Separuh Dzarrah

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
separuh dzarrah
Separuh Dzarrah
Penulis Amri Evianti

19. Separuh Dzarrah

Di pondok ini ada anak yang paling sering dimintai bantuannya, meski mereka bukan anak ndalem. Namun rasanya mereka anak ndalem. Mereka anak-anak yang ringan tangan untuk membantu apapun kerepotan pondok. Dari mencari kayu bakar, membenahi listrik yang korsleting dan masih banyak lagi. Seperti pagi ini, Nendi namanya, ia tak pernah menolak jika dimintai bantuan oleh siapapun.
***
Siapapun siswa yang telat masuk kelas, dalam artian keduluan guru, harus melaksanakan hukuman tegak duduk 20 kali, mirip scot jump namun kakinya tidak bergantian lompat. Anak-anak berlarian saat aku mulai menuju kelas. Langkahnya mulai ia percepat, setidaknya janganlah terlalu lama jedanya dengan kehadiranku. Dia tidak menyangka bahwa akupun berlarian menuju kelas. Saat yang sama ia pun berlari, bersama-sama kami berlari menuju puncak, yakni sebuah ruang kelas.
Memang santri kudu ngalah, meski sebenarnya emang kalah haha. Aku memberikan hukuman padanya, ia dengan patuh melakukannya. Masih untung aku tidak bicara banyak yang biasanya aku akan banyak berkomentar ini itu.
Namun, masih saja kurang lengkap jika aku tidak berpesan apapun.
“Anak-anak, apa susahnya menunggu gurumu di dalam kelas? Sabarlah menunggu guru, kita tidak pernah mengerti melalui jalan yang mana ilmu kita bermanfaat. Mulai besok jangan sampai keduluan guru masuk kelasnya!” mereka bak paduan suara mengiyakan apa yang kuminta.
Saat aku sedang duduk di depan kelas, ada salah satu santri mendekatiku.
“Ada apa Nduk?”
“Ibu ada yang nggak suka dengan Ibu. Apalagi mbak-mbak kelas tiga SMA ada yang bilang Ibu singa padang pasir, ada juga yang bilang Ibu nenek sihir,” ia menyampaikannya dengan tertunduk.
“Biarkan mereka semua dihukum, Bu. Apa yang mereka lakukan sudah melewati batas,” ujarnya geram. Aku seperti melihat diriku yang dulu pada sosoknya, bedanya aku membela guruku terang-terangan di hadapan orang yang mengolok-ngolok guruku. Namun anak ini menyampaikan padaku perbuatan mereka.
Agak sedikit sesak memang jauh di dalam hati sana. Bagaimana anak-anak yang sering aku urus karakternya justru menyerang tak terima dengan apa yang kulakukan. Tak terasa ada bulir-bulir bening menggelinding melewati pipi, segera kuhapus tanpa sepengetahuan anak tersebut.
Dari hal ini aku mengerti, apa yang kita niatkan baik untuk orang lain, tidak selalu dianggap baik untuk orang lain pula. Memang hanya Allah tempat satu-satunya bergantung. Menyerahkan segala upaya, agar suatu saat Allah akan membukakan hati anak-anak untuk menerima kebenaran.
Angin sedikit berhembus dengan kencang. Allah… biarlah sedikit sakit ini akan menjadi penggugur dosa-dosa yang pernah kuperbuat. Biarlah semua melebur bersama datangnya senja.
***
Aku tak ingin menangis hari ini. Ya, biarlah aku mencoba tegar di atas semua kesedihan mereka yang akan meninggalkan para adik kelas dan teman sekelasnya. Namun, saat aku melihat wajah mereka. Ya Allah aku tak bisa membendung pertahanan ini, sekuat apapun aku tak mampu. Berkelebat kata-kata kerasku pada mereka. Kata-kata yang mencemoohku, namun aku sadar tidak semua anak berlaku demikian.
Wajah-wajah yang sudah berurai air mata itu memohon restu kepada seluruh guru, hingga saatnya tiba ia mulai mendekat padaku. Kutepuk pundaknya, ia memelukku dan aku membalas pelukannya dengan erat. Benar memang menjadi guru harus mempunyai hati seluas samudra agar mampu menampung apapun yang bakal menimpanya.
Bagaimana aku tidak akan mendoakan kalian anak-anak, jika seluruh hidupku aku abdikan pada kalian. Aku hanya berharap suatu saat kalian mengerti arti cinta seorang guru pada muridnya. Tak bersyarat, meski banyak manusia tak memercayainya. Semoga sukses nak.
***
Satu tahun begitu sangat cepat, pada satu tahun itu pula tak ada tanda-tanda aku akan menikah. Pertanyaan seperti bom waktu yang kapanpun bisa meledak tanpa kuminta. Aku lebih banyak diam di rumah, tidak banyak bergaul dengan temna-teman karena mereka sudah berkeluarga. Di saat seperti ini, mamak memanggilku, bahwa aku diminta abah dan umi ke pondok sore ini.
Tak menunggu lama, segera kutarik gas menuju pesantren. Apapun perintah abah dan umi sebisa mungkin aku tunaikan. Tak ada sedikit niatpun untuk menolak. Penolakan pada guru saat mondok di Jawa sudah cukup membuat aku menyesal seumur hidupku. Aku benar-benar menyesalinya, mungkin sampai aku belum menikah di umur ini karena penolakanku tersebut.
Aku sudah sampai di depan pesantren. Sebelum menuju ke rumah abah dan umi, aku sempatkan untuk berkeliling. Sepertinya aku akan menginap di sini. Melalui mbak ndalem aku disuruh menemui beliau selepas ngaji malam.
segera aku menuju rumah abah dan umi. Sedikit grogi dan salah tingkah. Bagiku berbicara dengan beliau adalah kesulitan terbesarku. Aku tak punya banyak kata untuk berbicara. Jangankan menolak permintaan beliau, bernegosiasi saja rasanya aku mati berdiri. Mungkinkah ini bentuk penyesalanku dulu saat masih muda? Entahlah.
“Assalamualaikum…” aku mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam… ya Nduk, masuk!” abah dan umi sedang berada di ruang tamu, kuraih tangan umi dan mencium punggung tangan beliau.
“Gimana ini punya anak perempuan satu ini kok masih sendirian saja,” Abah menanyaiku bercanda, umi tersenyum.
“Gimana Nduk, sampean mau saya kenalkan dengan anak dari teman saya?” abah masih bertanya.
“Iya, Bah. karena saya yakin pilihan Abah dan Umi terbaik buat saya,” entah mengapa jawaban itu yang justru keluar, itu bukan aku banget. Lalu apakah aku bisa mengoreksinya?
“Ya sudah kalau begitu. Nanti biar Umi memberi foto laki-laki tersebut. Orang jauh lho ya Nduk laki-laki ini. Abah dan Umi juga sudah membicarakan pada orang tuamu,” tutup beliau.
Sesampainya di rumah, aku justru lebih galau dari sebelum mau menikah, bagaimana mungkin aku mempertaruhkan kehidupan rumah tanggaku dengan keputusan seperti ini? Aku melempar amplop yang di dalamnya ada calon suamiku. Aku justru enggan membuka foto tersebut. Lebih-lebih aku harus melayani menjawab pesan pribadi dari laki-laki tersebut, karena nomorku sudah diberikan padanya.
Ya, aku telah melepaskan cinta untuk laki-laki di tanah Jawa, entah ia benar-benar lepas atau justru bersemayam dengan sempurna di dada.
Hai Karima, sudahkan kau lihat wajahku dalam foto yang diberikan kyaimu?
Aku tidak mengerti apakah aku yang pertama bagimu. Namun aku percaya ketika nanti kita menikah, aku akan menjadi satu-satunya untukmu. Ah menikah? Aku tidak menyangka kau akan begitu cepat mengambil keputusan? Bukankah kau seorang pemikir ulung? Aku bisa membacanya dari tulisan-tulisanmu di blog. Apakah kamu percaya takdir, Karima? Takdir yang sudah tertulis sejak kita umur 4 bulan di dalam kandungan? Jika keputusanmu benar, bukankah sebelum kamu terlahir, namamu sudah dipasangkan dengan namaku? Apa kamu percaya itu? Kamu akan percaya saat kita sudah mengikat janji suci. Selamat berjumpa kembali Karima.
Aku tak membalas pesan panjangnya. Aku pun tak ada niat untuk melihat gambarnya. Aku sudah memasrahkan semuanya.
Hari semakin dekat, dia akan datang tepat pada hari pernikahan kami. Tidak butuh waktu lama untuk menuju hari pernikahan. Ia akan datang bersama keluarganya. Aku semakin tidak bisa menyembunyikan ketakutan. Kesibukanku dalam mempersiapkan pernikahan pun membuatku tak sempat membuka amplop berisikan foto calon suamiku. Mungkin benar apa yang dia sampaikan, jika memang dia jodohku kami akan bersatu apapun penghalangnya. Aku berusaha untuk berdamai dengan diriku sendiri, bukankah dia akan turut menebar kebaikan untuk kampung ini?
Pilihlah cintamu dengan hati, lihatlah bagaimana ia akan bisa menjadi imammu. Paras tak cukup bukan untuk menjadikan seseorang tersebut akan menyejukkan pandanganmu? Jika aku memilih menerima perjodohan ini, bukan berarti aku tak lagi punya pilihan, bukankah laki-laki yang berani meminangmu itu merupakan laki-laki luar biasa?
Aku sedang menunggu kehadiran laki-laki yang akan menjadi suamiku. Sekeras apapun aku memaksa Tuhan menjadikan cinta pertamaku menjadi pendamping hiduup, tak akan pernah bisa menembus dinding takdir yang sudah tertulis.
Aku selalu percaya, pilihan guruku adalah yang terbaik. Itu artinya laki-laki yang akan mendampingiku beberapa menit lagi adalah laki-laki baik.
Prosesi lamaran juga diwakilkan oleh kyaiku, karena kondisi keluarga yang berada di luar Jawa. Tanah itu selalu mengingatkannku pada seseorang, namun seperti yang dia katakan, setelah menikah hanya dia satu-satunya yang terindah dan menyesaki pikiranku.
Aku berada di kamar pengantin, mengenakan gaun pernikahan berwarna putih. Banyak beberapa teman yang menemaniku. Bahkan ada di antara mereka yang menyesali keputusan anehku. Namun siapa yang bisa menolak cinta? Bukankah aku telah mencintainya jauh sebelum aku terlahir ke dunia?
Pembawa acara sudah memulai acaranya, itu tandanya calon suamiku sudah berada di atas tanah ini. Jantungku semakin berdegup. Beberapa temanku keluar untuk melihat mempelai laki-laki. Kembali masuk dengan wajah aneh dan lucu.
“Karima… kalau laki-lakinya seperti dia, aku juga mau dijodohkan,” ia mengejekku. Benarkah ia berparas tampan? Jika iya, itu hadiah.
Kini saatnya ia mengucapkan ikrar ijab kabul. Ketika ia mengucapkan ikrar ijab kabul, justru aku sedang mengingat seseorang, yakni Zaidan. Suaranya begitu mirip, Tuhan bagaimana bisa hatiku berubah-ubah pada saat aku hendak menjadi istri laki-laki ini?
“Karima, ayo keluar!” ajak pendamping pengantin wanita. Aku menangis bingung, dengan perasaan yang begitu terasa ngilu. Tampak bahu seseorang yang sama dengan Zaidan di sana. Hati wahai hati, mengapa pada saat seperti ini kau justru mengingat Zaidan. Tangisku semakin pecah, berurai melunturkan sedikit riasan di wajah.
Langkahku semakin dekat padanya, ia membalikkan badan dan aku tak sempat melihat wajahnya sudah tertunduk, bersiap meraih tangannya. Kami berjabat tangan untuk pertama kali dengannya, doa panjang ia berikan padaku. Hingga akhirnya sebuah kalimat mengagetkanku.
“Karima, terima kasih telah memilihku,” aku menatap wajahnya, senyumku terurai, kini bukan senyum terpaksa karena aku memilihnya. Namun, aku benar-benar beruntung telah dipilih olehnya.
***
Zaidan Karim menjadi suamiku, ternyata laki-laki itu Zaidan. Aku tak pernah menyangka jika takdirku selalu berkutat dengan dia. Foto laki-laki yang tak pernah kubuka adalah foto dirinya. Bukankah semua menjadi mudah jika Allah sudah berkehendak? Namun ternyata kemudahan itu perlu kita syukuri sebaik-baiknya agar kita tidak tergolong orang yang sombong.
Bersama Zaidan, aku akan diboyong ke Pulau Jawa. Ini membuatku menangis tanpa jeda selama 24 jam terakhir (anggap saja begitu) alih-alih kita merencanakan bulan madu ke mana gitu. Ternyata kabar baiknya adalah aku akan diboyong ke Jawa, bagaimana dengan janji-janji yang pernah kubuat?
“Mas, njenengan nggak kasihan dengan saya?” aku memanggilnya sudah dengan panggilan mas, tidak kak lagi.
“Aku nunggu sampai sampean mau, Dek,” ia menjawab dengan sambil meneruskan pekerjaannya, mengetik.
“Mas, bisa nggak kalau lagi bicara itu lihat yang ngajak bicara?” aku merajuk.
“Iya-iya… maaf istriku, gimana-gimana?” ia gombal lagi.
“Gini Sayang, kamu ingin berbuat banyak kebaikan. Tapi sekarang kamu sudah menikah, itu artinya ketika kamu melayani suamimu ini dengan sempurna, kamu akan mendapatkan pahala juga,” ia menambahkan seraya menatapku lembut.
“Aku nggak pingin pisah dengan Mamak dan Bapak,” aku masih merajuk.
“Lalu, kamu nggak mau tinggal dengan suamimu yang ganteng ini? Kita akan sering-sering menjenguk Bapak dan Mamak di sini. Lalu, Mas juga akan mintakan salah satu santri untuk mengajar ngaji di sini,” ia menggenggam tanganku, mencoba meyakinkanku bahwa apa yang nanti bakal kita lalui adalah kebaikan.
Pernikahan telah membuat surga yang awal berada pada orang tua, kini surga itu ada pada suamiku.
Terkadang seseorang mengira kebaikan itu selalu diukur dalam skala besar. Tidak sedikit kebaikan dilakukan ketika hanya ada seseorang yang menyaksikan. Justru kadang seseorang menafikan keberadaan Sang Pencipta yang mampu melihat kebaikan tersebut seberapapun bentuknya. Itu membuat manusia merasa leluasa berbuat keburukan ketika tak dilihat banyak orang, pun hanya berbuat kebaikan ketika terlihat oleh orang lain.
Dalam Al Quran surat Az Zalzalah, ayat 7-8 disebutkan, yang artinya:
Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya pula.
Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani pernah mengatakan bahwa dzarrah adalah suatu partikel terkecil dari benda yang ada. Sedangkan diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, jika engkau meletakkan tangan ke tanah kemudian engkau menghembuskannya, maka debu yang beterbangan itulah disebut dzarrah. Terlepas dari pendapat yang ada, dzarrah identik dengan sesuatu yang kecil bukan? Namun jangan pernah remehkan kebaikan sekecil apapun. Karena kita tidak pernah tahu, melalui amal mana kita mendapat rida-Nya. Selamat berbuat kebaikan sesuai kemampuanmu kawan.
Apakah waktu selalu identik dengan jam yang melingkar di tanganmu?
Sungguh waktu itu tentang kesempatan kita mengisi dan memanfaatkannya
Jika waktu bisa berulang
Bukankah kau akan selalu memohon segalanya terulang bukan?
Ada banyak hal yang kusesali di masa lalu
Namun aku percaya masa depan adalah tempat menjahit impian
Hingga jahitan-jahitan itu erat
Darinya akan kupakaikan doa dan pasrah tanpa syarat
Berdamailah dengan waktu
Isilah dengan mimpi-mimpi tinggimu
-TAMAT-

Other Stories
Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Susur

Kepergian Mamat mencari ayahnya, tanpa sengaja melibatkan dua berandal kampung. Petualanga ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Download Titik & Koma