15. 'flash Back' Because Of Differences
Pak Direja mempunyai dua anak bernama Barata dan Bayu. Keduanya lahir dari darah daging yang sama. Sedarah. Terlahir dari orang tua yang berada. Pak Direja memperlakukan kedua putranya dengan penuh cinta dan dilimpahi harta yang berlebih. Tetapi ternyata limpahan materi serta kasih sayang yang diberikan pada kedua putranya menghasilkan pribadi berbeda. Semua orang tua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh yang diagungkan keluarga. Begitu pun dengan keluarga Direja. Kedua anaknya yang diharap mampu meneruskan dinasti kekayaannya, mampu mengharumkan nama keluarga dengan berbagai kelakuan dan kebaikan yang telah diajarkan tidaklah semulus yang direncanakan.
Sedarah tapi tabiatnya begitu berbeda. Barata, anak sulung yang lahir dengan beragam kemampuan yang dimiliki, sedari kecil selalu meraih predikat juara di sekolah karena kepintarannya. Pun di luar akademik mempunyai seabrek kegiatan yang tetap berhasil gemilang diraihnya. Puluhan piala berderet rapi di rumahya yang luas. Itulah yang senatiasa membuat Direja begitu bangga. Tak hentinya mulut berkata, ucapan yang keluar dari bibirnya adalah sanjungan, pujian pada nama anaknya yang memang berotak cerdas dan selalu menjadi kebanggaan keluarga besarnya. Selalu yang disanjungnya adalah Barata. Barata hidup dalam kesempurnaan.
Pun ketika SMA dan kuliah ia dapat melanjutkan kuliah tanpa biaya yang keluar sedikit pun karena mendapat beasiswa yang diperoleh. Beasiswa karena prestasinya dalam beragam akademik. Pintar, tampan, dan supel dalam berbagai kegiatan yang membuatnya senantiasa menjadi rebutan para wanita di mana pun juga.
Perilaku orang tua yang selalu membanggakan Barata, sedikit-sedikit tanpa disadari telah membuat jurang pemisah. Telah membuat perbedaan yang dalam. Kecemburuan yang teramat bagi Bayu. Perbedaan yang sangat kentara di antara kedua anaknya. Dan tanpa disadari membuat Bayu mencari perhatian yang lain. Menginginkan hal dan perhatian yang lain dari kakaknya.
Sayang, yang dilakukan Bayu menyimpang dari keinginan orang tuanya. Setiap kegiatan yang dilakukan senantiasa berakhir dengan gagal. Praktis membuat dirinya terpuruk. Apalagi ketika nilai yang didapat di sekolahnya tak kalah buruk dengan prestasi non akademiknya. Begitu berbalik dengan apa yang selalu diperoleh Barata dalam kesempurnaan hidup.
Perih. Ketika Pak Direja selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Barata. Omelan yang terlontar dari ayahnya membuatnya semakin tersudut. Hingga kemudian apa pun yang dilakukannya, di mata orang tuanya tetaplah salah. Tetap tidak memuaskan. Karena yang selalu memuaskan hatinya tetap saja Barata.
Lambat laun Bayu tumbuh menjadi seorang yang labil. Tanpa pernah tahu pegangan hidup. Karena yang dilakukan pastilah salah. Yang diterima dan didapat dari ayahya pasti cemooh dan caci tanpa pernah ada sanjungan sedikit pun. Itulah akhirnya yang kemudian membuat Bayu mempunyai teman yang lain. Teman dalam dunianya sendiri. Ia begitu asyik bercengkerama bersama menikmati surga yang telah direguk dan melupakan sesaat pekat hatinya.
Sumpek dan jiwa yang terkerangkeng kini terbebas sudah bersama kawan barunya yang selalu mengerti ketika dera dan lara bertepi. Dia adalah penawar duka yang selalu siapa sedia ada dan pasti selalu ada di mana pun berada. Ke mana pun ia selalu bersamanya. Dilupakannya perilaku Pak Direja serta orang di sekitarnya yang menurutnya terlalu pilih kasih, dan begitu menyakitkan hati.
Nikmat sesaat dan hilangkan gundah dari kepahitan dan kegetiran hidup yang semakin lama semakin membuatnya bertepi di ujung tubir. Terjerembab dan tak bisa berkilah ketika suatu hari ia diciduk aparat ketika sedang berpesta pora di tempat kost salah satu temannya. Barang haram berupa puluhan butir ekstasi dan jenis minuman alkohol berat menjadi barang bukti yang memberatkannya karena dianggap sebagai pemakai juga pengedar.
Menyedihkan ketika orang lain didampingi orang tua saat berada dalam persidangan. Sedangkan dirinya? Tak satu pun orang dekat yang hadir. Hanyalah Barata yang menyempatkan hadir, itu pun hanya sekilas dengan alasan tugas kuliah yang menumpuk tak memberinya waktu luang untuk menemani.
Alasan, pikir Bayu kala itu. Pastilah semua orang begitu benci dirinya. Ayahnya yang katanya seorang pejabat dengan reputasi kerja yang baik, pastilah enggan berhadapan dengan kenyataan. Kenyataan yang pastinya akan menghancurkan karier dan jabatan yang sedang berada di puncak. Ia pun lebih memilih tak muncul di persidangan, tak muncul di hari berikutnya ketika persidangan berlanjut.
Walau beberapa pengacara membela Bayu, memperingan hukuman hingga akhirnya bisa terbebas. Tetap saja ada rasa kehilangan dari sudut hatinya. Betapa di saat yang sulit ingin sekali Bayu mendengar hiburan, motivasi agar dapat memberinya kekuatan. Tetap saja dalam pikiran Bayu saat itu adalah ayahnya begitu benci dan caci pasti akan diterimanya ketika sampai di rumah. Sempat ia menolak ketika ajakan pulang dari Barata menepi padanya.
“Tidak. Aku tidak akan pulang.”
“Kenapa, Bayu?” matanya menatap Bayu yang berdiri ringkih di depannya.
“Bukankah Ayah tak sayang aku?”
“Siapa bilang? Ayah memikirkanmu terus.”
“Ah. Mana buktinya? Kaulah yang selalu dibanggakan Ayah. Tak seujung jari pun kudengar atau kuketahui Ayah sayang aku. Kaulah harapannya. Kaulah yang selalu disanjungnya, Bara. Dan aku ucapkan selamat padamu. Selamat karena telah berhasil mengambil perhatian Ayah seutuhnya. Hingga aku tersingkir dari keluarga.”
“Bayu? Kenapa kau bilang seperti itu? Ayah sayang padamu. Semua menyayangimu. Perbuatanmulah yang membuatmu tersingkir dan merasa diasingkan. Ingat, semua menyayangimu. Sekarang Ayah sakit dan ingin bertemu denganmu.”
“Alasan!” Bayu mendengus, melemparkan pandangan ke luar sana.
“Baik, kalau kau tidak percaya padaku. Tapi jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa dengan Ayah,” Barata melangkah meninggalkan Bayu. Hatinya sedikit emosi ketika ucapan Bayu melukai hatinya. Menganggap dirinya telah mengambil perhatian. Siapa yang mau perhatian? Ia hanya berlaku sewajarnya. Melakukan apa yang bisa dan ingin selalu berbakti. Itu saja.
Apa salah ia mempuyai prestasi dan membuat bangga ayahnya? Haruskah ia diam dan tak pernah berkreativitas? Sementara memang benar adanya. Dalam jiwanya penuh dengan keinginan. Penuh dengan ambisi yang harus tetap dikejar dan disemai agar berhasil baik. Penuh dengan talenta yang begitu sayang untuk dilewatkan.
“Bara! Benarkah Ayah sakit?”
Bara mengangguk.
“Baiklah aku akan pulang.”
***
Pak Direja memang sakit, tapi tidak seperti yang dibayangkan. Ternyata Pak Direja hanya sakit biasa, jauh dari yang dibayangkan Bayu. Yang dibayangkan adalah Pak Direja sakit keras, tidak bisa bangun. Hingga tidur terus di kamar saja.
“Mana buktinya Ayah sakit? Buktinya ia masih bisa berdiri,” ucap Bayu keras ketika baru saja sampai di ruang tamu dan mendapat Pak Direja sedang duduk di ruang tamu, dengan majalah di tangannya.
“Ssst... jangan kau bicara seperti itu.Tak sopan. Jangan kau buat Ayah cemas lagi. Diamlah dan temui ia.”
“Dasar pembohong!”
“Bayu. Uho... uho... kemarilah.” Pak Direja memanggil dengan batuk berat.
“Ya. Ayah,” dengan malas dan segan Bayu mendekat ke arah Pak Direja yang duduk.
“Ayah memang sakit. Tapi kalau kau tidak percaya, sudahlah.”
“Maafkan aku, Yah. Ayah sakit apa?”
“Entahlah. Ayah tidak memedulikan lagi. Tapi satu yang paling membuat hati Ayah sakit.”
“Apa, Yah?”
“Kelakuanmu!”
Bayu terdiam, memainkan ujung bajunya. “Maafkan aku Ayah.”
“Maaf itu tiada guna. Kalau kau terus berperilaku seperti ini, mulai sekarang kau harus patuh pada Ayah. Kalau tidak, lebih baik kau menyingkir dan ke luar saja dari rumah ini!” Pak Direja mengambil air di depannya lalu menyeruputnya. “Ingat, kalau kelakuan seperti ini terulang lagi, pergilah dan jangan menganggap Ayah ini adalah ayahmu.”
“Yah, a... aku....”
“Apakah kau ingin sembuh Bayu?”
“Aku tidak sakit, Yah. Aku sembuh.”
“Sembuh dari ketergantungan! Ayah tau kau selama ini selalu memakai barang haram, tapi Ayah berpura tidak tau. Sayang, tindakan Ayah membiarkanmu malah kau anggap lain. Kau malah berlaku lebih parah. Berlaku sewenangnya, tanpa pernah memikirkan beban hati Ayah. Padahal Ayah menganggapmu sudah dewasa, bukan lagi anak kemarin sore. Pastilah kau bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”
“Ya, aku ingin sembuh. Aku tidak mau menjadi seorang pamakai Ayah. Aku cape.”
“Baiklah. Turuti permintaan Ayah.! Kemasi baju dan berangkatlah, Ayah sudah mempersiapkannya.”
“Ke mana yah? Apa aku dibuang?”
“Ayah menitipkanmu ke sebuah pesantren. Tepatnya panti rehabilitasi. Tempat ketergantungan orang yang terlibat Narkoba. Semoga di sana kau dapat membuka hati. Membuka diri dan mau menerima keadaan segalanya. Ingatlah kalau kau ingin sembuh, bertahanlah. Jalani hidup dengan penuh ketenangan dan ikhlas, menerima apa pun nanti di sana.”
***
Other Stories
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Percobaan
percobaan ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...