10. Kursus Komputer
Setelah aku mengundurkan diri dari program belajar komputer di sekolah bersama Zaidan. Aku memutuskan untuk mengambil kursus komputer selepas sekolah. Meski aku berkata sudah mampu di hadapan Pak Kiman, namun sebenarnya aku memang harus belajar lebih giat. Biaya kursus yang tak perlu meminta dari bapak dan mamak pun sepertinya membuatku semakin mantap mengikuti les komputer yang berada di persimpangan Kentheng. Jaraknya sekitar 1 km. Aku pun memilih berjalan kaki daripada menaiki bis yang biayanya hanya 2000 saja.
Daripada membayar yang sebenarnya juga tidak terlalu mahal. Aku lebih memilih menembus teriknya matahari. Selepas salat zuhur di sekolah tadi aku memang berniat akan langsung ke lokasi kursus. Setelah izin dengan pembina asrama tadi pagi.
Debu-debu beterbangan akibat deru bus. Beberapa teman sekolahku juga menaikinya, sesekali sang kondektur menawarkan jasanya, namun berulang kali aku menjawabnya dengan gelengan kepala. Ada banyak hal yang harus kubayar jika aku ingin mendapatkan sesuatu. Perjalanan ini tak menjadi soal, karena aku lebih memilihnya daripada harus merasakan mual dan pusing kepala di dalam bus.
Langkah masih kuayun, aroma bakso dari warung bakso pinggir jalan membuat aku menelan ludah berkali-kali. Ingin sekali, namun jatah nasi di asrama harus kuapakan jika aku jajan bakso di sana. Lagi pula jajan bakso akan mengingatkanku pada bapak. Beberapa penjaja es cendol pun rasanya memaksaku untuk sekedar mencicipi dagangannya, tidak gratisan tentunya.
Pada brosur kursus akan dimulai pada pukul 14.30 wib, aku masih mempunyai beberapa waktu untuk sekedar menikmati es cendol di depan koramil. Es cendol kupesan dengan tergesa, setelah siap saji, aku tak bisa menikmatinya dengan santai. Karena memang diburu waktu, aku meminumnya seperti menenggak air putih, sangat cepat. Aku pun sedikit berlari untuk menuju lokasi kursus.
Mobil pribadi berlalu-lalang membelah siang yang terik, hingga aku akhirnya sampai di depan tempat kursus setelah bertanya dengan pedagang cilok di depan pom bensin. Tempat kursus ini berada setelah lampu merah, bangunan berlantai dua ini mempunyai nama ZAI COMPUTER.
Tampak beberapa motor berjajar rapi terparkir di sana, sepeda pun turut menyesakkan lokasi parkir. Ada satu mobil pribadi yang menyita pemandanganku, seperti pernah melihat mobil tersebut. Namun hanya sepintas lalu, aku segera menuju tempat pendaftaran. Setelah mengisi formulir aku dipersilakan masuk ke ruangan peserta kursus baru, karena akan ada ucapan selamat datang dari direktur Zai Computer.
Pelatihan ini dibagi dalam bentuk angkatan, aku lupa termasuk angkatan ke berapa. Aku masuk dalam ruangan ber-AC. Seperti berada di kutub utara saja rasanya. Meski aku juga belum pernah ke kutub utara. Aku duduk di barisan kedua ruangan. Aku agak minder yang belum bisa komputer. Bisa saja nanti pesertanya lebih jago.
Lagu religi diputar, mengalun sangat lembut. Lagu yang tak biasanya diputar di tempat kursus komputer. Sholawatan almunsyidin memenuhi ruang yang baru pertama kali kukenali. “Mengapa lantunan sholawat yang diputar? Mungkinkah salah putar?” pikirku. Perlahan lantunan sholawat semakin mengecil, sepertinya acara akan dimulai. Ada sekitar 25 hingga 30 peserta yang ada di ruangan ini.
Daun pintu terbuka, semua peserta berdiri memberikan tepuk tangan untuk direktur Zai Computer. Lagu berganti menjadi lagu saat aku mengikuti training motivasi beberapa waktu lalu. Tampak seseorang menggunakan kemeja lengan panjang, bercelana warna hitam. Setelah kuperhatikan itu Zaidan. Aku mengulum istighfar, kenapa di mana-mana ada Zaidan? Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak menyadari bahwa nama tempat pelatihan ini diambil dari namanya sendiri. Kepalaku tertunduk sangat dalam, menuju ke ujung dasar bumi jika ia ada.
Acara penyambutan usai, kelas akan dimulai hari esok. Kalau belum aku bayar biaya kursus ini. Aku pasti meninggalkan tempat ini dengan segera. karena jika teman sekolah tahu aku kursus di tempat ini, aku harus siap-siap jadi bahan omongan paling panas bulan ini.
“Hai Karima, kamu masuk kelas ini ?” seseorang menegurku, siapa lagi kalau bukan pemilik tempat ini.
“Nggak tahu kalau kursusan ini milik njenengan,” aku berusaha hormat padanya. Walau bagaimanapun dia putra kyaiku.
“Baguslah, sepertinya kita memang ditakdirkan sering bertemu,” dia tersenyum sambil berlalu.
Sekarang dia berbicara masalah takdir di antara kita, aku tersenyum kecut. Di saat aku ingin menjauhkan diri, ada saja hal yang membuat kami bertemu.
***
Dari sekian hal yang belum pernah kulakukan adalah ke warnet. Berhubung acara kursus belum dimulai, aku mencari warnet untuk sekedar mencari pengetahuan tentang internet. Katanya warnet itu kita menghadapi komputer dan kita bisa melihat dunia di dalamnya. Bukan buku lagi ya? Kini yang menjadi jendela dunia? Aku bertanya sendiri di dalam hati.
Berbicara tentang internet, hanya aku sepertinya di kelas yang tidak mengetahuinya. Informasi ini pun hanya aku yang tahu. Jika tersebar ke anak-anak, aku pasti jadi bahan ejekan sebagai ndeso oleh mereka. Ya meski sih dari desa, tapi nggak begitu juga menegaskannya.
Setelah masuk ke warnet, tarif internet 3.000 per jam. Nilai rupiah yang tidak begitu mahal. Namun bisa dapat bakmi dan bakwan di kantin sekolah. Aku mengambil nomor ruangan, lalu memilih ruangan yang bebas asap rokok dan lesehan. Aku agak malas duduk di kursi, enak lesehan.
Setelah mendapatkan kode ruang, aku mulai mencarinya. Memasuki ruangan yang benar-benar steril dari asap rokok. Komputer sudah dalam keadaan hidup jadi aku tak perlu melakukan langkah-langkah menghidupkan komputer.
Setelah menghadap layar komputer, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Segala folder aku klik. Aku pun tak mengerti apa yang dinamakan internet. Haruskah aku bertanya pada orang di ruang sebelahku? Atau tanya pada penjaga warnet saja. Segala pertanyaan apa yang harus kulakukan bermunculan di hati. Namun hal tersebut hanya akan mencemarkan nama baik sekolahku, lagi pula aku masih menggunakan seragam lengkap. Bagaimana nanti ada orang yang tidak jadi mendaftar sekolah hanya gara-gara salah satu siswanya tidak mengerti cara mengoperasikan internet. Sepertinya besok aku harus ke perpustakaan untuk mencari kebenaran tentang semua ini.
***
Keesokan harinya aku langsung ke perpustakaan mencari buku yang berkaitan dengan yang ingin kutemukan. Aku ingin menjelajah internet. Maka kuambil salah satu buku yang berjudul Buku Pintar Menguasai Internet. Kubuka, baca dan telaah hanya satu yang begitu jelas, jika ingin mencari informasi apapun bisa mencari di situs www.google.co.id. buru-buru aku mencatat infomasi tersebut dalam buku catatanku. Aku berharap cara ini akan memudahkan dalam menapaki dunia internet yang katanya bisa membuatmu menjadi baik bahkan juga bisa membuatmu sebaliknya.
Setelah sekolah usai, seperti biasa aku menuju tempat kursus komputer dengan berjalan kaki. Lagi-lagi alasan yang sama aku tak mau menaiki bus atas sejenisnya. Sesampainya di tempat kursus komputer, berbagai materi aku dapatkan, tentunya mentor bukan pemilik tempat ini. Aku hanya perlu menjauhinya karena cepat atau lambat ini akan menyebar di pesantren, apa kata pengurus jika aku terlalu dekat dengan putra yai. Sebenarnya sih juga tidak dekat, dia hanya sebatas jadi mentorku, itupun kami tidak berduaan. Kalian juga tahu itu.
Maka dari itu aku memilih ambil les yang berbayar, meski pada akhirnya tempat dia juga. Namun ini lebih netral daripada les gratisan yang ditawarkan Pak Kiman, bukan? Ini jauh lebih aman dan nyaman.
Selepas les komputer, aku ingin menggunakan ilmu internet yang kupunya. Aku kembali ke warnet kemarin, aku memilih ruangan yang bebas asap rokok. Kemarin aku hanya duduk termenung di ruang komputer, untung saja tidak ada cctv-nya, atau sebenarnya ada kamera pengintai namun aku tidak mengetahuinya.
Setelah memasuki ruangan, aku mencari catatan situs yang dimaksud kemarin. Bagiku itu nama asing jadi aku tidak serta merta bisa mengingatnya dengan baik. Mulailah aku mengetikkan alamat website google.
Muncul kolom pencarian, dalam buku aku cukup mengklik tombol search untuk hal yang ingin kutahu. Aku berpikir keras apa yang ingin kucari, lalu aku kepikiran dengan pemain sepak bola favoritku. Kuketiklah pemain sepak bola Timnas Indonesia, jika ada yang tahu dengan kesukaanku pasti akan aneh. Bagaimana bisa perempuan suka dunia persepakbolaan. Ketika di kampung aku jadi ketua supporter sepak bola tingkat dusun. Setingkat itu saja aku sudah merasakan kecintaan luar biasa pada Indonesia, lebih-lebih jika aku menyaksikan laga sepak bola Indonesia dengan luar negeri. Darah nasionalismeku bergemuruh, rasanya aku turut membela bangsa, meski hanya melalui di depan layar kaca. Akupun tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menyemangati tim Indonesia di stadion yang sesungguhnya, pasti aku bisa pingsan berdiri dibuatnya. Rahasia ini pun hanya aku dan orang tuaku yang tahu. Aku tak ingin banyak orang mengetahui hobiku ini.
Mamak selalu ngomel jika di rumah aku menonton sepak bola, perempuan itu ya nonton aneka drama atau film ujarnya. Entah kapan tepatnya aku mulai menyukai bola. Sepertinya saat aku mulai menonton turnamen sepak bola di kampung dulu.
Pencarianku pun tak berhenti di situ, aku mencari aneka provinsi Indonesia di sana. Kucari beberapa desa, namun mengapa nama kampungku tidak masuk dalam daftar pencarian. Di sana aku mulai bertanya, siapakah yang menulis tulis-tulisan ini? Bagaimana tulisanku bisa masuk ke komputer ini, dibaca banyak orang dan aku bisa menuliskan tentang desaku di sana. Tentang bapak dan mamak yang begitu tulus dengan pekerjaannya, menjadi petani karet. Ketika kucari kebun karet dalam kotak pencarian, banyak yang muncul namun satupun tak ada kebun dari kampungku.
Dalam kesempatan ini pula aku membuat email yang sangat norak sekali nama email-nya. Tak perlu kusebutlah ya, yang penting asal jadi. Aku pun membuka tulisan milik orang, belakangan aku tahu itu namanya blog. Aku betah sekali berada di salah satu blog yang isinya begitu membuatku berlama-lama untuk membaca tulisannya. Beruntungnya di dalam blog-nya ada fasilitas Chat me, Lalu aku klik tombol tersebut.
Karima : Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Karima. Saya suka dengan tulisan-tulisan Anda di blog.
Lesmana : Waalaikum salam. Terima kasih
Karima : Bolehkah saya bertanya?
Lesmana : silakan
Karima : Bagaimana cara memasukkan tulisan saya ke internet seperti tulisan Anda?
Mungkin lebih tepatnya membuat blog, tapi aku tak tahu mengatakannya. Dia tidak langsung menjawab cepat seperti tadi.
Lesmana : Di sebelah kanan atas blog saya, ada tulisan buat blog klik saja, nanti kamu akan dipandu langsung oleh system untuk membuat tulisanmu bisa masuk ke internet.
Karima : Terima kasih banyak.
Lesmana : sama-sama, semoga berhasil.
Arahannya aku lakukan dengan baik, hanya dengan mengklik buat blog yang dia sarankan, akhirnya aku bisa mempunyai blog dengan nama Jejak Sang Pemimpi. Sepertinya nama itu sudah mencerminkan diriku.
Meski begitu aku menemui masalah lagi, aku tidak bisa mengisi blog tersebut dengan tulisanku. Aku baru ingat aku bisa mencari semuanya di internet.
Aku pun bisa membuat satu tulisan berdasarkan panduan artikel yang ada di Google. Bagiku tidak segalanya ada di internet. Yang paling sederhana saja kampungku tidak masuk dalam pencarian di internet, sepertinya aku akan menjadikannya ada setelah ini.
Mengertilah tidak semua rasa sakit membunuhmu
Percayalah sakitmu tidak seberapa dengan sehatmu
Andaipun sakit mau kau adu
Adukan pada Tuhanmu
Bukankah Tuhanmu telah mengokohkan pegunungan?
Tuhanmu pula yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan
Menjadikan hujan sebagai Rahmat untuk alam
Bukankah mengangkat rasa sakitmu begitu mudah bagi Tuhan?
Darinya berdoalah tanpa jeda
Berdoalah tanpa murka
Entah pada doa yang mana Tuhan akan mengabulkannya
Percayalah harinya akan tiba
Other Stories
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
O
o ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...