Suara Dari Langit

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nina Rahayu Nadea

14. Bloody Love

“Pei?” Nola terkejut mendapati Pei berdiri tegak, menghalangi jalannya.
“Ya. Kenapa cantik?” wajahnya menyeringai. Tiada lagi Pei yang selalu terseyum. Pei yang selalu menyegarkan hatinya. Tapi kali ini adalah Pei yang lain, yang menakutkan. Apalagi ketika Nola melihat Pei membawa sebuah senjata. Golok yang panjang.
“Pei, untuk apa itu...?” Nola tergagap. Langkahnya mundur ketika Pei semakin mendekat ke arahnya.
“Hahaha... tak usah aku katakan. Bukankah kau sudah tau semua?”
“Pei! Kau yang membunuh mereka?”
“Haha... Ya, itu memang tujuanku mendekatimu, Nola.”
“Brengsek!” Nola menutup pintu kamar segera dan menguncinya.
“Jangan kau pikir kau bisa lolos dariku, La. Ingat, kau adalah target terakhirku. Kini kau menyambangiku dan sengaja menyerahkan nyawa padaku. Dan dengan suka cita aku akan melakukannya. I really love your blood. Bloody love. Haha… dengan begitu, pekerjaanku akan cepat selesai.”
“Kenapa kau lakukan ini, Pei? Bukankah kau menyayangiku?” Nola menangis. Tubuhnya gemetar.
“Haha... tidak! Aku tidak mencintaimu, La. Kau telah aku bohongi. Haha…”
“Tapi apa salahku Pei?” Nola semakin tersudut di pintu kamar. “Pei sadarlah. Aku mohon. Do you still love? Don’t you?” Nola semakin ketakutan. Ia berusaha meredam emosi Pei. Apalagi ketika dilihat pintu kamar nyaris terbuka karena golok Pei yang terus menghujam ke sana ke sini. Merusak pintu yang rapat.
“Tuhan lindungi aku, beri aku jalan agar bisa ke luar dari ruangan jahanam ini,” Nola bangkit ketika melihat jendela. Tak disia-siakannya waktu, Nola segera membuka pintu jendela dengan paksa. Tepat di saat Pei masuk.
“Diam kau, La. Jangan berani-berani untuk kabur. Ingat, tempat ini begitu terpencil, tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaanmu di sini,” Pei semakin mendekat. “Tak ada seorang pun yang menolongmu.”
“Toloooong!” Nola berteriak.
“Ayo berteriaklah sepuasnya. Tak akan ada yang mendengarmu.”
Apei berdiri di pintu kamar menyaksikan Nola mendorong pintu jendela sampai terbuka. Beberapa langkah lagi mendekat. Tapi Nola tak mau mati kutu di depan Pei. Nola tak mau menyerah begitu saja.
“Ayo, loncatlah. Paling kau dimakan anjingku yang berada di bawah jendela,” Pei menakuti Nola.
“Lebih baik aku mati digigit anjing daripada mati di tanganmu,” Nola meloncat.
“Sial, dasar wanita sinting,” Apei ikut naik jendela dan terus mengejar Nola.
Bruug, badan Nola jatuh di tanah, tepat di bawah jendela. Nola segera menggulingkan badan menghindari sergapan. Ketika melihat Pei loncat dari jendela dan berusaha menyergapnya. Nola segera berdiri, dan berlari.
“Ayo berlarilah. Mau ke mana kau? Di belakangmu adalah jurang.”
Bruuug. “Lepaskan!” tiba-tiba Apei berteriak. Berontak pada seseorang yang menarik tangannya ke belakang.
“La, menyingkirlah cepat.”
“Kak Alex?”
“Ya. Cepatlah. Aw...” Alex terjatuh dengan darah mengucur dari tangannya. Pei berhasil membuat luka di tangan Alex.
“Kak Alex!”
“Cepat pergi, La. Jangan hiraukan Kakak.”
Nola ragu mau berlari atau menolong Alex. Tapi di saat kesadarannya penuh, Pei sudah ada di hadapannya sambil mengayunkan golok.
“Tidak!” Nola menghindar. Berlari ke belakang yang ternyata adalah jurang.
“Haha. Mati sendiri kau, La.” Pei tertawa terkekeh ketika melihat Nola nyaris jatuh dan berpegangan pada akar pohon yang kebetulan ada. Tubuh Nola menggelantung pada akar pohon. Pei mengayunkan golok untuk memotong akar yang dipegang Nola. Tapi sebelum berhasil memotong, Alex datang mendorong tubuh Pei. Pei jatuh. Tapi sial, ia memegang akar pohon yang sama dipegang Nola.
Alhasil mereka berdua bergelantungan. Pei memanfaatkan waktu agar selamat dari sergapan Alex. Ia mendekatkan tubuhnya dan memeluk erat pada tubuh Nola. Dengan begitu, kini Nola berada dalam kurungan Pei.
“Ayo, bunuhlah aku kalau kau berani, Lex,” Apei tertawa. “Potonglah cepat akarnya, biar aku segera mati membawa adik kesayanganmu. Aku bahagia melihat hidupmu sepi, Lex.”
“Munduuur!” seseorang datang dan memerintah Alex untuk mundur. “Naiklah Pei, aku akan menolongmu.”
“Tidak. Aku tak mau hidup. Aku mau mati bersama Nola.” Pei menggerakkan badannya lebih kencang. Berharap akar yang mereka pegang tak kuat menahan bebannya. Nola memegang akar pohon dengan sisa kekuatan. Terus berpegang dengan pelukan Pei yang erat.
“Nola Sayang, berdoalah kita sekarang akan pergi bersama. Bersama ke surga,” Pei mendekatkan bibirnya ke arah bibir Nola. Ingin Nola berontak, meronta dan menendang selangkangannya. Tapi semakin Nola bergoyang, akar itu semakin bergoyang keras, tenaganya semakin tipis dan hilang.
“Door...!” tembakan yang sangat dekat terdengar jelas.
Nola memejamkan mata. Air mata segera mengalir dari matanya. Merasakan pelukan Pei semakin kuat mencengkeram tubuhnya. Badannya begitu rapat dengan Nola. Semakin rapat, namun kemudian mengendur... mengendur dan akhirnya terlepas dari tubuh Nola. Nola membuka mata, melihat beberapa detik tubuh Pei yang bersimbah darah. Apei tertembak, kemudian badannya melorot dan jatuh.
“Bertahan di sana, La,” seseorang terdengar sayup. Sebuah tali panjang menghampirinya, berbarengan dengan Beno yang datang serta merangkul tubuh Nola.
“Benoooo!”
“Maafkan aku terlambat, La.”
Nola tersenyum dalam pelukannya. Kemudian gelap...
Entah berapa lama Nola pingsan. Terdengar ketika sayup-sayup ada banyak orang di sekeliling. Dan ah, Nola merasakan badannya begitu remuk. Terutama tangannya begitu perih.
Nola membuka mata, yang dilihat pertama kali adalah Bu Kusuma.
“La, syukurlah kau sudah siuman.”
“Bu, mana Kak Alex?”
“Sebentar, dia lagi ditanyai polisi.”
“Bu, kepalaku pusiiing,” Nola memegang kepala. “Bu, aku berdarah,” Nola kaget ketika melihat darah mengucur dari tangannya yang luka.
“Bertahan Sayang. Sebentar lagi ada ambulans ke sini.”
“Aku di mana, Bu?”
“Di tempat Pei. Di daerah Lembang.”
“Aku takut, Bu. Pei itu... Pei yang sudah....”
“Sudahlah, Ibu sudah tau semua.”
***

Other Stories
Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Download Titik & Koma