Pada Langit Yang Tak Berbintang

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
pada langit yang tak berbintang
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Penulis Petra Shandi

4. Sang Perindu

LANGIT
Kawasaki Ninja yang kukendarai melaju menembus dingin malam dengan kecepatan maksimal. Saat membaca SMS dari Kirana, perasaanku mulai gelisah tidak menentu. Apa gerangan yang terjadi? Bahkan saat kuhubungi dia, ponselnya malah bernada sibuk. Hingga beberapa menit kemudian kegelisahanku terjawab melalui pemaparan Bintang yang mengatakan Kirana dibawa ke UGD karena tubuhnya demam tinggi.
Goblok! Bodoh! Idiot! Aku terus-menerus menyumpah diriku sendiri. Kirana, mencariku saat ia membutuhkan pertolongan. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? Padahal ponsel sialan itu tergeletak tepat di sisi kanan audio mixer tempatku siaran. Dan yang membuat harga diriku terluka. Seseorang yang menghubungiku barusan adalah Bintang. Sainganku sendiri.
Karena kebodohanku akhirnya Bintang selangkah lebih maju. Membuat Kirana semakin terpedaya oleh pesonanya. Damn! Stop it! Aku harus bisa mengendalikan diri! Ini bukan saatnya mendebatkan persaingan cinta Kirana. Karena seharusnya bersyukur masih ada Bintang ketika aku dengan tololnya membiarkan perempuan yang kusayang merintih kesakitan di sana.
Setelah memarkirkan motor di pelataran parkir Rumah Sakit Hasan Sadikin, Aku berlari menuju ruang UGD tempat Kirana berada. Sepanjang perjalanan perasaanku tidak menentu. Hanya bisa berharap-harap cemas akan keadaan perempuan itu.
“Kirana?” kuhampiri satu sekat ruangan yang separuhnya tertutup tirai putih. Sosok lelaki berkulit putih menoleh padaku. Benar juga, orang itu Bintang dengan selintas senyum lega terpancar di sana. Sementara aku tanpa sadar memperhatikan jemarinya yang begitu leluasa memegang punggung jemari Kirana.
“Kamu kenapa?” aku mendekati brankar tempat Kirana berbaring lemah. Wajahnya pucat dengan infus yang menempel di tubuh. Kubelai rambut dan pipinya yang dingin. “Maaf, aku terlambat datang,” sementara Kirana tak menjawab. Hanya seulas senyum di sana. Namun aku suka melihat binar matanya yang seolah senang akan kehadiranku. Kuremas jemarinya. “Kamu jangan khawatir. Aku akan jaga kamu di sini sampai sembuh,” lirihku tepat di telinga kanan Kirana. Perempuan itu menganggukkan kepalanya.
“Perawat bilang apa?” aku menoleh pada Bintang.
“Mereka bilang kemungkinan Kirana terkena gejala tipes,” jawab Bintang. “Besok pagi Kirana akan diperiksa oleh dokter buat mastiin sakit apa yang ia derita. Mau nggak mau dia harus bermalam dulu di UGD.”
Aku mengangguk. “Thanks ya Bin. Kamu sudah bawa Kirana ke rumah sakit tepat waktu.”
Bintang mengulum senyum. “Gak masalah, Bro. Lagian kebetulan tadi gue telepon dia. Eh gak taunya dia bilang sakit, sakit gitu,” paparnya. “Dia pikir gua adalah elo,” tambahnya.
Pada akhirnya aku dan Bintang sepakat untuk bermalam di rumah sakit menemani Kirana sampai besok. Aku sudah menghubungi Om Ryan—Papanya Kirana tentang kondisi anak gadisnya. Mereka akan segera pulang besok pagi.
“Kita udah kayak cowok siaga gitu ya? Jagain cewek yang lagi kritis di dalam,” canda Bintang saat kami berada di kursi taman tak jauh dari ruang UGD.
Aku tersenyum lalu menghisap rokokku. “Gimana PDKT-nya?” tanyaku. “Sepertinya usaha kamu sudah mulai berhasil.”
“Rese lo, suasana genting kayak gini malah tanya gituan.”
“Nggak juga sih. Aku cuma mikir aja. Sudah saatnya Kirana memiliki seseorang yang bisa melindunginya. Orang yang bisa dia cinta dan tentunya mencintainya,” aku menerawang ke arah jalan raya.
“Dan maksud lo orangnya adalah gue?” tebak Bintang. Bintang ikut-ikutan menyalakan Marlboro setelah kutawari sebatang. “Gue kadang heran sama elo. Lo sadar gak sih betapa pentingnya lo bagi Kirana? Dia justru butuh elo.”
“Bener. Tapi dia butuh aku dengan cara yang berlawanan dengan cara aku membutuhkannya. Rasa kami gak sama,” aku menoleh ke arah Bintang. “Aku gak cukup meyakinkan untuk bisa jadi pacarnya. Dia melihatku dengan caranya sendiri. Kayak adik yang butuh disayang kakaknya.”
“Dan lo rela korbanin perasaan elo dengan membiarkan dia pacaran sama orang lain?”
Aku menggeleng kepala. “Bukan orang lain, Bin. Tapi kamu. Aku cukup kenal siapa kamu. Meski kita gak pernah main bareng. Tapi di mataku, kamu cukup baik untuk jadi pacar Kirana.”
“Dari mana elo yakin?”
“Dari sikap Kirana sendiri. Karena aku tahu, Kirana jatuh cinta sama kamu. Meski dia tak pernah ungkapkan itu sama sekali. Dan aku ingin membuat perempuan itu bahagia,” aku tersenyum seolah bangga dengan kalimat yang barusan terucap. Sekali lagi aku menoleh padanya. “Let me tell you something. Dia belum pernah pacaran,” lirihku. “Dan sialnya, sekali jatuh cinta dia malah memilih kamu sebagai cinta pertamanya.”
Bintang menghisap sekali lagi rokok itu, lalu memainkan asap yang berembus dari mulutnya hingga membentuk lingkaran kecil. “Elo tau gak? Akhirnya gue sadar siapa sebenarnya Langit Putra Begawan, cowok yang tiap malam celoteh-celoteh gak jelas di radio. Dia ternyata cowok baik dan paling romantis yang pernah gue kenal.”
“Ah, sok tahu kamu,” aku tertawa kecil.
“Ketika seseorang rela melepas orang yang ia cinta demi membuatnya bahagia. Buat gue itu hal paling romantis yang bisa dilakukan seorang lelaki,” aku terdiam tak menanggapi. Kenyataannya hatiku sakit saat harus merelakan Kirana mencintai orang lain.
Rasa ini tak tergapai olehmu, menahanku untuk tetap bersemayam di malam kelam. Tak mengapa. Setidaknya aku selalu ada, membayangi di setiap langkah yang kaupijak. Begitulah aku. Langit yang setia menaungi cinta dengan semua keajaiban yang takkan pernah kaukira.
***
Baiklah, akan kusibak misteri pertengkaranku dengan Kirana tempo hari. Amarah yang sempat membuatku kehilangan muka bertemu dengannya dan memutuskan untuk menjaga jarak sementara waktu.
Aku berpikir cukup panjang sesaat setelah Bintang meminta izin untuk melakukan pendekatan pada Kirana. Dan entah bagaimana si bodoh ini dengan entengnya mengatakan pada Bintang bahwa aku hanyalah sahabat Kirana. Menafikan rasa sendiri. Bahwa aku juga mencintainya. Jauh lebih mencintainya.
Bintang adalah ancaman! Sisi batinku berkata serius seperti itu. Bagaimanapun juga aku lebih berhak atas cinta Kirana. Cinta yang kutunggu sejak tiga tahun lamanya. Dan bila ternyata Kirana tak mencintai Langit, maka Bintang pun tak berhak atas cinta Kirana. Begitu kurasa lebih adil.
Hingga pada akhirnya kuputuskan untuk menerobos zona nyamanku, memaksakan diri untuk ungkapkan semuanya, meski tak tahu akan seperti apa nasibku kelak. Yang pasti Kirana harus tahu perasaanku. Itu yang paling penting. Dengan bermodalkan seuntai kalung bermata berlian yang kubeli di toko perhiasan langganan Mama, kumantapkan hati untuk menyatakan cinta.
Butuh persiapan waktu dan mental hingga menjelang hari itu tiba. Rencananya aku akan mengajak Kirana ke café di Bukit Dago Atas. Suasana romantis di sana tentunya akan menambah kepercayaan diriku saat mengatakan cinta. Dan biar menjadi kejutan, sengaja kuminta dia untuk datang ke rumahku seperti biasa, seolah takkan terjadi sesuatu.
Kenyataannya dugaanku meleset. Kirana tak kunjung muncul di muka pintu rumah. Yang terjadi justru dia bersama si kampret Bintang. Tanpa memedulikan janji yang telah kami sepakati.
Aku menyesal. Sungguh, bagaimana bisa emosiku begitu tak terkendali. Kata-kata terkasar yang belum pernah terucap pada Kirana, semua meluncur begitu saja. Saat itu aku terlalu sibuk melampiaskan amarah, tanpa berpikir dampak yang Kirana rasakan di luar sana. Andaikan waktu mampu mengembalikanku ke masa itu. Aku ingin memperbaiki semua. Hingga penyesalan ini takkan pernah terjadi.
Esoknya Bintang mendekati di sela-sela jam kuliah. Bisa kutebak, ia ingin menceritakan proses PDKT-nya kemarin. Dan yang lebih menyakitkan. Lelaki itu sok bijak menceramahiku soal persahabatanku dengan Kirana. Dia pikir dia siapa? Dia cuma lelaki yang baru mengenal Kirana satu bulan!
“Kemarin beres teleponan sama elo, Si Kirana mewek,” celoteh Bintang. Seketika aku menoleh. Namun tak mampu menyanggah kalimatnya. “Elo kenapa sih? Cuma gara-gara jalan sama gue, lo marah besar. Bukannya kemarin lo bilang gak masalah gue deketin Kirana?”
“Hm… bukan gitu masalahnya. Ini bukan soal dia jalan sama kamu,” gumamku. “Gak taulah, Bin. Kebetulan aku lagi gak mood aja kemarin. Eh malah Kirana yang jadi sasaran,” aku tersenyum hambar. “Nanti sore aku ke rumahnya. Mau minta maaf.”
Bintang mengangguk menyetujui rencanaku. Namun kenyataannya aku tak pernah mengujungi rumah perempuan itu. Yang ada justru Kirana terus-terusan mengangguku minta diantar ke Gramedia atau ke tempat biasa kami nongkrong.
Aku tak sanggup. Aku tak sanggup melihat binar bahagia yang ia tampakkan beberapa hari ini. Bayangan Bintang seolah menjadi satu kesatuan dengan Kirana. Setiap kali kami bertemu, segala hal tentang Bintang muncul dalam berbagai cerita. Telepon, curhatan, barang-barang, hingga lagu yang sering Bintang nyanyikan saat manggung. Kirana kini jauh mengenal Bintang dibanding aku.
Kalau sudah begitu, aku bisa apa? Mau tidak mau aku harus mundur dan menyatakan secara sportif bahwa aku kalah. Aku akan sangat bersalah bila tetap memaksakan kehendak. Cinta itu tentang memberi dan menerima. Tak mungkin aku memberi sementara ia tak bisa menerimanya.
Mulai sekarang aku takkan banyak bicara lagi. Karena telah kutemukan jawaban itu. Tanpa harus mendengar pengakuan dari mulut Kirana sendiri.
***
Kesibukanku kini bertambah. Coba tebak apa? Damn! Ternyata seperti ini rasanya mengasuh dua anak manusia yang sedang di mabuk cinta. Pagi buta Kirana telepon aku hanya sekedar bercerita soal Arjunanya. Dan tidak lama kemudian giliran lelakinya yang mengadu soal apa makanan kesukaan Kirana. Aku sampai lupa kalau ternyata umur Si Bintang itu hanya terpaut beberapa hari denganku. Tapi kalau soal kedewasaan berpikir? Lelaki itu tidak jauh beda dengan anak berumur 10 tahun!
“Kamu gak usah uring-uringan gitu lah. Risih aku lihatnya,” ujarku gemas—tepatnya muak melihat Bintang gelisah menunggu jawaban SMS yang sejak sepuluh menit lalu tak berbalas.
“Masa sih? Biasa aja ah,” ujarnya seraya menyimpan kembali iPhone ke dalam saku. Biar kutebak, tak sampai sepuluh detik dia akan meraih ponselnya kembali. Hingga akhirnya ketoprak pesanan kami dihidangkan. Ia siap melahap namun diurungkan saat dering ponselnya berbunyi pertanda SMS masuk—tepatnya di detik ke sepuluh sejak ia menaruh gadget itu di sakunya. Aku hanya bisa menggeleng melihatnya tersenyum tidak jelas seraya menekan-nekan keypad ponsel.
“Yup! Dia mau gue ajak dinner malam ini!” serunya girang selepas membalas SMS untuk Kirana.
Aku memberi sedikit senyuman. Jadi begitu? Bisa jadi dia akan menyatakan cintanya malam ini, gumamku dalam hati. “Bagus itu, inget dengan apa yang aku sampaikan kemarin. Kirana gak suka makanan laut. Jangan bawa dia ke restoran fast food, dia ada alergi sama udang soalnya. Jangan sembarangan pake parfum, aku kasih tau ya, parfum cowok kesukaannya. Dia suka Hugo Boss, soalnya itu parfum yang biasa dipakai ayahnya. Dan dia suka banget. Jangan pake dulu aksesori anak band, kemarin dia curhat sama aku. Illfeel dengan kalung rantai duri yang kamu pakai, kelihatan kayak psikopat. Dan jangan muter lagu-lagu rock di Jeep kamu. Kasian. Jangan lupa pulangnya harus di bawah jam sete…”
“Lang!”
Aku spontan terdiam saat Bintang menyanggah. Ia menatapku tulus, kubalas senyumannya untuk sesaat. “Makasih ya buat semuanya. Gue sebenarnya malu merebut Kirana dari elo.”
“Stop it!” timpalku. “Kita sudah bahas ini berulang kali. Kamu jangan mengganggu mood-ku,” ujarku setengah gusar. Tapi tetap Bintang menatapku dengan pandangan yang menurutku aneh. Seperti perasaan bersalah sekaligus senang.
“Ya udah, aku pergi duluan ya. Ada janji dengan Rangga,” jangan sampai perasaan sentimentil itu muncul tiba-tiba. Lebih baik aku menghindar daripada itu terjadi. Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan Bintang tanpa sempat menggubris sanggahannya yang memintaku untuk tinggal lebih lama.
***
Aku mengudara dengan perasaan yang tidak tenang, ingin tahu ending dari kisah si pejuang cinta yang kudidik beberapa hari ini. Sekaligus mulai mempersiapkan hati bahwa Kirana benar-benar akan dimiliki oleh seseorang. Namun hingga tengah malam, berita itu tak kunjung kuterima.
Dengan malas aku mengutak-atik komputer sekedar browing berita terbaru di sosial media atau memeriksa email yang masuk. Dan benar juga dugaanku. Pemilik email sang.perindu@gmail.com selalu menampakkan diri di setiap acara My Vintage Song.
Sang Perindu? Lama-lama aku mulai penasaran dengan pemilik nama samaran itu. Kok hampir setiap malam dia mengirim email yang diselingi oleh rangkaian kata romantis. Bahkan aku tak pernah tahu apakah dia berjenis kelamin lelaki atau perempuan. Dan tentunya rasa penasaran ini memuncak saat ia meminta alamat email pribadiku. Damn! Who is she—or he? Apa mungkin itu kerjaan kawan satu kampusku? Atau memang fans dari seorang Langit Putra Begawan?
“Wahai langit tak berbintang, aku mengecap resah sejak kali pertama sang pelita nampak di hening malam. Sulit kuenyahkan sementara hati semakin merindu. Seakan hanya bayang dirinya di setiap sudut yang kuhuni. Pada langit yang tak berbintang kuhaturkan harap, semoga kelak mampu pertemukan kami kembali. Salam Sang Perindu.”
Aku tersenyum sendiri sesaat setelah membacakan tulisan tersebut. Masih pelaku yang sama. Sang Perindu. “Lama kelamaan Langit semakin terhanyut oleh setiap pesan yang kamu sampaikan. Kalau Langit satuin semua tulisan kamu dari dua bulan yang lalu. Kayaknya sudah jadi satu kesatuan cerita romantis. Good job! Langit gak keberatan terus-terusan membacakan tulisanmu, meski sampai sekarang gak pernah tahu identitas sebenarnya dari seorang ‘sang perindu’,” paparku. “Sekali-kali sebutin dong nama kamu, biar bisa ikutan beken di My Vintage Song.”
Selama lagu The Second You Sleep-nya Saybia mengalun merdu. Aku terus mencari tahu identitas “Sang Perindu”. Kutelusuri di sosial media seperti Facebook dan Twitter. Hasilnya? Puluhan entah ratusan dengan nama akun yang sama. Sial!
Sabar… mungkin Sang Perindu akan menjadi sisi menarik dari perjalanan hidup seorang Langit Putra Begawan. Kawan misterius yang mungkin bisa mengubah malam-malam kelabuku menjadi lebih terang dan bersinar. Bibirku tersungging seraya memainkan perangkat sound mixer di hadapanku. Kembali menembus malam lewat untaian lagu bernuansa usang.
***
“Hai, Sang Perindu. Nice to see you.”
Aku me-reply email Sang Perindu melalui akun pribadiku.

Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Download Titik & Koma