18. Diary Berbuah Maksiat
Menulis dalam buku harian adalah bagus, namun jika tulisan itu ditujukan untuk lawan jenis, yang pada akhirnya menimbulkan pertemuan-pertemuan yang tidak diinginkan, maka menulis pada diary yang seperti ini yang tidak diperbolehkan.
Ketika aku menuju ke kantor, tampak beberapa santri putri berdiri di dekat gerbang, gerbang adalah lokasi paling menyenangkan bagi mereka. Darinya mereka bisa melihat santri putra yang berlalu-lalang. Tentunya melalui gerbang secara diam-diam mereka bisa bertukar diary dalam bentuk surat. Pertemuan ini juga dilarang, namun sepertinya bagi santri peraturan hanya sebagai pelengkap, dan pemanis.
“Apa itu Nduk?” tanpa menunggu jawaban langsung kuambil diary yang berada dalam genggamannya. Dia tidak menolak, namun tampak begitu kaget dengan situasinya.
Anak-anak belum menyadari bahwa semua peraturan demi kebaikan mereka. Kadang kebaikan itu tampak tak mengenakkan, sedangkan keburukan terkadang juga terbungkus dengan sesuatu yang menggiurkan.
Aku membawa buku diary tersebut ke kantor, benar saja isi catatan tersebut seperti surat yang dibukukan di antara dua sejoli. Isinya tentu tak perlu kusampaikan, semuanya bisa membuat perutku kembung. Karena kebanyakan menahan tawa, padahal sedang tidak nge-game tahan tawa.
Jika sudah terjadi hal yang demikian, maka santri tersebut harus berurusan denganku.
“Mengapa kamu kirim-kiriman surat dengan santri putra?” dia masih diam.
“Kamu tahu tidak, surat-suratan itu dilarang?”
“Tahu, Buk. Maafkan saya. Tapi teman-teman saya banyak Bu yang surat-suratan,” jawabnya bergetar.
Ini yang aku suka, jika ada satu yang terjaring, dia akan mengungkapkan orang lain yang melakukan hal yang sama sepertinya. Dia tidak terima jika dihukum sendirian, “Baguslah,” pikirku.
“Kenapa kamu masih melakukan kesalahan, Nduk? Ini bukan pertama kalinya kamu ketemu Ibu! Jangan hanya berbuat baik ketika ada orang yang mengawasimu, bukankah kamu punya Allah yang setiap saat jadi pengawasmu? Jadikan hatimu sebagai pelindung, tanyakan pada hatimu apakah yang kamu lakukan benar!” ia terisak, berulang kali menghapus air mata yang tidak bisa ia tahan.
“Nduk, jangan pernah melakukan sesuatu hal karena hanya ingin dilihat manusia. Karena itu takkan abadi. Berbuatlah kebaikan karena motivasinya Allah, mau dilihat atau dihargai orang atau tidak kamu akan tetap melakukan kebaikan,” aku masih menambahkan panjang.
“Iya Bu, maafkan saya.”
“Ok, bersiap-siap saja besok hari Jumat, kamu membaca nadzoman Amtsilati di lapangan putri!” ia mengangguk.
“Sekarang, catat siapa kawan-kawanmu yang melakukan hal yang sama sepertimu, atau bahkan lebih dari itu!” suruhku, ia pun menulis nama-nama temannya yang diduga menjadi tersangka. Bagian ini yang aku suka, karena akan bertemu dengan anak-anak baru dengan kasus yang berbeda.
Fajar merah menyambut
Memeluk langit penuh rindu
Jika rindu itu bisa kuanggap lalu
Mungkinkah Fajar dan merah tidak bertemu?
Ada rindu yang kadang tak terucap
Ada cinta yang kadang tak terungkap
Ada banyak hal yang tak perlu kita hitung
Menghitung amalmu
Menghitung lakumu
Itu berbanding terbalik dengan tulusmu
Jika Tuhan tak pernah luput menghitung kebaikanmu
Meski itu separuh dzarrah
Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...