Chapter 6 Jarak Bukanlah Penghalang
Musim silih berganti, roda kehidupan bergerak dengan cepat, dan begitu pula hidup Gisel dan Satria. Masa SMA mereka berakhir, digantikan dengan fase baru yang penuh tantangan, yaitu kuliah. Mereka memilih universitas yang berbeda, di kota yang sama, sebuah kesepakatan yang mereka buat agar tetap bisa bertemu. Gisel masuk jurusan Komunikasi, sementara Satria berhasil diterima di fakultas Seni Rupa.
Hubungan jarak jauh, meski hanya antar-kampus bukan hal yang mudah. Jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, dan teman-teman baru terkadang membuat mereka sulit bertemu. Telepon dan pesan singkat menjadi jembatan komunikasi utama mereka.
Suatu malam, Gisel merasa lelah dan kesepian. Ia merindukan kehangatan Satria. "Aku kangen," tulisnya di pesan singkat.
Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk, "Turun ke bawah. Gue di depan kosan lo."
Gisel terkejut. Ia segera berlari ke luar. Satria berdiri di bawah lampu jalan yang temaram sambil memegang sebuket bunga aster putih. Bunga kesukaan Gisel.
"Kok lo di sini?" tanya Gisel, air matanya mulai menggenang, "Ini udah malam."
"Gue tau lo kangen," jawab Satria sambil tersenyum, "Jadi gue ke sini. Buat ketemu lo."
Mereka duduk di bangku taman dekat kosan Gisel berbicara hingga larut malam. Satria bercerita tentang tugas fotografinya yang sulit, sementara Gisel bercerita tentang presentasi yang membuatnya gugup.
Mereka berdua menyadari, meski terpisah jarak, hati mereka tetap terhubung.
Di tengah percakapan, Satria meraih tangan Gisel. "Kita lakuin ini bareng-bareng ya. Lo dan gue. Gak peduli seberapa jauh kita terpisah," ucapnya.
Gisel mengangguk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi ia tahu satu hal. Satria adalah pelabuhannya. Pria yang membuat ia merasa aman tidak peduli seberapa deras badai yang datang.
Pada suatu akhir pekan, Satria mengajak Gisel ke dermaga. Tempat di mana kisah mereka dimulai. Dermaga yang dulu sepi, kini menjadi saksi bisu dari perjalanan cinta mereka.
"Lihat," kata Satria, sambil menunjuk ke kejauhan, "Ombaknya masih sama."
"Tapi perasaannya beda," balas Gisel, "Dulu, kita datang ke sini karena patah hati. Sekarang, karena cinta."
Satria menoleh ke Gisel, tatapannya penuh kasih, "Gisel, lo jodoh gue. Sampai kapan pun."
"Lo juga, Satria," bisik Gisel, "Jodoh gue di ujung dermaga."
Mereka berdua tersenyum, lalu menatap matahari terbenam bersama-sama. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi kesedihan.
Hanya ada mereka di ujung dermaga yang sama, siap menghadapi masa depan yang tak terbatas.
Karena mereka tahu, cinta sejati seperti ombak akan selalu menemukan jalannya untuk kembali ke pelabuhannya.
Hubungan jarak jauh, meski hanya antar-kampus bukan hal yang mudah. Jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, dan teman-teman baru terkadang membuat mereka sulit bertemu. Telepon dan pesan singkat menjadi jembatan komunikasi utama mereka.
Suatu malam, Gisel merasa lelah dan kesepian. Ia merindukan kehangatan Satria. "Aku kangen," tulisnya di pesan singkat.
Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk, "Turun ke bawah. Gue di depan kosan lo."
Gisel terkejut. Ia segera berlari ke luar. Satria berdiri di bawah lampu jalan yang temaram sambil memegang sebuket bunga aster putih. Bunga kesukaan Gisel.
"Kok lo di sini?" tanya Gisel, air matanya mulai menggenang, "Ini udah malam."
"Gue tau lo kangen," jawab Satria sambil tersenyum, "Jadi gue ke sini. Buat ketemu lo."
Mereka duduk di bangku taman dekat kosan Gisel berbicara hingga larut malam. Satria bercerita tentang tugas fotografinya yang sulit, sementara Gisel bercerita tentang presentasi yang membuatnya gugup.
Mereka berdua menyadari, meski terpisah jarak, hati mereka tetap terhubung.
Di tengah percakapan, Satria meraih tangan Gisel. "Kita lakuin ini bareng-bareng ya. Lo dan gue. Gak peduli seberapa jauh kita terpisah," ucapnya.
Gisel mengangguk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi ia tahu satu hal. Satria adalah pelabuhannya. Pria yang membuat ia merasa aman tidak peduli seberapa deras badai yang datang.
Pada suatu akhir pekan, Satria mengajak Gisel ke dermaga. Tempat di mana kisah mereka dimulai. Dermaga yang dulu sepi, kini menjadi saksi bisu dari perjalanan cinta mereka.
"Lihat," kata Satria, sambil menunjuk ke kejauhan, "Ombaknya masih sama."
"Tapi perasaannya beda," balas Gisel, "Dulu, kita datang ke sini karena patah hati. Sekarang, karena cinta."
Satria menoleh ke Gisel, tatapannya penuh kasih, "Gisel, lo jodoh gue. Sampai kapan pun."
"Lo juga, Satria," bisik Gisel, "Jodoh gue di ujung dermaga."
Mereka berdua tersenyum, lalu menatap matahari terbenam bersama-sama. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi kesedihan.
Hanya ada mereka di ujung dermaga yang sama, siap menghadapi masa depan yang tak terbatas.
Karena mereka tahu, cinta sejati seperti ombak akan selalu menemukan jalannya untuk kembali ke pelabuhannya.
Other Stories
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...