Pada Langit Yang Tak Berbintang

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
pada langit yang tak berbintang
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Penulis Petra Shandi

12. Rahasia Bintang

KIRANA
Aku masih termangu di sudut mini bar Petrapucino. Hari yang melelahkan setelah rangkaian meeting tak berkesudahan seharian penuh di Style—majalah fashion tempatku bekerja. Tapi, sialnya kesibukanku sama sekali tidak bisa mengenyahkan ingatan tentang peristiwa tiga hari yang lalu. Tentang dua lelaki yang tak pernah berhenti-hentinya membuatku pusing—namun tak kupungkiri hidupku tak istimewa tanpa mereka.
Ribuan tanya masih berkelebat di kepalaku. Bagaimana bisa Bintang Praja Nugraha tiba-tiba hadir di depan pintu rumah, tepat saat Langit mengajakku kencan pula? Padahal telah kurelakan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidupku. Lelaki yang membuatku nyaris seperti perempuan hilang akal selama empat tahun. Bintang tak pernah tahu, bagaimana putus asanya aku saat melawan depresiku sendiri. Keluarga, kawan-kawanku, bahkan seorang Langit menjadi segerombol orang yang tidak penting lagi bagi hidupku. Aku merasa seorang diri!
Dengan semua kesabaran Langit menghadapiku. Perlahan aku mulai sadar. Ia bukan hanya sekedar manusia, namun malaikat! Ia bahkan tak peduli dengan ratusan makian, cercaan dan tuduhan yang selalu mengalir deras dari mulutku. Tapi itulah, seperti yang pernah dikatakan Langit. Selalu ada keajaiban di balik pesona langit yang tak berbintang.
Waktu akhirnya yang menuntunku pada satu langkah, ketika tujuanku mulai terarah pada satu titik, tempat di mana aku merasa tenang dan terlindungi. Ya, aku percayakan hidupku pada Langit. Mengenyahkan keraguanku selama bertahun-tahun tentang arti Langit bagi seorang Kirana.
Dan kini? Saat Bintang kembali. Rasanya semua mimpi-mimpiku berserakan tak berguna. Keyakinanku mulai limbung seperti sediakala. Apalagi malam itu. Saat wajahnya beradu dengan bias sinar rembulan. Tiba-tiba saja serpihan kenangan itu menyatu kembali serupa rasa rindu dan harapan. Sebuah harapan yang sungguh tak berani kuucapkan.
Entah kehidupan apa yang telah Bintang lalui selama di Singapura? Apakah dia telah mendapat karier yang bagus? Apakah dia mendapatkan mimpinya selama ini? Dan apakah dia telah memiliki seorang pendamping? Semua samar. Bintang menjadi sosok asing bagiku.
“Hei, Ibu Editor melamun aja?” aku tersadar saat seorang lelaki berkemeja hijau menghampiriku. Aku menyunggingkan senyum terindahku.
“Halo Bos Petra, café-nya makin rame aja ya?”
Lelaki itu tertawa seraya menawarkan sekaleng bir padaku. “Ya, berkat kamu yang sering berkunjung ke sini, mungkin?” rayu lelaki itu. “Oh, iya. Dapat salam dari Bianca. Dia kangen sama kamu katanya.”
Lagi-lagi aku mengulum senyum. Ah, sahabatku itu memang beruntung. Punya pacar pengusaha café, karier bagus di Jakarta, dan tentunya bakat terpendamnya yang kini menghasilkan uang. Ya, siapa yang tidak kenal Natasha Bianca? Penulis novel populer yang telah menghasilkan beberapa novel best seller.
“Kalo kangen, suruh pulang dong ke Bandung,” timpalku. “Kalian jadi kan tunangan bulan depan?”
Petra tersenyum mantap. “Tepatnya dua bulan lagi,” lagi-lagi aku menaruh cemburu pada sahabatku.
“Bintang main ke rumah kemarin,” aku mengalihkan topik yang lain. Topik yang menjadi alasan kedatanganku kemari.
“Oya?” ujarnya sok terkejut.
“Emang dia gak cerita? Atau jangan-jangan kamu gak tau dia balik ke Indonesia?” tebakku.
Petra menenggak birnya. “Kalo soal Bintang balik ke tanah air, aku udah tahu. Aku kan yang jemput dia di bandara. Nah, kalo soal dia dateng ke rumahmu?” pria itu menggeleng.
Aneh, Petra bilang gak pernah berhubungan selama Bintang di Singapura. Kok dia tahu jadwal kepulangan sahabatnya itu? “Kalian gak pernah berkomunikasi kan selama Bintang di Singapura?”
Petra mulai sadar ia diinterogasi. “Ah... iya. Malam sebelum kepulangan, dia kirim email,” aku tersenyum. Petra itu tipe pria seperti Langit, gak pandai berbohong.
Aku menghela napas panjang. Rasanya ingin kuluapkan semua gundah yang membuatku sesak. “Kamu tau gak? Aku merasakan keganjilan waktu melihat dia kemarin,” akhirnya aku membuka mulut.
“Soal?”
“Kamu merasa gak dia berubah? Ya secara fisik aja deh. Badannya jadi kurus. Pipinya tirus dan…” aku memikirkan kalimat yang tepat. “…dia kayak orang sakit.”
Petra tertegun. Dia meneguk sekali lagi minumannya. “O… oya? Kok aku gak lihat itu ya?”
“Pet… jujur padaku. Apa yang terjadi pada Bintang?” aku langsung melayangkan pertanyaan intiku.
Petra malah menunduk tepekur. “Sungguh Kirana. Aku gak punya hak buat cerita ini padamu. Kalau kamu butuh satu kebenaran? Bintang satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaanmu.”
“Jadi bener kamu bohong, kalau selama dia di Singapura kalian gak pernah berhubungan? Kenyataannya justru kamu yang memberikan informasi semua tentang aku? Benar?”
Merasa bersalah, Petra meraih pergelangan tanganku. “Bukan begi….”
Aku menghempas tangannya. “Keterlaluan kamu! Demi lelaki gak bertanggung jawab itu, kamu abaikan perempuan yang putus asa di sini!” seruku. Aku menatap dalam lelaki itu. “Kamu tahu gak, Pet? Kamu itu kayak saudaraku sendiri. Tapi kamu tega biarin aku menderita selama empat tahun!” entah kenapa amarahku semakin membuncah. Perlahan aku bangkit lalu menghabiskan sisa minumanku. “Mungkin memang benar, sejak awal kamu selalu membela si brengsek itu. Sampai-sampai mata kamu buta, gak bisa bedakan mana yang benar dan mana yang salah!”
“Kirana! Tunggu! Dengerin penjelasanku,” aku yang terlanjur kecewa berusaha tak mendengar panggilannya. Aku hanya ingin segera enyah dari tempat ini.
***
Lupakan Bintang! Sepanjang malam aku terus memikirkan dia. Entah dengan cara apa lagi kuenyahkan bayangan itu, bayangan kesedihan yang tersirat dari senyumannya tempo hari. Aku bangkit seraya menghempaskan kepenatan kepala ini. Tak sengaja tatapanku mengarah pada bingkai foto di atas nakas. Langit, si pemberi keajaiban itu masih saja tersenyum padaku.
Ah, Sayang. Terbuat dari apakah hatimu? Kuat sekali menghadapi perempuan keras sepertiku. Mungkin pertengkaran kemarin mendulang luka baru baginya. Dia yang selalu kalah dari Bintang. Sepertinya tak rela harus mengulangi kesalahan yang sama.
Kesalahan? Bagiku mencintai Bintang sama sekali bukan kesalahan. Dicintainya membuatku mengalami indahnya cinta pertama. Jika aku harus mengalami luka seperti ini, tentunya itu adalah garis takdir yang tak bisa kuelak lagi.
Ponselku berpendar. Siapapun yang menelepon tengah malam seperti ini pasti gila. Beda lagi kalau pelakunya Langit. Aku justru butuh dia agar bisa tidur malam ini.
“Hei, belum tidur?” desahnya lembut.
“Belum, soalnya belum ditelepon.”
Lelaki itu tertawa kecil. “Buat kamu apa sih yang enggak? Aku rela telepon kamu setiap jam seandainya kita berada di tempat yang jauh sekalipun.”
“Tapi aku yang gak mau. Jarak 5 km aja rasanya jauh banget. Apalagi ribuan mil,” ujarku manja.
“Sayang, maafin aku soal tempo hari,” lirih Langit. “Aku cuma takut aja kamu lupain aku. Sebenarnya bisa saja kamu kembali padanya. Dan aku akan mati setelahnya.”
“Langit! Aku gak suka kamu ngomong gitu!” timpalku. “Aku gak mungkin ninggalin kamu setelah semua yang kamu lakuin ke aku. Kamu percaya aku ya?”
“Iya. Aku pegang janji kamu,” selepasnya kalimat itu, kami terdiam cukup lama. Hanya ada alunan lagu manis di ujung sana. Masih khas seorang Langit Putra Begawan dengan koleksi lagu jadulnya.
***
Petra membuat janji denganku dan Langit. Ada sesuatu yang ganjil di sini. Sejak kapan Petra berhubungan dengan Langit? Setahuku mereka tidak berkawan akrab. Hatiku semakin tidak karuan, hal gila apa yang akan dilakukan lelaki itu? Apakah ini berhubungan dengan café-nya? Atau jangan-jangan ini berkaitan dengan Bintang?
Aku duduk gelisah di deretan meja sekitar teras Petrapucino, semilir angin yang berhembus dari taman cukup memberi kesejukan tersendiri. Berulang kali aku memeriksa ponsel berharap mendapat kabar dari Langit yang tak kunjung juga datang.
“Langit belum juga datang?” Petra menghampiriku seraya membawa dua porsi es krim cokelat. “Cicipi ini dulu. Menu baru di Petrapucino,” lelaki itu mengedipkan matanya.
Hingga pada akhirnya lelaki pemilik Terano hitam itu datang juga. Aku sebenarnya tahu apa yang ada di benak Langit. Ia tak ingin datang, karena café ini mengingatkannya akan Bintang. Langit memberi seulas senyum secara bergilir kepadaku dan Petra.
“Maaf, aku datang terlambat. Sidang di pengadilan barusan berlangsung sangat lama,” alasannya.
“Gue justru minta maaf malah ganggu jadwal lo yang padat ini,” timpal Petra.
Kami akhirnya duduk di kursi masing-masing. Bersiap mendengarkan apa yang akan Petra sampaikan.
“Kalian pasti mengira-ngira kenapa aku meminta kalian untuk bertemu? Padahal Kamu tahu sendiri. Aku dan Langit jarang sekali bertemu muka. Hanya karena Langit berhubungan dengan Kirana, makanya aku nekat memintamu untuk datang,” papar Petra.
“Ok. Lanjut!” ujar Langit tanpa basa-basi.
“Ini tentang…” Petra ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “…Bintang.”
Mendengar nama itu, sontak membuat Langit gusar. Ia mengusap-usap pelipisnya. “Kenapa dengan anak itu?”
Petra menghela napas panjang. “Bintang sekarat,” pelannya.
Aku mendongak. Sekarat? Apa maksudnya? “Bintang sakit?”
Lelaki itu menganggukkan kepala. “Tujuan Bintang berangkat ke Singapura empat tahun silam karena divonis penyakit leukemia kronis.”
Sontak aku terkejut hingga gelas air mineral di sebelahku terjatuh ke lantai. Tak kuasa aku menitikkan air mata. Sementara Langit yang juga terkejut hanya bisa menenangkan dengan usapan halus tangannya di bahuku.
“Maaf aku gak cerita apapun pada kalian. Karena sebenarnya Bintang pun berencana merahasiakan ini padaku. Tapi untungnya kecurigaanku pada kondisi kesehatannya waktu itu memaksaku bermain petak umpet. Hingga akhirnya aku temukan beberapa butir obat anti kanker di tasnya. Maka, Bintang tak bisa menyembunyikan apa-apa dariku. Namun memohon untuk merahasiakan ini dari kalian semua, termasuk teman-teman di Angkasa Band.”
“Lalu? Selama empat tahun kondisinya tak berangsur membaik?”
Petra mengangguk. “Iya. Bintang kukuh ingin segera pulang ke Bandung dan menghabiskan sisa umurnya dengan orang-orang yang ia sayang.”
“Lalu apa tujuan kamu meminta kami datang?” lirih Langit.
“Gue mau minta tolong, Lang. Seperti yang lo tau. Dia sayang banget sama Kirana. Biarkan Kirana temani Bintang di sisa umurnya yang tinggal beberapa minggu lagi.”
Sontak Langit bangkit dari kursinya. “Maksud kamu? Kamu minta aku mutusin Kirana dan kembali pada Bintang?”
“Bukan… maksud gue…”
“Cukup! Kamu sudah menginjak harga diriku. Hanya karena dia sahabat kamu, kamu gak mikir aku ini kekasih Kirana. Asal kamu tahu, ya! Aku ini calon suami Kirana!” ujar Langit kasar.
“Langit!” aku menengahi. “Kamu tenanglah sebentar,” bujukku.
“Tenang? Kekasihku hampir terlepas, aku harus tenang?” Langit masih beremosi. “Aku sudah menduga. Kedatangan dia cuma akan membawa petaka bagi kita berdua.”
Plaakk! Tanpa sadar aku menampar kekasihku. “Lang, kamu sadar gak sih? Lelaki yang sedang kita bicarakan sedang bertarung maut di sana. Kamu gak punya hati nurani, apa?”
“Hati nurani? Lalu apa kalian sendiri ada hati nurani melakukan ini padaku? Aku juga sama menderitanya dengan Bintang! Atau apa aku harus sekarat dulu agar dapat simpati darimu?” Langit menatapku nanar. Hingga akhirnya ia melangkah meninggalkan kami dengan deru kendaraannya.
Yang tersisa hanya aku dan Petra. Lelaki itu mungkin merasa bersalah telah membuat Langit marah. Namun aku cukup memahami posisi Petra. Ia hanya seorang lelaki yang ingin berbuat sesuatu untuk sahabatnya.

Other Stories
Mission Escape

Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Download Titik & Koma