13. Selamat Tinggal, Bintang
LANGIT
Sejak subuh tadi aku sudah berada di lapangan Gasibu sekedar joging selama beberapa putaran. Ya, ini efek dari kesulitan tidur karena memikirkan reaksi gilaku kemarin siang. Entah ada apa dengan orang-orang di sekitarku. Kenapa semua sama sekali tidak mengerti. Anak buahku di kantor, Kirana, dan juga permintaan konyol si Petra. Mereka seolah menyudutkan aku, membuatku merasa menjadi orang jahat sedunia.
Lalu bagaimana tepatnya aku harus bersikap? Memenuhi permintaan Petra dan membiarkan diri cemburu buta melihat kekasihku bermesraan di sana? Jelek sekali nasibku? Baiklah, tak kupungkiri di sisi lain aku berempati pada lelaki itu. Bagaimanapun Bintang adalah lelaki yang baik. Dan dia tak patut mendapat cobaan sebesar ini.
Aku duduk pada sebuah tangga lalu merogoh tablet di dalam ransel. Penasaran, kenapa Sang Perindu tak juga menjawab email-ku.
Date : March 12
From : Langit Putra Begawan
To : Sang Perindu
Subject : Saya Itu Penjahat!
Dear Sang Perindu,
Selama ini tuduhanku salah. Semua serba meleset. Kamu tahu, Rin? Alasan kepergian Bintang ke Singapura ternyata untuk mengobati penyakitnya. Kamu pasti terkejut saat kubilang dia mengidap penyakit leukemia. Begitu pula yang terjadi dengan Kirana kemarin siang. Aku bisa melihat pias wajahnya saat Petra memberi tahu kenyataan yang sebenarnya. Lelaki sialan itu ternyata sengaja merahasiakan semuanya dari kami, dalihnya karena permintaan Bintang sendiri.
Aku bingung, Rin. Sungguh. Aku tak mungkin mau kehilangan Kirana untuk yang kedua kali, namun di sisi lain nuraniku ikut tergerak. Rasanya ingin melakukan sesuatu untuk Bintang. Sial! Selama empat tahun, Bintang sukses membuatku menjadi seorang penjahat bagi dirinya. Merebut cinta yang seharusnya menjadi hak dia.
Beri aku jawaban, Rin. What Should I do?
Langit
Kuhela napas panjang setelah memastikan email yang kutulis kemarin benar-benar terkirim padanya. Tak lama kemudian aku bangkit dan bersiap joging untuk beberapa putaran lagi. Mungkin setelah ini aku bisa tidur pulas seharian di rumah.
***
Kumandang azan magrib perlahan membuatku terjaga dari tidur sejak tadi pagi. Gila! Lama sekali aku terlelap. Aku meraih ponsel dan kacamata tepat di meja sebelah ranjang. Di sana, rentetan pesan dan miscalled memenuhi layar ponsel. Sumber pesan itu berasal dari Kirana dan Petra. Aku tersenyum sinis, mereka mungkin khawatir aku marah besar. Namun hanya satu yang membuatku lebih tertarik. Ya, inbox balasan dari Sang Perindu.
Date : March 13
From : Sang Perindu
To : Putra Langit Begawan
Subject : Re: Saya Itu Penjahat!
I’m sorry to hear that, Dear… L
Kamu jangan merasa seperti itu dong, Lang. Perasaan bersalahmu ini membuktikan kamu gak sejahat itu. Bagaimanapun juga, kamu cuma manusia biasa yang memiliki perasaan dan emosi. Ketakutanmu itu kupikir wajar, merasa terancam kehilangan semua yang telah kamu miliki.
Tapi, Lang. Tak bisa kamu pungkiri, Bintang itu adalah bagian dari kisah kalian. Tanpa lelaki itu, kamu gak bisa merengkuh Kirana seperti sekarang. Lupakan sedikit ego, dan coba posisikan dirimu seperti Bintang saat ini. Tidak ada salahnya kamu berbuat sesuatu. Siapa tahu itu memberi sedikit harapan bagi Bintang untuk bertahan hidup. Pengorbananmu takkan sia-sia. Kirana takkan menutup mata dengan semua yang kamu lakukan padanya.
Kamu orang baik, Langit. Aku tahu kamu bisa mengambil keputusan terbaik bagi dirimu, Kirana, dan kesembuhan Bintang.
Sang Perindu
Aku melepas kacamata lalu memijat keningku untuk sesaat. Benar juga yang diucapkan perempuan itu. Dalam hal ini aku tidak boleh egois memikirkan kepentinganku semata. Ada seseorang yang membutuhkan kehadiran Kirana di sana. Kupikir bila Bintang benar-benar sembuh seperti sediakala. Aku berhasil membuat semua orang bahagia. Termasuk Kirana— karena aku tahu ia masih mencinitai Bintang. Namun bila takdir berkata lain, setidaknya aku tak dipersalahkan karena menghalangi dua orang yang saling mencintai untuk bertemu.
Ah, Bintang. Kamu berutang sangat besar padaku.
Aku bangkit bersiap untuk menemui Kirana. Kupikir aksi diamku ini harus diakhiri. Waktu tak bisa menunggu lagi. Kirana harus segera menemui Bintang.
***
Aku menghela napas panjang saat berada di hadapan pintu teras rumah Kirana. Rasanya aku tak perlu menimbang-nimbang lagi keputusan yang akan kuambil. Semakin dipikir hatiku malah semakin bimbang dibuatnya. Biar saja semua mengalir apa adanya. Aku rela dengan semua garis takdir antara kami berdua. Tak lama Kirana nampak di balik pintu yang ia buka sendiri. Aku tersenyum, rupanya keadaannya tak lebih menyedihkan dariku. Matanya sedikit lebam, mungkin seharian ini ia menangis.
“Kamu ke mana saja? Aku khawatir sama kamu,” ujarnya seraya memukul pelan dadaku.
Sontak aku memeluk dia. Aku tahu saat ini ia sangat membutuhkan dekapan hangatku. Membuatnya merasa nyaman dan terlindungi. Benar saja. Tak lama, terdengar isakan tangisnya. Pelan namun menyayat hatiku.
“Maafin aku, Kir. Aku merasa bersalah padamu. Sungguh, kejadian kemarin siang membuatku hilang akal. Aku cuma takut kehilangan kamu. Kenyataannya, keadaan seperti ini hanya akan memperburuk suasana. Menyia-nyiakan waktu antara kamu dan Bintang. Bagaimanapun aku masih punya hati nurani untuk ikut membantu kesembuhan Bintang,” bisikku. Perlahan aku melepas dekapanku lalu menatap di kedalaman matanya. “Temui Bintang, Kir. Beri dia harapan untuk bertahan,” dan semakin deraslah air mata Kirana.
***
Aku melamun di atas Jembatan Pasupati ditemani sebatang Marlboro sekedar mengatasi dinginnya malam Kota Bandung. Jadi ini tempat kenangan Kirana dan Bintang? Mereka berulang kali pacaran di tempat ini seraya menatap senja di sore hari—bahkan sempat kudengar Bintang mencoba bunuh diri dengan cara melompat ke jalan raya di bawahnya. Untung saat itu Petra sigap dan menahannya untuk tidak melakukan hal bodoh itu.
Bibirku tersungging. Padahal waktu itu aku sempat cemburu pada Bintang. Cemburu dengan popularitas, bakat serta wajah menawan yang membuatnya menjadi idola para mahasiswi di Bandung. Namun kenyataannya, aku tidak pernah tahu. Ia menyimpan lara seorang diri.
Entah apa yang ada di kepala anak itu. Seandainya empat tahun lalu ia jujur, setidaknya pada Kirana. Mungkin saja keadaannya tak memburuk seperti sekarang. Ada Kirana yang selalu mendampinginya. Dan aku tahu, bila itu terjadi. Takkan pernah ada kisah indah antara aku dan Kirana. Ah, sungguh! Mengingat hal itu membuatku semakin terpojok. Bagaimana bisa aku bahagia di atas penderitaan orang lain?
Mungkin ini saatnya kutebus rasa bersalahku. Biarlah Kirana menjaga Bintang. Semoga saja keajaiban datang ketika penyakitnya berangsur mereda hingga benar-benar sembuh. Dan aku siap menerima kenyataan terpahit bila suatu hari nanti mereka akhirnya hidup bersama selamanya.
Lamunanku terganggu saat satu pesan masuk di ponselku. Bukan dari Kirana, melainkan Petra.
“LANG, KONDISI BINTANG SEMAKIN KRITIS, DIA SUDAH DILARIKAN KE RUMAH SAKIT DHARMAIS.”
***
Malam ini juga aku dan Kirana bergegas menuju Rumah Sakit Dharmais di Jakarta, menyusul Petra yang telah berangkat terlebih dahulu dengan rombongan keluarga Bintang. Tak henti-hentinya Kirana menangis di sebelahku. Aku tak ada daya untuk berbuat sesuatu. Yang bisa kulakukan hanya fokus ke arah jalan, berharap bisa segera tiba di rumah sakit.
“Seandainya dulu aku lebih peka, seharusnya ini takkan terjadi. Bintang mungkin bisa bertahan di samping orang-orang yang menyayanginya.”
Aku tak bergumam. Membiarkan Kirana ungkapkan semua perasaannya. Meski dalam hati rasanya ingin menimpal. Jadi kamu menyalahkanku, karena aku membuatmu melupakan Bintang? Dan terpaksa mencintai seorang Langit?
“Bintang pasti membenciku. Karena aku melanggar janji yang kami ukir bersama. Kenyataannya ia menderita selama empat tahun, seorang diri tanpa siapapun yang menemani.”
Spontan aku menghentikan kendaraan. Kirana terkejut dengan reaksiku. “Bisakah kamu berhenti? Kamu menyakitiku, Kir.” lirihku. “Jadi menurutmu hubungan kita itu adalah suatu kesalahan? Kamu keterlaluan! Aku yang bertahun-tahun bersamamu. Aku yang senantiasa memastikanmu tak kekurangan apapun. Aku yang membantumu keluar dari rasa sakitmu. Semua tidak berarti apa-apa buatmu?”
“Langit?” Kirana terkejut dengan reaksiku. “Aku gak bermaksud seperti itu. Kumohon mengertilah aku.”
“Aku bosan memahami kamu!” teriakku. “Kenyataannya kamu yang tidak pernah memahamiku. Sekali ini saja, Kir. Lihat di kedalaman hatiku. Apa kamu sungguh tak merasakan apapun?”
Kami terdiam. Sialan! Setan apa yang menggerayangi kepalaku hingga emosiku membuncah seperti barusan. Aku menghela napas panjang. “Maafkan aku Kirana. Kondisi akhir-akhir ini membuat kepalaku menjadi kacau. Ditambah dengan keadaan Bintang yang seperti ini. Aku hanya takut. Takut kehilangan kamu,” lirihku tanpa berani menatap matanya.
Kirana masih tak bersuara. Maka kulanjutkan mengendarai mobilku. Semakin pekat malam, angin yang berhembus semakin kencang.
Kubebaskan kau seperti angin yang berhembus. Melayang menuju pusaran hati yang kaucinta. Dan bila itu terlambat. Aku takkan memaksa untuk kembali berlabuh di dermaga ini. Aku menyerah, Kirana.
***
Menjelang subuh kami tiba di Rumah Sakit Dharmais. Nampak Petra dan Bianca menanti kami di lobby rumah sakit tersebut. Kirana terburu-buru menghampiri dan aku membuntuti dari belakang.
Bianca menyambut Kirana dengan pelukan hangatnya. “Apa kabar, say? Gak ada masalah kan di jalan?” bisiknya.
“Aku takut, Bian,” isaknya.
“Udah, serahkan semuanya sama yang di atas,” Bianca mengusap rambut panjang Kirana.
“Gimana kondisi Bintang sekarang?” tanyaku pada Petra.
“Belum ada perubahan. Sejak minggu lalu dia menolak pengobatan apapun. Hingga akhirnya mereka tak bisa berbuat apa-apa,” terang lelaki itu.
Petra menuntun kami menuju ruang ICU tempat Bintang mendapat perawatan. Dari kejauhan nampak keluarga besar Bintang berkumpul. Orang tua dan adik perempuannya. Mereka tampak senang melhat kami datang. Kirana disambut pelukan hangat oleh ibunda Bintang. Yang kuingat perempuan paruh baya itu sangat menyukai Kirana. Mereka berpelukan seraya berbagi isak tangis.
“Bintang belum boleh dilihat dulu. Paling nanti setelah dokternya datang, kalian boleh tengok Bintang. Itu juga gak boleh bareng-bareng,” terang perempuan itu.
Sementara Kirana berbincang-bincang dengan keluarga Bintang. Kuputuskan berjalan-jalan sejenak mencari secangkir kopi panas sekedar menghempas lelahku. Belum juga lima meter beranjak, Bianca menghampiriku dengan dua cup kopi di genggamannya.
“Makasih,” aku menerima cangkir kopi tersebut. “Mana Petra?” tanyaku setelah menyeruput sedikit minumanku.
“Dia sedang merokok di depan,” ujarnya. Tak lama kami mencari tempat yang nyaman untuk sekedar ngobrol. Perempuan ini semakin cantik saja. Kariernya di sebuah majalah metropolitan semakin gemilang dengan terbitnya beberapa karya novel best seller di pasaran. “Sedang sibuk apa nih? Bikin novel baru?”
Perempuan itu tersenyum manis. “Bisa dibilang seperti itu. Novel yang belum aku ketahui akan seperti apa ending-nya.”
“Loh kok bisa?” aku tersenyum seraya terheran-heran.
“Tunggu saja tanggal mainnya,” ujarnya misterius. Lalu kami terdiam dengan kopi masing-masing. Tak jarang ia tersenyum sendiri. Ah, mungkin sedang berkhayal tentang cerita untuk novelnya. “Bagaimana perasaanmu?” dia melirik ke arahku.
“Sejauh ini baik-baik saja. Aku hanya khawatir dengan keadaan Kirana.”
Lagi-lagi Bianca mengulum senyum. Perlahan ia mengusap bahuku. “Kamu orang baik, Langit. Bersamamu Kirana akan selalu terlindungi. Bukti dari keajaiban LANGIT YANG TAK BERBINTANG.”
Sontak aku menoleh. Dahiku mengerut mencoba menarik makna dari kalimat yang ia ucapkan. Sang Perindu!
Terlanjur. Lamunanku terlalu lama hingga kusadar Bianca telah melangkah beberapa meter di hadapanku. Ragu-ragu aku menggumam. “Perindu…”
Tak lama ia menoleh, lalu tersenyum tulus. “Sudah kukatakan, bukan? Suatu hari kita akan bertemu pada akhirnya.”
***
Aku dibangunkan Kirana yang enak terlelap di sofa dekat ruang tunggu pasien. “Lang, bangun. Ini aku bawain roti sama kopi buat sarapan.”
Tubuhku menggeliat pelan. Nampak Kirana dengan penampilan yang lebih segar dibanding tadi subuh. “Berapa jam aku ketiduran?” ujarku seraya memeriksa arloji di pergelangan tangan. “Gimana Bintang?” aku menerima cangkir kopi dari Kirana.
“Lagi diperiksa dokter, sebentar lagi kita bisa melihatnya,” terang Kirana. Perempuan itu mengusap rambutku. “Lang, maafin aku soal semalam. Aku jahat banget sama kamu,” lirihnya.
Aku tersenyum lalu memeluknya erat. “Aku sayang kamu, Kirana. Maafkan aku juga. Kata-kata semalam seharusnya gak pantas aku ucapkan.”
Waktu untuk menjenguk akhirnya tiba. Kami diberi kesempatan pertama untuk melihat secara langsung keadaan Bintang. Hanya aku dan Kirana. Karena aturan rumah sakit yang melarang pengunjung lebih dari dua orang. “Doakan aku supaya gak nangis depan Bintang ya, Lang? Mamanya Bintang titip pesan agar kita gak larut dalam kesedihan saat berada di dalam.”
“Iya. Kamu harus terlihat tabah.”
Aku menghela napas panjang saat pintu masuk menuju ruang ICU terbuka. Emosi ini sulit kukendalikan, perasaanku malah bergejolak luar biasa. Aku hanya bisa menggenggam jemari Kirana. Sama-sama berusaha untuk mengendalikan diri.
Nampak di sana satu sosok lelaki dengan seragam pasien berwarna putih terbaring tak berdaya. Tubuhnya diselimuti berbagai peralatan medis. Aku hampiri lebih dekat. Tuhan, rasanya aku tak mengenal Bintang yang berada di hadapanku. Tubuhnya begitu kurus dengan tak menyisakan satu helai rambut pun di kepalanya. Bintang tersadar saat aku dan Kirana menghampiri. Dia tak terlalu terkejut, mungkin Petra telah memberitahunya kalau kami akan datang. Bintang memaksakan diri tersenyum, namun selang yang menempel di mulut membuatnya kesulitan untuk melakukan itu.
Perlahan ia menoleh ke arah Kirana. Sekuat tenaga perempuan itu tersenyum, namun air matanya luruh juga saat butiran air mata Bintang menjatuhi bantalnya. “Kumohon, Bin. Jangan habiskan energimu untuk menangis. Kami ada untuk membantumu. Kamu harus sembuh, Bin,” lirih Kirana di sela isakan tangisnya.
Aku menggenggam jemari Bintang. “Benar, Bro. Sudah lama kita gak ketemu. Kami rindu dengan aksi panggungmu. Petrapucino sepi gara-gara Angkasa Band gak pernah tampil,” paparku seraya melayangkan senyum.
Bintang mengangguk dengan bulir air mata yang tak juga mereda. Membuat pertahananku ikut goyah. Tak lama aku melepas kacamata sekedar mengusap air mata yang terlanjur menitik.
***
Tak begitu lama hingga akhirnya Bintang menghembuskan napas terakhir di keesokan hari. Usaikan semua derita yang ia alami dengan satu ulasan senyum dalam tidur abadinya. Dalam dekapanku, Kirana masih menyisakan isak tangis. “Tidak apa-apa, Bintang telah pergi bersama malaikat ke surga. Doakan agar dia bisa selamat sampai tujuan,” lirihku seraya mengusap rambut Kirana.
Aku membuka kembali selembar surat yang dititipkan Lidya sesaat setelah kepergian Bintang.
To: Langit
Brow, gue sebenernya gak punya sesuatu yang ingin disampaikan. Yang pingin gue sampaikan cuma sebentuk penyesalan pada kalian. Dua sejoli yang seharusnya gak pernah gua usik. Meski jujur, gak ada keraguan sama sekali soal perasaan gue ke Kirana. Gue sayang dia.
Namun pada akhirnya gue sadar, gak semudah itu bisa gue jalani. Apalagi dengan kondisi gue yang gak mungkin bisa bertahan. Lo tau? Cerita-cerita Petra tentang kalian bikin gue cemburu setengah mati. Namun sisi lain gue bahagia. Kirana berhasil melupakan gue, cowok yang hanya bisa menuai luka di hatinya.
Thanks ya, Lang. Lo emang keajaiban buat Kirana. Malaikat penjaga yang selalu membuatnya merasa nyaman dan bahagia. Rasanya gak pantes gue minta tolong buat jaga dia selepas kepergian gue kelak. Toh tanpa diminta lo bakal lakuin hal yang sama.
Tapi, bagaimanapun gue tetep bakal minta permohonan itu sebagai permintaan terakhir gue. Sayangi Kirana, dan tetaplah jadi pelindungnya seumur hidup lo. Gue yakin elo tahu. Lo adalah cowok spesial bagi Kirana. Karena ada dan gak ada gue, selalu tersedia tempat khusus buat lo di hatinya.
Gue bersyukur menjadi bintang yang bernaung di langit teduh kayak lo. Elo orang baik, dan akan selalu menjadi keajaiban bagi siapapun.
Bintang
Aku melipat kembali surat itu lalu menaruhnya ke saku kanan. Hening sekali suasana malam di atas Jembatan Pasupati. Kami duduk bersebelahan di jok mobil seraya menatap langit yang bertabur bintang.
“Lihat. Kini bintang sedang berbaur di atas langit bersama kawan-kawannya,” gumamku saat menengadah ke arah langit yang cerah. “Bisa kamu tebak, mana bintang milik kita? Bintang yang pernah mewarnai hidup kita selama lima tahun lamanya?”
Kirana tersenyum. “Itu,” tunjuknya pada sebuah bintang jatuh yang tiba-tiba melintas di langit. “Seperti yang pernah kamu bilang. Bintang sedang melayang bersama malaikat,” lirihnya.
In the arms of the angel
Fly away from here
From this dark, cold hotel room
And the endlessness that you fear
You are pulled from the wreckage
Of your silent reverie
You’re in the arm of the angel
May you find some comfort here
(Angel- Sarah Mclachlan)
Other Stories
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...