Tersisih
Delapan bulan berlalu… Raina kembali lagi ke vila. Selama itu, jiwanya masih dingin kepada Keina dan Didan. Tetap saja dia tak pernah berhasil untuk beranjak pergi atau mengusir dua manusia yang tetap terasa baru dan merongrong kebahagiaannya. Begitu kuat rupanya takdir mengikat mereka, upaya menjauh pun tak pernah menjadi doa yang terkabul.
Raina menatap jauh ke perbukitan yang masih menghijau indah, sejauh mata memandang… tatapannya dimanjakan dengan rindang pepohonan dan tumbuhan umbi-umbian, petani dataran tinggi tersebut masih sangat rajin memanfaatkan lahan.
Hawa dingin begitu menusuk, menghadirkan asap putih dari mulut Raina setiap kali mengembuskan napas. Delapan bulan Raina dalam kebekuan--berbicara seperlunya. Bahkan hubungannya dengan Saqueena pun seperti bekunya gunung es. Saqueena terasa berpaling dari hatinya, sejak dari usia lima belas tahun.
“Benarkah Queen telah mengusirku dari hatinya? Mengapa rasa ini begitu menajam saat usiaku tak lagi muda? Betul kata Roman, mengapa harus terjadi saat ini?” tarikan napas panjang terlihat sesak dengan beban.
“Rai…” panggilan khas itu seperti menawarkan sebuah pelukan.
“Roman… mengapa kau mengikutiku?” Raina tak menoleh, sekali pun ingin sekali menghambur dalam pelukan laki-laki tersebut.
“Karena aku suamimu, yang selalu menjadikanmu sebagai belahan jiwa.”
“Bagaimana dengan mereka?”
“Siapa?” Roman seakan minta Raina untuk menjelaskan.
“Ya, mereka…” Raina tetap lurus memandang ke depan.
“Ada Tino untuk Saqueena. Ada Keina untuk Didan. Ada Allah untuk Keina. Keina selalu berkata seperti itu. Cintanya padamu melebihi cintanya padaku,” Roman menghela napas.
“Dia berarti untukmu?”
“Bagaimana bagimu?” Roman balik bertanya.
Raina merasa tercekat, semua sudah memiliki ketegasan bahwa Keina berharga untuk keluarganya. Selama ini dialah yang tak pernah bulat memberi sebuah jawaban. Berhargakah Keina untuknya?
“Aku tak bisa menjawab…” lagi-lagi tatapan mata Raina kosong.
“Sudahlah tak perlu dipaksakan, hal terpenting ragaku tetap menjadi milikmu seutuhnya,” Roman merangkul Raina.
Gelombang rasa bersalah kembali menerpa Raina, “Bukan seperti ini yang aku ingin?”
“Lantas?” Roman heran.
“Aku ingin hidup bersamamu utuh dan mendapatkan cinta Saqueena dengan utuh pula.”
“Lantas, kita bisa mengulang masa lalu?”
“Mengusir mereka pun takkan mengembalikan cintamu utuh untukku.”
“Apa esensi dari cinta utuh itu?”
“Aku ingin tak ada keluarga lain di hatimu.”
“Sudahlah, Rai. Jika dibahas panjang, semua akan menyakitimu. Dulu kau sendiri yang memaksa.”
“Aku menyesal.”
“Untuk apa? Kamu rela pahala itu hilang demi ego yang sebenarnya bisa kau jinakkan?” Roman menatap mata Raina.
“Aku benci semua ini.”
“Minta sama Allah, tentang yang terbaik. Jika Keina harus pergi, mintalah Allah yang menempatkannya. Daripada kau yang mengusir, penyesalan itu lebih sakit dan mengerikan, ketika kita tak menemukan penawar dari rasa sakit tersebut.”
“Penyesalan?”
“Aku tahu kau wanita baik. Memiliki empati tinggi. Bisa saja aku melepaskan Keina dan Didan. Suatu saat kau akan menyesal, apakah nanti penyesalanmu akan berharga?”
Raina terdiam, dia tak mau peduli. Ego masih terurai dengan tajam menguasai relung pikiran dan hatinya.
Hanya helaan napas berat yang terdengar. Tak ada lagi percakapan, keduanya menatap ke arah perbukitan. Seakan ingin melepaskan segala beban yang terasa menghimpit pahit.
*****
Didan masih tengadah dalam lantunan doa yang syahdu. Keina menatap penuh sendu. Jarum jam menunjukkan pukul 03.00, diperjelas dengan dentang tiga kali. Keina tak kuasa, dia memeluk anaknya dengan erat. Seakan ingin menitip segala sakit dari batinnya.
“Bunda, jangan menangis…” Didan sangat pandai berbahasa isyarat.
Keina menganggukkan kepala sambil tersenyum dalam tangis.
“Kini kehamilan Bunda sudah mau masuk sembilan bulan,” Didan tersenyum sambil memegang perut ibunya. Lalu memperlihatkan jari sembilan.
Keina mengusap lembut perutnya dan duduk di samping Didan.
“Bunda, harus banyak istirahat ya,” Didan tersenyum.
“Bunda ingin selalu dekat denganmu, Nak.”
“Bunda harus minum susu dan tidur lagi ya.”
Didan pun kembali terlelap saat menunggu azan subuh berkumandang. Keina menatap buah hatinya dengan rasa iba. Dia hanya berharap, Allah selalu menguatkan langkahnya, berjuang menjaga Didan sepenuh jiwa, dan membesarkan bayi yang ada dalam kandungannya. Hanya tinggal satu bulan yang tersisa untuk segala persiapan persalinan. Keina merasa ada kondisi berat karena Roman teramat fokus pada Raina.
“Aku tidak boleh cengeng, harus memahami kondisi Kak Roman dan Kak Raina. Akulah yang memiliki konsekuensi besar. Harus bisa berjuang sendiri agar semua tak menjadi beban dan merusak kesehatan. Bismillah, insya Allah semua akan lancar…” Keina menyemangati dirinya. Di balik rasa tersisih yang begitu menggoda perasaannya.
*****
Tino menggenggam erat tangan Saqueena, dia tahu wanita pujaannya tersebut tengah rapuh.
“Mas, mengapa kita belum diberi kepercayaan memiliki anak?” Saqueena terlihat resah.
“Belum waktunya, Sayang. Allah tahu yang terbaik. Jangan terlalu banyak pikiran. Kita baru tiga tahun, orang lain ada yang lebih dari itu. Di sinilah cinta kita teruji. Mau saling mendampingi atau malah memilih pergi dan memangkas masalah?”
“Mas, mau menikah lagi?”
Tino tertawa geli, “Memangnya kau siap? Bagaimana jika yang bermasalah susah punya anak itu adalah Mas? Sudahlah jangan sampai ucapan kita menjadi doa. Langkah yang harus kita jalani adalah diperiksa total ke dokter, berusaha dan tawakal.”
Saqueena tertunduk dan menggigit bibir. Ada perih yang terasa akhir-akhir ini di hatinya.
“Sudah, jangan terlalu menekan pemikiran terlalu keras. Kasihan otakmu bisa kelelahan.”
“Mas, aku memang lelah,” Saqueena menatap nanar pada suaminya.
“Dalam kondisi seperti itu tak ada tempat terbaik yang bisa kau temui. Berdoa dan terus dekatkan diri pada Allah. Jangan sampai setan menguasai perjalanan pemikiranmu. Ada Mas yang menemanimu,” Tino mengusap kepala istrinya dengan lembut.
“Aku takut, Mas … “ Saqueena makin terlihat resah.
“Jangan takut. Kita hanya mampu memasrahkan diri pada Allah. Kau takut kehilanganku? Seperti Mama yang takut kehilangan Papa? Jika Mama mau terbuka, sebenarnya Papa tidak pergi. Namun, hati Mama yang dikuasai ego merasa perlu merebut lagi Papa dengan cara yang menyakiti semua keadaan. Mas bisa melihat kebijaksanaan Papa. Apalagi kekurangan Papa? Semua jadi merembet ke sana ke mari. Terbukti perasaanmu ikut terbawa dan semakin kacau.”
Saqueena menangis tersedu. Keresahannya telah terbaca oleh Tino. Rasa tersisih tengah menghantui keluarganya.
“Mas, berat sekali beban Papa, Mama juga tak mudah melewati semua. Namun, ada yang lebih menyakitkan, saat memikirkan Didan dan Bunda. Mereka tak memiliki siapa-siapa selain kita. Mengapa Mama bisa sekeras itu, di usianya yang tak lagi muda? Mengapa dulu Mama memaksa Papa. Aku pun telah ikut andil di dalamnya.”
“Jangan begitu, Sayang. Semua adalah ujian, turun naik kadarnya. Mama bisa tegar di masa lalu. Kemudian Allah menguji, bukan untuk membuat kita terpuruk, tetapi kita bisa belajar. Bahwa setiap pengakuan keimanan itu butuh bukti. Mas yakin, Mama bisa berhasil melewati ujian ini.”
Tino memeluk tubuh istrinya. Saqueena membenamkan kepala pada dada bidang yang sering kali menawarkan ketenangan itu.
*****
Roman merapikan semua tugas dan memberikan tanggung jawab kepada asistennya. Dia harus segera meluncur ke Puncak. Kondisi Raina memang harus benar-benar dipahami. Hati laki-laki itu tak pernah menciut, sekali pun beban dan tanggung jawab tak pernah surut. Beruntung dia memiliki istana kedua seluas hati Keina--wanita yang mau mengorbankan perasaan dan hak dari suami untuk Raina, yang kini tak mau menerima kehadirannya.
Keina telah berdiri di hadapannya. Roman kaget, tak biasanya Keina seperti itu. Wajah Keina begitu tenang, perlahan mengusap pipi suaminya. Matanya tetap teduh.
“Kak Roman titip anak-anak ya. Mungkin kita takkan lama lagi bersama,” Keina menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Roman.
“Kau mau pergi ke mana?” Roman heran, tiba-tiba perasaan takut menghantui.
Keina terdiam dan tersenyum.
“Apakah kau minta pergi dari hidupku? Apakah kau ingin mengabulkan permintaan Raina?” ada sakit di rongga dada Roman.
Keina menyodorkan sebuah kertas, kemudian Roman membaca perlahan.
Kita tetap tak bisa saling memiliki, seberapa besar pun keinginan kita untuk saling mengikat. Kita tetap tak bisa menuntut keadaan seperti yang kita mau, karena sesungguhnya kenyataan hidup itu tak semua mampu kita wujudkan sesuai harapan. Doa yang tak terkabul hari ini. Bisa saja menjelma esok hari, saat kita telah lupa pernah begitu tulus meminta dengan air mata.
Jika esok aku tak sanggup lagi mendampingimu, itu karena Allah telah memberi kehidupan yang lain padaku…
Kening Roman berkerut, dia menggerakkan tangannya menandakan ketidakmengertian. Keina hanya tersenyum dan merapikan dasi Roman.
“Aku pulang diantar Pak Komar saja ya. Supaya Kak Roman bisa langsung menemui Kak Raina,” lagi-lagi hanya senyum manis yang terurai dari wajah wanita tersebut.
Roman menggenggam tangan Keina, “Jangan membuatku takut dengan tulisan tersebut.”
“Nggak usah takut. Ada Allah yang menjaga kita semua. Aku pamit ya, Kak.”
Keina meninggalkan Roman yang terpaku memandang Keina yang berjalan tertatih karena menahan perutnya yang sudah semakin membesar.
Roman menatap kembali kertas itu. Biasanya dia tak sesedih itu dengan ungkapan hati Keina. Mengapa hari ini dia tak bisa lepas dari tulisan tersebut? Dia lipat kertas tersebut dan menyimpan di sakunya. Bergegas keluar rumah dan tancap gas mobil dengan cepat.
*****
Raina tersenyum riang menyambut kedatangan Roman. Dia menemukan kembali binar-binar cintanya yang sempat ingin dia buang.
“Hai, Roman…” Raina memeluk tubuh suaminya.
“Hai, Sayang…” Roman tersenyum dan merebahkan tubuhnya di sofa karena lelah.
Keduanya merangkai hari yang indah, meski hanya sekadar menatap pemandangan di depan rumah atau memeriksa tanaman yang tumbuh dengan subur di samping vila. Roman hanya berharap bisa secepatnya mengajak Raina pulang kembali ke rumah. Dia tak ingin Raina berlama-lama di vila sendirian.
Semilir angin siang hari menyibak wajah Roman, sedari tadi hatinya terpaut pada Keina. Antara rasa khawatir, takut, dan rasa lainnya yang teraduk menjadi satu.
*****
Keina masih mengaduk adonan kue kering kesukaan Didan, dia berupaya untuk fokus dengan segala kesibukan. Selepas menulis berlembar-lembar. Energinya belum terlihat melemah.
“Bunda…” Didan tersenyum mencium tangan ibunya dan memeluk.
“Anakku…” ada rasa perih menyayat hati. Berulang kali Keina hindari rasa tersebut, namun terus-terusan menerpa hatinya.
“Didan ganti pakaian dulu ya,” Didan tersenyum namun ada resah dari sorot matanya.
Keina hanya menganggukkan kepala pelan.
Dia bergegas menuju kamar. Keina pun mempersiapkan makan siang untuk anaknya dan satu stoples kue kering. Dia berjalan ke arah kamar mandi. Kepalanya sedikit terasa pening. Gerakan bayi di perutnya begitu cepat. Membuat tubuhnya mulai terasa lelah.
Dia perlahan membuka pintu kamar mandi, tercium semerbak wangi sabun yang menyengat. Ternyata botol sabun cair sudah terbalik dari posisi yang seharusnya. Semua isinya tumpah. Keina terlambat menyadari. Jika sabun telah membuat lantai licin.
Tangannya tak bisa menggapai apa pun untuk menyelamatkan tubuh dari limbung yang mendera. Keina terjatuh dengan posisi telentang, suara berdebam sangat nyaring. Pintu tak sengaja tertendang oleh kaki sebelah kiri. Perlahan matanya mengatup, tak ada jeritan yang sempurna, agar dia bisa memberi tanda segala sakit yang terasa. Hal yang teringat dalam benaknya adalah menyelamatkan janin yang akan terlahir beberapa hari lagi.
Terbayang wajah Didan yang berlinang air mata. Keina tak lagi bisa membuka mata, hanya gelap yang tersisa. Segala ingatan hilang ditelan sunyi.
“Bundaaaaaaaaa…” jerit tangis Didan memecah sunyi.
Didan segera menelepon Saqueena dan menceritakan kondisi ibunya yang harus segera ditolong. Pertolongan pun datang dengan cepat. Raungan sirine menghiasi perjalanan menuju rumah sakit terdekat.
Didan tersedu dalam pelukan Saqueena, “Kakak pikir ini takkan terjadi lagi. Dulu Bunda pernah terjatuh.”
“Benarkah, Kak?” Didan kaget.
“Ti… ti… dak, Sayang…” Saqueena tersadar, dia tak mau mengabarkan hal yang akan menambah perih hati adiknya.
“Sudah menelepon, Papa?” Tino bertanya.
“Sudah berkali-kali tapi tidak aktif telepon selulernya,” Didan menjawab.
“Kita segera selamatkan Bunda ya,” Tino mengusap kepala adik iparnya.
Hiruk pikuk suasana rumah sakit membuat Didan semakin merasa takut kehilangan ibunya. Keina langsung dibawa ke ruang gawat darurat. Ada darah yang mengalir bercampur air ketuban yang pecah. Resah menyelimuti jiwa laki-laki kecil itu. Dia merasakan berat rasa tersisih yang ditanggung ibunya. Dia memilih duduk di pojokan ruang tunggu, mengalirkan banyak kalimat doa dan berlimpahnya air mata.
*****
Other Stories
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...