Separuh Dzarrah

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Amri Evianti

13. Terpilih

Kalian tahu, apa yang disampaikan dengan hati akan sampai ke hati? Aku bukannya menganggap kandidat yang lain tidak menggunakan hati, sungguh dalamnya hati siapa yang bakal mengerti.
Aku menjadi ketua OSIS terpilih, dengan jumlah suara jauh di atas kandidat lainnya. Entahlah apa yang membuat mereka memilihku. Pastinya setelah ini namaku akan menjadi sorotan, segala tingkah lakuku akan menjadi perbandingan. Meski jauh sebelumnya, Allah telah mengawasi kita bukan?
Anggota OSIS gabungan dari berbagai kelas, dari kelas otomotif, akuntansi dan pemasaran. Bagaimana aku nanti akan menghadapinya? Biarlah waktu yang akan memberikan jawaban demi jawabannya.
Ketika aku menjadi ketua Osis yang tentunya tidak semua anggota akan menyukaiku, aku membuat kesepakatan pada pengurus akan menghukum siapapun yang bajunya tidak dimasukkan. Tidak mau memasukkan baju adalah kebiasan anak-anak otomotif, dengan dalih mereka berganti dengan baju lapangan. namun lagi-lagi itu bukan suatu alasan.
Kami melaksanakan program-progam dengan baik, namun sebaik apapun itu tetap saja ada yang tidak baik dalam pandangan lainnya. Atas dedikasiku dan beberapa anak yang aktif, ketua yayasan mendaftarkan kami untuk memperoleh beasiswa supersemar. Ada beberapa berkas yang harus dilengkapi.
Siapa yang tidak berbangga jika mendapatkan beasiswa? Beasiswa ini dialokasikan untuk membayar uang semester, jadi aku tidak perlu membayar uang semester lagi. Bapak dan mamak di kampung pun begitu bersemangat mendengar aku mendapatkan biaya pendidikan dari negara.
Oh ya tentang Zaidan, gus plus kakak kelasku. Dia tetap bercahaya di atas sana, meski tanpa jabatan ketua OSIS atau lainnya, dia memang sudah menjadi bintang sejak lahir. Tak banyak kisahku bersamanya, selepas ia lulus dengan sekolahnya. Sepertinya bintang itu tetap akan bercahaya meski entah di mana ia akan muncul di angkasa raya.
***
Urusan OSIS ternyata tidak sepele, aku begitu sibuk. Berulang kali aku absen dari beberapa pelajaran di kelas karena harus mengurus sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi. Sama juga dengan materi ngaji di pondok, malam ini ada program ngaji kitab kosongan. Selain aku harus bisa mengharokati arab gundul, juga harus tahu dengan maknanya.
Agendaku berantakan, aku lebih condong pada organisasi. Meski ngaji juga aku tidak pernah tidak masuk, namun aku hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Jadilah aku mulai berkeringat lebih hebat dari biasanya. Grogi dan takut campur menjadi satu. Namun apapun itu, resiko harus aku terima.
Tek tek tek
Seperti biasa ustazah Fuadah menaiki tangga menuju mushola putri. Kami-sama-sama berkeringat dibuatnya. Serasa bergoyang lantai dua ini. Kami sudah mulai berdiri karena kami benar-benar gagap plus gugup. Satu kelas hanya Mbak Juawai yang mampu melaksanakan tugas dengan sangat baik. Lagi-lagi aku beralibi, dia kan hanya mondok saja jadi mudah mengatur waktunya.
“Ayo berdiri melingkar! Pegang telinga temannya sebelah kanan,” Ustazah Fuadah memberikan instruksi. Kami pasrah, hanya cengar-cengir.
“Tarik telinga temanmu, seperti tarikan telingamu!” kami saling menjerit tertahan, sungguh telinga ini rasanya ingin hilang dari tempatnya. Setelah melaksanakan ritual tersebut. Kami memegangi telinga yang hampir lepas itu.
Ustazah mengakhiri kelas, dengan berpesan jangan pernah tinggalkan membaca, lebih-lebih membaca kitab. Dan selalu mengingatkan untuk mempersiapkan kaki dan telinga jika pelajaran berikutnya tidak bisa membaca kitab gundul lagi. Kami tak berani protes apapun.
Setelah ustazah berlalu, Mimin, ketua geng kecoa imut (kecoa itu tambahanku, jangan bilang-bilang dia ya) selalu saja ada yang dikomentari, meski berbisik dan ustazah nggak dengar, itukan sebuah kesalahan.
“Amit-amit deh ustazah, ada-ada aja cara bikin kita tersiksa,” ucap Mimin, seraya memberi kode temannya untuk diam.
“Woi, Min… bisa nggak jaga lisan! Sudah salah, banyak tingkah. Ngaji taklimmu selama ini kamu ke manain ? Kau nggak bisa menghormati guru dari arah mana saja!” tegurku agak keras pada mereka.
“Apa sih yang kalian banggakan dengan perkumpulan nggak mutu kalian? Bukannya mengingatkan dalam kebaikan, malah mengajak dalam keburukan. Kalau kamu nggak bisa berbuat baik, cukup diam jangan mengganggu orang lain,” aku masih bersungut-sungut. Tak tahan. Tak tahan dengan sikap angkuhnya, sedangkan ustaz-ustazah saja tidak begitu. Tapi lihat saja kalau mereka di depan ustaz atau gus-gus ganteng, behhh sikapnya berubah 200 derajat, ada nggak?
Mereka berlalu dengan memakiku, mengumpat dengan umpatan yang tak layak. Selama ini aku hanya diam dengan tingkah-polah mereka. Namun jika ini dibiarkan akan menjadi putaran benang yang sulit dilepaskan. Dibenci? Itu risiko sih menurutku, aku sudah terlalu biasa dijadikan bahan ejekan karena dari kampung, nggak seperti mereka yang katanya dari kota, tapi rumahnya juga ada yang di puncak gunung, nah lho.
Bagaimana bisa ada orang yang begitu terang-terangan membenci gurunya, jika ilmu yang mereka dapatkan tak pernah bisa dibalas dengan apapun. Kunci utama dalam belajar adalah sukai guru, lambat laun kita akan menyukai apa yang disampaikan. Jangan biarkan hati mendapat ruang, meski itu hanya setitik rasa tidak suka pada guru. Tutup-tutupi semuanya dengan kebaikan yang beliau sampaikan. Apapun alasannya, jangan pernah membicarakan keburukan guru, itu yang selalu aku usahakan. Bukankah larangan membicarakan keburukan orang lain juga berlaku umum untuk seluruh manusia? Benar memang gajah yang nyata-nyata di depan mata tak terlihat, tapi kuman di seberang lautan lepas, begitu nyata bagai gajah.
***
Banyak hal yang kutinggalkan dalam pelajaran selama menjabat menjadi ketua OSIS. Meski banyak program yang terlaksana jauh lebih baik dari kepengurusan sebelumnya, namun aku tidak bisa menjaga diriku sendiri dari kemunduran. Bagaimana tidak? Hampir saja beasiswaku dicabut karena peringkat kelasku meluncur bebas menuju dasar bumi.
Seumur hidupku aku tak pernah merasakan kecewa sedalam ini. Benar memang, kita harus mempersiapakan hati menerima segala kemungkinan yang terjadi. Menyiapkan hati untuk menjadi luas agar bisa menampung apapun yang akan menghampiri.
Pada saat itu aku merasa semua yang kumiliki tak lagi berarti. Semua guru tampak mengiba padaku karena aku tak mampu membagi waktu untuk sekolah dan organisasi. Tahukah kalian, aku mendapatkan peringkat sesuai dengan tanggal lahirku, 22 desember, bertepatan dengan hari ibu terlahir itu istmewa, namun saat peringkatmu sama dengan tanggal lahirmu, itu yang membuatmu harus berulang kali mengelus dada.
Seminggu sepertinya waktu yang cukup berat kuhadapi. Seantero sekolah mengetahui berapa peringkat yang kuraih, meski begitu aku percaya semua ini akan berlalu. Kuhubungi kedua orang tuaku melalui telepon umum. Setelah berdebar memegang telepon yang tak terbiasa memakainya.
“Mak, maafkan saya…” suaraku terhenti, diwakili oleh tetesan air mata yang sulit kuhentikan.
“Ada apa to nduk?” mamak mulai bingung dengan caraku berbicara.
“Mamak maaf saya tidak mendapatkan peringkat tiga besar. Saya salah mak,” aku kian terisak. Di ujung sana aku tak mengerti bagaimana raut wajah mamak, membayangkannya saja membuatku ingin menangis lagi dan lagi.
***
Setiap hari kami membersihkan lingkungan pesantren, setiap hari itu juga aku melihat sampah yang tidak masuk dalam tong sampah. Meski kami selalu diingatkan dengan kalimat kebersihan adalah sebagian dari iman. Sekali lagi itu bukan karena kalimat tersebut tak ampuh, tapi karena ada hati yang enggan menerima nasihat. Meski tiap hari diingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya, namun itu hanya dianggap angin lalu.
Letak sampah pun tidak jauh dari mereka, ketika mengobrol mereka membeli makanan ringan, namun ketika selesai mengobrol sampah ditinggalkan berceceran. Dan hal itu berulang, mereka juga tidak merasakan bersalah ketika membuang sampah tersebut. Bukankah membuang sampah pada tempatnya sudah dibiasakan sejak sekolah dasar? Lalu ketika masih saja belum sadar, itu karena belum atau tidak mau atau enggan menyadari?
Ketika menanyakan kepada beberapa teman yang lain, jawabannya adalah bukan karena mereka tidak sadar, namun hanya malas saja untuk membuang sampah pada tempatnya.
Belajarlah dari manapun
Pada siapapun
Jauh sebelum kita ke dunia
Kita telah belajar banyak hal bukan?
Jaangan pernah berlari dalam gelap dan mengumpat
Namun raihlah lentera untuk mengakhiri semua duka
Kita sama-sama menghadapinya
Namun akan berbeda cara dalam menyikapinya
Selamat Belajar Pada Sekitar

Other Stories
Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Padang Kuyang

Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Tukar Pasangan

Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...

Download Titik & Koma