Chapter 3 Teror Dan Peraturan Absurd
"MAHERAAAAAA! KUTANG GUE DICURI!"
Jeritan melengking Maizena memecah keheningan malam di Kosan Azzahra.
Mahera yang baru saja memejamkan mata sampai terlonjak dari tempat tidur. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar kunci dan berlari ke kamar Maizena hanya dengan piyama bermotif bebek yang sudah usang.
Ia mendorong pintu kamar Maizena. Pintu itu sudah terbuka sedikit. Maizena sedang berdiri di tengah kamar, sambil memegang handuk, dan terlihat sangat panik. Matanya membelalak, wajahnya pucat pasi, dan ia gemetar.
"Ada apa sih, Zen? Malam-malam teriak-teriak? Lo bikin semua hantu di sini bangun!" Mahera berbisik, panik melihat sahabatnya.
"Itu kutang gue dicuri!" Maizena menunjuk ke arah jemuran yang tergantung di sudut kamar.
Mahera melihat ke arah jemuran. Kutang berwarna pink Maizena, yang tadi sore masih ia lihat, kini benar-benar hilang.
Di atas jemuran, hanya tersisa sebuah surat kecil yang dilipat rapi. Mahera mengambilnya dan membacanya dengan keras, "Tolong tebus kutangmu di pohon mangga belakang. Jangan lupa bawa bakso urat. Hantu Jemuran."
Maizena histeris. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Hantu Jemuran?! Nggak lucu banget, Mahera! Ini beneran horor!"
"HA HA HA."
Mahera tertawa terbahak-bahak. Ia tidak bisa menahan tawanya melihat betapa absurdnya kejadian ini.
Siapa yang pernah dengar ada hantu yang suka mencuri kutang?
Tiba-tiba, suara derit pintu terdengar. Bu Haji Romlah muncul di ambang pintu. Ekspresinya lebih datar dari biasanya, matanya menyorot tajam ke arah Maizena.
"Ada apa ini ribut-ribut? Jam 11 malam. Sudah tahu peraturan kosan?" Suara Bu Haji serak dan dingin.
"Maaf, Bu. Ini Maizena kutangnya dicuri," Mahera menjawab, menahan tawa.
Bu Haji Romlah menatap Maizena, lalu menunjuk ke sebuah papan pengumuman yang tergantung di dinding. Papan itu terlihat tua dengan tulisan tangan yang rapi. Mahera dan Maizena baru menyadari keberadaannya.
"Sudah saya tulis di papan. Peraturan Kosan Nomor 7, "Jangan jemur pakaian dalam warna-warni."
Mahera mengernyitkan dahinya, "Memangnya kenapa, Bu?"
Bu Haji Romlah menatap Mahera dengan tatapan dingin, "Itu mengundang makhluk halus yang suka warna-warni. Kalau mereka suka, lalu minta. Sudah, kembali ke kamar masing-masing. Kalian berdua melanggar peraturan."
Bu Haji Romlah menghilang secepat ia muncul, meninggalkan Mahera dan Maizena dalam kebingungan. Mereka saling pandang.
"Hantu Jemuran dan Bu Haji Romlah tahu soal mereka?!" Maizena berbisik, wajahnya makin pucat.
"Gue nggak tahu, Zen. Tapi sepertinya kita harus ke pohon mangga itu sekarang. Gue penasaran," Mahera menjawab, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Maizena menelan ludah. Ia dan Mahera menyelinap keluar kosan. Di belakang kosan, ada pohon mangga yang terlihat tua dan angker, dahan-dahannya menjulur ke segala arah.
Di bawah pohon, ada sebuah baskom kosong. Tiba-tiba, suara berbisik terdengar dari balik pohon.
"Mana bakso uratnya?"
"Nggak bawa! Adanya mi instan!" Mahera berbisik kembali.
Hening. Lalu, kutang Maizena jatuh dari atas pohon, menimpa kepala Maizena. Maizena menjerit. Dari atas pohon terdengar suara tawa kekanak-kanakan.
Maizena menatap Mahera, lalu berbisik, "Mereka hantu anak-anak?"
Mahera melihat ke atas pohon. Ada sesosok bayangan kecil yang sedang tertawa, lalu melompat ke dahan lain. Mahera dan Maizena terkejut, sekaligus geli.
Mereka tidak menyangka, teror di kosan ini akan terasa seperti permainan.
Mereka kembali ke kamar masing-masing, tapi tidur mereka tidak nyenyak.
Maizena masih takut, sementara Mahera merasa ada sesuatu yang menarik di balik semua keanehan ini.
Other Stories
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...