12. Fase Memaafkan
Cinta melayang memporakporandakan, membuatku terjebak pada suatu lembah kesunyian. Aku dengan keterasingan atau aku dengan pilihan? Tapi demi Tuhan. Pilihan seperti apa yang Kau tawarkan padaku? Endapan amarah menyulitkanku untuk keluar dari labirin ini. Semakin hari semakin sesak yang entah kapan bisa meluap.
Bahagia dan derita menyekat tipis satu sama lain. Aku sama sekali tak menyangka telah berada di ujung perbatasan keduanya. Bahkan seribu angan yang melenakan tak sanggup melawan keberadaanku di tempat itu. Cinta kokoh yang kuanggap sebagai sumber kekuatanku akhirnya hancur berkeping-keping. Tak menyisakan lagi sedikit kebanggaanku sebagai seorang lelaki. Inikah yang dinamakan badai cinta? Lalu di mana letak keajaibannya? Mereka bilang cinta mampu menerjang semua rintangan. Kenyataannya kali ini aku jatuh terperosok dalam limbah yang sangat menyakitkan.
“Bro… gue ikut sedih soal pernikahan lo,” Riza membuka percakapan kami di club. Ini adalah kumpul-kumpul pertama kami setelah kepulangan Riza dan Nita dari bulan madunya di Bali.
Aku memberi seulas senyum. “Thanks ya, Za. Gue seneng kesedihan gue terganti melihat kebahagiaan dari wajah kalian berdua. Gimana bulan madunya di Bali? Seru?”
“Nih aku bawa foto-fotonya,” timpal Nita antusias.
“Gak usah! Kamu bikin kami ngiler aja,” canda Hendrik.
“Makanya jadiin dong sama si Indri. Pacaran mulu kayak anak kuliahan aja,” Restu nimbrung.
“Gak usah lo suruh, gue udah lamar si Indri minggu lalu.”
“Hah? Kok gak cerita-cerita?”
“Mau cerita gimana, lo pada sibuk semua.”
“Selamat ya. Bro!” aku memeluk sahabatku, diikuti kawan lainnya secara bergantian.
Melihat pancaran kebahagiaan dari wajah kawan-kawanku membuatku berpikir mungkin kelak aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Menikah, berkeluarga dan memiliki buah hati. Aku rela menunggu bila masaku memang ada. Teresa saja bisa bahagia, kenapa aku tidak?
***
Audi-ku merayap perlahan menembus dinginnya malam. Aku mencoba mengenyahkan keheningan dengan menyalakan stereo car, lalu memilih salah satu frekuensi stasiun radio yang kerap kudengar setiap malam. Lumayan bisa menghibur lelaki jomblo seperti aku.
Biarlah layar terkembang, kuingin menyebrang
Melintas pulau dan lautan, menjemput cintaku
Belahan jiwa yang tertinggal di Timor Lorosae
(Januari di Kota Dili-Rita Effendi)
Aku tersenyum saat lagu indah itu mengalun. Ada sebentuk kerinduan pada Nadya. Kekasih yang tertinggal di Timor Lorosae. Entah kapan kami bisa bertemu. Pun jika kesempatan itu ada, tak menjamin ia mau kembali padaku. Ah, Tuhan. Aku hanya berharap ia bahagia. Meski tak bersamaku ia harus terlepas dari masa lalunya yang kelam.
Nadya, Abang rindu kamu…
***
Dili. Sebenarnya aku bisa saja kembali ke sana. Minggu depan adalah grand opening proyek kerja sama Magellan Realty dengan Timor Development. Aku sebagai orang yang terlibat langsung dengan proyek itu, tentunya mendapat undangan untuk menghadiri acara itu. Namun aku takut Nadya tak menghendaki kehadiranku. Aku yakin ia menyimpan rasa benci setelah apa yang kuperbuat padanya. Tapi sungguh! Aku ingin bertemu dengannya.
“Datang. Kamu memang harus datang dengan atau tanpa undangan. Inget, kamu adalah bagian dari tim. Proyek itu adalah hasil karyamu,” terang Pak Andre.
“Tapi…”
“Sudahlah, saya akan beri kamu bonus liburan di sana selama seminggu.”
Aku menyunggingkan senyuman di bibirku. “Baiklah, Pak. Kupikir sedikit bersenang-senang sedikit di tempat itu bisa membuat kepala saya segar kembali.”
“Tentu saja, karena selepas cuti ada segudang pekerjaan lain yang harus kamu selesaikan.”
“Siap, Pak,” ujarku menurut.
Saat melangkah keluar dari ruangan Pak Andre. Perasaanku terasa campur aduk, tak kuasa menahan senang sekaligus nervous. Ini sulit kupercaya, tak lama lagi aku akan bertemu Nadya. Aku tak peduli lagi dengan kekhawatiranku. Nadya pasti mengerti dengan semua yang telah terjadi.
Tak lama ponselku berpendar. Terlihat satu nama asing di sana. Carlos!
“Ya halo,” ujarku berantusias.
“Halo kawan? Kamu masih ingat sahabatmu ini kan?”
“Tentu, mana mungkin aku lupa.”
“Bagaimana? Minggu depan kamu jadi datang ke Dili?”
“Entahlah, aku sedikit sibuk,” ujarku berpura-pura.
“Hei… jangan seperti itu kawan. Ini hasil kerja keras kita! Kamu harus datang dan memberi pidato sambutan.”
“Nope! Itu bagianmu. Kamu mau mempermalukanku dengan bahasa Tetunku yang berantakan?” Carlos tertawa keras, cukup membuatku menjauhi ponsel dari telinga kanan. “Baiklah aku akan datang. Tapi dengan satu syarat. Bukan, tepatnya aku minta tolong.”
“Oya? Kamu mau minta tolong apa?”
“Kamu ingat kan Nadya, perempuan yang sering bersamaku saat di Dili?”
“Iya. Aku selalu ingat setiap perempuan cantik. Memangnya kenapa?”
“Bisakah kamu undang dia di acara Grand Opening proyek kita?”
“Tapi aku lupa di mana alamatnya,” alasan Carlos.
“Don’t worry, Bro. Nanti aku kirim alamat rumah Nadya. Dia tinggal di Kampung Alor juga kok.”
“Sepertinya tujuan utamamu datang kemari bukan urusan pekerjaan. Tapi ingin bertemu pacarmu itu kan?”
“Pacar? Doakan saja aku berhasil nembak dia, ya?” aku tertawa terbahak-bahak. Hingga pada akhirnya aku terdiam saat menerima satu pesan BBM dari ponselku yang lain.
“Shan, kamu ada waktu untuk bertemu?”
Pengirim pesan itu adalah Teresa.
***
Lagi-lagi aku berdiri kaku di depan Love Hurt Café. Sebenarnya aku enggan memasuki café ini. Terlalu banyak kenangan menyakitkan yang kualami di tempat ini. Dan nampaknya Teresa tahu bagaimana caranya menyakitiku.
Baiklah, tidak ada salahnya aku memasuki café ini. Kuharap selepas pertemuan kali ini, aku mampu menepis kenangan buruk di Love Hurt Café, meski sebenarnya masih samar motif apa Teresa sampai memintaku bertemu kembali.
Pada akhirnya kutemukan juga perempuan itu di salah satu meja yang berhadapan langsung ke arah taman. Teresa beranjak saat menyadari aku telah tiba di hadapannya. “Apa kabar, Shan?” ujarnya setengah ragu.
“Jauh lebih baik dari sebelumnya,” aku memaksakan seulas senyum.
“Kamu pasti terkejut kenapa aku memintamu datang?”
“Tentunya bukan untuk memintaku kembali, kan?” Teresa terdiam. Kalimatku mungkin terdengar sinis di telinganya. “So, aku boleh duduk di sini?”
“Oh iya, maaf,” ujar Teresa kikuk. “Duduklah, Shan.”
Saat aku duduk, telah terhidang secangkir green tea hangat. Aku menatap kedalaman mata perempuan itu. Rupanya dia masih ingat minuman kesukaanku. “Ada angin apa kamu memintaku untuk datang? Lalu mana Athony?” sindirku.
“Kami telah berpisah, Shan.”
Kali ini aku benar-benar termangu. Apalagi saat bulir air mata Teresa mulai berjatuhan. Membuat perasaanku merasa tidak nyaman. “Berpisah? Kenapa kalian berpisah?” lirihku.
“Dia tak mau tinggal di Jakarta. Sementara aku tak bisa tinggal di Dili. Ditambah Ibuku tidak merestui hubungan kami.”
Aku mengangguk, tak mampu berkata-kata.
“Kamu tahu? Aku bodoh telah menyia-nyiakanmu. Seandainya saja tahun lalu aku menolak tawaran pekerjaan ke negara itu. Hari ini kita sudah menjadi pasangan suami istri.”
“Semua sudah diatur oleh yang di atas. Kegagalan cinta kita bukan semata kesalahanmu, ada unsur kesalahanku juga. Kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama.”
“Shan…” jemari Teresa perlahan bergerak meraih punggung tanganku. “Tak bisakah kita mencoba sekali lagi? Kupikir kejadian kemarin adalah ujian akan cinta kita.”
Sontak aku melepaskan diri dari sentuhan jemarinya. “Maafkan aku Teresa. Aku tidak bisa. Kini aku tak memiliki rasa apapun untuk kamu.”
Teresa menganggukkan kepala. “Bodoh, seharusnya aku tahu sebelumnya jawabanmu itu. Jadi aku tidak perlu memalukan seperti ini.”
“Tidak memalukan. Kamu justru pemberani Teresa. Di saat hatiku sudah menyerah seperti ini, kamu masih memiliki energi untuk memperjuangkannya. Aku salut padamu. Tapi percayalah, akan ada pangeran yang lebih baik untukmu. Aku hanya berharap kisah ini menjadi pembelajaran bagi kita berdua.”
“Kamu tidak membenciku?”
“Tidak. Kuanggap semua impas dengan kata maaf yang kamu lontarkan hari ini.”
Teresa mencoba tersenyum. “Terima kasih Shan.”
Aku mengulum senyum. Kupikir memaaafkan adalah solusi akhir saat kita tak bisa berbuat apa-apa untuk meredam emosi. Terbukti dengan apa yang kurasakan saat ini, mendadak perasaan gundah itu hilang seketika tergantikan oleh perasaan lega.
***
Other Stories
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Testing
testing ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...