13. Menjemput Cintaku
Aku kembali menapaki Presidente Nicolau Lobatu International Airport, merasakan kembali sensasi sengatan matahari seperti beberapa bulan silam. Kali ini aku datang hanya untuk beberapa hari. Memenuhi undangan Timor Development terkait proyek kerja sama pembangunan perumahan di Kampung Alor. Rencananya Grand Opening akan dilakukan dua hari lagi.
Entah apakah Carlos memenuhi permintaanku untuk mengundang Nadya di acara itu. Karena tidak dipungkiri aku tak tahan membendung rindu yang berserakan. Ada banyak rencana yang ingin kutunaikan bersama perempuan itu, salah satunya mengajak dia pulang ke tanah air. Ah, Tuhan. Semoga Nadya mau kubujuk untuk tinggal bersamaku di Jakarta.
“Hei… kamu sudah siapkan pidatomu?”
Aku yang sedang menikmati ikan bakar nyaris saja tersedak. “Kamu serius aku dapat bagian untuk bicara di muka umum?” tanyaku dengan mulut penuh makanan. “Aku paling gak bisa bicara di depan microfon. Bisa batalkan gak?”
“Lah… lalu siapa yang bakal bicara sebagai perwakilan dari Magellan Realty. Cuma kamu seorang kan?”
Aku hanya menggeleng. “Ya sudah, kamu bantu aku siapkan naskah pidatonya ya? Jangan lupa sisipkan bahasa Tetun di dalamnya.”
Selesai makan, aku kembali check in di tempat yang pernah menjadi rumahku selama tiga bulan. Ada banyak kenangan di setiap sudut ruangannya. Dan semua selalu terhubung pada satu nama. Perlahan kubuka jendela kamar lalu menghirup udara segar yang masuk di sela-sela jendela. Lamat-lamat terdengar sebuah lagu daerah berbahasa Tetun di sebelah kamarku. Perlahan bibirku tersungging, suasananya tidak berubah.
Sebenarnya bisa saja aku kuhubungi Nadya via telepon—kalau tidak salah masih tersimpan nomornya di list contact ponselku. Namun akhirnya aku urungkan sekedar ingin memberi kejutan untuknya. Tentunya ini akan menjadi momen berharga seorang perempuan yang kucinta menyaksikan aku berdiri di atas panggung yang tengah menceritakan proses pembangunan perumahan rakyat yang ia banggakan.
***
Pagi yang panas tidak mengurangi kemeriahan Grand Opening proyek perumahan di Kampung Alor. Satu panggung di sisi kanan cukup meriah dengan lantunan dari beberapa penyanyi profesional yang sengaja kami undang untuk menghibur tamu undangan. Sementara aku hanya berdiri kaku di dekat prasmanan menikmati segelas banana juice—nikmat sekali minuman ini di tengah terik matahari.
Namun yang membuatku kecewa, Nadya belum juga menampakkan batang hidungnya. Entah apa alasannya ia urung menghadiri acara ini. Bisa jadi ia tak mau bertemu denganku.
“Hei sobat, pidatomu hebat sekali!” Carlos menepuk bahuku seraya tertawa.
“Ayo tertawakan aku terus! Hingga masanya datang, kamu akan kupaksa pidato di depan masyarakat Indonesia,” gumamku.
“Tapi aku serius. Tampaknya Nadya berhasil mengajarkanmu bahasa Tetun. Kamu terlihat native sekali dari cara pengucapan.”
“Aku anggap itu pujian,” bibirku tersungging manis.
“Tapi ngomong-ngomong, mana pacarmu itu? Sepertinya dia tidak datang,” Carlos mengedarkan pandangan ke segala arah.
“Asal saja bicaramu! Nadya bukan pacarku!” koreksiku. “Ya, mungkin dia sedang sibuk ngajar.”
“Ini hari Minggu.”
Benarkah? Berarti memang benar ia tak mau menemuiku.
“Itu dia!” teriakan Carlos sungguh membuatku terkejut. Minuman yang kugenggam hampir saja terjatuh.
“Mana?” aku mengikuti petunjuk lewat ujung jemari Carlos. Ya Tuhan! Aku hampir saja salah lihat orang. Nadya merubah penampilannya. Ia memotong rambutnya hingga sebatas leher dengan gaun berwarna hijau daun. Demi menanungi wajahnya dari sinar matahari ia memakai topi lebar berwarna senada.
Perlahan aku menghampirinya. Sementara Nadya sendiri tersipu melihat tingkahku yang seperti anak ABG. Aku menyalaminya. “Lama gak ketemu?”
“Hampir empat bulan, ya Bang?”
Aku mengangguk. “Kok datengnya siang-siang?”
“Ih, Abang aja yang gak tahu. Aku sempat kok liat Abang pidato,” terang Nadya. “Bahasa Tetun Abang makin keren aja,” pujinya.
“Kamu benar-benar bikin Abang malu,” ujarku nervous.
“Ngomong-ngomong, berapa hari Abang bakal tinggal di Dili?”
“Hm… sama cuti berarti satu minggu. Dan Abang sangat berterima kasih kalau kamu mau jadi pemandu wisata Abang,” rayuku.
Perempuan itu menatapku ragu, “Kenapa tidak?” akhirnya ia bersuara.
“Daripada waktu terbuang percuma, kita mulai hari ini saja. Kamu bisa ajak Abang ke pantai atau cari makan atau nonton?” gagasku.
“Sekarang? Abang yakin?” perempuan itu mengernyitkan dahi.
“Iya. Lagian tugas Abang sudah selesai. Dan sekarang Abang cuma pingin jalan-jalan sama kamu aja.”
“Ih, Abang. Bilang aja mau ngajak kencan,” Kami akhirnya sama-sama tergelak tawa.
***
Kami bernaung di sebuah tenda yang menghadap lautan lepas. Tak lama lagi pelayan di kedai tak jauh dari tenda akan membawakan makanan dan minuman yang kami pesan. Sementara kami menunggu tenang bersama angin yang berhembus dari arah pantai. Aku merasa seperti sedang berlibur di Pulau Dewata dengan limpahan sinar matahari yang cukup menyengat.
“Apa kabar Teresa, Bang?” Nadya membuka percakapan. Ia melepas kacamata hitamnya lalu mengaitkannya tepat di atas kepala.
Aku tersenyum kecut. “Ternyata ia sama brengseknya seperti Abang,” gumamku. Terpancar seraut tanda tanya dari wajah Nadya. “Kamu tahu kan Anthony?”
“Lelaki yang menolong Teresa itu, bukan?”
Aku mengangguk. “Teresa jatuh cinta padanya. Kupikir hubungan mereka akan berakhir saat Teresa kembali ke Jakarta. Yang ada si Anthony malah menyusulnya ke Jakarta dan mulai bermain di belakang Abang.”
“Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?”
“Semua hancur, Nad,” aku berusaha mengulum senyum seolah semuanya tak berarti lagi.
“Maafkan aku, Bang,” ujar Nadya. “Saat ini perasaan Abang pasti sedang tidak karuan.”
Aku menghela napas panjang. “Justru yang ada di benak Abang saat pertengkaran kemarin dengan Teresa adalah kamu. Kenapa tidak Abang pertahankan kamu? Seperti halnya Teresa yang mempertahankan Anthony,” gumamku.
Nadya tidak menjawab. Ia hanya menatap lautan lepas seraya mengaitkan rambut ke ujung telinganya. Ucapanku barusan mungkin terdengar seperti rayuan di telinganya. “Sebenarnya aku sudah tahu cerita kalian,” Baru, kali ini Nadya menatapku. “Tiga hari yang lalu Teresa menghubungiku. Ia bercerita tentang semua yang telah terjadi. Ia menitipkan Abang padaku, memintaku untuk menjaga Abang sebaik-baiknya.”
Aku mengernyitkan dahi. “Sungguh ia berkata seperti itu?”
“Sepertinya Teresa merasa bersalah, mungkin ia pikir aku bisa membuat Abang bahagia di sini. Tapi kenyataannya aku gak bisa.”
Aku terdiam. Lewat kalimat terakhirnya bisa kuambil kesimpulan, Nadya tidak ada niat untuk kembali bersamaku lagi.
“Kamu sudah cukup sakit hati karena ulah Abang. Abang bisa pahami itu.”
Nadya menghela napas panjang. “Sepertinya kita tidak perlu mengungkit hal yang tidak enak, cuma buang waktu aja. Inget loh, Bang. Tujuan Abang di kota ini buat berlibur.”
Sekaligus membawamu pulang ke Jakarta. Aku mengulum senyum.
***
Other Stories
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Susur
Kepergian Mamat mencari ayahnya, tanpa sengaja melibatkan dua berandal kampung. Petualanga ...