8. Belajar Tanpa Batas
Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur nyenyak di asrama. Selain nyamuk yang mengganggu, ada hal lain yang lebih mengganggu, keras kepalanya Zaidan. Ya, sebelum azan subuh berkumandang dari pengeras suara pesantren, aku sudah terbangun menghadap buku aneka komputer yang kupinjam dari teman-teman. Ternyata ini lebih menakutkan daripada saat aku ketakutan pulang ngaji sendirian saat di kampung dulu dalam kegelapan.
Fajar telah menyambut, azan memeluknya dengan kerinduan. Semuanya begitu sempurna berjalan dalam porosnya. Terdengar suara pintu dipukul menggunakan kayu, membangunkan setiap mimpi yang tersisa. Namun kadang rasa kantuk menjelma bagai orang yang tak bernyawa, azan shubuh tak didengarnya. Maka beruntunglah bagi mereka yang selalu terbangun ketika azan memanggil.
Ngaji bakda subuh memang ngaji terberat, karena subuh adalah waktu paling nikmat untuk terlelap. Ketahuilah, tidur sehabis subuh merupakan hal yang dilarang ustaz, namun begitu sering dilanggar santri, termasuk aku. Aku benar-benar tak tahan membelalakkan mata. Usahaku belajar teori komputer membuatku begadang semalaman. Maka jadilah kepalaku manggut-manggut ketika ngaji berlangsung. Remang-remang aku memaksakan untuk tetap mendengar apa yang disampaikan Abah Yai Syafii pada pelajaran Ta’limul Muta’alim.
Kitab Ta’lim sendiri menjadi salah satu kitab wajib dikaji dalam pesantren. Kitab ini dikarang oleh Syeh Burhanuddin Az Zarnuji. Kitab ini membahas tentang bimbingan kepada santri dalam proses menuntut ilmu agar ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat. Di antaranya membahas tata cara menghormati guru, karena mengagungkan guru menjadi salah satu jalan bermanfaatnya ilmu.
Ngaji kitab dengan menggunakan metode blandongan ini, yakni belajar dimana guru/ ustaz membacakan kitab kuning dan membaca maknanya serta memberikan keterangan dan sekumpulan santri mendengarkan penjelasan dengan cermat. Banyaknya santri yang mengaji kitab ini, membuat kesempatan tertidur lebih besar. Namun Karima tetap mengusahakan matanya terjaga, meski sesekali ia tertidur. Ia tidak ingin sikapnya dalam mengaji ini membuat ilmunya tidak berkah. Kini ia mulai sadar pentingnya membagi waktu belajar sekolah, istirahat dan mengaji. Ditambah lagi belajar tambahan komputer yang akan berlangsung hari ini.
“Shollu ‘alannabi Muhammad” suara abah yai menutup pengajian dengan sholawat. Pertanda pengajian usai, dan aku ingin segera berlari menuju asrama menenggelamkan kepala barang beberapa menit saja. Aku keluar musala bawah dengan mata sedikit terpejam.
Brakkk
Aku hampir saja menabrak seseorang, beruntung aku bisa mengendalikan diri, dan yang terjatuh kitab yang kubawa karena menyenggol sosok yang tidak jelas. Sepertinya salah satu gus pesantren ini, karena tampak masuk ke ndalem.
Gus adalah panggilan yang disematkan di depan nama putra pengasuh pesantren atau kyai, panggilan ini sangat umum untuk pesantren yang berada di Jawa. Sedangkan ndalem, bahasa Jawa yang merujuk kepada tempat tinggal keluarga kyai.
“Karima…” suara Mbak Juwai terpekik tertahan, aku yang tak sempat mengucapkan permohonan maaf karena gus-nya sudah terburu masuk ke ndalem, membuat aku segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar. Tampak bantal berserakan justru tampak seksi bagiku untuk kutiduri. Aku ingin sejenak istirahat melupakan kejadikan menakutkan pagi ini, aku hampir menabrak gus pesantren ini. Dan yang terparah adalah aku harus menambah pelajaran dengan kakak tingkat yang super sombong. Ah wajar dia sombong karena serba bisa, sudahlah ketua OSIS, pintar lagi. Ditambah wajah yang… ahhh mengapa aku jadi memikirkan ketampanan wajahnya.
“Tidurlah lima menit saja,” Ina menyusul tidur tepat di sampingku.
***
Aku rasanya malas untuk ke sekolah, di samping ngantuk, aku juga malas melakukan agenda selepas sekolah nanti. Bukan karena aku tidak ingin belajar, tapi pengajarnya yang membuatku enggan. Tapi meski hanya kakak tingkat, dia nanti jadi guruku juga.
“Ina, nanti pulang sekolah temani aku belajar tambahan komputer di laboratium komputer ya?” rengekku padanya.
“Nggak ada yang gratis, Karima,” ia menggodaku.
“Hitung-hitung kamu sekalian belajar juga kan,” aku membela, ia hanya tersenyum saja mendengar jawabanku.
Pagi ini pelajaran akuntansi menjadi pembuka, ada pekerjaan rumah yang membuatku harus berkeliling memohon bantuan menyelesaikan keganjilan, karena antara debit dan kredit tidak sama jumlahnya. Meski begitu sulit, akhirnya aku bisa menemukan masalahnya, aku salah memasukkan nominalnya ke salah satu kolom kredit, padahal harus masuk ke kolom debit. Saat penilaian… yeah nilai 75 mendekati mimpi sempurnaku, entah dekatnya berapa meter hehe. Beruntung di angka tersebut, daripada lainnya harus merangkak lebih lama untuk menuju nilai impiannya.
Aku mulai mengendap-endap menuju laboratorium komputer, berharap belum ada Zaidan di sana, namun sepertinya aku belum beruntung. Zaidan sudah mengoperasikan komputer, lantunan lagu wali terdengar.
gadis cantik berkerudung merah
bawalah diriku padanya,
tak kan habis kuberdoa jadi kekasih halalnya.
Sayang sekali kerudungku berwarna putih, bukan merah. Sedangkan Ina yang sudah gemetaran dari tadi mengendap di belakangku.
“Assalamu’alaikum…” aku masuk bersama Ina.
“Maaf Kak, saya terlambat.”
“Kamu memang sudah juaranya dalam hal keterlambatan,” jawabnya ketus tanpa menatapku. Rasanya aku ingin mengangkat CPU dan melemparkan padanya. Namun, untungnya aku bisa menahan diri, dan sudah biasa dia memperlakukanku dengan kejam. Padahal aku sudah berlarian menuju ke sini setelah usai belajar.
“Ohh ya, temanmu bisa pakai komputer lainnya untuk nge-game atau lainnya” ia menawarkan. Ia mungkin sadar bahwa menunggu tanpa melakukan apapun begitu membosankan.
“Ayo hidupkan komputernya!” ia memerintah dan lagi-lagi tanpa melihatku. Aku bingung mana dulu yang harus kuhidupkan. CPU dulu atau monitornya dulu. Harusnya aku mengingat pelajaran SMP dulu. Aku ingin bertanya pada Ina, namun Ina begitu jauh untuk kuraih. Tanpa berkomentar, ia mendekat dan menghidupkan tombol pada CPU. Lalu komputer langsung menyala. “Mengapa tanpa memencet tombol di monitor,” pikirku. Seperti bisa membaca pikiranku ia menjelaskan.
“Monitor dalam keadaan standby, artinya tanpa menghidupkan monitor, monitor akan otomatis menyala ketika CPU dihidupkan.”
Aku meliriknya, kacamata itu begitu pas untuknya. Atau mungkin ia memakai kacamata karena terlalu sering bermain komputer? Ah apa peduliku.
“Yang perlu kamu lakukan adalah melancarkan jarimu untuk bisa mengetik menggunakan sepuluh jarimu. Untuk materi lainnya, kamu nanti akan saya beri catatan dan mencari buku di perpustakaan sekolah. Sekarang pelajari cara meletakkan jarimu di keyboard pada bagian ini!” ia menunjukkan materi agar aku bisa mengetik dengan baik. Setidaknya bisa mengetik tidak hanya menggunakan jari telunjuk saja.
“Kelancaran dalam mengetik juga karena kamu sering mengetik, maka mulai besok kamu kerjakan semua tugasku dalam hal pengetikan,” jawabnya sambil menaikkan kedua alisnya, dan itu sangat langka. Baru saja aku ingin menolak.
“Tak ada penolakan jika kamu masih ingin belajar!” lanjutnya. Lagi-lagi aku tak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Aku harus bisa menahan diri, setelah semua ini berakhir aku tidak akan menjadi pesuruhnya. Kenapa juga sikapnya itu lebih mirip raja daripada kakak kelas. Aku berharap ia akan segera pergi dari sekolah ini. Lagi pula ia sudah duduk di kelas tiga.
Di bawah temaram ia terduduk pilu
Tak hiraukan seberapa banyak pasang mata menghakimi
Baginya semua yang masih abu-abu tak perlu berseteru
Ada banyak kegaduhan
Meski begitu ia hanya terdiam
Tak banyak kata ataupun umpatan
Tak banyak prasangka maupun hinaan
Ia Masih di sana penuh dengan luka
Luka dalam dada yang hanya Tuhan pemilik penawarnya
Ia pun masih di sana
Sendiri tanpa tawa bahkan air mata
Air mata yang telah kering dalam munajat panjangnya
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Percobaan
percobaan ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...