My Love

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

4. Nadya, Bukan Teresa

Satu minggu sudah aku menghirup aroma Timor Lorosae. Kesibukanku di lokasi proyek membuat waktu berlalu begitu cepat. Hingga pada akhirnya teringat sesuatu; KBRI belum juga menghubungiku. Aku mulai gelisah sendiri. Apa sebaiknya aku kembali ke sana? Tapi sungguh, waktu seolah menjeratku untuk selalu berada di satu tempat; kantorku. Baiklah, sebaiknya kutunggu beberapa hari lagi. Masa iya KBRI tidak bisa menemukan Teresa?
Penat, sungguh. Ketika seminggu penuh kuhabiskan waktu di kantor ini. Aku seolah tak memiliki aktivitas lain yang bisa membuat kepala ini lebih santai untuk sejenak. Kadang saat pulang bekerja aku hanya melamun di teras hotel, atau sesekali minum di bar yang tidak jauh dari kawasan Avenida de Portugal. Tapi tetap, aku tak mendapatkan feel yang kuinginkan. Dili tidak segemerlap Jakarta. Saat malam menjelang, kota ini menjadi senyap seketika. Hanya di beberapa titik tertentu di mana keramaian masih terasa, Pantai Kelapa misalnya.
Aku masih berbaring di atas ranjang menatap langit-langit. Entahlah, mataku masih enggan terpejam. Padahal jelas-jelas besok aku harus bangun lebih pagi dari biasanya, menghadiri meeting dengan direksi yang pastinya akan menguras tenaga dan pikiran. Kuputar ulang lagu Midnight Blue untuk yang kesekian kali. Berharap segera mengantarkanku ke alam mimpi.
Tapi… ahh! Jengkel sendiri. Kulepas earphone, lalu menutup kepala dengan bantal erat-erat, membuatku kehabisan napas pada akhirnya. Ujung-ujungnya kuraih ponsel. Bukan untuk memainkan MP3, tapi sekedar browsing internet berharap mataku akan terlelap sendirinya. Kusadari ada satu miscalled di sana.
One Miscalled: Clara Nadya
Nadya? Ada apa dia telepon tengah malam? Jangan-jangan dia punya berita soal Teresa, batinku. Sial! Kenapa ponsel ku-setting silence?
Apa sebaiknya aku telepon balik? Tapi ini jam satu malam. Dikiranya mau apa aku telepon dia selarut ini. Relakah aku menunggu? Memelihara kegelisahan ini hingga pagi menjelang?
“Malam, Nadya. Tadi kamu telepon Abang ya? Maaf, HP Abang di silence. Jadi gak kedengeran.”
Send! Akhirnya kuputuskan mengirim pesan pendek.
Tak lama kemudian, lampu ponselku berpendar. Aha, Nadya masih terjaga rupanya. “Halo?” ujarku.
“Malam, Bang. Belum tidur?”
“Belum. Abang susah tidur. Oh iya, tadi kamu telepon mau kasih kabar soal Teresa ya?” tebakku.
“Iya, ini soal Teresa. Maafin aku, Bang. Aku udah tanya ke temen yang lain. Mereka juga gak tau keberadaan Teresa.”
Kuhela napas panjang. Lagi-lagi harapanku pupus. “Makasih ya, Nad. Setidaknya kamu udah bantu Abang,” aku berusaha bersuara tegar, tak mau membuatnya merasa bersalah.
“Sekarang apa rencana Abang?”
“Paling nunggu kabar dari KBRI beberapa hari lagi. Kalau mereka belum juga hubungi, Abang bakal balik lagi ke sana.”
“Aku temani ya, Bang.”
“Ok.”
“…” Hening sejenak. Entah kalimat apa yang ingin kuucapkan. Aku tidak pandai memulai percakapan dengan seseorang—terlebih dengan perempuan.
“Bang, besok makan siang bareng yuk?”
Aku tertawa. “Makan? Emang kamu mau ajak Abang makan di mana?”
Tawa renyahnya seolah membalas rayuanku. “Pokoknya surprise deh. Yakin, abis itu Abang gak akan nyesel pernah tugas di Dili.”
“Hm… sound interesting,” komentarku.
Percakapan berlanjut tanpa kutahu kapan persisnya kami mengakhiri sambungan telepon. Yang pasti, kusadari ponselku tergeletak tak berdaya di bawah ranjang. Tepat saat alarm berbunyi jam lima pagi. Nadya berhasil membuatku tertidur.
***
Puji Tuhan, akhirnya perusahaan menyadari kesulitanku bertransportasi di kota ini. Mereka meminjamkan satu unit mobil operasional. Honda Civic keluaran tahun 80-an. Sudahlah, aku tak mau bahas kenapa mereka tega memberiku mobil jadul ini. Yang penting mesinnya masih bagus dan aku tak perlu keluar banyak uang untuk biaya taksi.
Ada dua agenda penting hari ini. Pertama, meeting dengan direksi yang telah berakhir dengan sukses barusan. Kedua, makan siang bersama Nadya. Aku tertegun untuk sesaat. Kenapa makan siang dengan perempuan itu kuanggap sesuatu yang spesial? Kugelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran konyol barusan. Bukan, maksudnya aku senang ada teman sebangsa di Kota Dili. Aku bisa berbahasa Indonesia dengan leluasa, sisi lain dari diriku mencoba untuk menyanggahnya.
Honda Civic-ku akhirnya tiba juga di tempat janjian yang telah kami sepakati—tepatnya di waterfront Kota Dili, Largo de Lacidere. Syukurlah aku tidak terlambat. Jarum jam tepat berada di angka 12 saat kendaraanku berhenti di hadapan Nadya. “Halo, Nad. Lama nunggunya?” ujarku sesaat setelah keluar dari mobil. Perempuan itu terlihat menawan dengan rambut dibiarkan terurai, melambai indah oleh hembusan angin dari pantai. Pakaian resmi berupa blazer berwarna abu-abu dan rok selututnya lantas tak membuatnya terlihat seperti ibu-ibu. Dia tetaplah gadis manja seperti yang kulihat kemarin.
“Gak kok, Bang. Aku baru aja tiba.”
“Syukurlah kalo gitu. So? Kita mau makan di mana? Abang laper nih. Tadi pagi belum sempat sarapan,” ujarku seraya mengelus perut sendiri.
Nadya tersenyum geli melihat tingkahku. “Kita ke restoran dekat Campo Democracia, yuk?”
Ah, lagi-lagi daerah yang tak kukenal, batinku. Aku mengulum senyum, tak lama menganggukan kepala, menyetujui idenya. Tanpa banyak bicara Nadya menyambar pintu mobil lalu duduk di sebelahku. “Kamu tunjukin arah jalan ya? Abang gak tau di mana tempatnya?” ujarku seraya memasang sabuk pengaman.
Campo Democracia menyerupai tanah lapang. Saat masih bergabung dengan Indonesia, tempat ini bernama Lapangan Pramuka. Mungkin dulunya tempat kegiatan kemah anak pramuka, entahlah…
Kami akhirnya memasuki restoran yang dimaksud Nadya. Bukan restoran istimewa. Hanya serupa rumah makan yang bersih dan nyaman. Tentunya semua itu menjadi lain saat Nadya memesankan menu khas Timor Leste, Batar Daan. Ajaib! Nadya seolah bisa membaca pikiranku. Dari kemarin Carlos mengoceh soal makanan ini, dan dia sama sekali tidak bertanggung jawab ketika aku mulai penasaran seperti apa rasanya.
Batar Daan. Makanan itu serupa jagung dengan campuran daging sapi, kacang tanah, sayur mayur dan belimbing, lalu disajikan dengan nasi. Entahlah apa cocok dengan lidahku yang tipe orang Jakarta. Satu sendok kumasukkan ke dalam mulut. Hm... enak. Tidak jauh beda dengan makanan Indonesia.
“Suka?”
“Hm…” kuanggukkan kepala seraya melanjutkan suapan selanjutnya. Dan aku tahu Nadya menertawakan tingkahku.
“Kalo Abang mau, aku bisa kok masakin buat Abang,” Baru kali ini kepalaku menegak, menatap lurus kedua matanya. Dan Nadya dengan bodohnya masih tersenyum, seolah kalimatnya tidak berefek padaku.
Akhirnya kubalas dengan derai tawa. “Abang pegang janjimu,” ancamku main-main. Saat itu juga jari kelingkingnya bergerak lalu mengaitkannya di jari kelingkingku.
“Aku bukan tipe pembohong,” Nadya mengedipkan kedua matanya.
Ya Tuhan! apa-apaan ini? Debaran jantungku berdetak tidak karuan. Entah ada apa dengan Nadya. Atau perasaanku saja yang berlebihan. Tidak, tidak seperti itu! Aku menyanggah tuduhanku sendiri. Nadya tahu dengan pasti, aku adalah calon suami Teresa. Tidak mungkin dia menusuk sahabatnya sendiri dari belakang. Sial, makan siang barusan sungguh membuatku tidak tenang. Harus kubentangkan jarak di antara kami. Sebelum terlambat dan merusak semuanya, janji pada diri sendiri.
***
Sabtu sore. Padahal baru kemarin aku jalan-jalan menikmati semilir angin di pantai sepanjang jalan Avenida da Portugal. Kini aku kembali di tempat yang sama dengan suasana yang berbeda. Kalau kemarin aku ditemani Carlos dengan segala cuap-cuapnya yang tidak penting. Kini aku dengan nyaman bisa menikmati indahnya pantai seraya bersepeda santai. Sengaja kusewa sepeda, karena tergiur melihat pasangan muda-mudi yang asyik gowes santai dengan earphone menghiasi telinganya. Yang pasti aku suka setiap kali melewati gedung-gedung pemerintahan yang berdiri megah di sisi kanan jalan, seperti Ministério dos Negócios Estrangeiros RDTL (Republic Democratic Timor Leste) atau gedung kementerian luar negeri. Bahkan aku bisa melihat mercusuar yang dari kejauhan terlihat menaranya berwarna putih dengan atap kehijauan.
Ponselku mendadak berbunyi. Kutepikan sejenak sepeda di sebuah warung tradisional. Dan benar tebakanku. Carlos sepertinya tahu waktu yang tepat untuk menggangguku.
“Ya. Ada apa Carlos?” ujarku seraya memasuki warung tersebut. Di sela-sela perbincangan kami, aku menyempatkan memesan roti Pa’un[1] dan segelas es teh manis. “Hm… Kamu gak bisa ikut meeting? Terus gimana dong? Aku gak tahu lokasi meeting-nya.” Perasaanku mulai gelisah. “Dikasih petunjuk sama pegawaimu? Waduh, emang aku ngerti bahasa Tetun? Di kantor aku cuma bisa komunikasi sama kamu aja.” Aku masih gelisah mendengar pemaparannya. “Ya sudahlah, mau gimana lagi. Paling besok aku minta dibuatin peta aja sama anak-anak Timor Development.”
Jengkel sekali. Bagaimana bisa lelaki sial itu menelantarkanku? Cuma karena ada urusan keluarga dia memutuskan aku untuk pergi sendiri menemui rekan kerja kami di daerah Manatuto. Gila! Daerah mana pula itu? Kuabaikan sarannya untuk meminta tolong ke staf Timor Development. Aku kesulitan dengan bahasa mereka. Lalu siapa yang bisa kuminta tolong?
Clara Nadya. Nama itu hinggap di kepalaku saat angin berhembus lembut membelai wajahku. Nadya? Oh, not anymore! Aku sudah janji untuk menjauh dari perempuan itu. Lalu, kalau bukan dia, siapa coba? Kuusap wajahku perlahan, bingung dengan dilema ini. Bukankah besok hari Minggu? Nadya pasti senang membantu, lagi-lagi batinku bicara.
Sejenak kuperhatikan ponsel yang tergeletak di meja. Jemariku mulai bereaksi, gatal ingin meraihnya lalu menyambungkannya ke nomor ponsel Nadya. “Ahh... tidak usah!” gumamku. Tapi tak lama, ujung mataku menangkap lagi bayangan ponsel. Baiklah, mungkin ini yang terakhir kutemui dia. Aku menyambar gadget itu tanpa berpikir macam-macam lagi.
***
Pukul tujuh pagi aku sudah bersiap-siap di kamar, mulai terbiasa dengan nyanyian tetangga sebelah yang selalu memainkan lagu berbahasa Tetun. Bahkan aku bisa menyanyikannya sedikit-sedikit.
Festa ohin kalan, Ai rame tebes duni
Noi keta fila lai,Noi O keta fila lai…
Haman O nia an, Hamrik ba hodi dansa
Ai dansa aperta lai, Noi O dansa aperta lai..[2]
Kugerakkan badanku tanpa malu-malu seraya menyisir rambut di depan cermin besar. Hari ini aku akan melewati waktu seharian dengan Nadya. Dan jujur saja ada perasaan senang dan gelisah berkecamuk di hati. Senang, karena bisa kumanfaatkan untuk rekreasi—Nadya pasti tahu situs menarik di Kota Dili dan sekitarnya. Lalu bagaimana dengan gelisah? I don’t know. Yang pasti sejak gelagatnya kemarin, perasaanku mengatakan ada yang salah padanya. Is she crush on me? Ingin rasanya kubenturkan kepala ini keras-keras. It’s enough! Aku gak seganteng itu, sampai-sampai semua cewek kuanggap naksir padaku. Stupid! Kali ini aku benar-benar memukul kepalaku sendiri dengan sisir yang kugenggam.
Bel berbunyi. Siapa pula ini? Karyawan hotelkah? Masih bertelanjang dada aku bergerak mendekati pintu, lalu membukanya perlahan. Guess what? Aku tertegun saat sadar siapa gerangan yang membunyikan bel pintu. “Nadya?” lirihku. Perempuan itu malah tersenyum manis saat aku dengan bodohnya berdiri bertelanjang dada. Ya Tuhan! Spontan kututup lagi pintu.
“Hei! Bang? Kok ditutup?” serunya dari luar.
“Iya sebentar. Abang pake baju dulu,” Sial! sial! Seribu kali sial! Tahu dari mana sih Nadya tempat tinggalku? Selang beberapa menit aku membuka kembali pintu dengan keadaan yang lebih layak untuk dilihat. “Maaf ya, Abang kira kita ketemu nanti di Largo de Lacidere.”
“Gak sabar, Bang. Aku gak suka nunggu orang. Makanya mending dateng langsung ke tempat Abang,” terang Nadya.
“Loh emang kamu tahu dari mana Abang tinggal di sini?”
“Ihh… Abang pelupa deh. Waktu nongkrong di Largo kan Abang bilang tinggal di Hotel Dili, nomor kamar 13.”
Benarkah? Kok aku bisa lupa ya? Batinku seraya menilik raut wajahnya. Tak lama senyumku berkembang. Baguslah, dia memiliki ingatan yang lebih kuat dariku—persis seperti Teresa. Aku kembali bersikap normal saat nama kekasihku menyelinap di antara kami.
“Hm… Ok,” ujarku. “Sebentar Abang ambil kunci mobil dulu ya?” dan aku berlalu menuju kamar.
“Bang, tinggal di hotel tiga bulan apa gak boros tuh?” Nadya berkoar dari ruang tamu.
“Mahal sih, tapi kan dibayarin kantor,” tidak kalah keras suaraku menimpalinya. Dan dalam beberapa menit aku telah kembali dengan jaket executive tersampir di bahu. “Ayo, kita berangkat.”
“Ayo, Bang.”
Kuhela napas panjang. Pada akhirnya aku mendapatkan seseorang. Seseorang yang seharusnya ditemukan orang lain. Bagaimana harus kujelaskan kelak? Kenyataannya Tuhan yang mengatur skenario ini, membuat kami semakin dekat dalam hitungan hari. Bukan Teresa, kekasih yang seharusnya kucari lalu segera membawanya pulang ke tanah air.
[1] Roti khas Timor Timur
[2] Lagu daerah Timor Timur “Dansa Aperta”

Other Stories
Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Download Titik & Koma