Chapter 1 Jalan Pulang Si Bungsu
Alina masuk ke dalam rumah. Koper super besar, isinya penuh oleh-oleh dan sertifikat. Sang Ibu langsung menyambut dengan muka sumringah.
Nyak, "Alhamdulillah, akhirnya pulang juga anak Nyak! Sini peluk dulu. Ya Allah, kurus banget, Nak. Di sana makan apaan aja?"
Alina melepas pelukan Nyak, "Alina makan nasi, Nyak. Cuma beda bumbu. Ini koper berat banget, Nyak, bantuin dong."
Nyak melihat koper Alina dari atas sampai bawah, "Ih, ini isinya apaan? Batu? Buku-buku tebel itu? Nyak kan udah bilang, jangan bawa yang berat-berat. Mau kerja, bukan mau pindahan warung."
Alina, "Ini isinya masa depan Alina, Nyak. Sertifikat-sertifikat, ijazah. Ini kan yang bikin Alina bisa dapat tawaran kerja di Eropa."
Nyak mengambil koper Alina dengan mudah. Alina kaget.
Nyak, "Eropa? E..ro..pa? Eropa mana? Jangan bilang Eropa yang deket gang sebelah itu?"
Alina, "Bukan, Nyak! Eropa yang di luar negeri! Yang jauh! Alina dapat tawaran kerja di sana, Nyak. Gaji gede!"
Nyak menggeleng-gelengkan kepala, "Nggak! Nggak! Pokoknya Nyak nggak setuju. Jauh-jauh sekolah, pulangnya malah mau jauh-jauh lagi. Kamu mau bikin Nyak mati kutu di sini, gitu? Nggak ada yang nemenin Nyak ngegosip di pos ronda?"
Alina menaruh tangan di kening, pusing, "Astaga, Nyak. Itu kan cuma guyonan, masa iya Nyak mati gara-gara Alina nggak ada? Nyak kan punya abang-abang, tuh!"
Nyak, "Abang-abangmu? Ha! Rahmat kerjaannya tidur di kasur doang. Ridwan hobi mancing ikan di kolam tetangga, padahal nggak pernah dapat. Rizky? Rizky itu pacaran mulu sama ceweknya yang kayak cicak, nempel mulu."
Alina berkata dengan lirih, "Nyak, tapi Alina, karir Alina..."
Nyak langsung memotong ucapan Alina
Nyak, "Karir? Karir itu nanti aja. Sekarang kamu fokus cari suami dulu. Nyak udah siapin daftar calonnya. Nyak pilih yang bagus-bagus. Ada yang kerjanya di pabrik tahu, anaknya Pak RT. Ada yang jadi tukang jahit, tapi jahitnya rapih, celana kamu yang sobek aja bisa dibenerin. Terus, yang paling Nyak suka, ada yang jago banget bikin martabak manis. Udah manis, bisa bikin martabak. Jodoh impian!"
Alina tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata, "Nyak, ini bukan kencan buta, ini audisi tukang tahu sama tukang martabak! Alina nggak mau, Nyak!"
Nyak, "Ya udah, kalau nggak mau, kamu nggak usah pergi keluar negeri. Besok koper kamu Nyak jual di tukang rongsok!"
Alina mendesah pasrah. Mengambil koper dari tangan Nyak dan menyeretnya masuk kamar.
Alina, "Terserah Nyak. Terserah. Alina capek. Mau tidur."
Nyak, "Eh, besok pagi jam 7, calon pertama dateng. Namanya Herman. Anaknya santun. Bawa durian satu gerobak. Jangan bikin malu!"
BRAK!!
Alina hanya bisa membanting pintu kamar, Nyak terlonjak kaget, setelah itu Nyak tersenyum penuh kemenangan. Misi perjodohan dimulai.
****
Bruukk!
Alina masuk ke kamarnya. Dia langsung banting pintu, lalu menjatuhkan diri di kasur. Koper yang masih berdiri tegak di samping pintu seolah ikut menghela napas.
Cklak!
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lagi, Nyak nongol dengan ekspresi serius.
Nyak, "Alina, kamu itu kalau banting pintu jangan kenceng-kenceng. Itu pintu kalau patah, nanti Nyak tidurnya di teras. Mana Nyak lagi puasa ngupil."
Alina, "Masa bodoh, Nyak! Alina pusing! Nyak ini kenapa sih? Alina udah susah-susah sekolah, eh, disuruh kawin sama tukang tahu!"
Nyak, "Ya daripada kawin sama bule yang kulitnya kayak susu basi? Nanti anakmu kayak hantu!"
Alina duduk di kasur, menjambak rambutnya sendiri, "Nyak! Itu istilahnya putih, Nyak! Bule itu cakep! Mana ada kayak susu basi! Ini apa-apaan sih, Alina kan mau kerja!"
Nyak, "Kerja? Kerja di sana, terus uangnya buat apa? Buat beli tiket pesawat bolak-balik? Mending buat beli soto di warung Mang Ujang. Kenyang. Bergizi. Nyak nggak mau kamu sendirian di sana."
Alina, "Di sana Alina nggak sendirian, Nyak. Ada teman-teman, ada orang kantor. Lagian, Eropa itu maju, Nyak. Canggih. Nggak kayak di sini, cari sinyal aja harus naik ke genteng."
Nyak mengibas-ngibas tangannya, "Halah, canggih apaan? Canggihan Nyak! Nyak bisa bikin kamu punya jodoh tanpa pakai Tinder. Nyak itu Tinder versi kearifan lokal."
Alina hanya bisa memijat pelipisnya. Mendengar ibunya menyamakan diri dengan aplikasi kencan, otaknya rasanya mau meledak.
Alina, "Nyak, udah deh. Alina capek. Tolong tinggalin Alina sendiri. Alina mau tidur."
Nyak, "Oke. Tapi dengerin baik-baik. Kalau besok kamu nggak dandan yang cantik, Nyak bakal panggil tukang jahit langganan Nyak buat jahit mulut kamu biar nggak bisa protes lagi."
Nyak menutup pintu lagi. Kali ini lebih pelan. Alina mengambil guling, lalu membenamkan wajahnya di sana sambil teriak-teriak kecil. Setelah puas, ia bangkit dari kasur dan mulai membongkar kopernya. Ia ingin menunjukkan pada Nyak betapa pentingnya isi koper ini.
Tiiba-tiba, dari dalam koper, muncul kepala seekor kucing. Kucing berbulu oranye, dengan ekspresi sok tahu.
Kucing, "Meow."
Alina terdiam. Matanya membulat. Ia menatap kucing itu, lalu kembali menatap koper. Lalu kembali menatap kucing itu.
Alina berbisik, "Kamu siapa?"
Kucing menatap Alina, seolah-olah tatapan lu-nanya-doang, "Meow."
Alina, "Nyak! NYAK!"
Nyak membuka pintu kamar Alina lagi dengan tergesa-gesa. Wajahnya panik.
Nyak, "Kenapa? Kamu kesurupan? Sini Nyak bacain ayat kursi."
Alina, "Bukan, Nyak! Ini apa?!" menunjuk kucing oranye yang kini sudah duduk manis di tumpukan ijazah Alina
Nyak terdiam, lalu tersenyum, "Oh, ini jodoh kamu yang satu lagi."
Alina terkejut, "APA?!"
Nyak menunjuk kucing itu, "Ini si Oyen. Tadi pas kamu bawa koper, dia ngikutin Nyak dari pasar. Nyak bilang, Oyen, kamu mau cari jodoh di rumah Nyak? Ikut aja sama Nyak. Terus dia langsung lompat ke koper kamu. Tuh, dia sudah milih ijazah kamu sebagai bantalnya."
Alina hanya bisa menatap nanar. Rasanya ia ingin kembali ke Eropa saja. Setidaknya di sana tidak ada perjodohan yang melibatkan kucing oranye.
Nyak, "Alhamdulillah, akhirnya pulang juga anak Nyak! Sini peluk dulu. Ya Allah, kurus banget, Nak. Di sana makan apaan aja?"
Alina melepas pelukan Nyak, "Alina makan nasi, Nyak. Cuma beda bumbu. Ini koper berat banget, Nyak, bantuin dong."
Nyak melihat koper Alina dari atas sampai bawah, "Ih, ini isinya apaan? Batu? Buku-buku tebel itu? Nyak kan udah bilang, jangan bawa yang berat-berat. Mau kerja, bukan mau pindahan warung."
Alina, "Ini isinya masa depan Alina, Nyak. Sertifikat-sertifikat, ijazah. Ini kan yang bikin Alina bisa dapat tawaran kerja di Eropa."
Nyak mengambil koper Alina dengan mudah. Alina kaget.
Nyak, "Eropa? E..ro..pa? Eropa mana? Jangan bilang Eropa yang deket gang sebelah itu?"
Alina, "Bukan, Nyak! Eropa yang di luar negeri! Yang jauh! Alina dapat tawaran kerja di sana, Nyak. Gaji gede!"
Nyak menggeleng-gelengkan kepala, "Nggak! Nggak! Pokoknya Nyak nggak setuju. Jauh-jauh sekolah, pulangnya malah mau jauh-jauh lagi. Kamu mau bikin Nyak mati kutu di sini, gitu? Nggak ada yang nemenin Nyak ngegosip di pos ronda?"
Alina menaruh tangan di kening, pusing, "Astaga, Nyak. Itu kan cuma guyonan, masa iya Nyak mati gara-gara Alina nggak ada? Nyak kan punya abang-abang, tuh!"
Nyak, "Abang-abangmu? Ha! Rahmat kerjaannya tidur di kasur doang. Ridwan hobi mancing ikan di kolam tetangga, padahal nggak pernah dapat. Rizky? Rizky itu pacaran mulu sama ceweknya yang kayak cicak, nempel mulu."
Alina berkata dengan lirih, "Nyak, tapi Alina, karir Alina..."
Nyak langsung memotong ucapan Alina
Nyak, "Karir? Karir itu nanti aja. Sekarang kamu fokus cari suami dulu. Nyak udah siapin daftar calonnya. Nyak pilih yang bagus-bagus. Ada yang kerjanya di pabrik tahu, anaknya Pak RT. Ada yang jadi tukang jahit, tapi jahitnya rapih, celana kamu yang sobek aja bisa dibenerin. Terus, yang paling Nyak suka, ada yang jago banget bikin martabak manis. Udah manis, bisa bikin martabak. Jodoh impian!"
Alina tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata, "Nyak, ini bukan kencan buta, ini audisi tukang tahu sama tukang martabak! Alina nggak mau, Nyak!"
Nyak, "Ya udah, kalau nggak mau, kamu nggak usah pergi keluar negeri. Besok koper kamu Nyak jual di tukang rongsok!"
Alina mendesah pasrah. Mengambil koper dari tangan Nyak dan menyeretnya masuk kamar.
Alina, "Terserah Nyak. Terserah. Alina capek. Mau tidur."
Nyak, "Eh, besok pagi jam 7, calon pertama dateng. Namanya Herman. Anaknya santun. Bawa durian satu gerobak. Jangan bikin malu!"
BRAK!!
Alina hanya bisa membanting pintu kamar, Nyak terlonjak kaget, setelah itu Nyak tersenyum penuh kemenangan. Misi perjodohan dimulai.
****
Bruukk!
Alina masuk ke kamarnya. Dia langsung banting pintu, lalu menjatuhkan diri di kasur. Koper yang masih berdiri tegak di samping pintu seolah ikut menghela napas.
Cklak!
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lagi, Nyak nongol dengan ekspresi serius.
Nyak, "Alina, kamu itu kalau banting pintu jangan kenceng-kenceng. Itu pintu kalau patah, nanti Nyak tidurnya di teras. Mana Nyak lagi puasa ngupil."
Alina, "Masa bodoh, Nyak! Alina pusing! Nyak ini kenapa sih? Alina udah susah-susah sekolah, eh, disuruh kawin sama tukang tahu!"
Nyak, "Ya daripada kawin sama bule yang kulitnya kayak susu basi? Nanti anakmu kayak hantu!"
Alina duduk di kasur, menjambak rambutnya sendiri, "Nyak! Itu istilahnya putih, Nyak! Bule itu cakep! Mana ada kayak susu basi! Ini apa-apaan sih, Alina kan mau kerja!"
Nyak, "Kerja? Kerja di sana, terus uangnya buat apa? Buat beli tiket pesawat bolak-balik? Mending buat beli soto di warung Mang Ujang. Kenyang. Bergizi. Nyak nggak mau kamu sendirian di sana."
Alina, "Di sana Alina nggak sendirian, Nyak. Ada teman-teman, ada orang kantor. Lagian, Eropa itu maju, Nyak. Canggih. Nggak kayak di sini, cari sinyal aja harus naik ke genteng."
Nyak mengibas-ngibas tangannya, "Halah, canggih apaan? Canggihan Nyak! Nyak bisa bikin kamu punya jodoh tanpa pakai Tinder. Nyak itu Tinder versi kearifan lokal."
Alina hanya bisa memijat pelipisnya. Mendengar ibunya menyamakan diri dengan aplikasi kencan, otaknya rasanya mau meledak.
Alina, "Nyak, udah deh. Alina capek. Tolong tinggalin Alina sendiri. Alina mau tidur."
Nyak, "Oke. Tapi dengerin baik-baik. Kalau besok kamu nggak dandan yang cantik, Nyak bakal panggil tukang jahit langganan Nyak buat jahit mulut kamu biar nggak bisa protes lagi."
Nyak menutup pintu lagi. Kali ini lebih pelan. Alina mengambil guling, lalu membenamkan wajahnya di sana sambil teriak-teriak kecil. Setelah puas, ia bangkit dari kasur dan mulai membongkar kopernya. Ia ingin menunjukkan pada Nyak betapa pentingnya isi koper ini.
Tiiba-tiba, dari dalam koper, muncul kepala seekor kucing. Kucing berbulu oranye, dengan ekspresi sok tahu.
Kucing, "Meow."
Alina terdiam. Matanya membulat. Ia menatap kucing itu, lalu kembali menatap koper. Lalu kembali menatap kucing itu.
Alina berbisik, "Kamu siapa?"
Kucing menatap Alina, seolah-olah tatapan lu-nanya-doang, "Meow."
Alina, "Nyak! NYAK!"
Nyak membuka pintu kamar Alina lagi dengan tergesa-gesa. Wajahnya panik.
Nyak, "Kenapa? Kamu kesurupan? Sini Nyak bacain ayat kursi."
Alina, "Bukan, Nyak! Ini apa?!" menunjuk kucing oranye yang kini sudah duduk manis di tumpukan ijazah Alina
Nyak terdiam, lalu tersenyum, "Oh, ini jodoh kamu yang satu lagi."
Alina terkejut, "APA?!"
Nyak menunjuk kucing itu, "Ini si Oyen. Tadi pas kamu bawa koper, dia ngikutin Nyak dari pasar. Nyak bilang, Oyen, kamu mau cari jodoh di rumah Nyak? Ikut aja sama Nyak. Terus dia langsung lompat ke koper kamu. Tuh, dia sudah milih ijazah kamu sebagai bantalnya."
Alina hanya bisa menatap nanar. Rasanya ia ingin kembali ke Eropa saja. Setidaknya di sana tidak ada perjodohan yang melibatkan kucing oranye.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...