6. Selamat Pagi Kakak
Kini bajuku telah berganti menjadi putih abu-abu. Karena sekolah berada di luar pesantren, cara memakai baju pun harus disesuaikan dengan sekolah. Baju putih ini pun harus dimasukkan ke dalam rok, meski agak aneh menurutku. Kerudung putih bersih telah membalut kepala. Kutatap wajahku di depan kaca, ingin rasanya aku bertanya siapa wanita tercantik di dunia ini?-gubraks.
“Karima… ayo berangkat, hampir telat nih,” panggil Ina, teman seangkatan. Kami sekamar dan sama-sama dari Sumatera, jadi gampang nyambung, terutama masalah sayur yang sama-sama sangat aneh di lidah kami.
Aku pun bergegas, menerjang waktu yang kian menggilas, beberapa siswa juga tampak berlari-larian. Sebelum menyeberang, tampak warung bakso, dimana ada kenanganku bersama bapak di sana. Rasanya ingin ngebakso pagi-pagi begini, apa daya hampir telat dan warung belum buka.
Kami sudah sampai sekolah, untung gerbang belum ditutup oleh satpam. Jikapun iya, nggak mungkin bisa ngasih kata-kata pelicin agar diizinkan masuk tanpa hisab. Ini masa orientasi sekolah pertama kami. Tidak banyak yang perlu kami bawa, karena sudah ada peraturan terkait dengan penyelenggaraan Masa Orientasi Siswa (MOS).
Tidak lama kami terdiam di dalam kelas, muncul panitia MOS berkacamata, kulit putih, rambut cepak. Jangan berharap ia akan memakai peci, karena sekolah ini beraneka agama bahkan suku.
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh…” ia membuka dengan salam.
“Sepertinya dia muslim, wong pakai acara salam,” pikirku. Kami menjawab dengan kompak.
“Selamat pagi, salam dan bahagia untuk kita semua. Kenalkan nama saya Zaidan Karim, ada beberapa hal yang akan saya sampaikan terkait kegiatan MOS pada hari ini,” ia menyampaikan agenda MOS. Dia ternyata kelas tiga jurusan akuntansi juga. Sesekali ia berbicara dengan panitia perempuan yang mendampinginya. Kacamata minusnya membuat agak gimana-gimananya gitu…. Ah sudahlah, aku hanya bisa melihatnya dari jauh, ketika ada session tanya jawab pun aku mengurungkan niat untuk bertanya. Rasa maluku lebih mendominasi ternyata, daripada rasa pede-nya.
Istirahat ini aku diajak Ina untuk ke kantin, katanya bakmi di sana enak. Aku yang memang anak kampung ini tidak begitu pemilih dengan makanan. Sampai di kantin, tampak laki-laki yang tadi memasuki kelasku bercanda ria dengan teman-temannya. Kenapa dia memilih jurusan Akuntansi yang didominasi oleh siswa perempuan ya? Aneh saja padahal di sekolah ini juga ada jurusan Teknik Otomotif, yang harusnya kemarin aku coba saja untuk masuk ke sana, sepertinya harapanku di depan kaca tiap pagi bakal terwujud, gubraks.
Terlena dengan pikiranku sendiri, tidak terasa bel tanda masuk sudah berdentang.
“Karima, ayo buruan masuk. Kamu nggak tau apa kalau ketua OSIS-nya galak,” Ina berbicara tak karuan. Dia sudah berlari terbirit-birit, seperti orang yang sedang dikejar setan. Sedangkan aku biasa saja masih melanjutkan mie yang belum habis, lagipula tak banyak yang kudengar tentang ketua OSIS. Seandainya ketua OSIS ini perempuan, tak akan menandingi galaknya guru kesenianku saat sekolah dasar.
“Woi kamu, cepat!” belum selesai aku berandai-andai, terdengar suara laki-laki berteriak. Mungkinkah itu ditujukan padaku?
“Kamu nggak dengar panggilan saya, hah…” ujar kakak panitia. Aku diam saja menunduk. Tak pernah mengira jika galaknya guruku dulu tidak sebanding dengan orang-orang ini. Aku berpikir mungkin ini ketua OSIS-nya, berbadan tambun. Tertera di name tag-nya bernama Doni.
“Sudahlah, serahkan saja pada ketua panitia, dia satu-satunya anak baru yang terlambat,” Doni menyerah dengan sikapku.
“Sudahlah Don, biarkan dia sekali saja. Kalau dia tahu ada anak terlambat di event pertamanya, dia bakal murka,” seseorang mencoba membiarkan aku lari.
Kulihat Ina masuk dalam barisan, sesekali ia menatapku sedih. Akupun sedih tak mengindahkan omongannya, coba tadi aku ikut berlari bersamanya, tidak akan ada acara aku dibentak-bentak kayak terdakwa begini.
“Siapa yang terlambat, Don?” suara seseorang tepat beberapa meter di belakangku. Sepertinya aku harus mempersiapkan diri. Langkah itu semakin mendekat, tercium aroma yang tidak biasa, harum.
“Siapa kamu?” terdengar suara berat nan ganas. Aku masih terdiam.
“Lihat saya!!! Siapa namamu?” dia membentak.
“Ka… rii… ma,” suaraku tercekat, kupaksa untuk melihat seseorang yang ada di hadapanku. Kunaikkan dagu untuk melihat seseorang untuk pertama kalinya, aku begitu takut dan tak bisa membela diri.
“Apa yang kamu lakukan? Hah! Harusnya kamu bisa lebih disiplin, lebih-lebih kamu anak baru. Ada banyak orang yang merugi gara-gara waktu. Tidak peduli keterlambatanmu, entah itu satu atau dua detik. Terlambat ya terlambat,” ia masih berceramah di depanku. Ya, aku salah. Tak banyak yang bisa kukatakan untuk membela diri, meski secara manusiawi aku harusnya membela diriku meski bersalah. Iyakah terlambat sebegini kejam hukumannya? Aku dibentak-bentak di depan semua anak, dan tak ada satupun yang membelaku, hampir saja mataku berurai air mata darah.
“Saya sedang makan bakmi di kantin, ketika bel berbunyi bakmi belum habis, bukannya dilarang ya dalam agama bersikap mubazir?” aku mencoba membela diri, hingga akhirnya, ada seseorang menegurnya.
“Zai, sudahlah. Sudah cukup hukuman buatnya. Lagi pula ia anak baru,” seseorang mengingatkan ketua OSIS itu untuk menyudahi ceramah paginya. Lelaki itu mendekatiku, mengajakku dengan melirik papan namaku.
“Ayo Karima, ikut saya!”
Aku berjalan patuh di belakang seseorang yang belum kukenal. Satu-satunya orang yang membelaku.
“Kenalkan namaku Salman. Aku dari jurusan Tehnik Otomotif,” ucapnya menjulurkan tangannya ke arahku.
“Saya Karima,” menolak uluran tangannya, dan menelungkupkan tanganku di depan dada. Ia tersenyum seraya memberi air gelas mineral untukku.
“Minumlah, jangan diambil hati tentang Zaidan. Ia memang seperti itu terkait dengan waktu. Dia memang disiplin tentang waktu, siapapun bukan hanya kamu, jika bermain-main dengan waktu, meski itu hanya satu detik sekalipun, bakal menjadi begitu besar masalahnya!” ucapnya panjang lebar.
“Kamu tinggal di mana?”
“Saya tinggal di pesantren Al Miftah.”
“Oh di Al Miftah, banyak juga lho yang dari sana. Ok lima menit lagi kumpul di lapangan. Ingat lima menit lagi!” ucapnya sambil berlari. Aku takjub kenapa ada orang begitu baik padaku saat dia tidak kenal denganku, dan begitu mudah beradaptasi dengan orang baru. Sedikit senyum kutabur, di atas luka yang sudah ketua OSIS sekolah ini buat.
***
“Karima, cie-cie… yang bikin geger sekolah pagi tadi,” Ina meledekku saat perjalanan pulang. Aku tak menggubris, betapa pun aku berpikir, rasanya semuanya terlalu berlebihan. Gini-gini dulu aku juga pernah jadi wakil ketua OSIS saat SMP, ya SMP.
“Gara-gara ulahmu, Karima. Semua anak baru khususnya jadi kenal kamu. Di kelas pada ribut membahas kamu. Anak-anak pada heboh, kenapa kamu diam saja ? harusnya…” sebelum ia berbicara panjang lebar.
“Ah, sudahlah ayo cepetan, sebentar lagi jamaah zuhur dimulai.”
Siang kian berlalu, bersama kerinduan yang menggebu. Ya, aku rindu mamak dan bapak. Berbalut kesedihan, saat di hari pertamaku sudah membuat masalah di sekolah, padahal aku sebenarnya tidak seburuk itu.
Ngaji bakda asar segera dimulai, kami sudah berjajar rapi di meja kami masing-masing. Meski kelas hanya berada di kompleks asrama, tinggal sekali lompat sampai. Menunggu guru atau ustaz adalah salah satu bentuk rasa takzim padanya, dan salah satu penyebab berkahnya ilmu. Keberkahan itu yang harus dicari.
Salah satu ustazah menaiki tangga, suara terdengar tek tek tek, suara pena bersenggolan dengan besi pegangan tangga. Beliau menantu abah kyai, putri kyai asal Jawa Tengah yang menikah dengan Gus Ahmad, namanya Bu Fuadah.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…” Bu Fuadah membuka salam dengan begitu berkarisma. Beliau mengenakan kacamata, ah berbicara kacamata mengapa bayanganku tertuju pada laki-laki berkacamata di sekolah? Ya salam.
“Ada hal yang perlu diketahui oleh seluruh santri baru, peraturan untuk santri baru adalah untuk tidak pulang dari pondok meskipun sehari saja dalam jangka 40 hari, hal tersebut untuk membiasakan santri tinggal di pesantren.”
Ada benarnya juga sih mengapa tidak diperkenankan pulang, karena biasanya kalau santri baru, mudah tidak betah. Baru saja sehari di pondok sudah ingin pulang (kan nggak keren). Kalau untukku sepertinya peraturan ini terlalu mudah, bagaimana aku akan pulang ke rumah jika rumahku amatlah jauh.
Ustazah juga menyampaikan untuk menjalani peraturan pesantren dengan penuh keikhlasan, insya Allah suatu hari akan ada manfaatnya untuk kita. Terkadang ganjaran dari kebaikan kita itu tidak selalu harus dibayar tunai kala itu juga, bahkan Allah akan membayarnya saat waktunya tepat.
Malam kian merangkak, ngaji telah berakhir dan semua santri yang kelasnya ada di musala kompleks putri ini langsung menidurkan diri di tempatnya masing-masing. Ada yang meletakkan kepalanya di atas meja, atau ada yang berbaring di atas lantai yang dingin. Sedangkan aku, duduk di teras menatap langit melalui tirai bambu yang mengelilingi asrama putri bagian atas.
Usia akan cepat berlalu
Namun jangan kau serahkan begitu saja mimpimu
Pada waktu yang membelenggumu
Ikatlah, terbangkanlah sejauh kau mampu
Jika ada yang bisa kau ubah
Tentu cukup mulai dari dirimu yang kau ubah
Menjadi percontohan ahlak karimah
Yang mulai terlindas nafsu amarah
Jika ada ribuan kata
Pasti akan kurangkai menjadi istimewa
Bahwa aku beruntung di bawah naungan tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia
Other Stories
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...