My Love

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

2. Persembahan Alam Atas Doaku

Aroma Espresso Macchiato yang khas mengepul di atas cangkir berukir motif bunga. Untuk ke sekian kali kami singgah ke café ini demi menikmati secangkir aroma kopi. Setelah sekian lama berjalan hilir mudik di Plaza Indonesia, kini Teresa bisa merebahkan tubuhnya sejenak di kursi empuk ini. Aku yang terdiam menatap pesona kekasihku seolah tersekat kata. Tak mampu bersuara—hanya memperhatikan gesturnya yang begitu anggun seraya memainkan sendok di dalam cangkir.
Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” tatapan Teresa masih terfokus pada cangkirnya.
“Soal?” kuperbaiki posisi duduk. Seolah merayu, kudekatkan wajahku padanya. “Soal pernikahan kita?”
Sekejap kekasihku mendongak. Dia menatapku penuh keraguan. Ada raut gelisah di balik wajah jelita itu. “Iya…” Kembali dia menyembunyikan wajahnya. “Apa kamu bersedia mengundur waktu perkawinan kita?”
Jujur, aku merasa tidak tenang saat dia mengatakan itu. Entah apa yang ada di benaknya hingga berniat mengundur perkawinan kami. Debaran jantung ini berdetak keras memompa emosi hingga peluh membasahi kedua tanganku. “Kenapa?” lirihku.
“Kamu masih ingat tentang tes pekerjaan di Timor Leste?”
Ya. Sekitar enam bulan lalu Teresa pernah memintaku untuk dibuatkan surat lamaran pekerjaan ke departemen luar negeri untuk menjadi guru di Timor Leste. Pada awalnya aku hanya berpikir pendek, dan mengiyakan apa maunya. Dalam benakku, ide gilanya itu pasti surut terbuai oleh rencana pernikahan kami. Tapi sungguh, aku tak menyangka. Mereka malah memanggilnya setelah serangkaian tes yang Teresa ikuti tiga bulan yang lalu.
“Mereka memanggilmu?” tebakku.
Teresa menganggukkan wajahnya. “Kamu tahu aku sangat menginginkan ini.”
Prang! Entah bagaimana lenganku beradu dengan cangkir di depanku. Menciptakan keriuhan yang membuat puluhan mata tertuju pada kami.
Hingga kru café itu membereskan lempengan beling di meja kami. Aku memilih bungkam. Tak tahu tepatnya reaksi apa yang harus kuberikan. Kecewa? Jelas aku tak bisa menafikan rasa itu. Betapa egoisnya kekasihku hingga mengabaikan cinta kami. Cinta yang hampir direstui Tuhan beberapa minggu lagi.
“Kamu marah? Aku bisa saja membatalkan rencana ini kalau kamu melarangku.”
Bagus. Satu kalimat ajaib yang bisa memutar keadaan. Seolah aku menjadi si jahat yang merampas impian kekasihnya. “Kamu sungguh menyakiti aku, Sayang.” kuhela napas panjang. Mencoba menyusun kata apa yang harus kusampaikan. “Coba kamu bayangkan bagaimana reaksi orang-orang saat tahu perkawinan kita diundur? Di mana kutaruh muka ini? Apa yang harus kukatakan pada Ayah dan Ibu?”
“Aku tahu ini pasti menyulitkan. Sepertimu, akupun ingin segera menikah. Tapi sekali ini saja. Kurasa ini adalah perjalanan terakhirku. Kelak aku tak akan pernah melakukan perjalanan lagi.”
“Kamu kejam, Teresa,” lirihku.
Waktu akhirnya menjawab semua resah itu. Seiring restu dariku kubiarkan Teresa mengarungi petualangannya di Timor Lorosae. Kusadari kecintaannya berpetualang ke berbagai daerah menambah kesan tertentu dari gadis bernama Mariana Teresa. Hal yang membuatnya berbeda dari gadis manapun.
Semua akan baik-baik saja. Selama kau tetap menggenggam cinta kita.
***
“Satu tahun lebih Teresa belum juga kembali, Shan,” kalimat Ibu seolah menggambarkan kekecewaannya padaku. “Kamu gak coba cari informasi?” obrolan yang sama setiap kali kami berada di meja makan.
Entah jawaban apa yang kuberikan. Ibu tahu pasti aku telah melakukan semuanya. Mencari tahu di organisasi yang memberangkatkan Teresa, mengirim email dan menghubungi semua kawan-kawannya yang ikut serta dengan program itu. Hasilnya nihil.
“Tenang aja, Bu. Bukannya enam bulan yang lalu Teresa sempat kirim email? Dia akan terlambat pulang dari jadwal yang ditetapkan,” Ayah mewakiliku menjawab pertanyaan Ibu.
“Tapi ini terlalu lama, Pak!” gertak Ibu. “Ibu gak suka kamu kayak dipermainkan seperti ini. Kalau sampai terjadi, lebih baik gagalkan perkawinan kalian!” tunjuk beliau padaku.
Kuhempaskan sendok dan garpu tepat di atas piring yang masih utuh. Tidak ada jalan selain bergegas pergi dari hadapan mereka. “Aku berangkat!” ketusku tanpa niat mencium jemari Ayah dan Ibu seperti biasanya.
“Shandi!!” teriak Ibu. Kututup telingaku lekat-lekat. Dan seperti biasa Ibu sepertinya tidak mau kalah, beliau membuntutiku hingga ke teras rumah. “Kapan kamu pulang? Kita harus bicarakan ini sama keluarga Teresa.”
Bruuuuummmm!!!! Kutarik gas sekencang mungkin hingga tak terdengar ocehan Ibu. Dan Audi metalikku melaju kencang menembus semua kegalauan di rumah itu. Hingga suara Ibu tak kudengar lagi.
***
Aku mengetuk-ngetuk ujung bolpoint di atas meja kerjaku. Semakin hari kepalaku dipenuhi oleh ribuan mulut yang seolah meminta penjelasan tentang hubungan aku dan Teresa. Pasca pertengkaran beberapa hari yang lalu, aku belum mengunjungi rumah orang tuaku lagi. Dan sialnya lagi, kali ini giliran Ibunda Teresa yang seolah belum puas menganggu ketenanganku. Tante Monica, Ibunda Teresa mengajakku bertemu. Aku tahu, keresahannya mungkin lebih besar dariku. Ia tidak tahu nasib anak perempuan satu-satunya yang kini berkeliaran tidak jelas di luar sana. Tapi sungguh, kepalaku penat memikirkan hal yang itu-itu saja.
Seseorang membuka pintu ruanganku. “Shan, dipanggil Pak Andre,” tutur salah seorang rekan kerjaku.
Apa lagi ini? Aku mengusap wajahku. Beberapa hari ini kondisi di Magellan Realty—perusahaan tempat aku bekerja—memang kacau balau. Beberapa rekan kerjaku mendapat surat peringatan karena kinerja yang semakin memburuk. Kuakui, akupun merasa demikian. Rasanya semua target yang kuciptakan melayang begitu saja.
“Masuk, Shan,” ujar Pak Andre sesaat setelah aku mengetuk pintu.
Lelaki tambun itu masih terlihat gagah dengan umur yang hampir mendekati 50 tahun. “Duduklah, ada yang ingin saya sampaikan,” aku menuruti perintahnya. “Apa kabar Teresa?”
Tuhan, bahkan bosku sendiri menanyakan perempuan itu. “Baik, Pak. Teresa masih ada di Dili.”
“Sebetulnya saya tidak mau ikut campur. Tapi entah kenapa saya melihat kinerjamu berantakan beberapa bulan ini. Padahal kamu adalah salah satu arsitek yang saya banggakan di Magellan realty.”
“Maafkan saya, Pak.” entah apa yang ingin kusanggah. Karena kuakui semua kalimatnya.
“Desas-desus yang saya dengar di kantor ini kalau kamu kesulitan menghubungi Teresa. Apa itu penyebabnya? Bahkan saya lihat absensimu beberapa bulan ke belakang. Kamu sering izin tidak masuk kerja.”
“…” Hening. Aku sudah kehabisan kata-kata.
Lelaki itu memperbaiki posisi duduknya. “Begini. Saya tidak bisa begitu saja menghukummu. Karena jujur saja. Kamu salah satu karyawan kesukaan saya. Entah apa jadinya perusahaan kita kalau kamu tidak ikut andil di sini,” Pak Andre terdiam sejenak. Memperhatikan raut wajahku. Dan itu sangat mengganggu. “Magellan Realty mendapat tawaran kerja sama dengan perusahaan konstruksi di Dili, namanya Timor Development. Mereka ingin membangun sebuah perumahan rakyat yang tentunya membutuhkan seorang arsitek handal untuk menanganinya.” Dili? Aku terhentak saat beliau menyebut kota itu. “Bersedia?”
Hah? Apa maksudnya? “Bapak meminta saya untuk mewakili Magellan Realty di proyek kerja sama tersebut?” tebakku.
“Tentu saja. Saya pikir cuma kamu yang layak dan mampu. Apalagi saya tahu calon istrimu ada di kota itu. Jadi, pas bukan tawaran saya?”
Sekejap gamang terasa. Seolah tak yakin dengan tawaran yang beliau sampaikan padaku. Ya Tuhan! Berkah apa yang Kau limpahkan padaku. Dili menjadi objek hebat dalam benakku. Aku tak boleh menyia-nyiakan ini. Dili dan Teresa. Aku akan merengkuh mereka!
Alam mendengar desah doaku. Ketika mentari menyampaikan ribuan berita baik. Berkat Tuhan yang tak tersangsikan. Menyongsong fajar di Timor Lorosae, dalam belantara keterasingan—surga milik-Nya.
***
Anganku melayang mengikuti jejak wanita yang kucinta. Sejak beberapa saat yang lalu, kepercayaan diriku kembali terbangun seiring mimpi yang hampir tersambut nyata. Aku akan menjemputnya! Raga kekasihku tak lama lagi pasti kurengkuh, meluapkan semua debaran rindu yang semakin membuncah. Lalu akan kuceritakan semua deritaku melewati ribuan malam tanpanya. Cintaku, apa kabarmu?
“Shan…” aku terkesiap. Tante Monica membelai bahuku lembut. Kulihat rona kesedihan terpancar di kedua matanya. Mungkin beliau memendam malu pada keluargaku karena tingkah anak gadisnya. Tapi sungguh, aku tak pernah menyalahkan beliau. Karena kusadari luka hatinya jauh lebih dalam dari yang kurasakan.
Aku mengulum senyum, mencoba membuatnya senang. Perlahan kuraih tangkai cangkir keramik bermotif dedaunan itu. “Ada yang ingin aku ceritakan ke Tante,” lirihku sesaat setelah menyesap teh hangat yang dicampur sedikit madu. “Aku akan terbang ke Dili.”
“Shandi… “ perempuan itu terperangah. “Kamu tidak perlu menyusul Teresa. Dia pasti pulang sebentar lagi. Tante tidak mau sampai mengganggu pekerjaanmu,” dari nada suara itu aku bisa rasakan gemuruh kegelisahannya. “Kamu jangan bikin Tante merasa bersalah. Apa yang harus Tante katakan ke orang tuamu nanti.”
Kuraih jemari tangannya. Tergenggam mantap sekokoh hatiku. “Tante gak usah khawatir. Aku pergi ke Dili untuk urusan pekerjaan. Tuhan mendengarkan doaku, Tan, memudahkan aku untuk kembali menemukan Teresa.”
Derai air mata tak tertahankan dari sudut mata beliau. Dalam dekapan hangatnya kurasakan sebuah kedamaian yang selama ini kurindukan. Dua orang yang selama ini menanggung derita kehilangan Teresa.
***
Seperti yang kuperkirakan. Ibu seolah tak mendukung keberangkatanku ke Timor Leste. Kusesali sikap beliau yang nyaris membuatku seperti anak durhaka. Sungguh, akan kutempuh jalan apapun jika itu membuatku bisa menemukan Teresa. Dan Ibu tak mau memahaminya.
“Apa yang kamu harapkan dari perempuan yang tak menganggapmu?” sindir Ibu. “Ibu sungguh kecewa sama kamu. Tapi, ya sudahlah. Kamu pergi sajalah. Jangan salahkan Ibu kelak kamu dapat kekecewaan yang lain,” dalam sekejap bayangannya menghilang dari pelupuk mata. Menyisakan rasa sakit di hatiku. Perlahan aku memalingkan wajah pada ayah. Kali ini beliau tersenyum hangat mencoba meredakan gemuruh keras batinku.
“Kamu jangan khawatirkan Ibumu. Dia hanya tak mau melihatmu terus dirundung kecewa. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah segera jemput Teresa, lalu buktikan pada Ibumu bahwa kamu baik-baik saja,” jemari kasarnya membelai pipiku. Dan aku kembali tenang dibuatnya.
***
Manik bintang malam ini temani aku dalam derai tawa. Aku tercandu aroma bahagia bersama ketiga sahabatku—mereka yang selalu ada dalam lingkaran hidupku. Entahlah perlahan kebahagiaanku merambat pada yang lain. Riza akhirnya memutuskan untuk menikah. Mengkhianati perjanjian yang telah tersepakati—bahwa akulah orang pertama di antara mereka yang seharusnya melepas masa lajang terlebih dahulu.
“Gue harap lo gak terpaksa kawin cuma gara-gara desakan orang tua Nita,” aku menepuk bahu sahabatku.
“Awalnya sih memang begitu. Tapi entahlah, tiba-tiba gue mikir. Untuk apa ditunda? Bisa-bisa dia ikutin jejak si Teresa. Kabur gak jelas,” tawa Riza membahana diikuti oleh dua sahabatku lainnya, menyisakan senyuman kecut yang nampak di wajahku.
I will love you tonight.
And I will stay by your side
lovin\' you…
I\'m feelin\' midnight blue.
Lindap terdengar lirik lagu itu khayalku. Membayangkan cerita cinta indah yang terpatri di hati sahabatku. Seromantis kisahku bersama Teresa.
“Bung, mulai sekarang sudah tidak alasan lo bermuram durja kayak kemarin. Gak lama lagi lo bakal bernasib sama dengan si Riza. Dan gue bener-bener bahagia untuk kalian.”
Restu. Si biang masalah itu membuat suasana sedikit meredup. Sedikit gambaran perih bisa kurasakan. Lelaki itu memang tidak seberuntung kami bertiga. Aku, Riza dan Hendrik berhasil menemukan tambatan hati. Sedangkan Restu, di usia yang hampir matang seperti kami. Belum ada tanda-tanda jodoh menghampirinya.
“Thanks, Rest. Gue yakin lo akan segera dapat giliran. Ditembak cupid yang langsung menghubungkan lo dengan perempuan tercantik di seluruh dunia.”
“Ya… ya… ya… gue gak terlalu mikirin kok. Selama kalian gak melupakan gue,” jawab Restu tegar. Perbincangan sensitif itu berakhir saat lengan saling berdekapan. Sumber energi yang sanggup menguatkan kami.
Perlahan malam semakin pekat. Tenggelam dalam belasan kaleng bir seraya mengoceh hal tidak penting hingga pagi menjelang. Sungguh, aku akan mengingat momen ini. Sebelum esok kutapaki petualangan baruku berkelana cinta di Timor Lorosae. Persembahan alam atas doaku.

Other Stories
Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Download Titik & Koma