9. Teresa Kembali
Satu bulan sudah aku merajut cinta terlarang ini. Semua kegelisahan dan ketakutanku seolah menguap begitu saja. Kenyataannya aku masih aman mencintai Nadya tanpa tanda-tanda kembalinya seorang Teresa. Entahlah, mungkin perempuan itu sudah tak peduli padaku. Ia bebas berkelana ke mana pun ia mau tanpa peduli sang kekasih menanti penuh keresahan. Sementara Nadya? Aku tahu ini salah memposisikan dia sebagai orang ketiga. Saat hati masih terikat pada satu nama, meski ia meyakinkanku untuk tidak memikirkan hal itu. Dan yang paling menyakitkanku saat ia berkata siap meninggalkanku jika akhirnya Teresa kembali suatu hari nanti. Secara tak langsung aku telah menabung luka untuknya.
“Gundah yang Abang rasakan tersampaikan padaku. Bahkan hingga kini aku masih mengeja akal sehatku. Bagaimana bisa kita merangkai kisah seindah ini? Meski aku tahu takdir kita berseberangan, jangan usaikan semudah Abang datang dan pergi dari Timor Leste. Bila berkenan temui aku di halaman Gereja Motael pagi ini. Aku janji, Abang akan kubuat lebih baik setelahnya,” aku mengulas senyum di bibirku setelah membaca pesan pendek yang kenyataannya tak pendek itu. Rupanya selama ini ia merasakan kegelisahan yang kurasakan. Hati perempuan memang sangat peka, seharusnya aku menyadari itu.
Sesuai janji kami bertemu di gereja yang benama lengkap Gereja Santo Antonio Matael. Aku sempat menatap takjub pada bangunan yang pernah mengukir sejarah di tahun 1991 itu. Hingga akhirnya Nadya mendapatiku yang tengah memperhatikan patung yang berdiri megah di halaman gereja yang cukup luas itu.
“Halo, Bang? Maaf ya aku telat. Tadi kawanku mendadak dateng ke rumah.”
Aku memberi seulas senyum. “Gak apa-apa. Melihat kamu begitu cantik hari ini mengenyahkan kekesalan Abang nungguin dari setengah jam yang lalu,” rayuku. Seperti biasa Nadya hanya merespons dengan pukulan kecil ke bahuku.
Kami berjalan santai seraya menyusuri pantai yang tak jauh dari gereja itu. Untung aku memakai topi hingga cukup menaungi wajahku dari langit yang berlimpah sinar matahari itu. Sementara Nadya seolah tak peduli meski topi besar yang ia pakai tak cukup meneduhkan wajahnya yang mulai bersemu merah.
“Dari kemarin aku lihat Abang murung terus. Mungkin Abang takut suatu hari Teresa datang dan mengetahui hubungan kita?” aku tak menjawab, kubiarkan dia terus berargumen. “Mungkin sudah saatnya aku ceritakan kisah pilu yang sepertinya sudah Abang ketahui dari omongan kawan-kawanku.”
“Tentang Phillipe?” tebakku.
Perempuan itu mengangguk meski terlihat begitu samar. “Benar, Bang. Ini tentang Phillipe, kekasihku yang meninggal setahun yang lalu. Dia juga yang menjadi alasan kenapa aku bertahan di kota ini. Sebagai ungkapan perasaan bersalahku.”
“Maksud kamu?” dahiku mengerut.
“Phillipe meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan mobil. Kecelakaan itu terjadi saat aku bertengkar dengannya, membuat konsentrasinya terpecah dua. Hingga takdir merenggut nyawa Phillipe dan aku justru selamat dengan hanya menyisakan beberapa luka ringan.” Nadya berusaha tegar meski getar suaranya bisa kurasakan. “Berbulan-bulan aku dituduh sebagai pembunuh oleh keluarga Phillipe, membuatku berusaha mati-matian meyakinkan mereka bahwa aku juga menyesal dan kehilangan dia. Tapi kenyataannya mereka tak juga berubah.
Aku nggak bisa pergi dari kota ini begitu saja, seperti lari dari tanggung jawab. Hingga akhirnya kuputuskan untuk tinggal di Dili, semata tak ingin menjadi pengecut di mata keluarga Phillipe. Sebagai bentuk penyesalanku, aku merelakan diri tinggal di kota ini dan senantiasa menjenguk makam Phillipe setiap saat seolah ia masih hidup. Sungguh, Bang. Aku merasa seperti orang gila. Aku ingin melepaskan diri dari belenggu ini,” kali ini Nadya menyeka sendiri air matanya.
“Hingga akhirnya takdir mempertemukan kita berdua. Sungguh, sejak awal aku hanya melihat Abang sebagai kekasih kawanku. Tidak lebih. Namun melihat kesedihan di ujung mata Abang, membuatku sadar. Ternyata aku tak sendirian. Aku mulai ingin membagi rasa dengan Abang. Ingin berbagi kebahagiaan yang sempat terlepas. Dan pada akhirnya aku terjebak permainan ini. Aku benar-benar jatuh cinta sama Abang.”
Sungguh aku tak mampu berkata-kata. Lisanku mendadak kelu tergantikan oleh tatapan sendu tepat di kedua mata indahnya.
Perlahan kuraih tubuh mungil itu, membenamkan kepalanya di dadaku dan hingga isak tangisnya semakin menggebu. Sungguh, aku ingin membantunya melepaskan diri dari rasa sakit yang selama ini membelenggunya. Aku banyak berutang kebaikan padanya, dan aku ingin membalas dengan satu perlakuan yang sama. Mencintainya.
“Sepanjang malam aku terus mengadu pada langit, tentang rasa yang kini menggerogoti hatiku. Abang tahu? Angin malam senantiasa berhembus. Namun aku sangsi apakah ia telah menyampaikan pesan rinduku pada Phillipe? Bahkan semenjak Abang memasuki kehidupanku, aku mulai lupa bagaimana caranya merapal rindu padanya.”
Tanpa kusadari air mataku menetas tepat di rambut hitam Nadya. Aku semakin erat memeluknya seolah esok aku takkan bisa merengkuhnya sedekat ini.
***
Seperti biasanya aku selalu mengajak Nadya jalan-jalan setiap akhir pekan. Walau hanya sekedar jalan-jalan di pantai seraya menikmati ikan bakar. Seperti pagi ini. Nadya sengaja menginap di tempatku sekedar menyiapkan makanan untuk kami bawa ke pantai. Tak tanggung-tanggung ia telah melakukannya sejak dini hari tadi.
“Hm… harum sekali roti bakarnya,” gumamku seraya memeluk Nadya dari belakang. Perempuan itu malah tertawa seraya menyolek hidungku dengan tangan yang berlumur mentega.
“Nakaaal!” ujarku gemas. Sementara perempuan itu tertawa seraya mengelak saat tanganku yang dilumuri mentega mengarah pada hidungnya yang bangir.
Dalam suasana penuh canda dan tawa, tiba-tiba terdengar bel pintu. Seseorang berada di balik pintu rumahku. Siapa? Petugas hotelkah? Masih dengan tangan berlumur mentega aku meninggalkan Nadya menuju ruang depan.
Sungguh aku tak merasakan firasat apa-apa hingga saat pintu itu terbuka, napasku seolah terhenti untuk sejenak. Seorang perempuan semampai dengan rambut ikalnya yang tergerai hingga pinggang nampak memesona di hadapanku. Astaga! Teresa!
Teresa melepas kacamata hitamnya. “Shan…” lirihnya. Perempuan itu tersenyum dengan titik air mata yang tumpah perlahan. Sontak perempuan itu memelukku erat. Sementara aku membalas hal yang sama meski kutahu jemariku masih berlumur mentega.
“Kamu baik-baik aja, Sayang? Aku mencariku ke mana-mana,” aku tak ingin melepasnya. Sungguh, rasanya aku ingin meyakinkan diri bahwa perempuan yang kupeluk ini adalah nyata kekasihku. Aroma rambutnya yang sempat terlupakan kini tercium semerbak mengembalikan puing-puing kenangan yang sempat berserakan tak beraturan.
“Maaf, aku baru tahu kamu di kota ini kemarin, saat memperpanjang Visa-ku di KBRI. Mereka mengatakan tunanganku mencariku. Dan ternyata benar. Kamu nyata berada di sini buat aku,” perlahan ia melonggarkan dekapannya.
“Kamu tidak berubah, Sayang. Kamu baik-baik aja kan?” kubelai pipi kekasihku seperti yang biasa kulakukan padanya. Aku mendekap tubuh Teresa lalu memapahnya ke sofa di ruang tamu.
“Aku kecelakaan mobil enam bulan silang, Shan.”
“Apa?” ujarku terkesiap. “Jadi selama ini kamu sulit aku hubungi karena kamu tertimpa musibah. Lalu? Kamu gak apa-apa?” aku memeriksa di sekujur tubuhnya, namun tak terlihat sesuatu yang aneh di sana. Teresa terlihat sehat.
“Aku sudah pulih. Ini berkat jasa seseorang yang menolongku di tempat kejadian,” ujarnya seolah menenangkanku. “Dia yang merawatku selama ini. Aku sempat tinggal lima bulan di tempatnya karena lukaku cukup parah dan tahu aku tinggal seorang diri di Dili.”
Tuhan! Terkutuk aku telah menuduhnya macam-macam. Ternyata Teresa memendam luka seorang diri di negeri asing ini. “Lalu, di mana orang yang membantu kamu selama ini?”
“Dia ada di parkiran.”
“Loh? Suruh masuk saja. Aku ingin berterima kasih pada orang yang merawat tunanganku,” aku begegas keluar kamar dan memperhatikan pelataran parkir yang memang terlihat dari teras kamarku. Seorang lelaki berdiri di depan sebuah Toyota Hilux. “Orang itu?” tunjukku seolah meyakinkan diri.
Teresa menganggukkan kepala.
Seorang lelaki? Jadi selama ini ia tinggal dengan seorang lelaki warga asli Timor Leste? “Ya sudah, panggil dia kemari!” sekuat tenaga kuredam rasa cemburuku.
Sementara Teresa berlalu menuju pelataran parkir, aku diselimuti kegelisahan lainnya. Nadya ada di dalam! Astaga! Apa yang harus kulakukan? Aku tak ingin Teresa berpikiran macam-macam.
“Nadya…” ujarku saat menemuinya di dapur.
Perempuan itu menyunggingkan senyuman seolah tahu apa yang telah terjadi. “Aku seneng, Bang. Akhirnya Teresa pulang,” tak bisa ditutupi rona kecewa terpancar di bola matanya.
“Maafin Abang,” lirihku.
Other Stories
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...