My Love

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

7. Kembali Merindunya

Sepertinya Tuhan mengerti betapa kacaunya hidupku beberapa minggu ke belakang. Dan aku patut bersyukur Tuhan memberikan sakit yang kuderita. Setidaknya aku harus memaksa diri untuk menata ulang kehidupanku yang menyedihkan ini. Tak kupungkiri, semua begitu mudah semenjak kehadiran Nadya. Bagaimana tidak? Ia berperan seolah bagian dari keluargaku. Memasak, menyiapkan obat, bahkan membersihkan tempat tinggalku yang nyaris seperti kapal pecah.
“Apa ini, Nad?” dahiku mengerut ketika perempuan itu tiba menyodorkan beberapa buku yang sepertinya berat. “Hm… kamus bahasa Tetun?”
“Iya. Katanya Abang mau belajar bahasa Tetun,” timpal Nadya.
“Iya, tapi gak kayak gini juga kali,” aku malah menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Niat awalku untuk belajar bahasa Tetun tiba-tiba saja luruh gara-gara tumpukan buku yang menakutkan itu. “Abang cuma butuh belajar prakteknya aja. Gak perlu sampai belajar berbuku-buku kayak gini. Emangnya Abang mau bikin riset, apa?”
“Tuh kan. Malesnya kumat lagi. Ya gak apa-apa dong Bang. Sekalian mempelajari Timur Leste dan budayanya.”
Aku menatapnya dengan sedikit cemberut. “Kamu lupa ya, Abang baru aja sembuh dari sakit yang parah? Masa iya dikasih materi-materi berat kayak gini.”
“Yaelah.. berat apanya sih Bang. Don’t judge the book from the cover. Abang belum lihat kan isinya?” tantang Nadya. Perempuan itu menghampiriku dengan membawa sepiring pepaya yang telah ia potong kecil-kecil.
“Abang jadi penasaran, kenapa sih kamu tertarik banget sama negara ini?” cerocosku setelah memasukkan sepotong kecil buah pepaya ke dalam mulut.
Perempuan itu bersandar di kursi santai tepat di depan ranjangku. Sedikit menerawang ia mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaanku. “Aku pertama kali tertarik soal Timor Leste gara-gara riset skripsiku saat kuliah dulu. Pokok pembahasanku tentang hubungan bilateral antara Timor Leste dan Indonesia pasca kemerdekaan tahun 1999,” terangnya. Sejurus kemudian ia menoleh kepadaku lalu menebar senyumannya yang manis. “Gak tahunya, rasa penasaranku semakin bertambah. Tentang bagaimana Timor Leste sebagai negara baru, pandangan mereka tentang Indonesia, dan yang paling penting tentang sistem pendidikan di negeri ini.”
Aku mengerutkan dahi. Sulit kupercaya, perempuan mungil ini ingin tahu segala hal yang menurutku tak sesuai dengan karakternya. Pada akhirnya aku mengulas satu senyuman. Pertanyaan selanjutnya; “Sebelumnya kamu pernah berkelana ke tempat lain? Ke tempat-tempat terpencil di Indonesia, misalnya?” aku mencoba mencari kesamaan karakternya dengan Teresa.
Nadya mengibaskan tangan. “Nggak. Aku gak seberani Teresa yang suka sekali travelling ke berbagai daerah. Timor Leste memang sudah menjadi tujuanku sejak awal.”
“Setelah perjalanan ini terlewati, memangnya apa yang kamu dapat? Apa menurutmu ini tidak…” aku menghentikan kalimatku.
“Menghabiskan waktu sia-sia, maksud Abang?”
“Hm…” aku tak berani mengiyakan. “Kupikir lebih mudah buat perempuan seperti kamu mencari seorang lelaki dan menikah pada akhirnya,” jujur saja aku melihat sisi Teresa di dirinya. Dan sungguh, itu sedikit memuakkan. Menelantarkan orang-orang yang mencintainya hanya karena ambisi yang di luar batas.
Perempuan itu malah tertawa. “Kenapa tidak? Siapa tahu dalam perjalananku ini aku akan menemukan seseorang.”
“Orang Dili? Kamu serius mau menikah sama penduduk asli di sini?” Nadya tiba-tiba menghentikan senyumannya. Damn! Apa yang kulakukan. Sepertinya aku membuat dia tersinggung.
“Hm…” ia kembali bersikap seperti sediakala lalu meraih sepotong pepaya lagi. “Oh iya, bicara soal pernikahan. Abang mau gak temani aku ke pesta pernikahan temanku?” ujar nadya di tengah-tengah kunyahannya.
Aku menyipitkan mata. Pesta pernikahan? Kok bisa dia mengajakku? Bagaimana kalau nanti mereka mengira aku pacar Nadya? Sial! Kok malah aku yang ge-er sendiri. “Loh kok ajak Abang? Emang temanmu gak ada yang diundang?”
“Itu dia masalahnya, Bang. Mereka pergi dengan pacarnya masing-masing. Masa iya sih aku pergi sendirian?”
Masa iya sih pergi sama aku? batinku berbalik tanya. Sesuatu di dalam hatiku bersemu merah.
“Gak apa-apa dong Bang pura-pura jadi pasanganku sebentar. Ini kesempatan buat praktekin bahasa Tetun Abang di depan teman-teman.”
“Ah, alasan. Yang ada kamu mau malu-maluin Abang,” candaku.
“Ih, Abang. Aku serius!” perempuan itu malah menggelitik pinggangku yang diikuti oleh gelak tawa yang tak bisa kutahan lagi. Dalam sekejap aku melupakan sakitku. Sungguh. Lagi-lagi kulalui hari berbeda dengannya.
***
Seperti saran Nadya, aku membawa serta kamus bahasa Tetun ke mana pun setiap kali bepergian. Termasuk shopping ke Timor Plaza—sepertinya berguna karena akan ada banyak warga asli yang bercuap-cuap bahasa Tetun sekedar mempromosikan barang mereka. Sebenarnya tujuanku kali ini hanya sekedar berbelanja pakaian untuk kukenakan saat pesta pernikahan kawan Nadya, karena tak ada satupun pakaian yang cocok di dalam koperku. Nadya sempat membujukku untuk ikut menemani. Tapi tidaklah… aku tahu setiap wanita pasti selalu memonopoli pasangannya setiap kali membeli barang yang berbau fashion. Tapi, Nadya kan bukan pasanganmu? Pertanyaan itu menggelitik kepalaku. Ya, anggap saja seperti itu, bantahku di satu sisi.
Aku melangkah nyaman di pusat perbelanjaan yang tergolong sepi ini. Menyenangkan juga, bahkan aku bisa bersantai di toko buku atau melepas lelah di salah satu gerai coffee shop yang tersedia.
Kopi? sudah lama aku tak menghirup aroma Teresa—aroma kopi. Bahkan intensitasku memutar lagu kesukaannya semakin berkurang. Namun sungguh, rinduku padanya tak pernah hilang begitu saja.
Merindumu bagaikan karang cadas di tepi lautan. Tak surut meski hantaman ombak mencoba meluruhkannya.
Di luar kuasa, kakiku berbelok dari arah gerai brand fashion ternama di hadapanku. Ternyata kerinduanku mulai menggeliat lagi, dan aku membutuhkan penangkalnya. Seperti terhipnotis, kaki ini menapaki sebuah café berbahasa Portugis. Dan aku semakin merasakan nuansa negara itu melalui hidangan yang kubaca di daftar menu. Tapi, aku sedang tak ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Yang kupesan hanya sebuah kopi standar, khususnya kopi favorit Teresa—Cappucino.
Tuhan, kenapa tiba-tiba aku mengingatnya? Apakah ini pertanda aku telah berada di ujung penantian? Kembali kumainkan MP3 di ponselku. Sudah terlalu lama aku meninggalkan lagu kesukaannya.
I will love you tonight, and I will stay by your side.
Seperti malam itu, saat kutunaikan tugasku melamarnya. Teresa menepati janjinya membuat makan malam privasi. Hanya aku, dia, dan Belle—anjing betina peliharaan Teresa. Kami bersama-sama memasak Steak Sirloin yang ia dapati resepnya di sebuah blog memasak. Sungguh, seorang Teresa memasak? Ini berita baru. Meski pada akhirnya aku sudah bisa menduga. Tak apa-apa. Aku sukarela menikmati daging gosong itu berdua dengan Belle.
Loving you, I’m feelin’ midnight blue
Kemesraan masih berlanjut, saat ia menyeduh kopi kesayangannya, tanpa melupakan aku si pecinta teh. Ia malah terlihat hebat saat meracik beberapa biji kopi dengan mesin pembuat kopi layaknya seorang barista profesional. She look sexy. Apalagi saat ia mulai menikmati minuman olahannya di hadapanku. Mengaduk-aduk pelan cairan pekat itu dengan sendok stainles, lalu mengangkat lebih tinggi cangkir berukir dedaunan itu, hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidungnya. Dan ia menghirupnya dengan penuh perasaan.
Bayangan Teresa seperti perempuan yang kuamati di beberapa meja di hadapanku. Caranya menyentuh cangkir itu, dan pilihannya mencicipi sepotong pastry berbahan dasar cokelat pekat yang meleleh. Persis sama seperti kebiasaan Teresa setiap kali bersantai di coffee shop. Satu paket yang tak boleh lepas—kopi dan cake cokelat.
Atau jangan-jangan, ia memang kekasihku? Sisi batinku menggoda. Sementara aku malah meringis hingga tak menyadari lagu kesukaan Teresa berakhir. Tanpa sadar kupertimbangkan lagi apa yang baru saja melintas di kepala. Teresa? Perempuan itu Teresa? Berambut ikal panjang sepinggang, kulit kuning langsat, sepasang bola mata yang dinaungi alis tebal, dan tahi lalat di sudut bibirnya yang membuatku yakin dia seorang Teresa. Sontak aku bangkit dari kursi. Bisa jadi ia kekasihku! Namun perempuan itu telah berlalu seiring lamunanku berakhir.
Aku tergesa-gesa di antara gerombolan manusia. Pandanganku tak henti-hentinya mengedar ke segala arah. Sial! Bagaimana bisa mal ini mendadak ramai? Bagaimanapun perempuan itu harus kutemukan. Tak peduli tubuhku semakin terhimpit di antara ratusan manusia yang tengah menonton acara fashion show di sebuah departemen store terkemuka.
Dia pasti ada di belakang stage itu. Bagian dalam mal memang nyaris tertutup oleh panggung besar acara fashion show tersebut. Kutelusuri lebih jauh, dari satu counter ke counter lain. Dan sulit kupercaya. Perempuan itu serupa hantu! Hanya nampak saat kita tak menyadarinya.
Ponsel di saku kanan berbunyi. Dengan enggan aku menerima tanpa peduli siapa gerangan yang menghubungiku.
“Ya?”
“Udah dapet bajunya, Bang?” suara Nadya tak kuindahkan seperti biasanya.
“Nad… Abang melihat Teresa,” ujarku putus asa.
“Teresa? Di mana Bang? Bagaimana keadaannya? Di ba…” Nadya malah lebih berantusias.
“Abang malah kehilangan dia lagi,” kupotong kalimatnya.
“Maksud Abang apa? Aku nggak ngerti,” lirihnya.
Jangankan kamu, Nad. Aban gpun tak mengerti.
***
Aku kembali ke hotel tanpa membeli apapun. Semangatku terenggut karena peristiwa itu. Ini kejam sekali. Selama ini aku hanya mampu menemukan dia saat mataku tertutup. Tapi kenapa saat ia tepat di depan mata, aku malah sibuk mencarinya dalam bayangan semu?
Baiklah, setidaknya aku menemukan petunjuk yang lain; Teresa tak jauh dari pusat Kota Dili! Aku harus mencari informasi di mana pekerjaannya setelah kontraknya berakhir dengan organisasi itu.
“Bang? Abang gak kenapa-kenapa?” Nadya yang khawatir akan keadaanku telah datang beberapa menit saat aku kembali.
Sesaat aku tersadar dari lamunan lalu mengulum senyum seolah semua memang baik-baik saja. “Takdir sepertinya sedang mempermainkan Abang,” lirihku.
“Abang gak boleh ngomong kayak gitu. Semua telah direncanakan sama yang di atas. Kita hanya bisa berusaha. Percaya Aku, Bang. Semua akan indah pada waktunya.”
Aku hanya memperhatikan jemari halusnya yang membelai lenganku, lalu menyunggingkan bibir. “Maaf, Abang gak jadi beli baju.”
“Pakai yang ada aja, Bang. Seseorang tampak keren itu bukan dari apa yang dia pakai, tapi siapa yang memakai. Dan Abang selalu keren, walau cuma pake kemeja hijau yang sering dipake buat kerja,” aku tergelak gara-gara ocehan perempuan manja ini.

Other Stories
Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Download Titik & Koma