14. Syukuri Hidupmu
Malam Jumat adalah malam yang ditunggu, karena libur ngaji. Kami pun bisa menonton televisi di ndalem yang kesempatannya hanya ada satu minggu sekali. Meski di beberapa pesantren tidak merekomendasikan hal tersebut, namun pondok ini memperbolehkan. Dengan batasan waktu, pukul sebelas malam harus sudah kembali lagi ke asrama.
Namun beda cerita jika malam Jumat itu Jumat Kliwon, kami menunggu di samping asrama untuk sekedar menikmati mie ayam tek tek. Kenapa tek tek? Karena ia sambil memukul sesuatu yang mengeluarkan bunyi tek tek pada akhirnya kami pun menamainya dengan mie tek tek.
Penjualnya bapak-bapak di atas 60 tahunan usianya, cukup dibilang tua untuk menjalankan gerobak mie ayamnya. Namun ketika kita sempat terhubung dalam sebuah percakapan ketika menunggu mie, itu karena memang tuntutan keluarga, di sisi lain ia begitu menikmati profesi tersebut.
Darinya aku mengerti, pekerjaan apapun dan tugas apapun harus kita lakukan dengan penuh rasa cinta dan suka. Maka kecintaan itu yang akan membuat segalanya mudah. Aku tersenyum mengingatnya, malam bergeser begitu cepat, mie kesukaan kami telah datang, kamipun ingin berbagi sedikit rezeki pada bapak penjual mie ayam.
***
Hari ini adalah tepat dua tahun Zaidan belajar di salah satu pesantren di Jawa Tengah. Entah mengapa aku selalu mendengar kabar tentangnya, karena gus selalu menjadi bahan pembicaraan yang menyenangkan. Aku hampir lupa jika aku pernah mengenal nama itu, karena menjadi pengurus adalah alibi yang pantas untuk tidak terlalu mengekspos rasa suka. Apakah aku menyukainya? Entahlah. Yang pasti tak ada santri putri yang tak suka padanya. Karena seperti kataku, ia bintang sejak dulu.
Dua tahun itu artinya aku akan segera meninggalkan sekolah yang telah memberiku banyak pelajaran tentang menghargai waktu dan mengolah waktu. Aku pernah tersungkur begitu jauh karenanya, namun aku juga pernah begitu istimewa dan berharga karena mampu berdamai dengan waktu.
Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk tak mengenang apapun tentangnya. Liburan tahun ini adalah kepulangan pertamanya. Entah mengapa ia memilih tidak pulang selama ini?
Lalu aku akan melanjutkan kuliah di tanah ini, aku selalu berjanji akan kembali jika waktunya tiba untuk memberikan sesuatu untuk kampungku. Aku ingin sedikit menjadi lentera untuknya. Meski itu hanya menjadi setitik cahaya.
Sebelum pengumuman aku mengajukan pendaftaran ke salah satu kampus favorit di Yogyakarta. Jalur mahasiswa berprestasi, salah satu syaratnya harus melampirkan salah satu piagam penghargaan tingkat kabupaten saja disertai dengan fotocopy rapor. Sebenarnya aku agak pesimis jika nilaiku yang jatuh kala itu akan menghambat impianku masuk ke kampus tersebut.
Untuk pertama kalinya aku melihat bangunan begitu indah. Arsitektur bangunan ini belum pernah kutemui di kampung. Seketika aku kembali ragu, mungkinkah aku bisa masuk ke kampus ini?
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga adalah kampus tersebut, aku memilih jurusan Pendidikan Agama Islam dalam form pendaftaran seleksi. Sejak kecil aku bercita-cita agar bisa mengajar ngaji di surau kampung kami, sesederhana itu.
Selepas pendaftaran tersebut aku kembali pada aktivitasku, pengumuman juga akan dilakukan dalam waktu yang agak lama. Tepatnya sebelum ujian nasional dimulai.
***
Aku telah menyelesaikan tugas Ketua OSIS dengan baik, meski ada yang harus kugadaikan karenanya, yakni beberapa prestasiku sempat menurun. Beberapa waktu lalu aku mengecek pengumuman di internet, ternyata namaku tidak diterima di kampus tersebut. Aku mencoba lebih tenang, karena kejadian sebelumnya telah mengajarkan padaku banyak hal tentang arti sebuah penerimaan.
Istirahat hari ini pun ada teman kelas yang membawa surat untukku. Pengumuman dari kampus yang menolakku. Aku membaca luar amplopnya, ingin rasanya aku segera membakarnya, namun atas desakan teman-teman akhirnya aku buka juga. Kubuka ampop sekenanya, bahkan kertas pengumumannya pun sempat tersobek. Setelah kubuka, aku mendapatkan informasi yang berbeda dari pengumuman internet yang kubaca. Aku bengong tak mengerti apa yang terjadi, yang jelas aku bisa masuk kampus tersebut tanpa tes dan tanpa biaya masuk pendaftaran.
Hingga beberapa teman perempuan memeluk dan menyalami, memberi selamat atas keberhasilanku diterima di salah satu kampus kota ini, jauh sebelum aku dinyatakan lulus ujian. Sedangkan aku tetap bingung, bagaimana aku sebentar lagi menjadi mahasiswa. Tak terasa mataku sudah berkaca-kaca, sesekali aku melihat ke atas, agar ia tak tumpah.
Beberapa hari setelah pengumuman kuterima, aku kembali membuka website yang pernah kubuka sebelumnya. Ya Rabb pengumuman yang kulihat sebelumnya adalah bukan pengumuman tahun ini, melainkan pengumuman tahun lalu. Maafkan aku yang gaptek ini.
***
Saking senangnya kedua orang tuaku mendengar aku diterima di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, beliau pun membelikan sepeda motor second dengan harga yang paling murah yang ada di dealer. Dengan meminta bantuan keluarga ndalem, akhirnya pun aku mendapatkan sepeda motor tersebut. Untuk memperlancar dalam mengendarai motor, aku pun membawa sepeda motor saat pembekalan kelulusan.
Oh ya, aku lulus dengan nilai memuaskan, aku pun didaulat membawakan pidato mewakili teman-teman kelas 3. Bapak dan Mamak tidak bisa hadir karena sesuatu hal yang tak dapat ditinggal. Maka yang mewakili wisudaku adalah keluarga dari pihak ndalem. Aku tak tahu siapa nantinya yang akan datang.
Ketika aku di tengah-tengah menyampaikan pidato, ada Zaidan datang sebagai wakil orang tuaku. “Ah mengapa laki-laki seumuran dia bisa menjadi waliku,” pikirku. Ia datang dengan senyum terbaik, entah aku salah lihat atau memang sungguhan. Kemeja lengan panjang begitu pas untuknya, dipadukan dengan celana kerja hitam. Dia masih jadi direktur Di Zai Computer. Semua putra kyaiku memang sudah diberi bisnis masing-masing sejak awal. Itu karena kyai termasuk orang terkaya di daerah beliau. Sawah entah berapa kotak, belum lagi kebun cengkeh yang berada di pegunungan Girimulyo.
Pada acara tersebut, giliran bapak kepala sekolah menyampaikan pidatonya. Isinya memberikan selamat kepada siswa-siswi yang telah dapat lulus dari pendidikan menengah kejuruan. Beliau menyampaikan dengan keahlian kita, kita bisa langsung bekerja tanpa harus ke perguruan tinggi. Namun juga tidak menutup kemungkinan menimba ilmu ke perguruan tinggi pilihan baik untuk menambah pengalaman belajar. Namun ketika pada kalimat membantu seorang siswa, aku merasa tokoh dalam cerita beliau adalah diriku.
“Di sekolah ini yayasan telah memberi bantuan beasiswa kepada anak berprestasi namun juga kurang mampu dalam hal biaya. Namun ada sedikit yang mengecewakan saya, yakni selama sekolah ia oleh orang tuanya di letakkan di panti asuhan, lalu ketika lulus ternyata dia dibelikan sebuah kendaraan bermotor, bukankah ini penipuan?” tampak beberapa hadirin mengiyakan apa yang disampaikan beliau. Saat itu terasa dadaku bergemuruh, jadi selama ini aku dianggap penerima beasiswa miskin? Sungguh meskipun tidak berlebih, keluargaku dalam keadaan cukup.
Akupun tidak tinggal di panti asuhan namun tinggal di pesantren. Dari jauh aku bisa melihat Zaidan menatapku penuh arti, aku tertunduk teramat dalam, jadi beasiswa itu bukan penghargaan karena prestasi dan kepemimpinanku dalam menahkodai OSIS? Wisuda pelepasan ini paling mengiris hati dan jiwaku. Biarlah kisah ini akan segera melebur dengan bergantinya hari.
***
Liburan pondok tiba, maka santri diperbolehkan untuk jalan-jalan ke pusat Kota Yogyakarta. Yogyakarta yang selama ini hanya bisa kulihat lewat tayangan FTV ketika liburan di rumah. Aku sudah mempersiapkan segalanya, dari masker, air putih, obat anti mabuk dan lainnya. Masker untuk menutup hidungku, yang tidak suka dengan bau bahan bakarnya, obat anti mabuk yang sudah kuminum satu jam sebelum keberangkatan. Kali ini aku bersama Ina dan Mbak Juwairiyah.
Mbak Juwairiyah mondok saat lulus SMA, dia penduduk asli Jogja, tepatnya di Kabupaten Bantul. Kulitnya agak gelap, aku pikir orang Jawa semuanya berkulit terang, karena Jawa itu dalam pemikiranku tempat yang sejuk penuh dengan pepohonan dan pegunungan. Namun nyatanya tidak semua demikian. Kabupaten Bantul berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman di utara. Bagian selatan kabupaten ini berupa pegunungan kapur. Pada tahun 2006, tepatnya 27 Mei, Kabupaten Bantul termasuk daerah yang terkena gempa bumi yang berkekuatan 5,9 skala richter, yang mengakibatkan kematian sedikitnya 3000 penduduk. Itu cerita yang kudapat dari Mbak Juwai, beruntung ia selamat dari bencana memilukan tersebut.
Bis sudah mulai mendekat, di atas bagian bis ada tulisan Kota Yogyakarta, itu artinya bis yang menuju ke kota. Rrasanya aku ingin kembali ke asrama lagi daripada harus mabuk nantinya. Itulah salahnya otakku, selalu berpikir bahwa aku akan mabuk, padahal hal tersebut belum terjadi, sepertinya aku berusaha memaksimalkan indra ke enamku, haha.
Kami berangkat dari Kecamatan Nanggulan, salah satu kecamatan teramai di Kabupaten Kulonprogo. Sedangkan Kabupaten kulonprogo sendiri juga memiliki banyak destinasi wisata, ada Goa Kiskenda yang terletak di pegunungan Kecamatan Girimulyo. Di Goa Kiskenda ini tersimpan sejarah pertarungan yang tergambar dalam anoman obong. Mungkin lain waktu aku bisa mencicipi destinasi wisata ini.
Bis mulai bergerak cepat, sesekali bis melambat berharap akan ada penumpang yang turut serta dalam perjalanan ini. Mataku sudah terpejam, melupakan bahwa aku sedang naik bis ekonomi tanpa ac. Aku ingin bis ini segera sampai, beriring aku yang mulai memejamkan mata menuju alam semi nyata, bukankah mimpi itu seperti nyata saja?
“Malioboro-Malioboro…” suara kernet bis memekakkan telinga hingga membuat aku terbangun.
“Ayo Karima, bangun. Keluar,” ajak Ina dan Mbak Juwai hampir bersamaan.
Ketika keluar dari bis, matahari mulai menyengat ke kulitku yang tidak putih, untung saja kulitku tidak seperi kulit vampir yang tidak tahan dengan sinar matahari, jiah. Kami turun di depan Taman Pintar, tidak lama setelahnya kami melewati kantor pos Indonesia yang bangunannya masih kental dengan nuansa belanda. Aku jadi teringat kantor pos di kampung yang sangat minimalis, berbeda jauh dengan kantor pos di pusat kota ini.
“Ayo kita ke mall, kalian pasti belum pernah naik eskalator kan?” tuduh Mbak Juwai. Parah nih, tuduhan yang apik. Entah dari mana dia bisa tahu kalau kami berdua belum pernah naik eskalator haha.
“Tahu dari mana Mbak, kita belum pernah naik eskalator?” tanyaku.
“Eskalator apaan sih?” brakk… Ina memperkuat kalau kita belum pernah menaikinya. Mbak juwai tertawa penuh dengan kemenangan. Mbak Juwai menunjuk tangga berjalan. Behh aku baru tahu ada tangga berjalan, ini ya yang dinamakan eskalator.
“Ayo, kita lets go!” Mbak Juwai mulai melangkah lebih dulu.
Sedang aku dan Ina hanya saling pandang, ragu dan tak percaya untuk melangkahkan kaki di atas tangga. Hanya bolak-balik menarik kaki yang mulai menyentuh tangga. Mbak Juwai sudah sampai di atas, lalu melihat kami yang culun cengingisan di lantai bawah. Mbak Juwai memegang kepalanya yang tak pusing. Lalu turun menggunakan eskalator yang menuju ke lantai bawah.
Kamipun hanya menggaruk kepala yang memang banyak kutunya, lalu digandeng untuk menaiki tangga berjalan ini. Untuk pertama kalinya, aku merasa sedang berada di pasar malam. Tangga ini membuatku harus mencengkeram lengan Mbak Juwai. Mataku berkeliaran, menatap aneka barang yang terpajang. Barang-barang ini benar-benar seperti di taman hiburan. Begitu mengesankan.
Tidak lama setelahnya aku menemukan eskalator lagi, sepertinya aku mau menghilang saja dari mall ini. Berhubung tadi sudah mencoba naik eskalator di lantai pertama. Kali ini aku mencoba untuk mengamalkan ilmu sebelumnya, dan ternyata naik eskalator tak semudah bayanganku, aku hampir saja terpelanting ke belakang, dan menjadi pusat perhatian pengunjung.
Aku menunggumu di jalan ini
Hingga sepagi ini
Tanpa cahaya ataupun setitik api
Tanpa selimut maupun secawan kopi
Aku masih mengenangmu penuh rindu
Tentang harapan dan kekuatan dalam bisu
Tentang rindu dan sakit yang membeku
Juga tentang aku yang masih saja kaku
Bergumul dengan cahaya
Bercengkerama dengan semesta
Menyatu dalam doa dan asa
Berpacu dalam lafadz dan bahasa
Menunggumu adalah kebiasaan
Kebiasaan yang tak buatku bosan
Pada ruas-ruas jalan aku titipkan
Segala doa dan pengharapan
Kalaupun kau harus datang setelah dunia ini menghilang
Bukankah aku harus bersabar tanpa rasa malang?
Kau dan aku sangat sadar waktu dan pertemuan adalah kuasa Tuhan yang tak mungkin menghilang
Menunggu dan bosan kini tak lagi berpasang
Other Stories
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...