Chapter 2 Gangguan Tengah Malam
Pukul 22.00, Mahera dan Maizena duduk bersila di lantai kamar Mahera. Di antara mereka, ada dua mangkuk mi instan panas yang mengepulkan asap.
Suara televisi dari kamar sebelah sayup-sayup terdengar, menambah suasana malam yang hening. Mahera terlihat santai, menyantap mi-nya dengan nikmat. Sebaliknya, Maizena terus menoleh ke belakang, matanya waspada.
"Gue bilang juga apa! Kosan ini ada yang jagain!" Maizena berbisik, suaranya dipenuhi ketakutan.
Mahera menyantap mi-nya, matanya tidak beralih dari mangkuk. "Kosan mana sih yang nggak ada penunggunya, Zen?" ia menanggapi dengan nada santai, "Santai aja kali. Nih, mi lo keburu dingin."
Tiba-tiba, mi di mangkuk Maizena bergerak sendiri. Mi yang sudah tenang kini seolah diaduk-aduk dari bawah. Maizena terbelalak, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menatap Mahera yang asyik makan, lalu kembali menatap mangkuknya.
"Ma-Mahera, liat mi gue," suara Maizena bergetar, nyaris tidak terdengar.
Mahera menoleh. Ia melihat mi Maizena bergerak-gerak seperti ada yang mengaduknya. Mahera menatap ke arah mangkuk, lalu melirik ke bawah meja. Ia melihat sepasang telinga kucing bergerak-gerak di bawah sana.
"Udah sana keluar, mi gue mau dimakan," Mahera berbisik, lalu mengambil sepasang sandal jepit dan memukulkannya ke bawah meja.
"Aduh!" Terdengar suara kesal dan pelan dari bawah meja. Seekor kucing berbulu abu-abu keluar. Wajahnya terlihat kesal, seolah protes karena aksi Mahera. Kucing itu membawa mangkuk mi Maizena di mulutnya, lalu kabur.
Maizena tercengang, matanya mengerjap-ngerjap. "Kucing hantu?"
Mahera mengambil mangkuk dari mulut kucing itu, "Bukan, Zen. Ini kucing lapar. Sana, hus hus!"
Kucing itu menatap Mahera dengan tatapan jengkel, lalu melompat ke atas lemari. Dari atas, ia menjatuhkan sebuah boneka beruang. Boneka itu mendarat tepat di kepala Maizena.
Pluk!
"Hiiiikksss!" Maizena menjerit.
"Ini beneran diganggu! Kucing itu suruhan hantu!" Maizena menangis, ia sudah tidak bisa menahan rasa takutnya.
Mahera hanya bisa tertawa. Ia mengambil boneka beruang itu, lalu menaruhnya di tempat tidur, "Mungkin boneka ini kesepian, Zen. Udah, tidur sana."
Maizena menatap Mahera dengan tatapan horor, lalu buru-buru kembali ke kamarnya. Ia tidak bisa lagi berada di kamar Mahera. Setelah Maizena pergi, Mahera mengunci pintu, lalu mematikan lampu, dan bersiap tidur.
Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan dari jendela. Ketukan itu membentuk irama yang aneh, Mahera penasaran. Ia mendekati jendela, menggeser sedikit gorden, lalu mengintip. Tidak ada siapa-siapa.
Tiba-tiba, suara ketukan itu berubah menjadi suara nyanyian merdu, "Selamat malam, Dek, selamat malam, Mahera ..."
Mahera menyalakan senter HP-nya. Senter itu berkedip, lalu mati. Sebuah suara berbisik di telinganya, "Tidurlah, nanti kamu dimakan."
Mahera menguap. "Dimakan sama siapa? Palingan juga lo hantu mi instan," bisiknya.
Hening. Tiba-tiba, suara jeritan Maizena terdengar dari kamar sebelah, "MAHERAAAAAA! KUTANG GUE DICURI!"
Mahera langsung berlari keluar hanya dengan piyama.
Suara televisi dari kamar sebelah sayup-sayup terdengar, menambah suasana malam yang hening. Mahera terlihat santai, menyantap mi-nya dengan nikmat. Sebaliknya, Maizena terus menoleh ke belakang, matanya waspada.
"Gue bilang juga apa! Kosan ini ada yang jagain!" Maizena berbisik, suaranya dipenuhi ketakutan.
Mahera menyantap mi-nya, matanya tidak beralih dari mangkuk. "Kosan mana sih yang nggak ada penunggunya, Zen?" ia menanggapi dengan nada santai, "Santai aja kali. Nih, mi lo keburu dingin."
Tiba-tiba, mi di mangkuk Maizena bergerak sendiri. Mi yang sudah tenang kini seolah diaduk-aduk dari bawah. Maizena terbelalak, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menatap Mahera yang asyik makan, lalu kembali menatap mangkuknya.
"Ma-Mahera, liat mi gue," suara Maizena bergetar, nyaris tidak terdengar.
Mahera menoleh. Ia melihat mi Maizena bergerak-gerak seperti ada yang mengaduknya. Mahera menatap ke arah mangkuk, lalu melirik ke bawah meja. Ia melihat sepasang telinga kucing bergerak-gerak di bawah sana.
"Udah sana keluar, mi gue mau dimakan," Mahera berbisik, lalu mengambil sepasang sandal jepit dan memukulkannya ke bawah meja.
"Aduh!" Terdengar suara kesal dan pelan dari bawah meja. Seekor kucing berbulu abu-abu keluar. Wajahnya terlihat kesal, seolah protes karena aksi Mahera. Kucing itu membawa mangkuk mi Maizena di mulutnya, lalu kabur.
Maizena tercengang, matanya mengerjap-ngerjap. "Kucing hantu?"
Mahera mengambil mangkuk dari mulut kucing itu, "Bukan, Zen. Ini kucing lapar. Sana, hus hus!"
Kucing itu menatap Mahera dengan tatapan jengkel, lalu melompat ke atas lemari. Dari atas, ia menjatuhkan sebuah boneka beruang. Boneka itu mendarat tepat di kepala Maizena.
Pluk!
"Hiiiikksss!" Maizena menjerit.
"Ini beneran diganggu! Kucing itu suruhan hantu!" Maizena menangis, ia sudah tidak bisa menahan rasa takutnya.
Mahera hanya bisa tertawa. Ia mengambil boneka beruang itu, lalu menaruhnya di tempat tidur, "Mungkin boneka ini kesepian, Zen. Udah, tidur sana."
Maizena menatap Mahera dengan tatapan horor, lalu buru-buru kembali ke kamarnya. Ia tidak bisa lagi berada di kamar Mahera. Setelah Maizena pergi, Mahera mengunci pintu, lalu mematikan lampu, dan bersiap tidur.
Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan dari jendela. Ketukan itu membentuk irama yang aneh, Mahera penasaran. Ia mendekati jendela, menggeser sedikit gorden, lalu mengintip. Tidak ada siapa-siapa.
Tiba-tiba, suara ketukan itu berubah menjadi suara nyanyian merdu, "Selamat malam, Dek, selamat malam, Mahera ..."
Mahera menyalakan senter HP-nya. Senter itu berkedip, lalu mati. Sebuah suara berbisik di telinganya, "Tidurlah, nanti kamu dimakan."
Mahera menguap. "Dimakan sama siapa? Palingan juga lo hantu mi instan," bisiknya.
Hening. Tiba-tiba, suara jeritan Maizena terdengar dari kamar sebelah, "MAHERAAAAAA! KUTANG GUE DICURI!"
Mahera langsung berlari keluar hanya dengan piyama.
Other Stories
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...