Separuh Dzarrah

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Amri Evianti

15. Melepas Cinta

Aku berada di ndalem, ini pertama kalinya aku begitu takut di tempat ini. Bu Nyai memanggil, ibunda Zaidan tentunya. Aku berharap Zaidan tidak berkeliaran di ruang ini. Aku berharap ia sedang berada di tempat kursus komputer.
“Nduk, selamat ya sudah diterima di kampus Islam Negeri Yogyakarta,” ucap beliau penuh arti.
“Sampean kenal Zaidan kan, Nduk?” hatiku mulai tak karuan, dudukku mulai tertahan.
“Selama ini, Zaidan jarang pulang ke rumah, dia memilih fokus pada bisnis dan tinggal di tempat Pakde-nya. Di sana dia juga ngaji plus nyambi ngajar anak-anak. Namun Ibu perhatikan, sejak sampean datang ke pondok ini ada yang beda dari Zaidan, dia lebih sering pulang dari sebelumnya. Keluarga menyenanginya, lebih-lebih Abah yang sangat merindukannya. Seperti saat ini dia pulang itu karena dia mendapat kabar kamu wisuda dan ngotot yang akan mewakili jadi orang tuamu,” Bu Nyai berhenti sejenak. Sedangkan dari tadi hatiku ingin berlari dari tempatnya.
“Tapi kalau Ibu tanya, siapa yang Zaidan suka, dia selalu saja tersenyum. Tapi Ibu ngerti siapa yang dia sukai, yaitu kamu… Nduk,” serasa aku sedang berada di kutub utara dan di tengah gurun pasir, dingin dan panas menyatu.
“Sampean mau Nduk, jadi mantu Ibu?” bukankah ini terlalu terburu-buru? aku baru akan kuliah sedangkan Zaidan juga sedang mondok.
Kami juga tidak tergolong orang yang harus buru-buru menikah, lagi pula pernikahan muda tidak dianjurkan oleh negara. Beh… aku malah sedang orasi di dalam hati, sedangkan sedari tadi bu nyai menunggu jawabanku.
“Maaf bu, saya tidak bisa menjawab apapun. Jika diperbolehkan, izinkan saya memikirkannya dulu. Bukan berarti ini sebuah penolakan, hanya saja ini terlalu tergesa bagi saya,” tampak beliau tersenyum padaku.
“Apapun keputusan sampean pada nantinya, itu tidak merubah apapun rasa sayang saya pada sampean. Ke sini kapan sampean siap membawa jawabannya?”
Aku merasa sedang berada di ruang persidangan, semuanya begitu menegangkan. Dari tadi jantungku pun tak berhenti bergoyang. Jika ini terkait tentang suka, bukankah sukaku juga sejak lama? Namun selalu berusaha kututupi karena aku berpikir dari golongan mana. Aku hanya anak kampung biasa, tidak ada garis keturunan kyai dalam darahku. Bagaimana bisa aku menerima semuanya, apakah ini sebuah sindiran? Hatiku malah menduga yang tidak-tidak. Terlebih ini atas janji pada kampung serta orang tuaku, bagaimana aku menyelesaikan hati dan janji ini.
***
Pilihanku tetap bulat, aku akan melanjutkan kuliah. Di luar dugaan Bu Nyai siap menunggu hingga aku lulus kuliah. Oh Rabbi… bagaimana malah justru Bu Nyai yang mengejarku, bukan Zaidan. Sedangkan aku dan Zaidan tak ada kisah berarti di antara kami, sesekali kami hanya bertemu tak sengaja saat aku dipanggil Bu Nyai ke ndalem.
Ada rasa sedih mengapa aku harus melewatkan kesempatan ini, di sisi lain aku merasa durhaka pada mamak dan bapak. Kabar ini telah menjadi trending topic di pesantren, aku seolah menjadi bahan pembicaraan dalam obrolan mereka. Sorotan mata tak terima semua tumpah padaku, bukankah mereka juga sama? Tak terima dengan tawaran ini?
Kenangan tentang rasa cuek dan galaknya tiba-tiba menyerangku, terkadang aku berharap bahwa memang ia benar-benar mencintaiku, bukan hanya karena praduga Ibu Nyai. Namun sepertinya keputusanku adalah tepat, untuk lebih fokus pada apa yang kupilih, yakni kuliah dan tetap ngaji di sini.
Hari demi hari seperti biasa aku jalani keseharianku menjadi mahasiswa. Kuliah, perpus, makalah presentasi dan aneka organisasi banyak kuikuti. Aku semakin lihai membagi waktu untuk kuliah dan organisasi. Meski di awal agak kaget dengan pola belajar sebagai mahasiswa. Namun itu tak berlangsung lama, aku benar-benar menikmati masa-masa ini.
Aku tidak terlalu begitu kampungan ketika masuk di perguruan tinggi, karena masa-masa itu telah aku lalui pada sekolah sebelumnya. Di kelas aku menjadi mahasiswi yang sangat aktif, overaktif malah jadi aku terlihat berotak encer. Caraku begitu agar namaku mudah diingat oleh dosen dan teman-teman, agar mereka semakin mudah ketika ingin mendoakanku.
Lebih jelasnya sih aku semakin pintar membawa diri, lebih percaya diri karena masuk melalui jalur khusus, bukan melalui jalur regular. Aku selalu yakin kalau percaya pada diri sendiri merupakan salah satu kebaikan untuk diri sendiri. Bukankah ketika kita mampu mencintai dan menghargai diri sendiri, kita akan mampu mencintai dan menghargai orang lain?
Hingga pada akhirnya aku menyelesaikan studi di perguruan tinggi ini dengan mendapat gelar predikat cumlaude, meski bukan menjadi yang pertama namun cukup membanggakan duduk di barisan depan karena diurutkan dari nilai tertinggi. Meski nilai bukan menjadi jaminan, namun alangkah indahnya jika nilai itu diiringi dengan kebaikan pribadi dan sosial.
Semua prestasi ini aku persembahkan pada mamak dan bapak yang kini hadir di ruang wisuda. Bersamanya aku akan segera kembali ke Pulau Sumatera, menunaikan janji yang telah kubuat sendiri. Seketika aku kembali teringat tentang Zaidan, apa kabar dirinya? Apakah ia akan menahanku kali ini?
***
“Gimana Nduk, dengan penawaran Ibu 3 tahun lalu? Mungkin untuk sekarang bukan penawaran, namun lebih pada permintaan,” ada yang menyangkut di tenggorokanku.
“Saya mohon maaf Ibu…” aku tak bisa melanjutkan kata-kata, yang keluar hanya tetesan demi tetesan air mata.
“Sebenarnya apa yang membuat sampean tidak mau? Apa sampean nggak suka Zaidan?” beliau menepuk bahuku.
Seraya menghapus air mata yang membasahi pipi, aku menggeleng. Aku menangis dengan banyak, menangisi keputusanku menolaknya untuk yang kedua kali. Aku saat itupun menyerahkan segala perasaan ini pada-Nya. Jika memang ia jodohku sejak umurku empat bulan di dalam kandungan, maka biarlah kami dipertemukan kembali, entah kapan. Atau jika itu hanya perkiraanku bahwa ia adalah jodohku, dan aku sempat mencintainya, maka biarlah Allah menghapus namanya dan menghapus segala rasa ini dengan berjalannya waktu.
Aku percaya perbuatan yang akan kulakukan, kelak di kampung akan memberi manfaat untuk orang lain. Aku sedang tidak menolak jodoh, namun aku sedang mencoba bermanfaat untuk banyak orang, bukankah bermanfaat untuk orang lain adalah sebaik-baik manusia? Aku ingin masuk dalam golongannya.
Fajar Merah menyambut
Memeluk langit penuh rindu
Jika rindu itu bisa kuanggap lalu
Mungkinkah Fajar dan merah tidak bertemu?
Ada rindu yang kadang tak terucap
Ada cinta yang kadang tak terungkap
Ada banyak hal yang tak perlu kita hitung
Menghitung amalmu
Menghitung lakumu
Itu berbanding terbalik dengan tulusmu
Jika Tuhan tak pernah luput menghitung kebaikanmu
Meski hanya sebiji sawipun
Lalu apalagi yang perlu membuatmu pilu?

Other Stories
Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Download Titik & Koma