1. Love Hurt Cafe
Gelisah beruntun mengusikku. Dari sekedar goresan kecil hingga sayatan yang mencabik-cabik keyakinan di hati. Pedih, Ketika tak bisa menerima kenyataan ini dengan nalarku. Sampai kapan aku tersudut dalam ruang sepi seorang diri? Kukutuk amarah ini ketika tak sanggup menahan kerinduan yang seolah menjalar dalam aliran nadiku. Aku merindunya. Sungguh.
Aku termangu dalam kesendirian. Langit kelabu sore ini seakan memahami apa yang tengah kurasakan. Aroma Mei yang kubenci sekaligus kurindu tercium pekat melalui secangkir espresso panas. Asapnya mengepul tepat di wajahku, membangkitkan puing-puing kerinduan menjadi satu bayangan. Kekasihku.
Mariana Teresa. Setahun sudah aku kehilanganmu.
Kumenjebak diri di lantai teratas gedung pencakar langit ini. Setelah tak berdaya merunut jejak yang dia torehkan sejak pergi ke Timor Lorosae. Mengalihkan perhatianku pada puluhan kertas kalkir yang menumpuk di meja kerja. Setidaknya cukup efektif untuk mengenyahkan bayangan Teresa di kepalaku. Mungkin memang harus begini. Seolah menguji kesabaranku dalam penantian yang berkepanjangan. Tidak apa-apa. Setidaknya aku berusaha tegar dengan sisa pengharapan yang melekat di hatiku.
Kuhela napas panjang seraya bangkit menuju jendela kantor. Menerawangi pemandangan langit yang berawan gelap, tidak jarang kilatan cahaya disertai gemuruh kencang menambah kelam suasana senja. Kutinggalkan cangkir espresso di meja. Aromanya masih tercium pekat di sudut ruangan. Teresa tahu pasti, aku tidak suka aroma kopi. Aku hanya ingin merasakan aromanya. Aroma Teresa.
Dingin. Udara yang berasal dari luar mampu menembus celah ruanganku. Ada sunggingan di bibirku saat membayangkan kami berdua. Duduk berdekapan pada satu sofa besar, berbagi selimut sambil menikmati minuman panas; Aku dengan teh hangat, dan Teresa dengan espresso-nya.
“Shandi…”
“…”
“Maha Shandi Istanzia!” seketika aku tersadar lalu menengok ke arah pintu ruangan.
“Restu?” kuhela napas panjang lalu memberi seulas senyum tipis padanya. Hanya Restu, satu-satunya kawanku yang berani menerobos pintuku tanpa izin.
Perlahan dia mendekatiku. “Elo belum juga balik?” terdengar suara berderit saat dia menduduki chair staff tepat di depan mejaku. “Ini udah jam enam sore, Bung. Mau jadi bangke di sini?”
Aku tertawa seadanya dengan lelucon standar kawanku. Yang kulakukan paling mengangguk dan memberi jawaban singkat. “Sebentar lagi.”
“Gue mau ajak lo nongkrong di suatu tempat,” aku sedikit mendongak, menyiratkan sedikit keengganan. “Eits! Lo gak gak boleh nyanggah, ya?” dia menggoyangkan telunjuknya, seolah tahu dengan reaksi yang akan kuberikan.
“Sorry, gue…”
“Kita udah janjian di suatu tempat. Dan anak-anak sudah sepakat buat kumpul di sana,” ujar Restu mantap. Dia tahu aku tak berdaya untuk menolak permintaannya. “Sudahlah. Gue lagi gak mood berdebat. Come on guy! This is Saturday Night! Mana ada orang berbetah-betah ria di meja kerjanya. Gak usah sok workaholic gitu deh,” cetus Restu.
Aku hanya bisa menatap takjub sahabatku. Bagaimana bisa Restu berubah menjadi makhluk menyebalkan seperti itu—bicara panjang lebar seperti perempuan. Namun pada akhirnya aku malah tersenyum sendiri.
“Ngapain elu senyam-senyum? Elu pasti ngumpat gue ya?” tebakannya jitu.
“Ah, sobat. Gue cuma mikir gimana jadinya kalau gak ada kalian di samping gue,” aku bangkit lalu menepuk bahu sahabatku.
“Good. Elo mulai sadar sekarang. Without us, you are nothing!”
Aku tertawa. “I see,” ucapku. “Hendrik dan Riza bawa pacarnya masing-masing?”
“Hm… kayaknya gitu,” sejenak Restu memperhatikanku. “Gak usah mellow gitu deh. Ada gue yang kagak bawa cewek.”
***
Perjalanan tetap sesuai rencana. Hujan deras yang mengguyur Jakarta tidak menciutkan semangat Restu. Kuberikan applause dengan usaha dia menghiburku. Kuakui, cukup lama juga kami tidak berkumpul bersama.
I see the lonely road that leads so far away
I see the distant light that left behind the day
But what I see is so much more than I can say
And I see you in midnight blue
(Midnight Blue, Electric Light Orchestra)
Restu menggeleng saat lantunan lagu itu terdengar dari player MP3 di Audi A6 metalikku. Dia memicingkan matanya. “Yang bener aja! Lo masih nyimpen lagu ini? Halo? Ini tahun 2014, Bung! Modern sedikit kenapa?” ujarnya seraya menekan tombol next berusaha memilih lagu lain.
“Jangan diganti dulu!” seruku. “Ini lagu kesukaan Teresa. Gue harus denger lagu ini.”
Penjelasanku cukup membuat Restu bungkam. Dia tak mau salah bicara lagi hingga akhirnya menyinggung soal Teresa. Sementara aku bersikap tenang memegang kemudi setir sambil sesekali bersenandung kecil.
”Elo…” ujar Restu ragu-ragu.
“Hm… kenapa?” aku melirik ke arahnya.
“Elo udah dapet kabar terbaru dari Teresa?”
Tiba-tiba mulutku berhenti bersenandung, bahkan secara spontan aku menolehnya dengan tatapan sedikit gusar. Aku tak menyangka Restu bertanya seperti itu. Padahal dia, bahkan teman-temanku yang lain tak pernah membicarakan soal Teresa—setidaknya di depanku. Sebenarnya itu bukan pertanyaan bodoh, bukan? Justru aku yang bodoh seolah menenggelamkan diri dalam palung kesepian. Membuat orang iba dan akhirnya mengajukan pertanyaan yang sama.
“Sorry, Bung. Kayaknya gue banyak bicara ya?”
Aku tertawa hambar yang pastinya terdengar ganjil di telinga Restu. “Ah, lo ini ada-ada saja. Gue masih nunggu dia kok. Mungkin Teresa masih sibuk dengan mimpinya di Dili.”
Raut ketegangan di wajah Restu sedikit mereda. Kini dia bisa bernapas lega. “Ya, lo coba cuti sebentar, kunjungi Teresa di Dili”
“Siip. Gue tampung usul lo,” Aku mengangguk mengiyakan. Demi menutup percakapan menjengkelkan itu.
Audi-ku memasuki pelataran parkir di sebuah kompleks ruko. Kami tiba setelah hampir satu jam terjebak olah buasnya arus lalu lintas metropolitan. Tentunya itu membuat kawan-kawan lain kesal karenanya. Berkali-kali Restu harus menjawab panggilan Riza dan mengucapkan kalimat yang sama. “Sebentar lagi, di jalan macet.”
“Elo gak ke toilet dulu? Kita hampir basah kuyup,” ujar Restu di sela-sela perjalanan kami menuju tempat janjian itu.
Kukibaskan jemari lalu mengusap wajah yang basah dengan sapu tangan. Sekilas kuperhatikan refleksi diriku di dinding berkaca. Paras oriental yang membuat Teresa tergila-gila padaku. Dipadu dengan bentuk tubuh proporsional hasil latihan beberapa tahun ke belakang. Aku suka setiap kali dia berusaha mengenalkanku pada teman-temannya. Dia bangga memilikiku. Dan aku bangga karenanya.
Malam semakin larut. Mereka berhasil menarikku keluar dari kesendirian ini. Meskipun pada saat tertentu aku lebih memilih tinggal dalam keheningan. Namun untuk kali ini, aku ingin menghargai usaha mereka menyenangkanku.
***
Love Hurt Café memang sedikit lengang malam ini. Bagus. Si bodoh Restu seolah tidak memikirkan perasaanku. Sedikit berlebihan, itulah Restu. Dan aku tak perlu susah payah mengeluh, karena aku tahu dia. Love Hurt Café? Terkadang aku merasa geli sendiri. Bagaimana bisa mereka membuat konsep seperti ini. Café dibangun khusus untuk mereka yang sakit hati karena cinta. Dan terbukti, Love Hurt Café laris dikunjungi pengunjung yang rata-rata single atau baru saja putus cinta.
“Elo ngapain sih ajak ngumpul di café ini? rutuk Riza. “Tengsin tahu!”
Restu tertawa melihat wajah Riza yang cemberut. “Kenapa? Mentang-mentang udah punya pacar ya?” canda Restu sembari melempar kulit kacang ke arah Riza. “Eh, kenapa Si Nita gak diajak? Kasian nih Si Indri jadi gak ada teman,” dia melirik ke arah perempuan di samping Hendrik.
“Ke mana emang dia, Riz?” penasaran juga akhirnya Indri membuka mulut.
Riza menghela napas panjang. “Yah… biasalah. Kami sedang bertengkar. Orang tuanya banyak sekali ikut campur hubungan kami.”
“Pingin diajak kawin kali,” tebak Hendrik.
“Maybe…” respons Riza tidak semangat. Aku tersenyum tanpa mengikuti alur perbincangan itu. Jujur, perhatianku tak mengarah pada mereka. Melainkan pada taman yang terletak di seberang café. Taman itu dengan mudah bisa kuintip melalui dinding kaca. “Wei! Ngelamun aja,” seseorang menepuk jemariku.
Kali ini aku menoleh lalu menyunggingkan bibir sedikit. “Sorry, Sob. Tadi nggak sengaja gue merhatiin taman di luar itu,” tunjukku ke arah seberang café. “Ada cerita waktu gue melamar Teresa,” ujarku seraya mengulum senyum.
***
Setahun kemarin
“Kamu lagi cari apa sih, Sayang? Dari tadi mondar-mandir terus,” keluh Teresa. “Katanya kamu mau ajak aku makan siang?” ujarnya saat sadar berada di depan sebuah café.
“Sabar dong, Sayang. Aku lagi cari sesuatu,” aku tahu sanggahanku tak digubris Teresa. Dia malah tertegun menatap tulisan yang ada di papan reklame café itu.
Love Hurt Café: Hanya untuk Mereka yang Patah Hati.
“Kita makan di sana aja yuk?” tunjuknya ke arah café itu.
Sejenak kuhentikan pencarianku, menatap bangunan itu lalu menyipitkan mata. “Love Hurt Café? Hanya untuk mereka yang patah hati?” kutatap heran bangunan tempat itu. “Café yang aneh... di tempat lain saja,” aku kembali sibuk mencari ke sela-sela bebungaan di sekitar taman.
“Huh… jengkel. Kamu cari apaan sih?” kekasihku semakin dibuat kesal.
“Itu… anu… anu…” sial! Aku tak mungkin mengatakan bahwa cincin itu hilang. Dan kenapa di hari penting seperti sekarang selalu ada masalah menderaku. “Dompet aku hilang,” akhirnya aku terpaksa berbohong.
Teresa menghembuskan napas panjang. Jelas sekali aura kesal terpancar di wajahnya. Dia segera merogoh tas besarnya dan tak lama mengeluarkan sebuah benda berbahan kulit. “Ini?” ujarnya. Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala. “Kamu ini pelupa amat sih? Kan kamu sendiri yang minta titipkan dompetmu ke aku.”
Damn! Umpatku dalam hati. Di mana sih benda sialan itu? Aku tersenyum menyembunyikan kegelisahanku. “Oh iya, ya? Aku lupa,” dan aku tertawa—jelas membuat Teresa semakin bingung dibuatnya.
“Pasti ada yang kamu sembunyikan. Cepet bilang! Kamu cari apaan!” ujar Teresa gemas.
“Itu… ahh!” ujarku dengan nada kesal. “Cincin!” gagal sudah rencanaku memberi kejutan padanya.
“Cincin? Cincin apa?” Teresa menyipitkan mata. Untuk beberapa saat dia menatapku curiga. “Jangan bilang kalau kamu…” tebaknya. Tidak lama senyuman perempuan itu merekah seolah bisa membaca jalan pikiranku.
“Ahh… sudahlah gak jadi!” dengan kesal aku bergegas menuju Love Hurt Café. Meninggalkan Teresa di belakangku.
“Sayang! Tunggu!”
“Cepetan! Katanya kamu lapar!”
Di dalam café kami hanya membisu. Aku malas berkata-kata setelah semua rencanaku gagal total. Bisa kubayangkan tampang bodohku di depan kekasihku. Seolah mengejek, Teresa menatap wajahku seraya tersenyum geli. “Kamu jahat. Cincin kamu yang ilangin, kok marahnya ke aku?” ujarnya manja. “Ayo dong, Sayang, senyum. Abis makan kita cari lagi,” perempuan itu meremas-remas jemariku.
Kulirik wajah Teresa, memberi senyuman sedikit lalu cemberut lagi. Kuakui saat ini tingkahku memang seperti anak kecil. Tapi kupikir hanya ini yang bisa kulakukan untuk menutup rasa malu. Ingin rasanya aku mengumpat pada diri sendiri. Semua rencana yang kususun rapi, kini malah hancur gara-gara kebodohanku.
“Sayang, aku ke toilet dulu ya?” aku pura-pura cuek seolah tidak menggubrisnya.
Lamunanku kembali melambung jauh. Berpikir. Pas sekali aku berada di café ini. “Untuk mereka yang sedang patah hati.” Persis seperti yang kurasakan. Patah hati karena gagal melamar Teresa siang ini. Sungguh, aku penasaran dengan keberadaan cincin itu. Lagi-lagi kuintip taman itu di balik dinding kaca. Aku yakin sekali, tadi sempat mengeluarkan kotak beludru merah di taman seberang. Pasti di sana. Aku yakin! kukuhku dalam hati.
“Sayang, lihat aku bawa apa?” lima belas menit kemudian Teresa kembali membawa segelas penuh es krim dengan foam lembut berwama putih. “Ini Es Krim Patah Hati,” perempuan itu tertawa.
“Kok dibawa sendiri? Mana pelayannya?”
“Aku sengaja bawa sendiri es krim ini. Biar kamu tahu aku sayang banget sama kamu, dan gak suka lihat kamu cemberut seharian,” Teresa meletakkan minuman itu tepat di depan mata. “Cepetan dicoba Es Krim Patah Hatinya!”
“Nama es krim kok aneh gini?” gumanku seraya meraih sendok dari jemari Teresa. Suapan pertama krim itu masuk ke dalam rongga mulut, lalu beradu dengan lidahku. Hm… krimnya terasa lembut. Lumayan mendinginkan kepalaku yang sempat memanas. Sialan! aroma vanila membuatku ketagihan. Berkali-kali aku menyuapi mulutku hingga belepotan tidak karuan. Tapi… apa ini? Seperti ada benda keras beradu dengan gigiku. “Aduh,” reaksiku. Sementara Teresa hanya terkekeh-kekeh. Kuraih benda itu dari mulutku. Dan nampaklah cincin dengan manik berlian berwarna putih yang sempat kucari sejak tadi. Astaga! Bagaimana bisa cincin itu ada di dalam es krim? Dan di sana tawa Teresa semakin tak tertahankan. “Ini kerjaan kamu, ya?” tuduhku dengan mimik kesal.
“Oops! Sorry, Dear…” ujar Teresa manja sembari menutup mulutnya dengan jemari.
“Nakaalllll!!” kutangkap Teresa lalu menggelitik pinggangnya, menciptakan sedikit keriuhan di Love Hurt Cafe. Meski ending-nya cukup memalukan, aku berhasil melamar Teresa dan membuat perempuan itu menitikkan air mata haru.
***
Para sahabatku termangu mendengar kisah yang kupaparkan. Terutama Indri yang tak kuasa menahan air mata. Gara-gara ceritaku, dia sempat mengancam Hendrik agar bisa melakukan hal yang sama seperti kisahku.
“Indah, bukan?” gumamku. Aku mengulum senyuman, kenyataannya hati ini terasa getir. “Aku ingin pesan minuman lagi. Boleh?”
“Sure…” Restu tahu hanya minuman yang bisa membuat kepedihan menjadi berkurang. Ya, walaupun itu hanya bersifat sementara. “Ayo kita mabuk malam ini!” sulangnya.
“No! Hendrik harus mengantarku pulang. Dia tidak boleh mabuk!” bantah Indri. “Hen, awas kalau kamu sampai mabuk. Malam ini juga aku putusin kamu!” ancam perempuan itu pada kekasihnya.
“Don’t worry honey…” balas Hendrik halus.
Silam. Perlahan tertinggal oleh masa yang kian melaju menjauh. Masih ada samudra harapan terbentang luas di alam ini. Namun semua hanya terpaut pada satu cinta, satu nama, dan satu kisah. Yang takkan pernah lepas dari bayanganku. Teresa is forever. Aku takkan pernah meragukan itu. Meski harus menunggu seribu tahun lamanya.
Izinkan aku melupakanmu sejenak. Bukan untuk meninggalkanmu. Hanya untuk memulihkan lelahku yang tak pernah bertepi. Sekedar menyampaikan keluhku pada kenikmatan duniawi. Dan bersiap mengingatmu esok hari.
Other Stories
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...