Melepasmu Dalam Senja

Reads
748
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Rizka Agnia Ibrahim

Marah

Bayi yang dikandung Keina telah lahir. Seorang bayi laki-laki yang tampan. Hari-hari yang dilalui pun terasa semakin indah. Hal yang menakjubkan, Raina mulai luluh dan kembali baik seperti niat awal, saat dia membawa Keina dalam lingkar kehidupan rumah tangganya.
Kini, Didan--laki-laki kecil milik Keina--telah berusia sebelas tahun. Waktu yang dilewati telah menghadirkan cahaya mata yang menghapus rasa sepi Keina, saat Roman tak ada di sisinya.
Didan adalah anak laki-laki yang sangat mencintai kedua ibunya dengan adil. Dia tidak mewarisi tunarungu. Namun, kecerdasan sang ibu telah menemani jejaknya. Didan berprestasi, anak baik yang sangat dicintai oleh Roman dan Saqueena.
Roman telah berhasil membuat kedua istananya kembali memancarkan sinar kebahagiaan. Meskipun Keina tetap memilih berjauhan dengan Raina, agar terhindar dari konflik-konflik yang tak bisa diduga.
Keina sukses membuka kedai kue dan bukunya pun sudah terbit, puluhan karya yang membuat namanya mewangi. Keluarga penulis yang melahirkan banyak buku serta novel berkualitas dengan penjualan terbaik.
Saqueena telah merampungkan kuliahnya di Pendidikan Luar Biasa dan menjadi Sarjana Pendidikan. Cita-citanya berubah di tengah jalan, keinginan untuk menekuni dunia kepenulisan, dia alihkan saat menemukan makna dalam mengajar anak-anak tunarungu. Kini dia mengabdikan diri di sebuah SLB. Kerumitan yang ada, dia lewati dengan cinta. Seakan-akan Saqueena tengah menikmati cengkerama dengan Keina, wanita yang mengajarkan dirinya menguat untuk memberikan sebagian hidupnya dengan anak-anak tunarungu. Saqueena tetap menjadi penulis--tema tunarungu telah menghiasi banyak buku-bukunya. Akhirnya dia menikah dengan Tino, laki-laki sejati yang menunggu hati Saqueena sampai luluh. Selama tiga tahun menikah--belum dikaruniai buah hati.
Raina tengah berada di puncak kebahagiaan, dia merasa telah meraih cinta Roman yang tertinggi, saat mengikhlaskan bagian yang harus diberikan kepada Keina.
Itulah cinta, memang perlu diupayakan dengan pengorbanan yang tak sedikit.
*****
Keina menatap sinar mentari pagi itu. Sebuah pagi yang menegaskan sejarah baru dalam kehidupannya. Di usia ketiga puluh sembilan, dia harus merasakan ada benih cinta kembali yang hidup dalam rahimnya. Berulang kali dia memungkiri, namun sebuah alat tes kehamilan di genggaman tangannya membuktikan--ada dua garis merah yang tertera. Hatinya berdegup, antara bahagia dan takut.
“Apa yang akan terjadi dengan Kak Raina, jika aku hamil kembali? Mungkinkah dia harus terjatuh lagi seperti sebelum menerima Didan? Ya Allah, berikan hamba kekuatan. Aku harus segera menghubungi Kak Roman,” bisik hati yang lebih kental beraroma kecemasan.
Keina mengambil telepon selulernya, dia berniat video call. Namun, tanda sibuk berkali-kali terlihat di layar telepon seluler tersebut. Keina memutuskan untuk mengirim pesan. Meskipun butuh jeda beberapa saat untuk mengalirkan ketenangan.
“Kak Roman, sudah sarapan? Kira-kira pukul berapa bisa pulang?”
Beberapa saat, sepi… tak ada bunyi atau getar tanda pesan berbalas.
Keina beranjak dari halaman rumah. Dia bergegas merapikan rumah untuk mengusir kecemasan.
“Aku pulang sekarang, ini lagi di jalan…” telepon seluler Keina bergetar. Tanda pesan berbalas.
Keina tak berupaya membalas. Dia bergegas mengambil air wudu, menenangkan batinnya dengan salat dua rakaat, memanjatkan doa. Air matanya jatuh.
“Aku tak ingin menyakiti hati Kak Raina. Tapi apalah daya. Semua adalah kehendak-Nya. Aku harus bisa melewati semua dengan tegar,” hanya air mata yang mengalir begitu deras.
Roman menunggu sampai Keina selesai berdoa.
“Ada apa, Sayang?” Roman memeluk istrinya dengan erat.
Keina masih bergeming.
“Didan sekolah?”
Keina menganggukkan kepala.
“Ceritakan padaku, mengapa menangis?”
Keina memberikan sebuah amplop kecil.
Roman membukanya perlahan, terbelalak saat melihatnya. Ada kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.
“Kak Roman bahagia?” Keina bertanya dengan bahasa isyarat.
“Tentu dong.”
“Bagaimana dengan Kak Raina?”
“Jangan terlalu dipikirkan ya. Nanti aku yang bicara.”
Keina terlihat lega. Sorot matanya memberi binar yang ceria.
Mereka tenggelam dalam bahagia. Sambil menunggu Didan pulang, mereka menyiapkan resep-resep baru yang akan diantar ke kedai kue. Matahari mulai meninggi, mengalirkan cahaya yang mulai panas.
*****
Raina terkejut saat mendengar suara pintu garasi dibuka. Dia tak menyangka sedikit pun jika Roman pulang cepat.
“Kok, cepat sekali kembali?” Raina menatap Roman heran.
“Suaminya pulang malah dibiarkan. Ya sudah aku pergi lagi nih… “ Roman menggoda.
“Pasti ada sesuatu yang membahagiakan ya?” Raina merona bahagia.
Roman menganggukkan kepala dan tersenyum.
“Ada apa, Sayang?” Raina penasaran.
“Nanti saja.”
“Sekarang…” Raina memaksa.
“Baiklah,” Roman mengeluarkan telepon seluler dan memperlihatkan gambar.
“Tes kehamilan? Siapa yang hamil? Keina?” Raina menatap pada Roman.
“Selamat ya, Sayang…” jawaban yang tidak Roman duga itu meluncur dari mulut Raina.
“Are you, fine?” Roman bertanya heran.
“Lho malah tanya, bukannya kau butuh jawaban yang menenangkan?”
Roman terdiam, dia mulai merasakan ada aura penolakan yang tidak lepas dar Raina.
Raina bergegas ke dapur. Mulai terdengar perabot yang berjatuhan. Mengundang orang seisi rumah untuk bergegas ke dapur.
“Ada apa, Pa?” Saqueena yang baru pulang dari SLB pun kaget.
Roman bergegas ke dapur, “Rai… ada apa denganmu? Tadi kita baik-baik saja…”
“Semua baik-baik saja. Jika wanita tuli itu tak membuatku cemburu, aku benci kamu, Roman!” Raina tak berhenti menghancurkan seisi dapur.
“Sudah, Ma. Semua bisa didiskusikan dengan baik. Ayolah Mama Sayang, kesabaran dan keindahan cinta Mama takkan terganti di hati Papa,” Saqueena belajar menenangkan ibunya.
“Diam kalian, jika tak mau aku terluka. Biarkan aku begini!!” Raina menatap beringas sambil menggenggam pisau yang bergagang hitam.
Roman tak bisa tinggal diam. Apa pun yang terjadi, pisau itu harus jauh dari tangan Raina.
“Raina, ini bukan kali pertama yang harus kau hadapi. Keberadaan Didan bisa membuatmu begitu luas dalam menyayangi. Mengapa hari ini? Jika perlu waktu saja, itu naluriah, tapi tidak seperti ini,” Roman berusaha memeluk Raina.
Tubuh wanita awet muda itu meronta, tak sengaja pisau pun melukai pergelangan tangan Roman bertubi-tubi, begitu besar kekuatan ego itu menyeret Raina dalam ketidakasadaran bertindak.
Akhirnya Roman bisa menguasai pisau tersebut. Lepas dari tangan Raina yang terlihat panik. Darah berceceran di mana-mana. Saqueena terpekik menatap ayahnya. Dia bergegas membawa perban, namun tubuhnya limbung serta terjatuh. Perban pun jatuh, lepas dari gulungan. Roman sulit untuk mengambil. Namun tangannya terus menggapai perban yang berantakan.
Raina mematung dalam panik, dia menjerit… tangisan yang terdengar lebih bergemuruh dalam ruangan dapur yang tak lagi berbentuk.
“Raina, ada apa lagi denganmu?” Roman yang kehilangan banyak darah berusaha mendekati Raina.
“Aku benci Keina yang selalu berhasil membuatmu bangga. Keinginanku untuk mengusir dia dari hidup kita semakin besar.”
“Terlambat, Rai. Mengapa tidak dari dulu saat Didan dan janin baru itu belum hadir?” Roman mulai bisa menguasai tubuhnya. Perban telah melilit dan membungkus tangannya yang terluka.
Beberapa jam Raina bertahan berada dalam rumah, terik telah berubah. Hari tengah meniti senja. Raina berlari dalam sendu. Bergegas ke luar rumah. Tak lagi peduli dengan orang-orang yang dia cintai. Saqueena mengejar namun Raina lari secepat kilat. Tak peduli sekeliling yang memberi reaksi.
Raina tak lagi peduli dengan ucapan Roman yang memberinya posisi begitu berarti. Air matanya menemani sepanjang pelarian itu. Dia tancap gas mobil menembus senja yang tak mampu lagi membuatnya tersenyum. Emosinya masih meledak meski usia sudah memasuki empat puluh enam tahun, Raina tak peduli. Dia merasa perlu mengungkapkan segala lukanya.
*****
Suasana rumah masih teramat berantakan. Terutama bagian dapur. Pak Komar dan Bi Inah mengerahkan dua pembantu lainnya untuk merapikan ruangan dapur.
Didan mematung, menatap kakaknya yang masih menangis. Memandang perlahan ke arah ayahnya yang terduduk lemas.
“Ada apa, Kak? Mama mana?” Didan bertanya heran.
Saqueena menggelengkan kepala sambil terisak dan memeluk adiknya.
“Mama mana, Kak? Tadi Mama janji akan mengajak Didan malam ini untuk makan, berdua saja bersama Mama. Didan sudah izin kepada Bunda. Kakak kenapa menangis?” Didan masih bertanya.
Roman memeluk mereka dengan erat, “Mama pergi. Kita harus mencari. Mama membawa mobil, kemungkinan pulang ke rumah Eyang atau pergi ke vila,” Roman mengusap kepala kedua anaknya.
Anak laki-laki berusia sebelas tahun itu menangis tersedu, lebih kencang dari kakaknya, “Didan rindu Mama. Didan harus ketemu Mama.”
“Sabar, Nak. Mama pergi. Nanti kita sama-sama mencarinya ya,” Roman berupaya menenangkan.
“Iya, Didan harus sabar ya,” Saqueena memeluk adiknya.
“Mana suamimu, Queen? Suruh secepatnya untuk menemani kalian di sini,” Roman menatap Saqueena.
“Iya, Pa. Queen mau menghubunginya.”
Suasana pilu tengah menghinggapi keluarga tersebut. Roman menghubungi Keina agar bisa datang ke rumah Raina.
“Pak Komar, jemput Bu Keina sekarang ya,” Roman memberi perintah.
“Baik, Tuan…”
*****
Keina menangis tersedu setelah tahu kabar kepergian Raina. Sebelas tahun menjadi sayap kiri Roman. Tak pernah Keina temukan kemarahan sehebat hari tersebut dari Raina. Jauh di lubuk hatinya, dia memahami berat rasa yang dimiliki Raina. Bagaimana pun meluaskan hati untuk berbagi itu tidak mudah.
“Betapa tegar Kak Raina selama ini. Dia menerimaku sekali pun dengan susah payah. Wajar sekali jika kini kemarahannya meluap. Semoga Kak Roman memahaminya dengan lapang dada,” Keina tengadah dalam doa.
Dia sudah bersiap untuk pergi, memakai gamis berwarna hitam, kerudung maroon kesukaan Roman, membawa sebuah tas kecil. Pak Komar datang dan mempersilakan Keina untuk masuk ke dalam mobil. Mobil melaju cepat… sesuai keinginan Roman agar Keina segera tiba di rumah Raina.
Keina menatap jalan dengan segudang kecemasan. Matanya nanar menahan segala gejolak agar janin yang dikandungnya tetap baik-baik saja. Setelah siang tadi diperiksa, kehamilannya sudah memasuki usia sebulan, padahal dia normal haid. Keina sempat bingung, tapi dia langsung menyandarkan segala pemikirannya yang terbatas. Ada Allah yang memiliki kuasa atas ketidakuasaan manusia.
Mobil sampai di depan rumah Raina. Keina nyaris tak sadar, begitu cepat mobil melaju. Dia turun dari mobil, memasuki ruang tengah yang sudah terbuka. Didan yang menangis di sudut ruangan, berlari kecil menghampiri ibunya.
“Bunda, Didan sedih. Mama pergi. Tangan Papa terluka.”
Keina memeluk anaknya. Lalu menghampiri Saqueena, mengusap pipi anak perempuan yang sangat disayanginya tersebut dengan penuh cinta. Perlahan menghapus air mata yang berlinang.
“Bunda, maafkan Mama ya… “ Saqueena memegang tangan ibu tirinya.
Keina menggelengkan kepala dan tersenyum getir, “Papa kalian mana?”
“Papa pergi mencari Mama,” Didan menjelaskan.
Ketiganya kemudian terdiam dalam kebisuan. Senja sudah semakin memberi ruang gelap bernama malam. Suasana sedih masih akrab terlukis di rumah besar yang selalu menawarkan kenyamanan tersebut.
Keina mencoba melumerkan suasana yang terasa membeku. Dia bergegas ke dapur yang sudah rapi, kemudian mengolah makanan yang disukai anak-anaknya.
Setelah hampir satu jam berlalu. Saqueena dan Didan masih bergeming di ruangan tengah. Keina membawa sebuah makanan yang terlihat masih panas, kemudian menyimpannya di atas meja. Sebuah pizza dalam ukuran besar telah tersaji.
“Bunda, jangan sedih…” Saqueena terlihat khawatir.
Keina hanya berbahasa isyarat, menegaskan dia baik-baik saja.
*****
Raina menembus gelap, sepi, dan gerimis yang telah melicinkan jalan. Sehingga dia harus mengukur kecepatan laju mobil dengan perhitungan. Jalan yang berkelok di pekat malam, beberapa kali nyaris membuat mobilnya lepas kendali.
Dia menempuh perjalanan dari ibu kota menuju arah Puncak-Bogor. Raina dan Roman membangun sebuah vila peristirahatan, sesekali mereka kunjungi saat liburan tiba. Menawar penat dari segala rutinitas, dengan menikmati hawa dingin daerah dataran tinggi.
Kini… dia tak berniat liburan, namun membenamkan lukanya di antara rasa sunyi dan kepedihan. Bagi Raina, semua sangat tidak adil. Dia telah berjuang menutup perih, saat diberikan kenyataan tak lagi bisa hamil dan melahirkan. Mengapa Keina bisa begitu mudah merebut segala keindahan harapannya?
Air matanya mengalir sepanjang perjalanan. Dia menyesal telah mencelakai Roman, rasa bersalahnya tidak bisa dileburkan dalam kencangnya sebuah perjalanan. Saat lamunan mengundang banyak air mata, tiba-tiba sebuah mobil nyaris menabrak mobil yang Raina kendarai.
Kesadaran menjelma--di saat rumit seperti itu. Raina butuh Roman. Sepertinya mobil tersebut sengaja punya tujuan mencelakai Raina. Degup jantung memacu, saat dia menyalip dua buah mobil yang mencurigakan. Raina tancap gas sejadi-jadinya meski tetap berupaya memperhitungkan agar tidak terjadi tragedi yang bisa menghilangkan nyawanya. Berpacu dengan mobil-mobil aneh, beberapa saat membuat adrenalin Raina berpacu kencang.
Akhirnya, Raina bisa menembus kekacauan dengan menang. Sampai tiba di vila yang dia tuju. Namun, dia heran… ada sebuah kendaraan terparkir di depan garasi vilanya. Raina perlahan turun dan mengendap, diterangi cahaya lampu temaran dari dalam vila.
“Rai …\"
Degup kencang jantung Raina terasa ke luar dada. Raina membalikkan tubuhnya, mengikuti arah suara yang memanggil. Seketika wajahnya terkesiap kaget. Nyaris memukul sumber suara dengan pemukul bisbol yang dia bawa dari bagasi mobil.
“Roman? Mengapa kau ada di sini?” Raina kaget.
“Harusnya aku yang bertanya. Seorang istri seharusnya pergi dengan izin suami,” Roman tersenyum dengan tenang.
Raina tundukkan kepala, “Iya, aku yang salah.”
“Bukan hanya tentang sekadar pengakuan kesalahan. Seharusnya dirimu memikirkan keselamatan, Raina. Aku tahu kau diikuti beberapa mobil yang mungkin akan berniat jahat.”
“Kau yang mengarahkan mereka?”
Roman menggelengkan kepala, “Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk menyakitimu, Rai. “
“Menyakiti tidak mungkin tapi menakuti.”
“Kau sudah kehilangan hati nurani untuk bisa jernih memikirkan masalah. Kau cukup mengenal siapa aku.”
Raina merenung sejenak. Dia mengiyakan dalam hati. Jika mereka bukan suruhan Roman.
“Kenapa kau tidak menolongku?”
“Aku telah berupaya mengingatkanmu.”
“Ayo kita masuk. Sejenak beristirahat. Kita selesaikan masalah dengan jernih. Kita tak lagi muda. Anak-anak pun sudah besar. Kita tak boleh memberi contoh buruk untuk rumah tangga Saqueena. Didan menangis, momen makan malam bersamamu telah gagal.”
“Ya Allah… maafkan Mama, Didan.”
“Dia cukup lama menangis. Ibunya pun tak bisa menghapus kesedihan anak itu untuk selalu dekat denganmu.”
Raina merasa terpuruk di sudut keadaan. Rasa bersalah kembali menyeruak. Namun, ego segera mengendalikan keadaan, “Aku benci mereka. Keina dan Didan bukan lagi bagian hidupku.”
“Apa pun yang kau katakan. Sorot matamu tak bisa berbohong. Kau pun masih terlihat tidak tega dengan luka di tanganku ini,” Roman memperlihatkan tangannya yang terbungkus perban dengan rapi.
“Jangan paksa aku, Roman.”
“Aku tak memaksa. Kita liburan di sini. Berapa lama pun waktu yang kau inginkan.”
Raina terperangah. Rasa bersalahnya kian menari, “Baiknya kau pulang, kasihan anak-anak dan Keina.”
“Sudahlah, mereka sudah besar. Jika kau tak mau pulang. Aku akan tetap di sini bersamamu,” Roman tetap teguh dengan pendirian.
“Mengapa kau lari dari kenyataan?”
“Bagiku, kau itu penting. Jika kau terluka, aku akan menunggu dan mengobati sampai kau merasa sembuh.”
“Bagaimana Keina?”
“Sejak dia masuk dalam kehidupan kita. Dia telah merelakan sebagian hatinya untuk menguat karena luka-luka. Dia terima dengan segala kesiapan. Bukankah kau sudah tahu siapa dia selama sebelas tahun ini? Dia teramat menyayangimu…” Roman menatap mata Raina.
“Aku tak sanggup memaksakan hidup dengan dia,” Raina bersuara pelan.
“Ini bukan sekali kau bilang seperti itu. Semua hanya karena rasa cemburu yang menguasai. Pada dasarnya kau sangat menyayangi Keina dan Didan.”
“Aku tak sanggup, Roman.”
“Mengapa harus hari ini, Rai? Perjalanan sudah panjang kita lewati. Bagiku kita tengah menghadapi senja yang tenang.”
“Aku saja yang pergi.”
“Mengapa memilih pergi dalam senja? Sayang, nyaman angin senja ini, kita tinggal merapikan langkah menuju malam. Mengapa kau tidak pergi saat panas terik? Saat masalah besar nyaris membakar kita, hampir memporakporandakan langkah kita yang tertatih. Kita sudah mau memasuki usia senja, Raina.”
Raina terdiam, seakan tengah mengukur perjalanannya selama ini. Malam berlalu dengan geming, hingga dingin dini hari membuat Raina tak bisa jauh dari pelukan Roman.
*****

Other Stories
Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Download Titik & Koma