya tidak terlihat oleh perempuan jahat itu. Dadanya berdegup kencang tatkala Tiara telah duduk di sampingnya. Pandangan perempuan itu fokus pada buku catatan yang berada di atas meja kerjanya.
“Kita sampai malam ya, di sini. Ada beberapa buku yang harus dirapikan.” Walau Tiara memiliki wajah yang cukup cantik dengan pipinya yang putih mulustidak membuat Arga menaruh hati padanya. Senyum Tiara membuat tubuhnya merinding, sama halnya ketika dia melihat sosok perempuan Belanda yang dilihatnya bersama Sita. Arga berusaha mengatur napasnya sampai tak sadar kakinya bergoyang-goyang merendam rasa takut.
“Saya mau merapikan buku-buku di atas. Kamu tolong catat buku-buku yang baru saja diberikan Bu Bella tadi pagi.” Seraya berdiri, Tiara menatap wajah Arga dengan pandangan penuh cinta. Arga memalingkan wajahnya tertuju pada buku catatan yag berada di atas meja kerja Tiara. Dia pun mengambilnya.
Sita mengintip dari sela-sela anak tangga, dia sangat mengkhawatirkan Arga yang berdua dengan perempuan jahat itu di ruangan.
Mata Sita tertuju pada sebuah benda yang perlahan menghampirinya. Dia membekap mulutnya erat, jeritannya tersendat. Novel Belindaitu perlahan bergerak mendekatinya. Arga kaget dengan jeritan Sita yang tertahan dan semakin panik ketika Tiara berjalan menuju ke arahnya.
“Siapa yang menjerit?” Siapa lagi yang ada di perpustakaan ini? Sita?!”
Arga bergeming. Dia sama sekali tidak memerdulikan pertanyaan Tiara. Dia mencemaskan Sita. Tiara keluar dari ruang kerjanya, pandangannya menyusuri seisi perpustakaan. Tiba-tiba saja sebuah buku dengan ukuran yang lumayan tebal, entah dari mana datangnya, melayang dan menghantam wajah Tiara yang baru akan melongok sela-sela anak tangga.
Tiara menjerit sambil berlari seraya mengambil buku yang kembali melayang menghantam wajahnya. Bayangan hitam muncul di hadapan Tiara dan berubah menjelma menjadi sosok perempuan Belanda dengan rambut pirang serta gaun putihnya yang menyapu lantai.
Sita keluar dari persembunyiannya dan berlari menghampirArga yang cemas akan dirinya. Mata perempuan Belanda itu membelalak marah, wajahnya yang cantik berubah menakutkan dengan senyumnya yang membuat Arga, Sita dan Tiara bergidik. Tiara menjerit dan mundur perlahan ketika perempuan Belanda itu perlahan mendekati dirinya dengan tangan yang dijulurkan, siap mencekik leher Tiara.
“Tidak! Siapa kamu … jangan …,” teriakan Tiara sangat memilukan. Dia berteriak sambil menangis karena rasa takut.
Sita dan Arga tidak dapat berbuat apapun saat tubuh Tiara melayang bersama dengan perempuan Belanda itu, dengan leher tercekik oleh sosok perempuan itu.
Sita dan Arga berusaha mengikuti arah tubuh Tiara yang melayang ke atas, walau dengan rasa takut. Dan ketika mereka sampai di lantai atas, tubuh Tiara menghilang bersama dengan sosok perempuan Belanda yang membawanya menembus langit-langit rumah sakit. Hanya bau anyir yang masih tercium oleh mereka.
“Mau kemana, kamu?” seru Arga yang melihat Sita berlari.
“Kita harus menemui Mr. Barend. Saya yakin Mr. Barend tahu semua ini.”
Sita sama sekali tidak mengerti dengan ucapan yang keluar dari mulut lelaki tua itu. Tapi dia tidak putus asa.
“Mr. Barend masih ingat pernah berkata pada saya untuk hati-hati. Apa maksudnya?”
Suara Sita begitu pelan dan dekat dengan wajah Mr. Barend. Lelaki tua itu duduk dengan pandangan selalu menuju ke langit-langit ruangan, seolah-olah ada yang mengajaknya bicara. Bibirnya komat kamit namun tak satupun kata yang dimengerti oleh Sita dan Arga. Bukan Bahasa Belanda yang keluar, tapi kalimat yang meracau yang keluar dari mulut lelaki Belanda itu.
“Voorzichtigheid. Perpustakaan berdarah …Belinda …”
Mr. Barend menangis tiba-tiba sambil memanggil nama Belinda. Tangisannya sangat memilukan. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan terus memanggil nama Belinda tanpa berhenti menangis. Arga menekan tombol bantuan. Seketika seorang suster datang berusaha menenangkan Mr. Barend. Lelaki itu pun terdiam dan akhirnya matanya terpejam.
“Jangan kalian ganggu Mr. Barend. Dia butuh banyak istirahat. Kalian petugas perpustakaan, kan? Lebih baik kalian kembali ke perpustakaan.”
Arga dan Sita berjalan keluar dari ruang Mr. Barend dengan perasaan kecewa. Namun, ada rasa penasaran di hati Sita. Apakah Belinda yang diucapkan Mr. Barend itu adalah Ibu Bella? Lantas kemana sosok perempuan Belanda itu membawa tubuh Tiara. Apakah Tiara masih hidup?
Sita berusaha menghilangkan rasa takut yang sejak tadi bergelayut di hatinya. Jantungnya masih berdebar mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Langkah kakinya mantap menuju ruang bawah tanah. Dia ingin mencari novel Belinda yang tadi bergerak mendekati dirinya dan tiba-tiba hilang begitu saja. Dia yakin, novel itu bisa menjawab misteri yang ada di perpustakaan ini.
Sita menarik tangan Arga, dia mengajak lelaki itu untuk kembali ke perpustakaan untuk membantunya mencari sebuah novel. Sebenarnya Arga enggan kembali ke perpustakaan itu, namun hatinya tidak dapat menolak permintaan seorang perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta.
Bau anyir masih tercium. Suasana perpustakaan semakin mencekam. Seperti ada sepasang mata yang mengintai keduanya. Sita berusaha mencari novel Belinda itu dengan melihat sekitar lantai. Arga hanya mengikutinya saja, karena dia sama sekali tidak tahu novel yang dimasud.
“Lhaaa … lhaaa … lhaaa …”
Suara senandung gadis kecil terdengar. Jantung keduanya berdegup sangat kencang. Keduanya mencari sumber suara itu. Tanpa sengaja kedua tangan mereka berpautan, saling memegang erat. Perlahan suara langkah kaki seperti menghampiri mereka dengan senandung yang masih terdengar, diiringi hembusan angin yang dirasa ditengkuk keduanya.
“Lhaaa … lhaaa … lhaaa …”
Tubuh gadis kecil itu muncul di hadapan mereka, dengan senyum menyeringai. Di tangan kanannya memegang sebuah buku. Dan itu adalah novel yang dicari Sita. Gadis kecil itu melangkah mendekati Sita dan Arga yang perlahan mundur. Kerongkongan mereka seperti tersendat, tidak ada suara yang mampu keluar dari keduanya. Hanya bola mata mereka yang membelalak memandangi sosok gadis kecil berlumuran darah yang perlahan mendekati mereka. Genggaman tangan keduanya semakin erat dengan keringat yang membasahi telapak tangan keduanya.
Kembali gadis kecil itu tersenyum menakutkan, kali ini tangan kanannya dijulurkan ke depan seraya memberikan novel itu kepada Sita yang semakin mundur bersama Arga. Sita menahan langkahnya yang membuat Arga juga ikut menghentikan langkahnya. Sita memberanikan diri memandang ke arah gadis itu dengan jantung yang dirasa mau copot. Dia benar-benar merasakan debaran jantungnya terdengar meggema, dengan napasnya yang sesak.
Gadis kecil itu masih tersenyum, namun pandangannya sayu. Ada air mata keluar membasahi pipinya. Arga mundur dan melepas tangan Sita ketika gadis kecil itu mendekatkan wajahnya ke wajah Sita yang berdiri tanpa bergerak. Sita memejamkan matanya, dia tidak sanggup melihat wajah gadis menyeramkan itu dengan tubuh berlumur darah. Dia merasakan novel itu menyentuh tangannya. Sita membuka matanya, dia melihat gadis itu berjalan dan menghilang dalam kegelapan. Sita meraih tangan Arga yang terpaku ditempatnya berdiri. Mereka berlari keluar rumah sakit.
Sita tidak mengerti kenapa gadis kecil misterius itu memberikan novel kepadanya. Novel yang memang dicarinya. Novel yang diberikan papanya ketika usianya 10 tahun.
“Saya harus pulang, saya akan baca buku ini sampai selesai. Mungkin buku ini bisa membantu kita mengetahui kejadian di perpustakaan rumah sakit.”
“Baiklah … saya juga akan pulang. Kabari saya kalau kamu tahu sesuatu,” ucap Arga yang tanpa sengaja membelai kepala Sita. Dari kejauhan sepasang mata dengan pandangan penuh kecemburuan melihat ke arah mereka. Deni.
“Sita, kamu mau pulang,” teriak Deni dari dalam mobil. Lelaki itu memberhentikan mobilnya tepat di samping Sita. Arga hanya terdiam melihat mobil yang membawa Sita berlalu.
Deni memerhatikan Sita yang serius membaca sebuah buku dengan cover yang menakutkan. Cover seorang gadis kecil dengan tubuh berlumuran darah sedang berada di perpustakaan.
“Apa yang kamu baca?” tanya Deni dengan tubuh bergidik.
“Bukan apa-apa. Sudah, kamu nyetir saja.”
Pandangan Sita sama sekali tidak memandang ke arah Deni. Hal itu membuat Deni kecewa, apalagi dengan kejadian yang dilihatnya ketika Arga membelai kepala Sita.
***
Suasana kamar Sita terasa begitu panas. Padahal suhu AC sudah direndahkan, namun tubuh Sita berkeringat. Di atas ranjangnya, Sita serius membaca novel Belinda. Matanya membelalak dengan tangan gemetar saat dia membaca sebuah pembunuhan yang terjadi di sebuah perpustakaan.
Seorang gadis berusia 10 tahun berusaha melindungi tubuh ibunya dari selongsong peluru yang ditembakkan dari arah depan. Dengan gesit, gadis kecil itu melompat dan berdiri di hadapan ibunya. Peluru itu melayang cepat dan menembus punggung gadis kecil nan cantik itu. Dia tak langsung roboh, dia berusaha bertahan dan mendorong tubuh ibunya sampai terjatuh. Peluru kedua kembali menembus perutnya ketika dia berbalik. Gadis itu tidak menangis, tapi tersenyum memandang seorang lelaki yang menembaknya.
Tubuh gadis itu akhinya roboh. Dia masih sempat melihat ibunya dicekik dan diseret. Lelaki itu mengangkat tubuh ibunya lalu menggantungnya pada lampu gantung besar yang berada di ruang perpustakaan. Setelah itu, tubuh gadis kecil yang sudah terkulai lemah sekaligus berlumuran darah dibopongnya dan kemudian dimasukkan ke dalam ruangan yang berada di bawah tangga. Lelaki itu menguncinya.
Sita menahan napasnya. Diletakkan telapak tangannya di dada, dia merasakan debaran jantungnya. Hawa panas yang sedari tadi dirasakan, kini menjadi dingin dengan suasana mencekam. Sita mendengar langkah kaki yang mendekati pintu kamarnya. Dengan panik Sita berteriak kencang memanggil mama dan papanya.
***
“Ada apa Sita? Lagi-lagi kamu membuat kami khawatir. Kami mendengar kamu berteriak semalam. Kamu pingsan di tempat tidur, ketika kami masuk kamarmu.” Mama memegang pipi anak perempuannya yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya dengan khawatir.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ini berhubungan dengan tempatmu bekerja?” tanya Papa.
Sita bergeming. Dia tidak ingin memberitahukan apapun yang dialaminya. Karena dia tidak igin mama dan papanya meminta dia berhenti bekerja. Entah apa yang ada dipikirannya. Sita penasaran dengan semua kejadian yang dialami. Dia tetap ingin bekerja di perpustakaan dan berusaha memecahkan misteri yang ada di tempatnya bekerja.
“Tidak ada apa-apa, Pa, Ma. Semalam Sita membaca novel horor yang pernah Papa berikan waktu Sita kecil. Papa masih ingat, kan?” ucap Sita mengalihkan pembicaraan.
“Novel horor? Hmm … iya, iya, Papa ingat. Sebenarnya novel itu milik kakek yang igin Papa simpan, tapi kamu bersikeras memintanya karena kamu suka membaca cerita horor. Kamu masih menyimpannya?” tanya Papa sambil mengernyitkan dahinya.
“Kakek dapat dari mana novel itu, Pa?” tanya Sita penuh selidik.
“Setahu Papa, kakek pernah meminjam novel itu dari sebuah perpustakaan, tapi lupa dikembalikan. Kami semua pindah ke Surabaya dan novel itu masih disimpan oleh kakek di lemari bukunya sampai kamu melihat dan memintanya. Papa masih sekolah kala itu.”
“Perpustakaan apa, Pa?”
“Papa tidak tahu nama perpustakaan itu. Kakek tidak pernah memberitahukannya kepada Papa.”
Tubuh Sita lemas. Dia terduduk di kursi yang berada di depan jendela. Sita menghela napas panjang. Pantas novel itu berada di perpustakaan sekarang. Apa novel itu ingin kembali ke tempat asalnya? Atau ada yang ingin disampaikan novel itu pada dirinya? Apa ada hubungannya dengan gadis kecil yang berlumuran darah itu? Udara dingin mendadak membelai tengkuknya. Jantung Sita berdegup, dia berusaha menyembunyikan rasa takutnya dari mama dan papanya.
Mama dan Papa meninggalkan Sita sendiri di kamar. Mama meninggalkan sepiring roti selai kacang dan susu hangat di meja rias.
“Sita, apakah hari ini kamu masuk bekerja?” Sebuah WA dikirim Arga untuknya.
“Sepertinya hari ini saya tidak masuk, Mas.”
Sebenarnya Sita ingin kembali ke perpustakaan hari ini dan mencari tahu tentang ruangan kecil yang ada di kolong tangga itu. Tapi, semalam Deni mengingatkan bahwa ada presentasi yang harus dilakukannya di kampus dan dia juga butuh waktu untuk menenagkan dirinya.
***
Sore hari sepulang kuliah dengan diantar Deni. Sita langsung menuju kamarnya. Dia ingin melanjutkan membaca novel Belinda. Dia mencari novel yang diletakkan di tempat tidurnya sebelum dia pergi ke kampus. Novel itu tidak berada di tempatnya. Dia pun menuju ruang keluarga dan mencari novel itu di lemari buku, tetap saja tidak dia temukan.
“Cari apa, Sita?” tanya Papa yang baru masuk ke ruang keluarga.
“Cari novelnya kakek, Pa.”
“Kamu masih ingin membaca novel horor itu?” ucap Papa dengan pandangan bingung.
“Iya, Pa. Sita belum membaca novel itu sampai habis. Sita lupa dengan jalan ceritanya.”
“Papa tidak melihat novel itu. Mungkin terbawa di tasmu?”
Sita kembali ke kamarnya dan membongkar isi tasnya. Novel itu tetap tidak ada. Sampai akhirnya Sita berpikir kalau novel itu kembali ke perpustakaan. Dia pun menelepon Arga melalui WA.
“Mas, kamu ada di perpustakaan?”
“Tidak! Saya sudah pulang dan ada di rumah sekarang.
Sita mendengus kesal. Dia bingung, apakah dia harus ke perpustakaan malam ini?
Gadis itu membayar ongkos taksi dan berjalan menuju ke dalam rumah sakit. Begitu masuk pintu rumah sakit, terdegar suara Bu Bella memerintahkan kepada seorang suster untuk mengikat tubuh Mr. Barend.
“Ada apa Ma’am?” tanya Sita yang berlari masuk kamar Mr. Barend.
“Dia terus menerus berteriak. Pandangan matanya terus melihat ke langit-langit. Saya tidak tahu, apa yang dilihatnya,” seru Bu Bella. Pandangan mata perempuan cantik itu terlihat begitu iba dengan kondisi Mr. Barend.
“Kamu … Hati-hati!”
Mr. Barend memandang dan menunjuk ke arah Sita, membuat Bu Bella bingung dan memandang wajah Sita dengan tatapan penuh tanya.
“Ada apa Sita? Apa maksud dari perkataan Mr. Barend? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.”
“Sa, saya … juga tidak tahu Ma’am.” Sita berusaha menyembunyikan apa yang diketahuinya.
Sita pamit untuk pergi ke perpustakaan, dengan alasan ada bukunya yang tertinggal di sana.
Langkah kaki Sita begitu berat. Dia benar-benar merasa sangat takut malam itu. Walau dia yakin gadis kecil dan perempuan Belanda misterius itu tidak bermaksud melukainya. Tapi dia benar-benar merasa dirinya juga terancam, sama seperti Arga.
Matanya memandang ke langit-langit sebelum kakinya menapaki tangga bawah tanah. Dia mengingat tubuh Tiara yang dibawa melayang oleh perempuan Belanda itu. Tapi, dimanakah Tiara sekarang? Hatinya mulai bertanya sambil langkah kakinya perlahan menuruni anak tangga menuju ke perpustakaan. Sita menghentikan langkahnya. Dia menahan napasnya sambil membekap mulutnya, jantungnya seketika berdegup kencang.Dia melihat Tiara tengah membereskan buku-buku di lemari atas dengan duduk di atas tangga seorang diri.
Tubuh Tiara membelakangi Sita yang masih terpaku di tangga. Darahnya berdesir, kerigatnya mulai mengucur membasahi tubuh, lututnya pun dirasa gemetar. Tiara membalikkan tubuhnya tiba-tiba, pandangan matanya menatap ke arah Sita yang masih berdiri di tangga. Wajah Tiara begitu menyeramkan, membuat Sita mengurungkan niatnya dan berlari ke atas meninggalkan rumah sakit.
Begitu sampai di rumah, Sita menghubungi Arga dan memberitahukan apa yang baru saja dilihatnya. Suara Arga terdengar kanget mendengar Tiara berada di perpustakaan. Karena sejak pagi sampai sore, Arga bekerja sendirian.
***
Keesokkan harinya, Arga menghampiri mobil Deni yang berhenti di depan pintu gerbang. Arga menyambut Sita yang keluar dari pintu depan mobil. Deni hanya diam melihat kekasihnya berjalan dengan seorang lelaki yang telah membuat dirinya cemburu.
“Kenapa kamu masih berani masuk setelah melihat Tiara semalam?” tanya Arga.
“Aku ingin memastikan bahwa yang aku lihat itu bukanlah Tiara,” ucap Sita.
“Selamat pagi … Sita, boleh kamu ikut saya sebentar?” sapa Bu Bella menghentikan langkah Sita dan Arga begitu baru masuk pintu rumah sakit.
“Baik Ma’am.”
Sita mengikuti Bu Bella. Sementara Arga berjalan menuju perpustakaan. Cucu dokter Everhart itu mengajaknya masuk ke salah satu kamar pasien yang kosong, tempat dirinya pernah dibaringkan karena pingsan. Dan betapa terkejutnya ketika melihat Tiara terbaring di ranjang dengan wajah pucat dan mata terpejam.
“Kamu semalam ke perpustakaan, bukan?” tanya Dokter Bella penuh selidik ke arah Sita.
“Betul, Ma’am. Tapi semalam saya melihat Tiara sedang merapikan buku di lemari atas. Wajahnya pucat, sama seperti sekarang. Saya merasa takut melihatnya, dan akhirnya saya tidak jadi turun ke perpustakaan.”
“Apakah ada orang lain di perpustakaan?” kembali Bu Bella bertanya.
“Saya tidak sampai turun ke perpustakaan. Setahu saya, tidak ada orang lain selain Mbak Tiara di sana.”
Dahi Sita mengernyit, dia merasa aneh dengan kejadian ini. Bagaimana bisa Tiara ada di perpustakaan padahal sebelumnya perempuan Belanda itu telah membawanya pergi. Dan sekarang, Tiara tengah tergeletak di ranjang dengan wajah yang sangat pucat.
Sungguh kejadian yang sangat aneh, dan novel itu adalah kunci dari semua misteri. Sita bertekad mencari novel Belinda itu.
Bu Bella memersilakan Sita pergi. Arga sibuk dengan pekerjaannya pagi ini. Banyak buku-buku berserakan di lantai, seperti ada yang sengaja menjatuhkannya.
“Ada apa, Mas?” tegur Sita menghampiri Arga yang berjongkok.
“Entahlah … seperti ada angin topan di sini. Lihatlah, buku-buku itu …,” tunjuk Arga pada buku-buku yang berserakan seperti ada yang melemparnya.
Sita menengadahkan kepalanya, ada yang aneh dengan lemari buku yang di atas itu. Sita menggeser tangga dengan roda dibawahnya. Dia mulai naik. Dahinya mengernyit ketika berusaha membuka lemari bagian atas. Terkunci.
Bagaimana bisa buku-buku itu seperti terlempar keluar sedangkan lemari ini terkunci? Tidak mungkin Tiara yang melemparnya. Pasti sesuatu terjadi semalam, ketika dirinya pergi meninggalkan Tiara sendiri di perpustakaan.
Other Stories
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...