My Love

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

15. Pulang Bersamaku

Siang yang terik aku dan Nadya memasuki kawasan pemakaman Santa Cruz. Areal pemakaman ini tidak jauh berbeda seperti yang ada di Indonesia dengan sesekali kita temui beberapa patung di tengah taman atau di beberapa titik lainnya. Setengah hati aku mengikuti permintaaan Nadya, jujur saja aku merasa tidak ada kepentingan melayat orang yang sama sekali tidak kukenal semasa hidupnya. Semua kulakukan demi Nadya.
“Di sini Bang,” langkah Nadya terhenti tepat di sebuah makam yang terbuat dari batu marmer dengan hiasan patung di atasnya. Sementara aku ikut duduk berjongkok di sebelahnya. “Sebulan sekali aku sering berziarah ke makam Phillipe, sekedar untuk berdoa dan membersihkan makamnya.”
“Kamu pasti sangat kehilangan dia,” ucapku.
“Iya, Bang. Dia sangat baik padaku. Dia bahkan sempat melamarku dan aku berkata iya, meski keluarga di Jakarta tak menyetujuinya. Cuma sayang, takdir berkata lain. Phillipe harus pulang lebih dahulu,” Nadya kembali meneteskan air mata.
“Kamu ambil hikmahnya saja. Aku yakin Phillipe tak mau melihatmu menangis seperti ini. Kembalilah pulang ke Jakarta. Orang tuamu gelisah menunggu di rumah.”
“Iya Bang, jujur saja aku takut pulang ke rumah. Takut mereka tidak menerimaku kembali.”
“Tidak ada orang tua yang tega menelantarkan anaknya. Percaya sama Abang. Kalau perlu Abang bisa menemanimu menemui mereka.”
Nadya menoleh ke arahku lalu tersenyum. “Makasih buat semua kebaikan Abang,” lirihnya. Tanpa canggung aku meremas jemarinya.
Percayakan hidupmu padaku, Nad. Aku janji kamu akan baik-baik saja selamanya.
Kami merapal doa dengan khusyuknya hingga tak terasa satu jam telah berlalu. “Mungkin ini akan menjadi ziarahku yang terakhir.”
“Kenapa?” aku berselimut tanya.
“Seperti saran Abang, aku akan kembali ke Jakarta dan membuka lembaran baru di sana.”
Aku bisa memaknai senyum yang terkembang di sudut bibirnya. Apakah itu pertanda ia menerima cintaku juga? “Dan kamu bersedia untuk menjadi kekasih Abang?”
“Ya, kalau penawaran Abang masih berlaku, tentu aku akan menyetujuinya,” ujarnya malu-malu.
Aku tertawa girang. Spontan kupeluk perempuan itu lalu memangkunya saking gembira. Dan kami terhanyut dalam gelak tawa.
***
Rupanya trauma Nadya tak separah itu. Hanya tiga kali pertemuan dengan psikiater, Nadya sudah melupakan mimpi buruk yang selama ini menghantuinya. Kuhela napas panjang, berarti ada alasan bagiku untuk melangkah lebih jauh lagi. Tepatnya melamar Nadya. Betul! Aku sudah tidak tahan ingin menyemat cincin bermata berlian ini di jari manisnya. Kurasa minggu depan waktu yang tepat saat kami sama-sama free.
“Jalanan macet banget, mau ke mana sih Bang?”
“Kejutan,” ujarku.
Sialan! Kok bisa sih keadaannya tak mendukungku? Jalanan malah macet hingga berjam-jam. Apa perlu kuganti saja restorannya? Restoran terdekat yang mudah terjangkau. Mengingat waktu sudah menunjukkan jam empat sore. Jam berapa kami kembali ke rumah?
“Kita makan di restoran itu aja Bang!” tunjuk Nadya pada sebuah café bernama Love Hurt Café. Hah? Café itu lagi? Not anymore!
“Café yang lain aja!’ tolakku tegas.
“Ih, mau ke mana lagi, coba? Kita udah kejebak macet di sini. Lagian aku udah mulai laper, Bang,” lirih Nadya.
Sial! Memangnya tidak bisa hidupku lepas dari Love Hurt Café? So? What Next? Cincinku ilang lagi? Terus dipermalukan lagi di depan calon tunanganku?
Kurogoh kotak beludru kecil di saku kananku. Hm… masih ada ternyata. Sepertinya harus kujaga baik-baik, jangan sampai ada yang mengerjaiku lagi. Perlahan aku tersenyum manis “Ya udah, kita makan di Love Hurt Café aja ya?”
***
Love Hurt Café; Hanya untuk Mereka yang Patah Hati
Aku tersungging saat membaca papan reklame itu. Tuhan, kejutan apa lagi yang akan Kau berikan padaku? Semua merayap seperti kenangan di masa lalu. Ah, semoga Nadya tidak seusil Teresa. Kupikir ia bisa menjaga sikap.
“Kita pesan es krimnya ya. Abang pesen Es Krim Patah hati.”
Seketika Nadya mendelik. “Kok Abang bisa tahu menu makanan di sini?” tanyanya curiga, “Pernah sekali sama temen-temen Abang,” ujarku berbohong.
“Oh, berarti Teresa yang boong ya? Katanya ini tempat bersejarah Abang sama Teresa,” mati aku, kuremas jemari menahan jengkel.
“I.. itu juga. Abang sering maen sama Teresa ke tempat ini,” dasar perempuan! Memangnya semua rahasia harus dia beberkan ke para sahabatnya?
“Gak usah tegang gitu kali, Bang. Kayak mau ngelamar aja.”
Damn! Sebelum Nadya membuatku malu lebih jauh lagi. Aku harus segera menyatakan lamaran ini. “Nad, entah apa yang udah kamu dengar dari Teresa tentang sangkut paut café ini dengan Abang. Tapi Abang mohon… can you forget it?” lirihku. “Abang cukup malu mengingat-ingat masa lalu Abang bersama Teresa. Dan kali ini Abang bertekad untuk melakukannya sesempurna mungkin.”
“Melakukan apa, Bang?” Nadya mengernyitkan dahi.
“Tunggu sebentar,” aku merogoh benda berbahan beludru itu di saku kananku. Saat benda itu nyata di depan mata, aku tersenyum penuh kemenangan. “ Ini dia…”
Nadya nampak terkejut. “Abang…”
“Nadya… would you marry…” saat kubuka kotak perhiasan itu. Loh? Kosong?!
“Loh… kok gak ada isinya, Bang?”
“Tadi ada kok, Nad. Abang serius,” ujarku memelas.
“Ya udah deh, Bang. Cincinnya ntar kita cari. Yang penting Abang kan udah melamar aku. Abang gak mau denger jawabannya?”
Aku menggeleng. Rasanya setengah harga diriku ada di cincin itu. “Kamu gak boleh jawab lamaran Abang sebelum cincin itu ketemu!” tegasku seraya sibuk mencari-cari cincin di sekitar meja kami.
“Kok gitu, Bang? Kalo cincin gak ketemu, berarti Abang batal ngelamar aku?”
“Iya,” aku meladeninya.
“Ih, Abang jahat.”
Seketika aku berhenti mencari lalu menatap curiga pada Nadya. “Jangan-jangan ini kerjaan kamu? Kamu ikuti ide Teresa kan?”
Dengan ragu-ragu Nadya menggelengkan kepalanya. “Nggak, kok. Mana berani aku ngerjain Abang kayak gitu,” timpalnya.
“Sebentar lagi pesanan Es Krim Patah Hatinya akan datang, barusan kamu abis dari toilet kan? Padahal kamu ke dapur buat nyematin cincinnya di dalam es krim? Ayo ngaku?” aku menggelitik pinggang perempuan itu tanpa peduli keriuhan yang kami ciptakan.
“Beneran aku gak ngerjain Abang! Cek aja es krimnya sendiri.”
Hingga akhirnya Es krim Patah Hati tersaji di atas meja. Dengan tatapan curiga aku tak sabar ingin mengaduk-ngaduk hingga kutemukan cincin itu. Kenyataannya? NIHIL!
Aku terus-terusan menggerutu, entah pada siapa kulimpahkan kekesalanku. Nampaknya Nadya memang tak tahu menahu soal cincin yang hilang.
“Bang, udahlah gak usah marah-marah lagi. Mending makan kue soes itu. Krimnya enak banget. Rasa vanila, kesukaan Abang.”
“Abang gak mood,” timpalku.
“Aku gak suka Abang marah-marah kayak gini. Di coba dulu, demi aku.”
Aku masih bergeming.
“Kalau Abang masih kayak gini, aku pergi loh sekarang juga,” ancam Nadya.
“Iya… iya, Abang cicip,” kupaksakan memakan kue soes yang sebenarnya menarik perhatian itu. Apalagi Nadya bilang rasa vanila, salah satu rasa kue kesukaanku. Tapi apa ini? sesuatu yang keras di sela-sela kunyahanku.
“Aw…” ujarku menahan sakit. Saat kuperiksa benda apa gerangan yang ada di mulutku. Sialan! Cincin itu! “Nadya!! Kamu bener-bener kerjaain Abang ya?
“Maaf Bang!” perempuan itu tak bisa berhenti tertawa. “Abis aku suka geli denger cerita Teresa. Makanya aku pingin kerjain Abang sekali lagi. Eh ternyata mempan.”
“Kamu bener-bener bikin Abang malu. Tapi kamu terima kan lamaran Abang?”
“Hhehehe… lagian siapa sih yang tidak terlena sama rayuan Abang. Aku mau Bang! Aku mau menikah dengan Abang!” Nadya memelukku tanpa ragu. Sungguh, selalu banyak cerita di café ini. Café yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka yang patah hati.

Other Stories
Kk

jjj ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Test

Test ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Download Titik & Koma